
Pasangan yang belum lama menikah itu bergandengan tangan saat menuruni tangga setelah selesai menunaikan ibadah Maghrib-nya. Mungkin orang yang melihatnya akan berkata jika mereka pasangan yang relationship goal, padahal kenyataannya tidak. Apa yang mereka lakukan hanya sandiwara semata demi meyakinkan keluarga Viona bahwa pernikahan mereka memang baik-baik saja.
Tapi Marshal, dia tidak merasa sedang bersandiwara karena memang hal itu yang dia inginkan. Berbeda dengan Viona, hatinya terus menolak keras. Dia tidak suka jika harus bersandiwara seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia melakukan hal itu juga supaya orangtuanya tidak merasa bersalah telah menikahkannya dengan Marshal.
"Assalamu'alaikum." Heru mengucapkan salam saat memasuki rumah.
"Papa ...!" Viona yang baru turun dari tangga segera berlari ke arah pintu utama saat matanya melihat Heru yang baru pulang bekerja. Dia langsung memeluk dan mencium pipi ayahnya dengan tidak sabaran hingga Heru tersentak dengan sikapnya. Namun, ayah dua anak itu juga melakukan hal yang sama. Diciumnya pelipis sang putri kesayangan, dia juga merasakan apa yang Viona rasakan.
Marshal berjalan pelan menghampiri mereka. Dia tersenyum melihat sikap manja istrinya yang baru pertama kali dia lihat. Susah payah dia menahan tawanya saat mereka berpelukan, goyang kiri kanan dengan pelan. Sangat mengharukan seperti anak kecil yang lama tidak bertemu dengan ayahnya, Viona bahkan tidak mau melepaskan pelukannya.
"Sudah, papa susah bernapas!" pekik Heru melepaskan Viona yang terus menempel padanya. Dengan berat hati, Viona melepaskannya. Dia cemberut membuat Heru geleng-geleng kepala. Mencubit pipinya dengan gemas. "Malu, suami kamu kayaknya syok lihat kelakuan kamu yang seperti anak kecil," bisiknya pada Viona.
Viona memandangai Marshal. Dia jadi malu sendiri. Apa sikapnya barusan terlalu berlebihan? Dia tidak peduli dan terus melirik Marshal yang kini mendekat pada Heru. Mencium tangan mertuanya dengan sopan. Viona sampai terperangah. Ternyata sikap Marshal sangat hormat pada ayah Viona. Apa Marshal juga melakukan hal yang sama pada Lina? Viona tidak tahu karena saat Marshal datang, dia sedang di kamar, sleeping beauty.
"Tumben ke sini, Nak?" Heru menepuk pelan pundak menantunya.
"Viona ingin berkunjung," sahut Marshal, memandangi Viona yang juga sedang memandanginya. "dia merindukan rumah."
Heru manggut-manggut dan mengajak mereka untuk masuk. Tidak enak jika hanya berdiri di ambang pintu. "Mama mana?" tanyanya pada Viona.
Diliriknya sekitaran. Viona juga tidak tahu ibunya itu ke mana karena dia juga baru turun dari kamar. "Di kamar, mungkin, Pa."
"Oh, yasudah. Kalian ke meja makan duluan, papa mandi dulu."
Baru Heru akan melangkahkan kakinya untuk beranjak, Lina datang menghampiri dengan ceria. Mencium punggung tangan suaminya yang mendapat respon ciuman hangat dikening dari Heru. "Capek, Pa?" tanya Lina dengan lembut. Mengusap pelan rahang suaminya.
"Lumayan." Heru tersenyum saat Lina mengusap dadanya, kemudian membantu membuka jas kerjanya dengan penuh perhatian. "Makasih, Ma."
Lina hanya tersenyum. Menyampirkan jas kerja Heru di tangan kanannya. Kemudian dia menengadah. Bertatapan dengan Heru. Sorot kedua matanya begitu jelas memancarkan rasa cinta yang dalam. "Mandi, gih! Setelah itu kita makan malam."
Heru mengangguk. Pergi menuju kamarnya. Tidak lupa dia juga merangkul pundak Lina supaya ikut dengannya. Mereka berlalu begitu saja tanpa menghiraukan pasangan lain yang terdiam memperhatikan.
"Kenapa, Tuan?" tanya Viona pada Marshal yang terus memperhatikan kedua mertuanya hingga hilang dari pandangan. Bibirnya terus mengukir senyuman membuat Viona sedikit heran.
Marshal beralih melihat pada istrinya. Dia tersenyum penuh arti membuat perasaan Viona mulai tidak enak karena tatapannya terlihat lain. "Romantis," kata Marshal dengan pelan terdengar seperti bisikan di samping Viona.
__ADS_1
"Sudah biasa. Mereka memang seperti itu setiap hari. Bahkan bisa lebih dari seperti itu, mungkin sekarang malu karena ada Tuan, kali," ucap Viona seadanya. Apa yang dilakukan oleh orangtuanya sudah tidak aneh dia lihat. Tapi, karena Marshal baru melihatnya, dia merasa kagum melihat kemesraan mertuanya yang sudah tidak muda lagi itu.
"Bisa lebih dari seperti itu?" tanya Marshal tidak percaya dijawab anggukan kecil oleh Viona. "Biasanya seperti apa? Padahal tadi menurutku sudah sangat manis," bisik Marshal mendekat pada tubuh istrinya. "Apa kita bisa seperti itu?"
"Tidak," sahut Viona tegas. Menepis tangan Marshal yang hendak menggapai wajahnya. Dia berlalu menuju ruang makan.
Marshal hanya menggeleng pelan. Mengikuti langkah istrinya dengan senyum yang tidak pernah pudar. Apa yang barusan dilihatnya, membuat dia berharap jika hubungannya dengan Viona semakin membaik dan bisa harmonis seperti mertuanya.
"Maaf, membuat kalian menunggu." Heru dan Lina masuk ruang makan. Heru duduk di kursi paling ujung sedangkan Lina duduk di sampingnya, berseberangan dengan tempat duduk anak dan menantunya.
Berbagai masakan sudah tersaji di atas meja makan. Dengan cekatan para istri itu mengambilkan makanan untuk para suaminya.
Heru tersenyum melihat Viona yang dengan sabar melayani suaminya mengambilkan makanan. Entah dia harus bahagia atau merasa bersalah melihat Viona. Semuanya terasa rumit dia rasakan. Tapi, hatinya selalu berdoa semoga pernikahan anaknya bisa bahagia. Dan dia sedikit merasa lega melihat sikap Viona dan Marshal yang terlihat baik-baik saja. Heru berharap keputusannya menikahkan Viona bukanlah hal yang akan dia sesali.
"O, iya, Ma," Viona mengisikan air putih ke dalam gelas milik Marshal. "kak Vino, kok, belum pulang?" Dia duduk setelah gelas Marshal terisi penuh. Dan mulai menaruh makanan pada piringnya sendiri setelah selesai melayani suaminya.
"Kakak kamu lagi di luar kota. Mungkin tiga hari lagi baru pulang," sahut Heru mewakili Lina yang sedang mengambilkannya nasi.
"Ngapain kak Vino keluar kota?" Viona melirik Marshal sejenak. Karena suaminya itu tidak berhenti menatapnya dari arah samping membuat Viona tidak nyaman.
Viona mengalihkan pandangannya pada Heru. Dia hanya manggut-manggut paham.
Makan malam mereka terasa hangat karena dibarengi dengan obrolan-obrolan kecil. Marshal merasa nyaman bisa makan bersama keluarga Viona, meskipun hal itu baru pertama kali dia rasakan. Kedua mertuanya sangat baik dan juga ramah membuat Marshal tidak merasakan kecanggungan sama sekali.
***
"Nginap aja, ya!" Viona mengerjap lucu di depan Marshal. Membujuk suaminya supaya setuju untuk menginap di rumah Heru. Akan tetapi, sedari tadi Marshal selalu mengajaknya untuk pulang. Viona tidak mau. Dia masih ingin bersama keluarganya.
"Pulang aja, besok aku kerja. Kamu juga harus berangkat kuliah, kan?"
Viona mendengus pelan duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, berhadapan dengan Marshal yang berdiri di depannya. "Nginap aja! Berangkat ke kampusnya bisa dari sini," bujuknya lagi.
Marshal mengulum senyum merasa gemas melihat sikap Viona saat ini. Ternyata Viona menggemaskan di saat ada maunya. "Lain waktu aja nginapnya. Sekarang pulang aja," tolaknya lagi.
Viona berdecak. Bangkit dari duduknya dengan sekali hentakan sampai Marshal harus mundur ke belakang. "Yasudah ... ayo, pulang?" ucapnya dengan ketus. Mengambil slingbag dari atas meja dan menyampirkannya di bahu dengan asal.
__ADS_1
Marshal hanya terdiam memandangi istrinya yang terlihat kesal. Wajahnya tertekuk masam membuat Marshal merasa heran. Ada apa dengan sikap Viona hari ini? Kenapa sikapnya terlihat berbeda?
Berjalan dengan hentakan kaki kuat, Viona keluar dari kamar dengan kesal meninggalkan Marshal. Selalu saja dia harus menuruti keinginan Marshal padahal dia sangat ingin menginap. Membantah pun tidak akan ada gunanya. Viona tidak mau diomeli oleh Marshal lagi jika dia membantah. Terpaksa dia meredam egonya demi menuruti perkataan suaminya yang sangat menyebalkan itu.
Hela napas dalam, Marshal menyusul istrinya yang ternyata sedang merajuk. Lucu sekali. Bahkan Viona tidak menghiraukannya dan malah pergi begitu saja.
"Ma," Viona menghampiri ayah dan ibunya yang sedang menonton televisi di ruangan keluarga. "Aku mau-"
"Menginap di sini," sambar Marshal dengan cepat. Melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Viona.
Istrinya menoleh dengan kaget. Kenapa Marshal mengatakan akan menginap? Bukankah dari tadi dia mengajak Viona untuk pulang?
"Sudah malam, aku juga capek kalo harus menyetir. Kita menginap di sini," jelas Marshal pada Viona yang menatapnya tidak mengerti.
"Baguslah," ujar Heru senang. "lebih baik segera istirahat jika capek, Nak!" lanjutnya pada Marshal.
Viona hanya terdiam memandangi Marshal. Masih tidak percaya dengan keputusannya yang berubah secara mendadak.
"Dek, segera ajak Marshal istirahat! Kasihan suami kamu," saran Lina.
"I ... iya." Viona mengangguk. Memandang Lina dan Heru bergantian sebelum dia pamit kembali ke kamar dengan menarik tangan Marshal tidak sabaran.
Marshal hanya mengikuti langkah Viona dengan tenang. Istrinya pasti tidak menyangka jika dia bisa merubah keputusannya dengan cepat. Habisnya Marshal tidak tega jika tidak mengikuti keinginan istrinya yang sebenarnya hanya hal sepele. Tadinya dia tidak mau menginap karena memang besok pagi akan terasa merepotkan. Dia harus berangkat bekerja sedangkan pakaian dan perlengkapan lain untuk bekerja ada di rumahnya. Jadi, akan lebih menyusahkan diri sendiri karena dia harus pulang lebih pagi dari sana menuju rumahnya. Setelah dari rumah, dia berangkat bekerja. Banyak waktu yang terbuang sia-sia sebenarnya. Tapi demi istrinya, dia bisa mengenyampingkan masalah itu. Dia tidak mau melihat Viona yang bersikap ketus padanya.
"Kenapa jadi menginap?" tanya Viona saat mereka sudah tiba di kamar. Dia tidak mengerti dengan pikiran Marshal. Tadi memaksa untuk pulang sampai harus berdebat dengannya. Tapi, saat Viona sudah mau menuruti keinginannya, dia malah bilang akan menginap. Maksudnya gimana coba? Dia itu sebenarnya kenapa?
"Kenapa memangnya? Bukannya kamu yang mau menginap? Aku hanya menuruti keinginanmu."
Viona melemparkan tasnya dengan sembarang ke atas ranjang. Dia tidak mengerti dengan suaminya sendiri. Jika Marshal ingin menuruti keinginan Viona, kenapa tidak dari tadi saja bilang akan menginap? Jika bilang dari tadi, mereka tidak perlu berdebat dulu, kan? Memusingkan!
Marshal melihat Viona dengan bingung. Istrinya itu jadi uring-uringan. Seharusnya Viona senang 'kan, karena Marshal sudah menuruti keinginannya? Tapi Viona malah semakin tidak jelas dengan kesal berjalan begitu saja menuju lemari di dinding kaca besar yang memantulkan bayangannya dengan raut wajah masih tidak enak dipandang.
"Kamu kenapa?" Marshal mendekat pada Viona yang sedang mengambil piyama tidur. "Kamu marah padaku?" Viona hanya diam saja dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak tahu kenapa dia begitu kesal menghadapi sikap Marshal yang entah apa maunya. Jika berhadapan dengan Marshal, Viona selalu kehilangan jati dirinya. Dia selalu meredam ego sendiri demi menuruti semua keinginan Marshal. Sampai kapan dia harus melakukannya? Dia sudah lelah jika harus selalu berpura-pura seperti itu.
__ADS_1