Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Buronan


__ADS_3

Apa kalian tahu rasanya menjadi buronan di rumah sendiri? Saat ini Marshal merasakannya. Dia memilih untuk keluar dari pintu belakang, supaya tidak melewati ruang keluarga, tempat Viona berada. Ternyata menghindari istrinya tidak cukup mudah, karena Marshal tetap saja takut Viona menemukannya.


Dia melirik ke belakang, Rio sedang menggelengkan kepala melihatnya dengan bibir yang bergetar menahan tawa. "Aku keluar duluan. Kamu bawa tas kerjaku di dalam. Aku lupa membawanya."


Apalagi yang bisa Rio lakukan selain menurut. Dia masuk ke dalam untuk mengambil tas kerja majikannya. Sebelum mengambil tas, Rio masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dekat tangga. Dia tertawa keras mengingat tingkah konyol majikannya sampai dia terbungkuk-bungkuk mengeluarkan semua tawa yang menggema. Setelah kegeliannya terhadap Marshal mereda, dia keluar dari kamar mandi. Wajahnya bahkan memerah dengan sedikit sisa air di matanya. Dia begitu puas tertawa.


"Huh! Ngapain kamu di sini?" Rio terkesiap melihat Erni yang berdiri di depan pintu. Terlihat aneh melihat padanya.


"Kamu kenapa, Yo?" tanya Erni terlihat bingung, seakan Rio adalah makhluk astral yang langka. "Kamu gila, ya? Aku dengar kamu ketawa sendiri di dalam. Dari tadi. Lama banget lagi."


Sebelum pertanyaan lain keluar dari mulut Erni, Rio segera beranjak pergi. Tidak peduli Erni melihatnya semakin aneh. Dia tidak mau dikira gila benaran, tapi ... dia memang seperti orang gila menertawakan tingkah konyol majikannya.


Hal pertama yang harus dia perhatikan adalah keberadaan Viona di ruang keluarga. Dia mengintip dari balik tembok, aman. Viona masih menyantap salad buahnya sambil menonton acara televisi. Diperhatikannya sekitaran, Rio berjalan pelan melewati ruangan tersebut, memastikan Viona tidak akan menyadari jika dia lewat sana.


Dan berhasil. Rio membuang napas lega, setelah menahannya saat berjalan lewat ruang keluarga tadi. Dia segera berbelok menuju ruang kerja Marshal. Dan dia akan segera pergi dari rumah itu untuk berangkat ke kantor. Atau mungkin dia akan mengantar Marshal ke kantor polisi dulu, sebelum ke perusahannya.


"Rio!"


Tubuhnya kaku seketika. Dia berbalik dengan kaget, panik segera menyelimuti dirinya. Viona berdiri di sana memperhatikannya yang baru saja keluar dari ruangan Marshal. Sejak kapan Viona berada di sana? Bagaimana jika dia tahu, kalau Marshal akan pergi secara diam-diam?


"Sudah mau berangkat?"


"I-iya, Nyonya."


Rio menelan ludah kasar saat Viona memperhatikan sekitar. Dia ingin segera menghindar, tapi tidak menemukan cara untuk pergi. Matilah Marshal, karena Rio rasa rencananya tidak akan berhasil.


"Tuan udah selesai sarapan?"


Rio mengangguk cepat, tersadar, lalu menggeleng keras. Dia menggaruk kepala saat Viona memicingkan mata melihat gelagat anehnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


Rio menggeleng, menampilkan senyuman yang terpaksa. "Tidak apa, Nyonya."


Tapi, Viona memang tidak bisa dikadali begitu saja. Dia tidak semudah itu percaya. "Menyembunyikan sesuatu, maka artinya kamu mulai menjadi musuhku."


Rio tertawa ringan, satu tangan yang tidak memegang tas dia kibaskan ke udara. "Masa jadi musuh." Tawanya hambar, terlihat sangat konyol.


Viona berdecak kesal, menggelengkan kepala melihatnya. "Apa yang kamu sembunyikan?"


"Tidak ada, Nyonya." Rio menghentikan tawanya, melihat tatapan Viona yang berubah tajam, menelisik. "S-saya pergi dulu, Nyonya." Dia berjalan cepat melewati Viona.


Tidak peduli dengan Nyonya yang malah mengikutinya, Rio tetap berjalan keluar rumah. Dia tahu ini tidak akan mudah. Dan semuanya memang akan terbongkar.


Keluar dari pintu utama, Rio terkejut melihat ke arah halaman dekat mobil terparkir. Dia ternganga melihat Marshal yang sedang berjongkok di tanah. Tangannya terulur mencabut rumput, memainkannya hingga rumput hijau itu berputar-putar diapit jempol dan telunjuknya.


Marshal yang baru saja akan mencium rumput ke dekat hidungnya, segera tersentak berdiri. Matanya membulat tajam, kaget dengan teriakan Viona. Dia membuang rumput tadi ke sembarang arah. Kini wajahnya terlihat panik. "S-sayang?"


"Ngapain kamu di situ? Bukannya tadi sarapan?"


"Emm ... aku ... ak-aku ...."


Argh, matilah kau Marshal! Apa yang harus dia katakan pada Viona? Tidak mungkin dia bilang ingin melarikan diri diam-diam lewat pintu belakang. Itu terasa sangat konyol. Marshal tidak akan mengatakannya.


Marshal terdiam kaku melihat tatapan bingung yang Viona tunjukkan. Dia tidak tahu harus berkata apa saat ini.


Tiba-tiba Rio merogoh ponsel dari sakunya. Dia menempelkan ponsel itu ke telinga. "Ya, Halo Tuan? Hm, ya, baik. Baik, kami akan segera ke sana. Mohon maaf sebelumnya. Ya, baik, Tuan," ucap Rio sambil melirik Viona dan Marshal bergantian. "Mohon maaf atas kesalahan kami, Tuan. Baik, kami akan segera tiba di sana," lanjutnya, kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku kembali.


"Tuan," panggilnya pada Marshal, "tuan Mahatma sudah menunggu Anda sejak tadi. Apa kita akan berangkat sekarang? Kasihan beliau sudah menunggu."

__ADS_1


Marshal mengernyit tidak mengerti dengan ucapan Rio. "Tuan Mahatma? Bukannya-"


"Tuan pasti lupa. Kita punya jadwal bertemu dengannya pagi ini. Mari berangkat sekarang!" Rio memotong dengan tatapan yang mengisyaratkan sesuatu.


Melihat gelagat itu, Marshal tertawa hambar dan segera berjalan mendekat pada Rio. Dia menepuk pundak Rio keras, mereka bertatapan. Ada sebuah pesan tersirat di baliknya. Sandiwara. Dengan senang hati, Marshal menyambutnya. "Baiklah, ayo pergi! Kasihan Mahatma menunggu terlalu lama. Aku lupa, jika sudah janji satu jam yang lalu."


"Haha, iya, Tuan. Sepertinya Tuan menderita amnesia sementara, sampai melupakan janji penting seperti itu. Mari berangkat!"


Mereka tertawa bersama. Terlihat aneh menurut Viona.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya. Baik-baik di rumah."


Viona hanya terdiam saat Marshal memberikan kecupan singkat di pipi dan keningnya. Dia terus memperhatikan dua makhluk itu. Mereka menunjukkan gelagat yang sangat aneh. Viona tahu, ada yang tidak dia ketahui.


"Chal?"


"Aku akan pergi ke kantor, Sayang. Kamu dengar sendiri 'kan tuan Mahatma sudah menunggu sejak tadi." Marshal.menjawab cepat saja. Dia tidak mau Viona bertanya yang tidak-tidak padanya. "Mungkin aku akan ke kentor polisi besok saja. Hari ini jadwalku padat. Iya 'kan, Rio?"


"I-iya. Jadwal Tuan sangat padat."


Viona memilih untuk pura-pura percaya saja. Dia menerima uluran tangan Marshal dan mencium punggung tanganya.


"Hati-hati di rumah! Jika ada apa-apa, segera hubungi aku!"


Viona mengangguk pelan. Dia tetap diam saat Marshal mengecup bibirnya, bahkan di hadapan Rio yang langsung memalingkan wajah. Lupa sudah jika dia sedang marah terhadap suaminya dari tadi, karena Marshal yang tidak mengizinkannya ikut ke kantor polisi untuk menemui Amanda, dan tidak membolehkan Viona pergi ke mana pun hari ini dengan alasan besok hari sidangnya, dia harus istirahat di rumah supaya besok bisa fokus.


Viona tahu ada yang tidak beres dengan suaminya. Rio dan Marshal terlihat mencurigakan dengan gelagat anehnya. Dia tidak bisa menelisik lebih jauh, karena Marshal menyadari hal itu. Dengan segera dia berangkat guna menghindari kecurigaan Viona dan sederetan pertanyaan yang akan sangat sulit untuk dihadapi.


Cari aman.

__ADS_1


__ADS_2