
Sesuai dengan perkataannya, suami Viona itu tetap saja memaksa istrinya untuk pergi ke dokter malam ini. Viona tidak mau, tapi Marshal terus saja membujuknya untuk pergi.
"Kamu pasti lelah, dari kemarin ngurus masalah penggelapan dana. Lebih baik sekarang istirahat. Lusa kita baru ke sana."
"Tidak, Sayang. Lebih cepat lebih baik. Aku tidak apa. Ayo!" Marshal menarik istrinya yang sudah bergelung selimut. Dia menyingkirkan selimut itu dari tubuh Viona dan Marshal menggendong tubuh istrinya menuju ke ruang ganti. Marshal mengambilkan jaket dan memakaikannya pada Viona.
Sang istri hanya bisa menghela napas menerima perlakuan suaminya yang tidak bisa ditolak tersebut. Viona menurut saat Marshal memakaikan jaket padanya. "Pelan-pelan, Chal."
"Ini juga pelan, Sayang. Kamu terlihat lemas. Kenapa? Apa kamu sakit?" Marshal memeriksa tubuh istrinya. Tidak terjadi apa-apa. Suhunya juga normal. Viona pasti sedang malas untuk menurutinya, makanya seperti itu.
"Mau aku gendong?"
Viona menggeleng dan berjalan sendiri. Marshal berada di dekatnya dan terus saja mengoceh masalah ini itu. Viona sampai menutup telinga dengan tangan pura-pura tidak mendengarkan. Namun, tidak lama karena Marshal mengetahuinya.
"Suami bicara, kamu tidak boleh seperti itu."
"Iya-iya."
Viona lebih baik menurut pada suaminya. Daripada nanti Marshal mengomel panjang dan berakhir dengan mereka yang berbdebat tiada henti sampai hari beranjak pagi. Biasanya seperti itu. Mereka jika sudah berdebat pasti sulit untuk mengalah salah satunya. Masalah lain pasti ikut terseret dan berakhir dengan mood Viona yang memburuk sampai Marshal terus membujuk dan akhirnya minta maaf. Itu pun jika ingat.
Di ruang tengah, mereka melihat ada Ril yang sedang bertelepona. Terlihat tertawa sendiri dengan ponsel yang menempel di telinganya. Dengan jahil, Viona mengendap-endap mendekatinya. Saat sudah berada di belakang Rio, Viona menepuk pundaknya dengan keras sampai Rio tersentak dan ponselnya jatuh ke lantai. Untung tidak pecah. Padahal itu ponsel baru dari hasil ganti rugi dari Marshal saat melemparkannya tempo hari.
"Cie, Rio sedang berpacaran," ledek Viona disertai senyuman jahilnya. Dia merebut ponsel yang barusan diambil oleh Rio. Viona tertawa geli melihat nama panggilan terakhir di layar ponsel itu. "Oh, Lena!"
"Nyonya!" Rio merebutnya kembali dengan cepat. Wajahnya sudah memerah menahan malu. Majikannya yang perempuan itu memang suka menakutkan dan sangat menyebalkan.
"Lena itu yang rambutnya segini, kan?" Viona mengukur tangannya di bahu menghadap pada Rio, setelah dia memberikan ponsel asisten suaminya.
Mata Rio membulat tajam. Dia terkejut kenapa Viona tahu panjang rambut kekasihnya?
Viona malah tertawa dan memukul pelan pundak laki-laki itu. "Lena cantik, ya. Pantas saja kamu tergila-gila padanya." Tawa Viona semakin menggema.
Marshal hanya menggelengkan kepala melihat istrinya yang terus mengejek Rio. Jika sudah seperti itu, kapan mereka akan berangkatnya? Viona malah asyik bersama dengan asisten suaminya sampai tidak peduli jika ada Marshal di sana.
"Ke rumah dokter Serlyn, Yo!" Marshal memerintahkan membuat aksi Viona yang sudah mengangkat tangan hendak mencakar Rio jadi terhenti.
Viona menurunkan kembali tangannya dengan santai. Dia meengikuti langkah suaminya untuk keluar rumah. Tidak lupa dia berbalik badan sejenak. Melihat ke belakang pada Rio yang mulai tidak enak di pandang. Viona menjulurkan lidahnya dengan jahil. "Pasti kamu pelet Lena, kan? Kalau tidak, mana mungkin dia mau sama kamu."
"Sayang sudah, kasihan Rio!" Marshal menarik tangan Viona untuk berhenti mengusili asistennya yang terlihat kesal. Sebagai majikan yang sudah lama kenal dengan Rio, Marshal bahkan jarang mengusili asistennya. Tapi, Viona, baru beberapa bulan mengenalnya, mereka sudah terlihat sangat akrab dan bahkan tidak tahu teganya, Viona melemparlan kerikil kecil pada Rio yang membalas kesal tatapannya.
"Oh, Nyonya ingin saya bilang sesuatu pada tuan, ya." Rio sedikit berbisik pada Viona saat membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Viona langsung menatap tajam pada laki-laki yang sudah dia ejek itu. "Oke, aku berhenti. Jangan bilang apapun pada tuan! Awas kamu, ya!"
Bisa gawat jika Rio bicara pada Marshal. Karena hubungannya dengan Rio terbilang sangat dekat dan absurd, Viona terkadang mengatakan apa saja pada Rio. Dia bahkan sering sekali membicarakan Marshal dan juga kadang menjelek-jelekkan suaminya jika dia sedang kesal. Jika Marshal mengetahui hal itu, sudah pasti suaminya akan marah dan mungkin malah mengomel panjang dan berakhir dengan mereka berdebat, lagi.
***
"Kamu tunggu di sini! Aku tidak akan lama di dalam," ucap Marshal, meminta Rio untuk tetap berada di mobil.
Laki-laki yang sangat dia percaya itu hanya mengangguk patuh. Rio tersenyum sinis melihat Viona menggandeng tangan suaminya. Di balik sikap manis Viona saat bersama dengan Marshal, wanita itu terkadang terlihat sangat membenci suaminya, jika dia sedang bicara berdua dengan Rio.
"Halo, selamat malam, Tuan dan Nyonya Marshal!" sambut dokter Serlyn pada mereka berdua.
"Malam dokter. Seperti yang sudah saya katakan tadi, kita ingin konsultasi."
Viona melirim suaminya dengan tidak enak. Dia tidak mau terburu-buru, tapi Marshal sudah terlijat begitu semangat sekali. Suaminya itu pasti sudah sangat berharap dengan haknya. Makanya dia sampai rela datang ke dokter tersebut, meskipun malam dan langsung datang ke rumahnya, bukan tempat dokter itu praktek.
"Pil KB merupakan metode kontrasepsi bentuk tablet yang mengandung hormon estrogen dan progesteron, atau hanya progesteron saja. Tergantung jenisnya, metode kontrasepsi dengan pil KB, terdiri dari 21-35 tablet yang diminum dalam 1 siklus dan berkelanjutan. Dalam 1 siklus terdapat pil yang mengandung hormon (pil aktif) dan pil yang tidak mengandung hormon (pil inaktif). Oleh karena itu, penting untuk minum pil sesuai dengan anjuran. Khusus untuk pil KB yang hanya mengandung progesteron, seluruh pil di dalam 1 siklus, seluruhnya merupakan pil yang aktif. Pil KB yang hanya mengandung progesteron ini juga dapat mengakibatkan seorang wanita tidak mendapatkan menstruasi," jelas dokter Serlyn.
Ternyata dia menganjurkan Viona untuk menggunakan pil KB saja. Lebih aman dan efek sampingnya lebih ringan, katanya.
"Jadi, istri saya akan cocok dengan kontrasepsi ini?" tanya Marshal. Viona dari tadi hanya diam saja mendengarkan, sedangkan Marshal banyak bertanya banyak hal.
"Tidak semua wanita cocok untuk menggunakan pil KB sebagai alat kontrasepsi. Beberapa pertimbangan yang akan diperhatikan dokter sebelum mengijinkan wanita mengonsumsi pil KB, antara lain: Penyakit yang diderita, terutama penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, diabetes, serta kanker payudara, rahim, dan kanker hati. Siklus menstruasi. Obat-obatan yang sedang dikonsumsi," jelas dokter Serlyn lagi.
Jika lupa meminum pil KB, segera minum pil KB ketika teringat. Jika lupa meminum dua dosis pil KB, dapat menggandakan dosis pil KB yang terlupa kemudian meminum pil KB dosis berikutnya pada jam sesuai jadwal reguler. Untuk berjaga-jaga ketika lupa meminum pil KB, dianjurkan untuk menggunakan ****** pada saat melakukan hubungan seksual, setidaknya selama 9 hari berikutnya setelah lupa meminum pil KB. Jika lupa mengonsumsi pil KB sebanyak 3 kali berturut-turut, hendaknya segera menghubungi dokter untuk mendapatkan arahan.
Pil KB yang hanya berisi progesteron harus diminum secara teratur pada jam yang sama setiap harinya. Jika terlewat meminum pil KB di luar jam rutin selama minimal 3 jam, perlu menggunakan ****** pada saat berhubungan seksual atau tidak berhubungan seksual selama 2 hari berikutnya, untuk mencegah terjadinya kehamilan. Jika lupa mengonsumsi pil KB progesteron, segera minum pil KB meskipun harus meminum 2 kali dalam sehari. Setelah itu, pil KB harus dikonsumsi kembali secara rutin setiap harinya.
Jika mengalami mual atau muntah, efektivitas pil KB dapat berkurang. Selain itu, mual dan muntah juga dapat menjadi pertanda kehamilan. Untuk memastikannya, berkonsultasilah dengan dokter dan ganti pil KB dengan metode kontrasepsi lainnya.
Viona dan Marshal mengangguk-angguk paham. Mereka mendengarkan dengan runtut apa saja yang terjadi dan dilakukan pada dokter wanita tersebut.
***
"Padahal jika pil KB, aku bisa membelinya dari apotek lho, Chal. Gak perlu ke dokter seperti tadi."
"Setidaknya kita jadi banyak wawasan, Sayang. Kita juga jadi tahu bagaimana dan apa saja dampak dari yang kamu minum itu."
Viona kembali diam. Memang ucapan Marshal benar. Mereka jadi banyak tahu tentang hal kontrasepsi. Dokter Serlyn menjelaskan banyak macamnya sampai tidak terasa mereka dua jam berkonsultasi di sana. Saat baru keluar dari tempat dokter Serlyn, Rio tidak terlihat. Hanya mobilnya saja yang terparkir tapi sopirnya tidak ada.
Mereka melirik sekeliling. Viona membalikkan badan suaminya untuk melihat ke arah kolam rumah dokter Serlyn. Rio sedang berbicara sendiri dengan ponsel yang menempel di telinganya.
__ADS_1
"Dia ternyata sangat bucin," ucap Viona menggelengkan kepala melihat asisten suaminya.
Marshal memanggil Rio dengan teriakan kencang. Orang yang dipanggil langsung menyimpan ponsel ke dalam saku celana dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Viona kembali mengusilinya dengan berbagai candaan yang terkesan sangat mengejek. Marshal hanya diam dan sesekali menimpali. Ternyata kedekatan antara istri dan asistennya sudah sangat jauh. Viona bahkan tidak tahu malu jika mengobrol dengan Rio. Berbeda sekali jika dibandingkan dengansaat berhadapan dengannya.
"Chal, gendong!" Viona terlihat lemas sekali sampai tidak mau naik tangga sendiri.
Marshal tersenyum melihatnya. Biasanya Viona tidak mau dia gendong, tapi saat ini istrinya malah dia sendiri yang menginginkannya. Marshal menggendong istrinya di punggung, karena Viona yang menginginkannya seperti itu.
"Aku berat, ya?" Viona mengulum senyum. Langkah Marshal menaiki tangga semakin terasa melamban.
Dengan santainya, Marshal malah menggelengkan kepala. "Tidak. Hanya sedikit membebani punggungku, Sayang."
Viona tertawa renyah, memukul bahu suaminya pelan. "Sama saja. Itu namanya berat. Aku tahu, aku memang berat. Apalagi akhir-akhir ini aku banyak makan dan tidak banyak bergerak. Mungkin berat badanku akan meningkat. Aku jadi gendut, kan?"
Marshal menggeleng lagi. "Tidak, Sayang. Kamu tetap ideal di mataku."
Pintu kamar terbuka, Marshal langsung menurunkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya. Viona tertawa melihat padanya dan malah meledeknya.
"Sepertinya kamu sudah tua. Lihat, baru menggendong aku menaiki tangga saja kamu sudah encok seperti itu." Viona tertawa sangat keras.
Marshal pun ikut tertawa dan duduk di samping istrinya. Dia merebahkan tubuhnya dengan lelah, melihat langit-langit kamar. "Sayang, apa kamu bahagia nikah sama aku?"
Viona meliriknya denganalis terangkat. Dia menurut saat Marshal menyuruhnya untuk ikut merebahkan badan. Viona tersenyum hangat saat suaminya memberikan ciuman di pelipis. Marshal memeluknya dan menempelkan tubuh mereka semakin lekat.
"Aku tidak tahu, Chal. Entah bahagia atau apa. Aku hanya menjalaninya," jawab Viona dengan pelan. Dia melirik pada Marshal yang juga sesang melihat padanya. Mereka berpandangan sangat lama. Saling bicara melalui mata dan terus mengumbar senyuman selama waktu serasa berhenti untuk berputar.
"Terima kasih sudah mau menjadi istriku," ucap Marshal memberikan ciuman lagi di pelipis istrinya. Viona hanya tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
"Jangan mulai malam ini, aku belum siap! Kamu juga terlihat sangat lelah," bisik Viona di telinga suaminya.
Dia memeluk Marshal dengan erat. Sudah tidak tahu malu untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Karena menurutnya, mereka sekarang sudah sama-sama saling menerima dan mau menjalani pernikahan sebagai mana mestinya.
Ada sesuatu yang mereka likrikan seharusnya segera mereka bicarakan dan segera mereka selesaikan jika memang menbutuhkan solusi. Viona hanya ingin komunikasi dengan suaminya berjalan baik. Karena kunci dari tentramnya rumah tangga atau pun hubungan adalah sebuah komunikasi yang baik. Jika komunikasinya tidak baik, bagaimana cara kita bisa memahami pasangan masing-masing. Bagaimana cara kita bisa tahu apa yang dia mau dan apa yang sedang dia pikirkan.
Biasanya dari komunikasi yang baik akan tercipta juga kenyamanan yang membuat keharmonisan keluarga terjaga. Semuanya hatus dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Seperti bagaimana cara menghargai istri atau suami, bagaimana mengerti perasaan pasangan dengan baik dan bagaimana cara kita memperlakukan pasangan supaya dia selalu merasa nyaman saat bersama dengan kita.
"Yah ... jadi kapan kita akan memulainya?" Marshal membenarkan posisi tidur mereka. "Sayang?"
Viona malah sudah menutup mata. Kali ini dia tidak berpura-pura, namun memang nyata sudah mengantuk.
"Sayang, tidak mau gangi baju dulu? Apa kamu mau tidur dengan baju seperti ini?"
__ADS_1
Viona hanya bergumam dan semakin menyurukan wajahnya di leher Marshal. Dia sangat lelah dan matanya sudah sangat lengket, tidak bisa dia buka lagi.
"Ya, sudah, tidurlah! Tapi, lepas, aku maj ke kamar mandi dulu!" Marshal segera bangun saat Viona melepaskan pelukannya. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya dan setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.