
"Kalian mengecewakan!"
"Mama?" Marshal mematung di ambang pintu saat melihat Rahma dan Lina sudah ada di rumahnya. Para ibu itu menatap tajam Viona dan Marshal yang baru masuk. "Dari kapan Mama di sini? Kenapa tidak memberitahu kalo mau datang?"
Mereka mendekat. Saat Marshal akan mencium tangan Rahma dan Viona ingin memeluk Lina, keduanya mendapat penolakan membuatnya merasa heran.
"Jangan pura-pura baik di depan kami!" ucap Rahma dengan tegas.
Pasangan suami istri itu saling pandang. Mereka tidak mengerti kenapa Rahma berkata seperti itu. Dan Lina terus memandangi mereka dengan horor. Terlihat marah. Ada apa ini? Mereka sungguh tidak mengerti dengan keadaan sekarang.
"Kenapa kalian pisah kamar?!" bentak Rahma.
Marshal tertegun. Melirik pada Viona yang sama sekali tidak terlihat terkejut dan malah mengedikkan bahu membalas tatapan suaminya.
"Haha ... Mama ini bicara apa, sih?" Marshal tertawa hambar untuk mengelak. Viona hanya diam saja memandangi mereka hingga Marshal merangkul pundak Viona lebih dekat dengannya. "Sayang, ma-"
"Udah, deh, gak usah drama!" sergah Rahma dengan marah. Marshal langsung terdiam karena syok dengan kemarahan ibunya. "Kenapa kalian pisah kamar? Jelaskan!"
Marshal harus menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya tegang dengan berbagai macam pikiran. Apa yang harus dia katakan sekarang? Tidak mungkin dia menjelaskan yang sebenarnya, kan?
Viona masih diam. Biarkan saja Marshal yang menjelaskan karena itu juga keputusannya. Marshal yang memulai, maka dia juga yang harus menyelesaikan. Jika semuanya terbongkar, Viona bisa apa? Dia hanya patuh pada Marshal dan tidak punya hak untuk ikut campur urusannya, bukan? Jika Rahma tahu alasannya karena Amanda, pasti akan ada kelanjutan cerita yang menyenangkan nantinya. Dengan begitu, mungkin saja bisa menjadi jalan untuk Viona terbebas dari pernikahan ini.
"Bisakah kalian jelaskan semuanya? Supaya tidak jadi kesalahpahaman," ucap Lina dengan lebih tenang. Dia juga merasa kecewa, tapi dia tidak bisa berburuk sangka dulu sebelum tahu kebenarannya.
Marshal kembali melirik Viona, meminta bantuan. Tapi, istrinya itu terlalu acuh dan hanya terdiam. Dengan begitu santainya, Viona malah tersenyum pada Rahma. Perlahan mendekat dan mencium tangan Rahma secara tiba-tiba sampai mertuanya itu berjengit kaget.
"Duduk di dalam, Ma! Tidak enak jika bicara di sini." Viona kemudian mengajak ibu dan mertuanya untuk duduk di ruang keluarga meninggalkan Marshal yang tampak kebingungan mencari alasan.
Menantu dari Heru itu tidak bisa berpikir dengan cepat mencari alasan untuk mengelak. Apa yang harus dia katakan pada ibu dan mertuanya? Aneh juga melihat sikap Viona yang nampak tenang. Marshal tidak mengerti, kenapa Viona sama sekali tidak terlihat kaget ataupun kebingungan.
"Jadi, kenapa kalian pisah kamar?" desak Rahma lagi saat Marshal baru mendudukan diri di sofa.
Dengan tidak tenang, Marshal melihat Lina dan Rahma bergantian. Dia tidak tahu harus memakai alasan apa. Karena jika mengatakan yang sebenarnya, sudah pasti mereka akan marah padanya.
Kedua wanita yang berbesanan itu mulai tidak sabaran menanti kejelasan. Berbagai pemikiran buruk sudah seliweran dalam benak. Mereka sungguh kecewa dan tidak menyangka saat datang ke rumah itu untuk menjenguk anak mereka, pasangan suami istri itu tidak ada. Mereka mencarinya dan menanyakan pada pekerja rumah, katanya, mereka sedang tidak ada di rumah.
Datanglah ide cemerlang dari Rahma dan mengajak Lina membuat kejutan untuk anak-anak mereka.
Rencananya mereka mau mendekor kamarnya supaya terlihat romantis dan memberikan kesan seperti kamar pengantin baru pada umumnya. Anggap saja sebagai ganti bulan madu yang sepertinya belum direncanakan oleh kedua anak itu.
__ADS_1
Tapi, saat bilang pada pelayan rumah dan meminta bantuan, salah satu pelayan malah bertanya, "Maaf, Nyonya, kamar siapa yang akan didekor, nyonya atau tuan?"
Rahma bingung. Lina pun demikian. Mereka tidak mengerti maksud dari pelayan tersebut. Kenapa harus bertanya seperti itu, bukankah sudah jelas yang didekor kamar pengantin baru itu, tapi kenapa ada kata 'nyonya atau tuan'?
Rahma menjelaskan kembali jika mereka akan mendekor kamar Marshal dan Viona. Tapi, lagi-lagi pelayan tadi bertanya, "Maaf, Nyonya ... apa mau dua-duanya didekor?"
Terdiam sesaat. Perasaan para ibu itu mulai tidak enak dengan pikiran yang menerka-nerka. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Mereka memutuskan untuk memeriksanya sendiri dan betapa terkejutnya mereka saat akan memasuki kamar utama, pelayan itu bilang, "Di sini kamar tuan, kalo nyonya di sebelah sana." Pelayan itu menunjuk kamar lain yang tidak berdekatan dengan kamar utama.
Perasaannya jadi campur aduk. Jadi, anak mereka pisah kamar? Apa yang terjadi? Rahma sungguh tidak mengerti dan sangat tidak percaya. Berbeda dengan Lina, dalam benaknya ada perkiraan kemungkinan hal itu terjadi. Mungkin karena mereka menikah secara mendadak. Terlebih Viona yang merasa terpaksa. Tapi dia tidak mengatakan apa yang otaknya pikirkan pada Rahma. Karena besannya itu tidak tahu bagaimana alasan pernikahan Marshal dan Viona bisa terjadi. Marshal sudah mewanti-wanti kepada keluarga Heru supaya tidak pernah memberi tahu alasan pernikahan itu pada keluarganya.
Dan sekarang, saat mereka meminta penjelasan, kedua anaknya itu malah membisu. Tidak ada yang menjelaskan satu pun dari mereka membuat Rahma semakin geram. "Kenapa harus pisah kamar? Ada apa dengan kalian? Apa ada yang kalian sembunyikan?"
Lina hanya membuang napasnya pelan melihat Marshal yang gugup dan tidak tenang. Tapi, Viona nampak hanya diam seperti tidak terusik dengan masalah ini. Lina semakin bingung, ada dengan anak-menantunya itu?
"Chal?"
Marshal tersenyum canggung pada Rahma yang sudah mulai emosi. Dia masih bingung harus memakai alasan apa. Mengalihkan pandangan pada Viona meminta bantuan, Marshal mengisyaratkan lewat sorot matanya.
Hela napas dalam sebelum berbicara. Viona menatap ibu dan mertuanya bergantian. Dia tersenyum. "Aku yang mau kita pisah kamar," ucapnya dengan pelan.
Kedua ibu itu memandang Viona tajam karena tercengang. Sama halnya dengan Marshal. Kenapa Viona mengatakan hal demikian? Apa Viona sudah menyusun alasan dengan berbagai kebohongan?
Sedikit mengerti dengan masih ada rasa kecewa dan tidak percaya. Pikiran Lina langsung mengira jika Viona memang belum bisa menerima pernikahan ini sampai dia meminta pisah kamar. Tapi, Rahma semakin tidak paham dan kembali mendesak menantunya untuk menjelaskan.
"Ma, aku sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. Butuh konsentrasi penuh saat mengerjakan. Jadi, aku meminta untuk pisah kamar dulu supaya aku punya ketenangan dan skripsinya cepat selesai jika tidak ada gangguan," jelas Viona dengan tenang. Kemudian, dia mengalihkan pandangan pada Lina. "Mama juga tahu 'kan, kalo aku susah konsentrasi mengerjakan sesuatu di saat ada yang mengganggu?" tanya Viona pada ibunya yang antara masih bingung dan tidak percaya dengan alasan Viona. Tapi, Lina tetap mengangguk.
"Apa masalahnya mengerjakan skripsi dengan pisah kamar, Sayang? Menurut mama itu tidak masuk akal," tukas Rahma tidak percaya, "justru jika kalian bersama, Marshal bisa membantu kamu mengerjakan skripsinya."
Viona membuang napasnya dengan kasar. Dipandanginya dengan lekat wajah sang mertua. "Justru itu masalahnya, Ma," Dia memasang wajah semelas mungkin. Terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk dengan lucu. "Chal bukannya bantuin, tapi malah ngusilin. Ada aja yang dia lakukan supaya konsentrasi aku terpecah. Aku gak bisa mengerjakan kalo deket dia." Viona menyandarkan punggung pada sofa dengan lemah. Bibirnya mengerucut dibuat sekesal mungkin.
Rahma memandangi Marshal yang masih terdiam. "Chal ...," Dia tidak suka mendengar aduan dari menantunya. Jika benar demikian, berarti di sini yang salah Marshal karena tidak bisa pengertian terhadap istrinya. "jangan kayak gitulah! Kasian mantu mama," omel Rahma dengan lembut, namun mengandung sejuta makna di balik ucapannya.
Marshal cengengesan. Mengikuti alur yang dibuat oleh istrinya. Meskipun alasan yang Viona utarakan tidak masuk akal, tapi dia tetap menghargai itu karena Rahma selalu percaya dengan menantunya. "Maaf, Ma. Abisnya dia gemesin kalo lagi ngamuk-ngamuk aku gangguin," ujarnya mendekat pada Viona dan mengunyel-unyel pipi istrinya dengan gemas. "Maaf, Sayang. Lain kali aku gak akan ganggu lagi."
Viona hanya mendengus. Mengalihkan pandangan dengan segera. Antara pura-pura merajuk atau emang jijik dengan sikap suaminya.
Kini Rahma dan Lina mengumbar senyum melihatnya. Mereka mulai percaya, tetapi masih ada keraguan dan kecemasan dalam benak masing-masing.
"Beneran hanya karena itu, kan? Kalian tidak ada masalah apapun?" tanya Rahma dengan masih sedikit curiga.
__ADS_1
"Iya, kalian tidak menyembunyikan sesuatu dari kami, kan?" itu tanya Lina.
Marshal dan Viona saling pandang. Viona tersenyum pada Marshal. Entah apa artinya, tapi senyuman itu cukup membuat Marshal kebingungan karena Viona tidak kunjung bicara. Dikira Marshal setelah Viona tersenyum, istrinya itu akan menimpali pertanyaan mereka seperti tadi. Tapi nyatanya tidak. Viona membiarkan Marshal yang menjawabnya.
"Tidak ada, Ma. Kami baik-baik saja. Masalah kami, ya, cuma itu aja," ujar Marshal, "tapi tenang, setiap malam kami tidur bersama, kok. Kami pisah kamar di saat siang saja. Kamar itu hanya untuk Viona mengerjakan skripsi supaya lebih tenang, selebihnya tetap saja kami tidur bersama. Iya, 'kan, Sayang?" Viona mengangguk meyakinkan karena memang itu kenyataannya.
Para ibu itu menghela napas lega. Mengucap syukur karena anak mereka tidak bermasalah selama di rumah. Mereka hanya khawatir jika anak-anaknya menyembunyikan suatu masalah dan berakhir dengan tidak baik.
Karena semua alasan penuh kebohongan itu selesai dijelaskan, mereka melanjutkannya dengan obrolan-obrolan kecil sampai sore menjelang, dua ibu-ibu rumpi itu berpamitan pulang.
Setelah mengantar ibu dan mertuanya sampai ke depan, Marshal kembali masuk ke dalam rumah. Merangkul pundak istrinya yang langsung merubah sikap yang tidak Marshal sukai.
Jadi, senyuman yang tadi terukir, hanya sandiwara? tebak Marshal dalam hati.
Setelah sampai di kamar Marshal, Viona tidak banyak berbicara. Langsung menyiapkan air dan pakaian untuk suaminya setelah Marshal mengatakan ingin mandi.
Marshal hanya menghela napas melihat sikap Viona yang tidak enak dihadapi itu. Dia kembali teringat pada kejadian di kafe tadi saat Marshal memergokinya sedang bicara dengan Sendi.
Marshal sangat marah, namun dia segera keluar dari kafe saat melihat Viona dan Sendi yang bahkan saling menggenggan tangan. Kemudian, dia menyuruh Frans untuk memanggilkan Viona karena dia tidak mau emosinya meluap di dalam sana.
Dan sampai saat ini, masalah itu belum bisa dia lupakan. Dia juga belum bisa memarahi Viona atas rasa ketidaksukaannya karena selama perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Mereka kembali berbicara hanya pada saat ada Rahma dan Lina saja. Itupun karena sandiwara.
"Aku mau bicara," Marshal menarik tangan Viona yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Kenapa kamu bertemu dengan dia tadi?"
Viona memandang wajah Marshal dengan lekat. Ada kilatan amarah di mata suaminya. "Memangnya kenapa, Tuan? Apa Tuan marah?"
"Iya!" jawab Marshal dengan membentak, "aku marah. Aku tidak suka kamu bertemu lagi dengannya. Kamu itu istriku, tidak baik jika masih bertemu dengan laki-laki itu."
Memandangi suaminya dengan lekat. "Tapi hanya mengobrol, Tuan."
"Tetap saja aku tidak suka! Apa sikapmu berubah juga karenanya?!"
Viona menggeleng. Dia semakin mendekat pada Marshal. Mengalungkan tangannya di leher suaminya tanpa diduga. Kemudian, dia tersenyum dengan seribu makna tersirat di baliknya. "Maaf, Tuan," ucapnya lembut tepat di depan wajah Marshal yang harus sedikit menunduk menatapnya.
Entah mengapa, emosi Marshal menguap begitu saja. Tangan yang melingkar di lehernya dengan begitu manja, membuat Marshal tidak percaya dengan sikap istrinya. Tapi dia tidak menyia-nyiakan kesempatan di saat wajah mereka berdekatan seperti itu. Dengan segera dia mendekatkan wajahnya dengan sorot mata terus tertuju pada bibir istrinya.
"Tuan, jangan!" Viona memundurkan wajahnya dengan segera membuat Marshal kecewa. "Saya ingin mengajak Tuan bernegosiasi," ucap Viona dengan cepat. Masih mengalungkan tangan di leher suaminya.
Alis Marshal bertaut dengan bingung. "Negosiasi?"
__ADS_1
Istrinya mengangguk dengan lucu dan kembali tersenyum. Satu tangannya mulai mengusap rahang Marshal dengan sensual sampai suaminya tergelam dalam kenyamanan dengan mata terpejam. Merasakan lembutnya usapan demi usapan dari tangan istrinya.
"Saya akan selalu menutupi hubungan Tuan dengan nona Amanda, tapi dengan syarat ...," Marshal kembali membuka mata. Menunggu kelanjutan kalimatnya. "Tuan harus mengizinkan saya punya hubungan dengan laki-laki lain."