Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Balik Lagi


__ADS_3

"Kok pulang lagi?" Viona menatap heran saat Marshal masuk ke dalam rumah. Awalnya dia tidak percaya, saat Erni mengatakan jika suaminya datang. Dia cukup terkejut melihat kehadiran Marshal. Baru beberapa jam dia pamit untuk berangkat bekerja, tapi sekarang sudah kembali. Bahkan matahari masih jauh untuk berada di atas kepala.


"Sini!"


Viona mendekat pada suaminya. Tatapannya masih bingung, tapi dia menurut saat Marshal mengajaknya untuk naik ke atas.


"Apa yang kamu lakukan di dapur tadi?" Marshal melingkarkan tangannya di pinggang Viona, berjalan beriringan menuju kamar.


Viona mendongak sedikit. "Aku lagi buat brownies keju sama mbak Erni. Tadinya mau ke rumah mama. Udah lama aku gak ke sana."


"Aku sudah bilang, jangan ke mana-mana. Apa itu tidak cukup terdengar jelas?"


Viona masuk duluan ke dalam kamar saat Marshal membukakan pintu. Raut wajahnya cemberut seketika. Dia ingin pergi, tidak mau berada di rumah seharian. Tadinya ingin berkunjung ke rumah orangtuanya. Sudah lama tidak bertemu dengan Lina. Dia rindu pada mamanya. Tapi, jika Marshal berkata seperti itu, apa dia bisa pergi?


"Besok kamu sidang, bukan? Seharusnya banyak istirahat di rumah. Persiapkan diri dengan baik. Bukan malah berniat keluyuran."


"Aku hanya berkunjung!" bantah Viona keras. Tatapannya kesal melihat Marshal yang dengan santai malah menarik tangannya untuk mendekat. "Buka sendiri, ah!" Viona menolak saat Marshal memintanya untuk mengurai jalinan dasi. Dia sangat kesal pada Marshal saat ini.


Mendengar Marshal mengembuskan napas kasar, Viona mendongak melihat mata suaminya. Tatapannya terkunci. Marshal malah menarik pinggangnya untuk semakin dekat dan detik berikutnya bibir Viona disambar kuat. Viona tidak sempat berontak. Dia berniat menolak karena kaget, tapi Marshal menahan tengkuknya. Liar dan dalam.


Tautannya tidak lama. Marshal mengusap bibir basah istrinya penuh kelembutan. Dia mencuri satu kecupan lagi sebelum mengakhirinya. "Jangan menampakkan ekspresi itu lagi! Aku merasa seperti penjerat kebebasan, jika kamu seperti tadi."


Marshal memang penjerat kebebasan, pikir Viona. Dia selalu melarang ini-itu semaunya.

__ADS_1


"Sayang, aku melarang karena aku peduli. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu."


"Hanya ke rumah mama," ucap Viona lirih, kembali mencebikkan bibirnya.


"Rumah mama dari sini berjarak. Bagaimana jika di jalan terjadi sesuatu? Aku tidak mau mengambil risiko."


Viona memutar bola mata. Dia segera melepaskan diri dari Marshal. Menjauh lebih baik untuk mood-nya. Berada di dekat Marshal yang sedang menyebalkan hanya akan membuatnya mati menahan kesal.


"Sini-sini, biar kuajari caranya memperbaiki kekesalan. Aku akan buat kamu betah berada di rumah seharian."


Viona menolak saat Marshal kembali menarik tubuhnya mendekat. Dia ingin semakin menghindar, tapi Marshal malah menggendong tubuhnya sampai Viona terpekik dan berteriak tidak mau. Marshal menidurkannya di atas ranjang. Viona melotot tajam melihat Marshal yang membuka dasi terburu-buru dan melepaskan jas beserta kemejanya.


"Chal?"


Viona sudah was-was melihat seringaian muncul di wajah suaminya. Dengan kuat dia mendorong dada Marshal yang menindih. "Aku gak mau!" Viona bisa bergeser saat Marshal beranjak dari atas tubuhnya.


Pandangan Marshal terlihat kecewa. "Apa aku mendapat penolakan? Hei, sayang, menolak suami itu tidak baik."


Viona menggeleng-gelengkan kepala cepat. Tangannya kembali mendorong dada Marshal saat tubuh kekar itu kembali berada di atasnya yang hanya bisa terbaring. "Aku gak mau! Tadi kamu bilang, aku harus banyak istirahat. Besok sidang, Chal!" Viona mendorong lagi tubuh suaminya hingga Marshal berhenti dengan tingkahnya.


Marshal bangun dan tersenyum penuh kemenangan. "Itu lebih baik. Istirahatlah! Aku juga akan istirahat sampai siang menjelang."


Viona menghela napas lega melihat suaminya yang duduk di tepi ranjang. Satu kaki Marshal lipat di atas kasur, sedangkan satunya lagi menjuntai ke lantai. Dia menghadap pada Viona yang masih berbaring.

__ADS_1


"O, iya ... kenapa kamu pulang lagi?"


"Aku merindukanmu," bisik Marshal mencondongkan wajah ke arah Viona yang baru saja akan bangun. Viona mendorong kuat tubuh Marshal. Suaminya malah tertawa, melihat ekspresi kesal Viona. "Tadi aku ke kantor polisi, bertemu Amanda."


Viona yang terkejut mendengar ungkapan Marshal, segera bangun menatap tajam suaminya. Marshal berbohong. Dia bilang tidak akan pergi ke kantor polisi, akan langsung pergi ke kantor. Tapi, ternyata dia hanya membohongi Viona supaya tidak ikut menemui Amanda.


"Setelah dari kantor polisi, tadinya aku mau ke perusahaan. Tapi, tiba-tiba keingat sama kamu. Makanya aku pulang." Melihat Viona yang malah membuang muka, Marshal bergeser semakin dekat dengannya. Dia menaikkan kedua kakinya, duduk bersila menghadap Viona yang malah bergerak memunggungi. Dipeluknya Viona dari belakang, Marshal menumpukan dagu di pundak istrinya. "Apa kamu cemburu aku bertemu Amanda?"


Hanya diam. Bukan itu yang dia permasalahkan. Bukan karena cemburu, meski ada sedikit perasaan yamg tidak enak mengetahui Marshal menemui Amanda. Viona ingin bertemu dengan Amanda. Dia ingin tahu keadaannya dan ingin melihat wanita itu. Viona juga ingin mengatakan sesuatu terhadap Amanda, tapi Marshal selalu melarangnya untuk bertemu. Bahkan rela berbohong supaya Viona tidak bisa menemui wanita itu.


"Amanda akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Hukum sedang berproses, Sayang."


Viona masih diam. Bulu kuduknya merinding seketika saat Marshal menggeser kepala dan mengubah posisi menghadap leher mulusnya. Sebuah kecupan mendarat di sana. Marshal mengembuskan napas keras menerpa kulit putih mulus di bawah telinga. Viona ingin menggeliat, tidak tahan. Dia tahu ke mana akan berujungnya tingkah Marshal. Viona tidak ingin lemah untuk saat ini. Apalagi Marshal memeluknya tidak mengenakan kemaja.


"Sayang ...."


Viona hanya diam memandang lurus ke depan. Tidak sedikit pun ada niat untuk menanggapi suaminya. Dia ingin beranjak dari sana, tapi pelukan Marshal malah semakin menguat.


"Seorang istri yang cantik, baik, pengertian dan penurut ternyata patut aku syukuri. Meskipun awalnya suka membantah dan keras kepala, tapi istriku selalu bisa menjadi yang terbaik." Viona masih diam. Tidak tahu ke mana arah pembicaraan Marshal. "Aku sangat sayang pada istriku. Aku takut kehilangannya dan aku tidak bisa tenang barang sedetik pun supaya memastikan dia baik-baik saja."


Memang lebih baik dia terus diam. Biarkan saja Marshal mengoceh sesuka hatinya.


"Sayang," Marshal membalik tubuh Viona. Mereka bertatapan. "bagaimana jika kita punya anak secepatnya? Aku menginginkan kehadiran mereka." Tatapan hangat yang meneduhkan itu penuh harap. "Aku ingin punya anak. Segera," lanjutnya berbisik, kemudian mengecup lembut kening Viona.

__ADS_1


__ADS_2