Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Rahasia


__ADS_3

"Siapkan bajuku!" Marshal baru keluar dari kamar mandi, menghampiri Viona yang sedang duduk ditepian ranjang sembari menonton televisi.


"Tuan akan berangkat bekerja?" Marshal hanya bergumam, Viona langsung berdiri untuk segera menyiapkan baju.


Viona salah tingkah ditatap Marshal terus-terusan saat dia membantunya berpakaian. Apalagi saat Marshal terus saja tersenyum, Viona hanya mampu menunduk dengan malu tidak berani melihat wajah tampan suaminya.


"Lihat aku!" Perlahan Viona yang sedang memasangkan dasi, menengadah, menatap manik mata Marshal dengan takut.


Marshal tersenyum lagi, menunduk serta mendekatkan wajahnya pada Viona yang perlahan mundur dengan tangan yang masih memasangkan dasi.


"Hakkh.." Marshal tercekik.


"Ah, maaf tuan, maaf," Viona segera melonggarkan dasi yang barusan telah dia tarik untuk mencekik Marshal.


"Kamu mau membunuhku?" Marshal melotot, mengusap lehernya sendiri, "gimana kalo aku mati?"


"Maaf, saya tidak sengaja," Viona ikut mengusap-usap leher Marshal dengan lembut. Dia merasa sangat bersalah. Namun bukan salahnya juga, semua salah Marshal yang mendekatkan wajahnya membuat Viona was-was dan mundur untuk menjauh. Namun nahas, dasi yang Viona pegang malah ikut tertarik.


Marshal tersenyum dalam hati, ada untungnya juga dia tercekik karena Viona kini mengusap lehernya dengan panik. "Kamu mencekik kuat sekali, sakit leherku." Viona mengusapnya lagi, dia semakin merasa bersalah, "Maaf, tuan."


"Lain kali jika aku menginginkannya, jangan menolak ataupun menjauh!" Usapan Viona berhenti, dia menatap Marshal dengan bingung, "Maksud Tuan apa? Memangnya apa yang Tuan inginkan?"


Marshal mendecak. Dia menarik pinggang Viona supaya lebih mendekat, dan berbisik, "Menciummu." Viona melototkan matanya, jadi takut mendengar ucapan Marshal. "Jika aku ingin menciummu, jangan menghindar!"


Reflek Viona berontak, dia ingin menjauh. Namun, dengan segera Marshal memeluk pinggangnya dengan erat, "Jadilah istri penurut!"


Viona hanya mampu terdiam dengan cemas saat Marshal kembali mendekatkan wajahnya. Perlahan Marshal memiringkan kepalanya dan terpejam. Viona ikut terpejam dengan takut dia meremas kemeja bagian depan Marshal.


Tahu Viona tidak akan berontak lagi, Marshal semakin mendekatkan wajahnya. Menghembuskan napas tepat didepan bibir Viona, hingga Viona merasa semakin cemas dan meremas kemeja dengan kuat.


"KAK VIONA...!!!"


BRUK!


Marshal tersungkur ke lantai karena dorongan Viona. Mereka memandang kearah suara histeris berbarengan.


"Kalian sedang apa?"


Marshal berdecak sebal saat melihat sosok adiknya disana, sedangkan Viona terkaget dengan panik, takut Michelle melihat adegan barusan.


Sial, kenapa Michelle kemari?! batin Marshal.


"Kak Viona... Aku rindu..." Michelle berlari menghampiri Viona, merentangkan tangannya siap memeluk.


DUK!


"AH, MICHELLE!!!" Marshal menggeram dengan emosi memandang Michelle. Seenak jidatnya Michelle melewati Marshal yang masih tergeletak dan malah menendang betis kakaknya.


Adik kurang ajar! Gumamnya.


***


Pandangan semua orang tertuju pada Marshal dikala ponselnya yang tergeletak diatas meja makan disamping piring sarapannya, berdering.


Tangan Marshal tergerak mengambilnya, sesaat dia menghentikan sarapannya. Melirik anggota keluarga satu per satu, wajahnya terlihat gelisah setelah melihat nama yang tertera dari layar ponsel.


Untuk apa Amanda menelponku? batinnya resah.


Dia menghela napas lega saat dering panggilannya terhenti. Namun, sesaat kemudian ponselnya kembali berdering dengan menampilkan nama pemanggil yang sama. Semua orang melihat Marshal dengan heran, namun yang dipandang malah terlihat bingung.

__ADS_1


"Kenapa gak diangkat?" tanya Wisnu mewakili semua orang yang sedang duduk damai menikmati sarapan, mereka melihat Marshal dengan penasaran.


"Bukan panggilan penting," ucapnya kemudian menolak panggilan dan memasukan ponselnya kedalam saku jas.


Tidak lama kemudian, dering ponselnya kembali terdengar dan semua perhatian kembali lagi pada Marshal yang sedang melihat layar ponsel yang menampilkan nama yang sama.


"Angkat aja, mungkin penting," Kini Rahma yang bicara.


"Bukan panggilan penting, Ma. Mungkin orang asing yang menghubungi, disini tidak tertera nama," lagi-lagi Marshal menolak panggilan tersebut. Dia memasukannya lagi kedalam saku. Sebelumnya dia juga mematikan ponselnya. Supaya tidak ada lagi panggilan masuk yang mengganggu.


Meskipun semua perhatian tertuju pada Marshal, mereka masih merasa heran, kenapa Marshal tidak menerima panggilannya? Namun mereka memilih diam dan kembali menikmati sarapannya dengan damai dalam keheningan.


.......


"Aku ngambil tas dulu diatas," Michelle berlalu pergi ke kamar untuk mengambil tas sekolahnya setelah dia menyelesaikan sarapannya.


"Ma, Papa berangkat dulu." Rahma mengantar Wisnu sampai depan pintu, sedangkan Viona dan Marshal masih terdiam diruang makan, berdua, karena Marshal menahan tangan Viona yang hendak berdiri untuk ikut mengantar sang mertua berangkat bekerja.


"Aku ingin bicara serius padamu." Viona segera menghadap pada Marshal, dia menunggu hal apa yang akan suaminya bicarakan.


"Tapi sepertinya kita harus bicara ditempat yang sepi. Kita ke kamar saja lagi!" ucapnya kemudian menarik Viona untuk mengikutinya naik kelantai dua, ke kamar Marshal.


Viona hanya diam saja mengikuti. Dia masih penasaran tentang hal apa yang akan Marshal bicarakan hingga harus diruangan yang privasi. Apa dia ingin membahas hal yang sangat serius, atau bahkan rahasia? pikir Viona.


"Lho, kalian kenapa malah naik lagi? Bukannya kak Chal mau berangkat bekerja?" tanya Michelle keheranan saat mereka berpapasan ditangga.


"Ada yang ketinggalan di kamar," sahut Marshal sekenanya, dia cuek dan terus melangkah naik. Michelle manggut-manggut dan kembali menuruni anak tangga untuk segera berangkat sekolah.


"Kita harus bicara serius," Marshal menutup pintu kamar dan dia mengarahkan tubuh Viona supaya bisa menghadap padanya. "Aku ingin kamu bisa diajak bekerja sama."


Viona bingung, "Kerja sama untuk apa, Tuan?"


Viona terdiam sejenak, memandang Marshal lalu mengangguk, "Jadi tuan ingin saya merahasiakannya?"


"Nah, itu maksudku. Kamu bisa melakukannya, kan?"


Viona mengangguk walaupun batinnya bertanya, kenapa harus dirahasiakan? Toh, nanti juga mereka mungkin akan mengetahuinya.


"Baguslah jika kamu bisa diajak kerja sama. Aku harap kamu memang bisa merahasiakan ini semua. Dan ingat, jangan sampai keluargaku tahu akan hal ini, sekalipun itu Michelle!"


"Baik, tuan." Marshal tersenyum, kini dia bisa bernapas lega. Sebelumnya dia merasa cemas, takut Viona akan mengatakan hal ini pada keluarganya karena tahu sendiri 'kan, jika istri manapun tidak akan suka jika mengetahui suaminya punya kekasih. Tapi Viona nampaknya berbeda, dia bisa menerimanya bahkan bisa merahasiakannya dan itu membuat Marshal merasa lega.


"Ingat, jangan sampai orang lain tahu tentang hubunganku dengan Amanda!" Hanya anggukan yang bisa Viona berikan sebagai respon, dan Marshal kembali tersenyum. "Istri baik," ucapnya kemudian mengelus kepala Viona.


Istri baik katanya, baik dari mananya tuan? Apakah Anda ini gi*a? Baru kali ini aku mengetahui jika ada suami yang meminta istrinya untuk merahasiakan hubungan antara suami dan selingkuhannya. Apa itu terasa sangat aneh? Sungguh hidupku sangat rumit, sampai kebusukan suamipun harus ku tutupi demi membelanya, batin Viona.


"Ayo, turun! Aku harus berangkat bekerja," Marshal membuka pintu kamar, dan kembali menggandeng tangan Viona untuk mengikuti langkahnya. Namun, Viona malah melepaskan tangannya membuat Marshal harus berbalik badan menghadap padanya. "Kenapa? Kamu tidak mau aku gandeng?"


Viona diam saja, dia menunduk.


Benar tuan, saya memang tidak ingin digandeng olehmu, batin Viona.


Marshal membuang napasnya dengan kasar, dia memandang Viona dengan bingung, "Kita suami istri, kenapa kamu masih mencoba membatasi kedekatan diantara kita?"


"Bukan begitu, Tuan..." Viona masih menunduk, dia meremas jemarinya dengan rasa bersalah setelah mendengar nada bicara Marshal yang terdengar kecewa.


"Yasudah, ayo!" Marshal kembali menggenggam tangan Viona, kini tidak ada penolakan dari istrinya dan dia bisa tersenyum kembali. Setidaknya Viona masih bisa menerima perlakuannya, meskipun terlihat agak terpaksa.


"Ma, aku berangkat bekerja dulu," ucap Marshal pada Rahma yang baru saja masuk kedalam rumah, setelah mengantarkan Wisnu sampai depan pintu, untuk berangkat bekerja.

__ADS_1


"Lho, terus Viona gimana? Apa dia akan dibawa ke kantor?"


"Dia gak akan aku bawa ke kant-"


"Kalo gak mau dibawa ke kantor, terus kenapa kamu gandeng tangannya kayak gitu? Kayak susah banget lepas," potong Rahma diiringi kikikan.


Marshal dan Viona refleks melihat pada tangan mereka yang masih bertautan. Viona menunduk, dia jadi malu.


Marshal berdehem, dan tersenyum pada Rahma, "Mama kayak gak pernah muda aja."


Rahma tertawa ringan, dia geleng-geleng kepala, "Mama lupa kalau kalian pengantin baru," ucapanya kembali disertai tawa membuat Viona semakin menunduk, dia sangat malu, batinnya menggerutu tak jelas mengomeli Marshal atas apa yang telah suaminya ucapkan.


Marshal hanya tersenyum, dan berjalan menuju pintu dengan masih menggandeng tangan Viona dan Rahma mengikutinya dari belakang. "Viona disini aja sama Mama, Chal. Gak usah kamu bawa kerja," sindir Rahma terkikik kembali melihat Marshal yang enggan melepaskan Viona.


Mendengar sindiran itu lagi, Marshal jadi tersadar. "Kamu mau ikut aku ke kantor, atau mau diantar pulang saja?"


"Viona disini sama Mama, Chal. Jangan dulu dibawa pulang!" sambar Rahma cepat, karena Viona nampak terdiam dan Rahma masih ingin jika menantunya itu bisa tinggal bersamanya lagi, setidaknya sehari lagi.


Marshal melihat Rahma sejenak, kemudian beralih pada Viona kembali, "Kamu maunya gimana? Apa mau disini lagi sama Mama? Nanti aku jemput sepulang kerja."


"Pulang saja, tuan." Marshal langsung memberikannya tatapan tajam. Viona terlihat bingung, apa dia salah bicara?


"Kenap-" ucapan Rahma langsung terpotong oleh Marshal.


"Sayang, kamu barusan bicara apa? Jadi apa keputusan kamu?" Viona mengernyit, dia menatap Marshal dengan bingung. Ucapan Marshal memang lembut, tapi tatapannya sangat menusuk.


"Dia barusan manggil kamu apa, Chal? Tuan?" pertanyaan Rahma membuat Viona kaget, jadi dia salah memanggil. Pantesan Marshal terlihat menyeramkan saat menatapnya.


"Biasa, Ma. Dia emang suka gini kalo lagi ngambek, makanya dia manggil yang aneh-aneh, haha," Marshal tertawa hambar. Rahma malah melihat keduanya dengan tajam, "Benarkah begitu?"


"Iya, biasa Ma," Ucap Marshal. "Sayang lain kali kalo ngambek jangan manggil kayak gitu lagi, biar Mama gak mikir yang aneh-aneh, ya!" Viona terpaksa mengangguk, dia hanya akan mengikuti alur yang Marshal buat tanpa protes, dan ini yang harus dia lakukan sekarang.


"Tuhkan, kamu masih ngambek. Aku 'kan udah minta maaf tadi, kenapa masih diam?" Viona merinding geli mendengar ucapan Marshal.


Kenapa dia jadi kayak remaja yang lagi berantem kayak gini? batin Viona.


Rahma terlihat mengukir senyum, ternyata pengantin baru didepannya ini memang sedang kurang akur, pikirnya.


Marshal bernapas lega, dia melihat Rahma tersenyum. Sepertinya Rahma percaya dengan alasannya. "Tuhkan, Ma. Dia emang lagi ngambek, dari tadi dia diam saja. Kayaknya dia belum maafin aku, Ma."


"Memangnya kalian ada masalah apa?"


"Masalah sepele, Ma. Ya, cuma... gak, Ma. Aku gak mungkin ngomongin masalah kita sama Mama, kan? Kita bisa menyelesaikannya, kok."


Rahma manggut-manggut, "Baiklah. Jadi bagaimana? Viona akan tetap tinggal disini dulu, kan?"


Marshal kembali memandang Viona, "Bagaimana?"


"Pulang saja, Ma. Aku akan pulang saja. Mungkin lain kali aku berkunjung lagi," ujar Viona lembut dan tersenyum pada Rahma.


Rahma mendesah kecewa, dia sudah sangat berharap Viona tetap bersamanya dirumah Wisnu. "Yahh... padahal Mama masih pengen ditemenin sama kamu. Tapi… yaudah gak apa-apa. Kamu boleh pulang."


"Kalo gitu, kami pamit, Ma." Mereka memeluk, mencium tangan Rahma bergantian sebelum masuk kedalam mobil, yang sudah dibukakan oleh Rio.


"Dah, Ma. Sampai jumpa lain waktu!"


Mobil Marshal berlalu meninggalkan rumah Wisnu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2