Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kenapa harus dengan wanita itu?


__ADS_3

Hai, Readers! Apa kabar? Semoga kalian sehat dan bahagia selalu, ya. Salam hangat dari Zhao. Apakah sudah bosan dengan cerita yang ngaler ngidul ini? Semoga tidak, ya.


Thanks, ya, sudah mau membacanya. Semoga rezeki kalian semakin melimpah ruah.


Happy Reading!


__________________________________


"Aku menyerah. Sudah, Chal!" Viona menepuk-nepuk dada Marshal dengan lemah. Ia sungguh lelah saat ini. Marshal menggempurna tanpa kenal kata ampun. Padahal hari sudah hampir subuh dan memang ini sudah subuh!


"Chal, udah ...." Viona menggeleng-gelengkan kepala, menolak untuk mendapat ciuman kembali. Tapi, Marshal terus saja mencoba untuk memancing gairahnya lagi. "Cukup ...." Rasanya ingin menangis saja. Viona tidak bisa menolak kenikmatan yang diberikan oleh Marshal. Tapi, saat ini dia sangat lelah dan tidak punya cukup tenaga untuk melakukannya lagi.


"Kamu yang memulainya, Sayang."


"Udah, Sayang, Please ... aku capek." Viona memasang wajah semelas mungkin, berharap Marshal bisa menghentikannya. Viona tidak mau terpancing lagi. Dia sudah sangat lemas, jika kembali melakukannya, ia tidak bisa menjamin tubuhnya masih dalam kesadaran utuh. Dia bisa pingsan.


"Aku tahu kamu menikmatinya."


Iya, memang nikmat. Tapi, Viona sudah tidak kuat. "Chal ...." Dia mendorong pelan tubuh Marshal. Kecupan dan godaan dari tangan Marshal masih saja menggerayangi tubuhnya. Dia ingin menangis, tidak kuat menahan kenikmatan yang Marshal berikan, tapi sudah tidak mampu untuk melayani.


Marshal menghentikan aksinya mendengar suara Viona yang semakin lirih dan mulai terisak sambil mendesah. "Kenapa, hm? Tidak tahan dan mau lagi?"


Ironisnya Viona memberikan anggukan. "Tapi, capek ...."


Marshal terkekeh geli. Dia menggelengkan kepala pelan dan turun dari tubuh istrinya. "Jangan menggodaku, jika tidak mau berperang sampai pagi."


"Aku kalah." Viona mengangkat tangan, menyerah. Dia sungguh kelelahan. Tenaga monster Chal sangat kuat, dia sulit mengimbanginya.


"Sekarang tidurlah!" Marshal membenarkan selimut untuk menutupi tubuh mereka. "Terima kasih." Dia mengecup kening Viona lama, sebelum akhirnya mereka sama-sama larut ke dalam mimpi.


***

__ADS_1


Berani menikmati sentuhan, bukan berarti Marshal sudah luluh. Tidak. Belum. Nyatanya sikap Marshal kembali seperti semula, setelah semalam menggempurnya habis-habisan.


Viona memandangnya jengkel. Dia bahkan kesusahan berjalan karena sedikit tidak nyaman di antara kedua kakinya. Tapi, Marshal bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Menyebalkan!


"Nyonya, orang MUA yang diinginkan sudah saya hubungi. Besok akan datang tepat waktu," lapor Rio pada Viona yang kini tengah melihat suaminya berteleponan dengan salah satu rekan kerjanya di teras belakang. "Apa ada lagi yang perlu saya bantu?"


"Tidak, Rio. Terima kasih." Viona tersenyum tipis pada Rio yang mengangguk dan undur diri untuk menyiapkan mobil, katanya.


Besok adalah hari wisuda. Viona meminta Rio untuk mencarikan orang yang bisa mendandaninya. Hanya merias biasa saja, Viona tidak ingin terlalu mewah. Hanya ingin terlihat natural dan sedikit memoles diri tidak apa, kan?


Lihatlah, tuan menyebalkan itu malah tertawa dengan masih memegang ponsel yang di tempelkan di depan telinga. Sejak bangun tidur sampai saat ini, Marshal masih saja bersikap acuh padanya. Viona kira dia akan melunak, nyatanya malah makin seperti beruang kutub.


Apa kobaran api gairah semalam masih kurang meleburkan sifat dinginnya? Padahal Viona sampai harus mengeluarkan tenaga ekstra melayani Marshal sampai beronde-ronde. Tapi, seperti tidak ada bekas untuk suaminya. Marshal bersikap seolah mereka memang tidak saling mengenal.


Sialan! Semalaman Viona mengangkang, menungging, bahkan banyak hal yang dilakukannya, ternyata tidak berkesan sedikit pun. Apa dia kurang memuaskan? Tidak mungkin. Dia sudah mengeluarkan semua kemampuannya, bahkan rela menjadi liar dan nakal. Semua itu dia lakukan demi membuat Marshal berubah. Tetapi, tetap saja seperti itu.


Viona diam memperhatikan Marshal memanggil asistennya untuk datang. "Apa tiketnya sudah siap?"


Marshal nampak tidak terganggu diikuti secara terang-terangan seperti itu, malah tidak berkata apa pun. Dia tetap saja acuh terhadap istrinya.


"Kamu mau ke mana? Kenapa nyiapin koper? Terus tadi kenapa tanya masalah tiket?" Viona memandang heran. Marshal meraih koper dan memasukkan beberapa pakaian ke dalamnya, tanpa repot meminta bantuan Viona yang biasanya selalu diminta untuk melayani. "Mau pergi ke mana?"


"Aku harus pergi ke luar kota, Sayang. Hanya beberapa hari." Bahkan Marshal tidak melirik Viona sedikit pun saat bicara. Dia lebih berfokus pada pakaian yang dia siapkan, ketimbang istrinya yang semakin bingung dan malah terkejut mendengar penjelasannya.


Bagus sekali, Marshal bahkan tidak bilang apa-apa sebelumnya dan sekarang dia akan berangkat? Ternyata dia sudah tidak menghargai Viona sebagai istrinya.


"Pergi ke kota mana? Kenapa tiba-tiba?" Viona diam, memandang penuh penasaran pada Marshal yang tetap acuh, memasukkan pakaian ke dalam koper. "Chal!" Viona mendekat, jengkel melihat Marshal yang seperti itu. "Lupa udah punya istri?!"


"Tidak." Santai sekali Marshal menjawabnya.


Viona menggeram rendah, menahan tangan Marshal yang akan menutup ritsleting koper. "Kenapa gak bilang sama aku kalau mau pergi?"

__ADS_1


"Aku sudah bilang barusan."


"Itu barusan, setelah aku bertanya. Sebelumnya, kenapa gak bilang?" suara Viona mulai meninggi.


Marshal menghela napas mendengarnya. Pandangan Marshal terlihat tenang, membalas tatapan Viona yang mulai meradang. "Aku harus berangkat buru-buru. Penerbangannya satu jam lagi. Bisa tidak kamu jangan mengulur waktuku?"


Dengan mata yang membulat sempurna, Viona tidak percaya suaminya berkata seperti itu barusan. Dia bilang Viona mengulur waktu? Apa Marshal menganggap Viona adalah penghambat kepergiannya?


"Chal!" Viona terlihat kesal. Semakin mendekat pada suaminya yang masih saja bersikap tenang. "Apa aku salah jika bertanya pada suami yang tiba-tiba pergi ke luar kota tanpa bicara dulu sebelumnya?! Apa aku gak boleh bertanya seperti itu? Iya?"


Helaan napas Marshal malah semakin membuat amarah Viona memuncak. "Aku pergi hanya beberapa hari, Sayang. Urusan pekerjaan."


"Dan besok hari wisuda. Kamu mau ninggalin aku gitu aja?!"


"Masih ada keluarga, bukan? Aku ada urusan penting. Sulit untuk ditinggalkan, tidak bisa hadir di sana. Maaf."


Kedua tangan Viona mengepal kuat. Berharap bisa ditemani oleh suaminya? Marshal tidak bisa diharapkan. Apa pekerjaan itu lebih penting darinya? Hanya sehari saja Viona meminta untuk ditemani di hari spesialnya, tapi Marshal tidak bisa. Marshal benar-benar ....


"Penerbangannya satu jam lagi, dikurangi waktu di perjalanan. Jadi, maaf, Sayang. Aku harus segera pergi. Aku ak-" Marshal langsung terdiam melihat istrinya mengepalkan tangan kuat, meremasnya di udara dan wajahnya mulai memerah. "Kamu kenapa?"


"Kamu yang kenapa?!"


Marshal tertegun mendengar suara Viona yang mulai serak. Pandangannya mulai memburam.


"Aku gak tahu apa salahku, Chal. Aku gak tahu kamu kenapa. Aku juga gak tahu kalau kamu udah gak peduli sama aku sampai kamu gak ngehargain aku sebagai seorang istri, bahkan pergi ke luar kota saja, kamu tidak bilang sama aku sebelumnya." Tangan Viona terangkat menyusut air mata yang mulai keluar. "Sekadar ingin ditemani di hari wisuda saja, kamu tidak bisa. Sebenarnya aku salah apa? Kenapa kamu giniin aku sekarang? Kenapa?"


Marshal segera meraih tubuh Viona, memeluknya erat. Diusapnya puncak kepala sang istri, Marshal memberikan kecupan ringan di pelipisnya, berharap Viona tidak menangis sampai parah.


"Tapi, aku tidak bisa, Sayang. Aku harus pergi sekarang. Maaf." Kini kecupan Marshal beralih untuk mendarat di keningnya. "Aku tidak bisa hadir di hari wisuda besok. Semoga menjadi hari bahagia untukmu. Aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Aku sudah berjanji dengan Garmita untuk meninjau lokasi baru minggu ini. Maaf, ya."


"Garmita?" gumam Viona, sekuat mungkin menahan air mata, tapi kesal menjalar, Marshal menganggukkan kepala memberitahukan, bahwa pendengarannya tidak salah.

__ADS_1


Pertanyaan Viona hanya satu, kenapa harus pergi dengan wanita itu?


__ADS_2