Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Grand Opening


__ADS_3

Marshal merapatkan bibirnya dengan erat supaya tidak mengeluarkan suara tawa yang menggema. Viona masih bersungut-sungut sambil mengeringkan tambut basahnya dengan handuk kecil. Beberapa kali memaki dan bahkan mengomeli suaminya atas apa yang sudah terjadi beberapa saat lalu di kamar mandi.


"Menyebalkan!"


Alih-alih tersinggung atau marah, Marshal hanya memberikan senyuman. Viona menatapnya tajam, penuh kekesalan. Biarkan saja wanita munafik itu lelah dengan makiannya. Padahal tadi sangat menikmati permainan, bahkan sampai sesekali mengerangkan namanya saat puncak kenikmatan tiba. Viona tidak bisa mengelak, jika dia memang menikmatinya. Lalu, untuk apa saat ini dia mencibir sebegitu kerasnya, merasa telah dilecehkan oleh sang suamikah?


Benar-benar muna!


"Sini, biar aku bantu, Sayang."


Viona malah memberikan delikan tajam. Menjauh dari Marshal dan masuk ke ruang ganti. Terlihat masih kesal dan kelelahan. Tapi, Marshal tidak akan menampik, jika dia memang sedikit memaksa. Yang masih bisa Viona terima dan nikmati sentuhannya, tentu saja.


"Ck, ngapain ngikutin?" Viona berdecak kesal, melemparkan handuk bekas rambutnya ke dada Marshal. "Keluar!"


Marshal yang memang sudah selesai berpakaian, kini nampak sudah tampan. Dia tetap tidak bergeming di posisinya, memperhatikan tubuh Viona yang masih terbalut jubah mandi berwarna putih.


"Kamu tuh maunya apa, sih? Gak puas udah buat aku begini?" Viona menunjuk dada dan bagian lehernya sendiri yang terdapat banyak sekali bercak merah. "Mau apa lagi, huh? Aku capek!"


"Hanya ingin melihatmu berpakaian." Dengan santai Marshal menyandarkan tubuh di tembok. Mengambil handuk yang tadi Viona lempar dan menyimpannya di sebuah meja yang terdapat di sana. "Kenapa? Gak boleh dilihat sama suami sendiri?"


Viona mendengus sebal melihat kelakuan suaminya. Kedua tangan Marshal dimasukkan ke dalam saku celana, terlihat sangat cool dengan rambut yang masih basah, acak-acakan.


"Tidak mungkin aku akan diusir, kan?"

__ADS_1


Viona semakin terlihat kesal. Dia membalik badan, tidak peduli dengan keberadaan Marshal. Mencoba mengusir pun tidak mungkin berhasil. Marshal dengan segala sifat menyebalkannya, memang akan sulit untuk disuruh pergi begitu saja. Dia mengalah dan terpaksa berpura-pura acuh, tidak menganggap keberadaan Marshal yang sangat mengganggu.


"Jangan berkomentar atau berbuat macam-macam!" Viona memperingatkan dengan jari telunjuk mengacung ke depan, tatapan mata tajam. "Awas kalo lagi-lagi!"


Marshal hanya mengangguk dan tersenyum. Masih berada di posisinya yang sangat menguntungkan. Namun, beberapa saat kemudian ... "Ekhem!" Dia segera menegakkan tubuh. Berdiri dengan benar dan menelan ludah saat Viona sudah membuka jubah mandinya. "Aku keluar." Segera dia melangkah untuk keluar.


Mana mungkin dia menyerang Viona lagi. Dia sudah terpancing dengan tubuh yang masih lembab itu. Jika terus menyaksikan Viona berpakaian, bisa-bisa mereka melanjutkan permainan sampai malam menjelang. Bisa diamuk nyonya habis-habisan nanti. Padahal sayang sekali jika tubuh yang masih penuh kissmark itu dianggurkan. Tapi, Marshal tidak bisa menuruti gairahnya yang naik kembali. Viona pasti kelelahan setelah mencoba gaya baru di tempat baru untuk mereka melakukan aktivitas penuh nikmatnya.


***


"Yaudah, gitu aja terus. Aku gak usah diperhatiin juga gak apa-apa." Viona membuang muka sebal melihat Marshal yang terus saja memperhatikan seseorang yang dia sebut sebagai kenalannya di deretan para petinggi perusahaan. "Nyesel aku ikut."


Marshal segera meraih tangan Viona, membawanya untuk segera masuk ke aula. Acara akan segera dimulai dan dia tidak mau membuat Viona marah lagi dengannya. Cukup sudah sore tadi istrinya kesal, jangan dengan sekarang. Mereka sedang menghadiri acara penting. Tidak baik jika terlihat oleh orang lain.


Viona mencebik. Penampilannya memang sangat cantik malam ini. Memakai gaun panjang berbahan lembut, berwarna peach dan lengan yang terbuka. Dia membawa sebuah tas kecil di tangan yang berwarna senada dengan gaunnya. Nampak pas jika bergandengan dengan Marshal yang memakai setelah berwarna grey.


"Masa Nyonya Marshal ekspresinya seperti itu, Sayang." Marshal meraih dagu Viona, mengusapnya lembut memaksa Viona untuk memberikan senyuman terbaiknya. Tapi, Viona hanya menampilkan sedikit senyuman yang sangat terlihat tidak ikhlas. "Dia hanya petinggi perusahaan. Aku melihatnya karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku hanya memastikan, jika dia memang orang yang aku kenal."


Oh, sudah lama tidak bertemu ...


Viona semakin sebal mendengarnya. Petinggi perusahaan yang Marshal maksud itu sangat cantik. Berpenampilan bak model internasional dan senyuman yang ramah menyapa banyak orang. Masih muda. Apa salah jika dia kesal mengetahui suaminya tidak berkedip melihat ke arah sana?


"Sudah, Sayang. Aku tidak main mata. Dalam pandanganku, hanya kamu yang terlihat. Seriusan. Hanya kamu yang cantik dan harus aku lihat."

__ADS_1


Dia mulai menggombal. Tidak akan mempan.


"Ya, ya, ya ... aku paham."


Marshal mengembuskan napasnya kasar. Lebih baik menyudahi drama ini. Istrinya cemburu di saat yang tidak tepat. "Yuk, kita masuk! Semua orang telah menanti kehadiran Nyonya Marshal saat ini." Diraihnya tangan Viona untuk mau melingkari lengannya. Marshal membawa Viona untuk segera masuk dan tidak lupa menyapa beberapa orang yang berpapasan dengan mereka.


Sepertinya sandiwara terjadi. Viona memang menyapa dan memberikan senyuman pada semua orang, tapi ketika dia berpandangan dengan Marshal, senyumannya seketika memudar. Dia masih kesal. Dengan sabar Marshal menahan bibirnya untuk tidak memberikan ucapan yang membujuk. Viona akan susah dibujuk jika sedang kesal. Biarkan saja dan berharap kesalnya segera hilang.


Tapi, ternyata malah semakin besar. Wanita yang tadi dipandangi oleh Marshal kini berhadapan dengan mereka. Wanita itu menghampiri duluan dan menyapa ala para pejabat, terasa formal. Mereka bersalaman dan membuat Viona meremas jas Marshal, mereka bertukar kecupan di pipi.


Sialan!


"Hormat saya kepada Nyonya Marshal." Wanita itu tersenyum ramah. Terlihat baik dan sangat sopan. "Selamat malam dan salam kenal dari saya, Garmita Hutalia, selaku direktur di perusahaan Mars Corporations cabang Yogyakarta."


Viona mengangguk, tersenyum dengan terpaksa, tetapi tetap harus terlihat ramah. "Selamat malam kembali, Nona."


Wanita itu mengangguk. Penampilannya benar-benar cantik. Nampak sudah dewasa tapi tetap saja terlihat keren dan berwibawa. Langkahnya anggun dan terlihat sangat menggoda. Sungguh wanita ideal. Apa semua wanita yang dekat dengan Marshal seperti ini? Cih, pantas suaminya gila kerja dan sering menghabiskan waktu untuk pekerjaan. Ternyata dia mencuci mata.


Dan apa tadi dia bilang? Dia seorang direktur di kantor cabang Mars Corporations yang ada di Yogyakarta? Mampus kau! Marshal sering bekerja ke luar kota. Berkunjung ke kota tersebut tentu saja. Dia memiliki banyak aset di sana.


Menyebalkan!


Lantas kenapa dia tadi berkata sudah lama tidak bertemu? Padahal belum lama Marshal ke kota itu untuk meninjau proyek, sekaligus perusahannya.

__ADS_1


Pembohong! Lihat saja nanti jika acara telah usai, Viona tidak akan berpura-pura baik seperti sekarang. Tidak akan!


__ADS_2