
"Aku ingin memberikan pelajaran padanya, tapi malah aku dikejutkan oleh tingkahnya."
Rio hanya terdiam mendengarkan keluhan Marshal. Majikannya terlihat kacau saat ini. Sebelum berangkat malah mendrama yang membuat Rio malu sendiri berada di dekat mereka. Untung saja tidak berlanjut karena Marshal mendapat panggilan dari ayahnya.
Viona nampak kesal sekali tadi. Tapi, dia hanya diam saat Marshal memilih meninggalkannnya dan segera berangkat ke kantor. Di dalam mobil Marshal menceritakan semuanya pada Rio. Mengeluarkan semua perasaan yang mulai tidak beraturan lagi. Viona pasti semakin kesal terhadap suaminya.
Sampai di kantor, Marshal langsung naik ke ruangannya. Wisnu sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu. Marshal tergesa melangkah, ada hal penting yang akan mereka bahas.
"Maaf, Pa. Tadi, istriku sedikit rewel."
Wisnu tertawa mendengar keluhan anaknya. Marshal terlambat datang, beralasan dengan sikap rewel istrinya, jelas dia tidak akan percaya. Yang dia tahu, menantunya tidak akan seperti itu. Tapi, melihat raut wajah Marshal sekarang, dia juga merasa tidak ada yang salah dengan hal tersebut.
"Kamu akan pergi berapa hari?"
"Mungkin satu sampai dua minggu, Pa." Marshal duduk di sofa yang ada di ruangannya, bersebelahan dengan Wisnu duduk.
"Apa itu cukup?"
"Sepertinya cukup, Pa."
"Kapan kalian berangkat?"
"Setelah istriku wisuda. Empat hari lagi."
Wisnu menganggukkan kepala dan tersenyum. "Jadi, kamu butuh orang papa berapa jiwa? Apa Rio akan ikut ke sana?"
Marshal mengangguk cepat. "Rio ikut denganku. Dia sudah mengatur beberapa orang untuk menggantikan aku sementara. Tapi, aku juga butuh bantuan papa. Takut nanti ada kendala tidak terduga, aku harus siap mengatasinya."
"Baiklah." Wisnu membuka ponsel, mengetikkan pesan kepada orang-orang kepercayaannya untuk menuruti keinginan Marshal. "Jika mama tahu kamu akan membawa menantunya bersenang-senang, mama pasti akan bahagia, Chal."
"Istriku belum tahu masalah ini, Pa."
"Kenapa?" Melihat Marshal menyeringai, Wisnu paham. Dia terkekeh. "Ingin memberikan kejutan, ya."
__ADS_1
***
"Tidak ada kecupan, lagi?" Sudah dua hari sikap Marshal seperti itu, Viona mulai tidak tahan lagi. "Kamu udah gak sayang sama aku?"
Marshal meraih tengkuk istrinya, menarik kepala Viona untuk mendekat. Dia mendaratkan kecupan di kening Viona dengan cepat. Hanya menempel, tidak diresapi seperti biasanya. Viona terlihat tidak suka. Apa itu mengartikan jika Viona mulai terbiasa dengan kecupannya? Biasanya Viona akan tidak mau jika Marshal banyak memberikan kecupan. Tapi, kali ini berbeda. Akhir-akhir ini sikap Viona selalu tidak terduga.
Viona memandang nanar ke arah Marshal yang sudah masuk ke dalam rumah duluan. Padahal Viona menyambut kepulangannya dengan niat yang baik, berharap bisa mendapat maaf dari Marshal dan suaminya tidak lagi bersikap dingin. Ternyata tetap saja.
Setelah disusul pun, Marshal masih saja terdiam. Dilayani untuk keperluan mandi dan berpakaian, Marshal masih saja tidak mau mengeluarkan suara.
Suaminya masih saja tidak mau lunak. Viona harus mencari cara lain untuk membujuknya.
"Sayang?" Marshal nampak bingung, Viona menarik tangannya cepat berjalan menuju ranjang.
"Diam dan jangan banyak bertanya!"
Marshal terjengkang ke atas ranjang karena Viona mendorong tubuhnya dengan kasar. "Sayang? Apa yang-" Mata Marshal membulat tajam melihat Viona menyeringai dan naik ke atas tubuhnya. Dia menggelengkan kepala dengan cepat. Apa yang akan Viona lakukan padanya?
"Sayang?" Marshal semakin was-was. Viona hanya diam di atas tubuhnya, menampilkan pandangan yang sulit diartikan. Kenapa dengan Viona? Dia terlihat sangat berbeda.
Hanya bungkam melihat tatapan Viona yang berubah kilat. Menghunus dan garang sekali.
"Kamu itu marah karena perkataan yang aku bilang tempo hari atau emang udah gak sayang sama istri, Chal? Masa marahnya sampai berhari-hari seperti ini. Kamu diamin aku terus, menghindar terus. Salah aku apa?" Pandangan Viona berubah sendu, sambil menunduk melihat tubuh suaminya.
Marshal tertegun saat tangan Viona menyusuri dada bidangnya yang sudah berbalut piyama. Napasnya mulai tidak bisa tenang sekarang. Jemari lentik Viona menyusup dan membuka kancing piyamanya satu per satu. Marshal mulai berdebar, apa yang akan istrinya lakukan?
"Kamu diamin aku berhari-hari, apa gak rindu sama sentuhan istrimu ini?"
Marshal tercengang mendengarnya. Apa Viona sedang menggodanya?
"Aku udah gak bisa tahan lagi sama sikap dingin kamu, Chal. Aku benci. Aku gak suka kamu begini."
Wajah Marshal mendongak saat Viona menyusuri leher, naik ke rahangnya. Sentuhan yang lembut dan menggoda. Viona nampak sangat agresif kali ini. Biasanya jika Marshal jelajahi dia akan malu-malu, tapi sekarang dia yang berulah. Perubahan yang sangat signifikan.
__ADS_1
"Apa aku berat?"
Marshal membuka mata sejenak, menggeleng. Baru juga dia meresapi sentuhannya. Dia menggeleng pelan, masih terdiam dan nampak tenang, meskipun napasnya sudah tidak beraturan.
"Apa kamu suka?"
Marshal mengangguk pelan seperti kucing penurut, saat Viona mengecupi rahangnya dan semakin turun ke bagian leher.
"Sayang?"
"Diam!" Viona menutup mulut Marshal dengan tangannya. Dia masih menindih tubuh Marshal, sehingga mudah mengendalikan keadaan. Untung Marshal hanya terdiam, tidak menghindar, sehingga Viona dapat dengan mudah melakukan hal konyol guna membujuknya.
Marshal benar-benar terkejut dengan perubahan istrinya saat ini. Dia hanya bisa diam di bawah kekuasaan Viona. Ingin balas menyerang, dia tidak bisa, hanya membiarkan Viona melakukan aksinya dengan baik.
"Chal ...."
Marshal kembali membuka mata mendengar panggilan yang bagai desahan di telinganya. Matanya membulat tajam saat mengalihkan pandangan sedikit menunduk. Dia menelan ludah kasar. Viona sudah seberani itu menggodanya, bahkan membuka kancing baju bagian atasnya sendiri, menampilkan bukit yang sangat menggoda.
Ini gila. Marshal mengepalkan tangan, ingin meremas sprai sudah tidak tahan lagi dengan semua tingkah istrinya. Tapi, dia tetap menahan diri, membiarkan Viona melakukan apapun yang dia mau. Dia ingin melihat seberapa nakalnya Viona saat ini.
Viona menyentuh bibir Marshal dengan lembut. Mulanya hanya sebuah kecupan ringan, kecupan lagi, hingga beberapa kali kecupan mendarat di bibirnya. Tapi, lama-kelamaan mulai menempel lekat dan menuntut. Yang bisa Marshal lakukan hanya membalas sesuai tuntutan. Dia tidak akan mendominasi, lebih tepatnya menahan diri untuk tidak lepas kendali.
Ini semakin gila. Tangan Marshal mengepal kuat, tidak tahan lagi. Dia ingin meraih tengkuk Viona dan memperdalamnya, tapi tidak bisa. Dia harus menahan diri.
"Chal."
Tiba-tiba tautan dilepaskan. Marshal nampak kecewa, memandangi Viona yang malah menyeringai. Viona bergerak pelan di atas tubuh Marshal, mengusap bibirnya sendiri yang terasa basah. Viona kembali menggeliat membuat Marshal semakin tidak tahan. Rahang Marshal sudah mengetat menahan gejolak yang semakin lama malah semakin dahsyat dia rasakan. Apalagi Viona malah bergerak tidak beraturan di atas tubuhnya dengan pandangan yang sangat menggoda, menggigit bibir bawahnya.
"Aku kira kamu bersikap dingin karena sudah tidak suka denganku. Ternyata kamu masih merindukan sentuhanku, hm?"
Marshal menelan ludahnya lagi melihat tingkah Viona. Napasnya sudah memburu dan tubuhnya mulai panas dingin.
Kepala Viona menunduk, memeluk dan menyurukan wajahnya di leher Marshal. Dia mengecup bagian itu dua kali, lalu berbisik lirih, "Jangan ditahan! Aku tahu dia sudah tegang."
__ADS_1
Shit! Marshal langsung membalik tubuh Viona dengan cepat. Menyambar bibir istrinya ganas dengan kobaran gairah yang sudah melambung tinggi. "Aku pastikan kamu tidak akan bisa jalan besok pagi!"
"Ahhh ...."