
Keadaan Wisnu semakin membaik. Marshal bahagia melihat ayahnya yang tengah memeriksa sebuah laporan keuangan dari perusahaanya. Wisnu nampak serius, duduk di kursi kerja sampai tidak menyadari, jika Marshal sudah berdiri di sana sejak tadi.
Marshal melangkah maju dan menyapa ayahnya. Wisnu mendongak dan tersenyum hangat, menutup sementara pekerjaan yang tengah ia periksa.
"Papa sudah lebih baik. Sudah makan? Sudah minum obat?"
Wisnu terkekeh mendengar ucapan anaknya. "Kamu seperti Viona," tunjuknya pada Marshal yang ikut tertawa. "Viona ke mana? Kamu datang sendiri?"
"Dia di rumah sakit. Jaga mama."
Kepala Wisnu mengangguk paham. Dia menyimpan berkas berisi laporannya ke sisi meja dan fokus pada Marshal yang kini duduk di sofa yang ada di ruangannya. Marshal harus berdiri lagi, menghampiri Wisnu yang beranjak dan berniat untuk duduk di sofa juga dengannya.
Marshal memapahnya untuk berjalan. Wisnu belum sembuh total, masih belum bisa berjalan dengan baik. Marshal takut ayahnya akan terjatuh.
"Bagaimana kabar Viona? Hari ini sudah berapa kali dia mengusir kamu, Chal?"
Marshal mendengus. Tidak memberikan jawaban pun, Wisnu sudah menertawakan ekspresinya. Sudah sangat jelas terlihat apa yang Viona lakukan terhadap suaminya. Wisnu pasti merasa puas, karena Marshal yang dibenci oleh istrinya sendiri.
"Tidak apa. Itu wajar saja terjadi. Yang penting, dia tidak meminta cerai lagi, kan." Wisnu terkekeh lagi.
Benar juga. Seharusnya Marshal bersyukur akan hal itu. Viona hanya mengusirnya, tidak sampai mengusir namanya juga dari surat nikah mereka. "Tapi, tetap saja aku harus berjauhan, Pa. Dia kadang tidak mau berdekatan."
"Masih wajar. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting dia masih istri kamu."
Marshal hanya mendelik, tidak suka dengan ucapan Wisnu. Ayahnya selalu saja membahas hal itu. Kejadian di mana Marshal seperti mayat hidup yang tidak punya siapa-siapa lagi. Bahkan wajahnya terlihat menyedihkan.
"Yang papa tahu, perubahansifat seperti itu wajar saja terjadi pada wanita hamil. Papa sudah pengalaman. Sudah tiga kali menemani Mama dalam masa seperti itu. Wanita hamil memang kadang menyebalkan dengan semua sifat dan keinginannya," tutur Wisnu, menarik Marshal untuk mendengarkan lebih banyak lagi cerita tentang pengalamannya.
Marshal menegakkan tubuh, siap membuka telinga dan mengambil banyak pelajaran dari setiap cerita yang akan ayahnya baginya. Setidaknya menambah wawasan Marshal supaya tidak terlalu terkejut dengan semua tingkah dan kelakuan istrinya. Dia harus banyak belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman.
Sebagai pemula, Marshal harus banyak tahu. Tidak melulu berbincang dengan Rio yang sama sekali tidak pernah berpengalaman dalam hal mendapingi istri saat mengandung. Melamar saja belum, bagaimana bisa Rio pengalaman dalam hal seperti itu. Dan bodohnya lagi, kenapa juga Marshal selalu berkonsultasi dengannya?
"Papa pernah diminta joged di depan umum saat mama hamil anak pertama dulu," Wisnu memulai cerita, kemudian menutup wajah dengan satu tangan. Kepalanya menggeleng sambil tertawa, geli sendiri mengingat kenangannya dulu. "di depan banyak orang saat mengunjungi sebuah festival lampion di taman kota," lanjutnya, tertawa semakin keras.
Marshal juga ikut tertawa, tidak kuat membayangkan sosok berwibawa dan terlihat selalu gagah di depannya ini, malah berjoged di depan khalayak umum. Pasti terlihat sangat konyol.
"Papa dulu tidak mau, tapi mama maksa dan beralasan karena keinginan anak kita. Mau tidak mau papa turuti, sebelum mama kamu nangis dulu."
__ADS_1
Mereka berdua tertawa, membayangkan kejadian itu terulang kembali. Bagaimana jika Viona juga meminta hal yang sama pada Marshal? Apakah Marshal akan menurutinya? Tidak! Rasanya pasti malu luar biasa. Lunturlah sudah wibawa dan jiwa pemimpin di dalam dirinya.
"Banyak hal aneh yang gak masuk akal bisa wanita hamil lakukan. Bisa mereka minta kapan saja tanpa tahu dengan logika. Semua itu terjadi, Chal. Banyak yang sudah mengalaminya. Jadi, seaneh apa pun tingkah Viona saat ini sama kamu. Itu wajar saja terjadi. Ibu hamil memang akan semenyebalkan itu dengan hormon kehamilannya."
Masih terdapat sisa tawa, Marshal mendengarkan setiap ucapan yang ayahnya katakan. Sesekali tawa mereka juga pecah, kala Wisnu menceritakan beberapa cerita konyol yang dia hadapi selama Rahma hamil anak-anak mereka.
Ternyata menghadapi wanita hamil memang sulit. Bukan hanya karena hormon yang mengubah mood-nya berubah-ubah setiap saat, tapi juga pemikirannya yang kadang nyeleneh tidak pada logika yang dapat diterima akal. Semua itu bisa saja terjadi. Marshal harus bersiap mulai dari sekarang supaya tidak kaget, ketika masa itu tiba.
***
"Mau apa, Sayang?"
"Mau Mie Ayam. Tapi, ekstra Veggie," ulang Viona, pada Marshal yang kini berdiri di depannya. "Bisa, kan?"
"Tentu saja bisa." Marshal hampir saja tersenyum, kalau dia tidak sadar senyumannya akan membawa petaka besar. "Mie Ayam ekstra Veggie akan segera terhidang, Nyonya. Harap tunggu sebentar, ya."
Viona tertawa melihat suaminya yang berperan seolah dia adalah pelayan sebuah restoran. Dengan wajah datar yang dibuat-buat, Marshal menganggukkan kepala padanya dan mengambil ponsel. Kamudian, dia pergi ke balkon kamar untuk menghubungi seseorang yang bisa membawakan pesanan istrinya.
Viona tidak mau ditinggalkan kali ini. Tumben sekali, pikir Marshal. Dia jadi bisa berdekatan terus dengan istrinya, meski harus tetap memasang wajah datar, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak tersenyum. Viona benci melihat senyumannya, karena terlihat tampan, katanya. Aneh.
Lalu, apa Marshal harus operasi plastik saja supaya wajahnya tidak terlihat tampan di mata Viona? Tidak mungkin. Marshal selalu mensyukuri bentuk wajahnya yang memang sudah sejak lahir tampan dan mempesona. Aura wajahnya punya daya tarik tersendiri. Mana mungkin dia harus mengubah penampilan menjadi jelek, hanya karena istrinya tidak suka dengan ketampanannya di masa hamil saat ini.
Viona mengangguk lucu, mengambil remote televisi. Dia menonton serial barat, duduk di atas ranjang dengan guling di pelukan.
"Boleh aku duduk di sini?"
Viona menoleh padanya, menganggukkan kepala. Kasihan sekali suaminya. Marshal jadi selalu ragu ketika berdekatan dengannya. Jika dia akan melakukan apa pun pasti meminta izin dulu pada Viona, takut istrinya tidak mengizinkan atau bahkan malah mengusirnya untuk menjauh.
Marshal melirik pada Viona dengan kaget, saat istrinya malah mendekat dan menyandarkan kepala di bahunya. Tangan Marshal tergerak untuk merangkul tubuh istrinya dan ternyata Viona tidak menolak dan malah semakin nyaman berdekatan dengannya.
Mereka menikmati serial dengan nyaman sambil menunggu pesanan Viona terhidang. Melirik ke samping, Marshal berharap-harap cemas. Semoga Viona tidak memunculkan rasa mual tiba-tiba. Dia tidak mau momen hangat dan nyaman mereka terganggu lagi karena gejolak di dalam perut istrinya.
Marshal memberikan kecupan di kepala, membuat Viona mendongak padanya. Marshal ingin tersenyum dan memberikan kecupan lagi, tapi dia sadar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, jika dia melakukan hal itu. Dia hanya memasang wajah datar, mengedip beberapa kali saat pandangannya dengan Viona bertemu.
Viona mendengus, menjauhkan tubuhnya dengan segera membuat Marshal mengernyit melihatnya.
"Kenapa, Sayang? Tidak nyaman?"
__ADS_1
"Bukan." Viona memalingkan wajah ke samping, terlihat mual, tapi dia menutupinya dengan telapak tangan. "Aku gak suka lihat wajah kamu. Kelihatannya menyebalkan dan aku akan mual."
Marshal muram. Padahal dia tidak tersenyum atau bahkan memperlihatkan aura ketampanannya terhadap Viona, tapi istrinya tetap saja bersikap seperti itu. Baru saja merasakan kenyamanan, romantis dan hangat, Viona sudah kambuh lagi. Hal itu malah menjadi sebuah derita bagi sang tuan.
Marshal semakin bersedih saat Viona beranjak dari ranjang, tidak melihat padanya sedikit pun. Dia takut Viona akan berlari ke kamar mandi, tapi ternyata malah membuka pintu dan keluar dari kamar. Marshal mengikutinya sedikut berjarak, tidak mau Viona marah atau sebal melihatnya dalam jarak dekat. Dia mengikuti Viona sampai pergi ke ruang makan. Istrinya duduk di sana dan memanggil pekerja rumah.
Marshal masih memperhatikannya dari belakang. Viona meminta dibuatkan jus alpukat pada pekerjanya dan dia kembali diam, duduk di ruang makan sendirian. Marshal tahu, Viona pasti menyadari kehadirannya. Marshal juga yakin, Viona sengaja tidak melirik padanya karena dia akan berakhir mual-mual.
"Chef Reynand mengirimkan ini, pesanan Mie Ayamnya, Tuan. Sesuai permintaan." Seorang pekerja lain menghampiri Marshal, memberikan sebuah kantong berwarna hitam yang berisi makanan di dalamnya.
Marshal menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Dia mendekat pada Viona, melupakan jika istrinya mual dan tidak mau melihat wajahnya saat ini. Marshal melewati Viona yang tengah menunggu jus pesanannya selesai. Dia melihat pada Marshal yang menunjukkan kantong padanya dan pergi ke dapur untuk memindahkan makanan tersebut.
"Ini Mie Ayamnya, Sayang. Silakan dimakan!"
Viona tertawa melihat suaminya yang menghampiri membawa mangkuk berisi makanan keinginannya beberapa saat lalu. Yang membuat tawa Viona keluar, karena Marshal memberikan mangkuk itu sambil melihat ke arah samping, tidak berani bersitatap dengannya.
Setelah menyimpan mangkuk di hadapan Viona dengan benar, kedua tangan Marshal terangkat dan menutup wajah dengan rapat. "Segera dimakan! Mumpung masih hangat."
Viona sampai terbahak melihat kelakuan suaminya. Marshal tidak mau menampakkan wajah padanya sampai seperti itu.
"Mending kamu cari helm, terus pakai. Aku yakin, kalau kamu memakai itu setiap saat, aku pasti gak akan mual lagi." Viona masih saja tertawa melihat suaminya yang berdiri sambil menutup wajah. "Kamu lucu, Chal. Makasih, ya."
Jemari tangan Marshal merenggang guna mengintip wajah istrinya. Dia mengangguk pada Viona dan kembali menutup wajah dengan rapat.
"Aku makan dulu, ya. Kamu mau gak?"
Marshal sebenarnya ingin mengangguk. Dia sudah rindu makan satu wadah dengan istrinya, lalu suap-suapan. Momen itu sangat membekas di dalam benaknya. Marshal ingin mengulanginya lagi sekarang. Tapi, dia sadar. Dia takut Viona mual saat makan nanti, jika dia ikut makan mie ayam milik istrinya.
"Aku kenyang, Sayang. Kamu makan saja sendiri."
"Yaudah." Viona mengambil sendok dan mulai mencicipi kuah makanan yang sejak tadi dia inginkan. Senyumannya mengembang, rasa mie ayamnya sangat enak di lidah. Dia menyendokkan kuah mie ayam dan disodorkan pada Marshal. Viona memegang tangan Marshal, menariknya untuk terbuka. "Coba cicip! Ini enak banget, lho, Chal."
Ragu-ragu Marshal membuka telapak tangannya dan melakukan apa yang istrinya titahkan. Bibirnya reflek tertarik karena rasa nikmat menyapa mulutnya. "Iya, Sayang, enak."
"Iya, emang enak." Wajah Viona berubah lagi rautnya. Terlihat kurang suka dan menyimpan sendok cukup keras mengenai mangkuk. "Tapi, biasa aja dong, ekspresinya. Gak usah sok ganteng begitu."
Marshal tertegun, seketika tersadar. Sulit rasanya menghilangkan aura ketampanan di depan Viona. Dia sudah tampan sejak lahir, bagaimana caranya supaya Viona melihat dia seperti orang jelak? Apa dia harus membalurkan oli di wajah supaya Viona tidak menyadari ketampanannya?
__ADS_1
Tidak mungkin!