Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Begadang


__ADS_3

  Viona menyimpan handuk dan jas kotor yang dibawanya, dia masukan kedalam keranjanng baju kotor. Lalu beralih pandangan pada Marshal yang masih mengenakan handuk yang dililitkan dipinggang sembari menyilangkan tangannya didada bidang miliknya.


"Apa yang harus saya lakukan, tuan?" Tanyanya disertai senyuman tipis yang dipaksakan.


Marshal tetap dengan wajah angkuhnya. "Ambilkan aku baju!"


  Viona berbalik badan. Melihat semua baju yang berjejer didepannya. Ada banyak sekali baju yang berjejer. Namun yang didepannya ini hanya banyak kemeja, jas, dan beberapa jaket. Lalu dimana jenis baju lainnya? Tanya hati Viona heran.


"Tuan mau memakai baju seperti apa?" Pertanyaan Viona malah mengusik kembali emosi Marshal. "Hei, bodoh! Seperti itu saja tidak tahu. Apa kamu tidak bisa mengira pakaian apa yang akan kukenakan?" Bentaknya membuat Viona harus menghela napas kembali.


  Ya Alloh.. aku kan tidak tahu dia mau memakai apa, makanya aku bertanya. Dia bilang aku harus mengira?.. hah! Apa dia pikir aku ini peramal apa, yang tahu apa saja isi pikirannya...


  Viona semakin kesal tetapi dia tetap memasang wajah setenang mungkin.


"Hei! Kenapa hanya diam saja? Cepat ambilkan bajuku!" Suruhnya kembali dengan ekspresi masih terlihat angkuh disertai sorotan tajamnya.


  Viona kembali melihat-lihat semua baju yang ada disana.


Ini? Tidak. Yang ini? Tidak. .. ini? Ah, sepertinya tidak... atau yang ini saja ya? Ah tidak... Viona melihat beberapa baju. Namun tidak ada yang sesuai. Kemudian dia diam sejenak.


  Ah, iya. Kenapa aku harus repot nyari baju, sih. setelah ini, dia.pasti akan tidur. Tentu saja dia akan menggunakan piyama tidur.


  Viona mencari letak piyama. Namun tak satupun dia temukan didepan sana. Kemudian dia berbalik menatap Marshal. "Maaf, tuan. Letak piyama Anda dimana?"


Marshal mendecak kesal, dia menatap Viona penuh malas. "Nyari piyama aja lama banget" gumamnya, kemudian menunjuk salah satu pintu lemari kaca besar.


  Viona mengikuti arah pandangnya sesuai tangan Marshal menunjuk. Tanpa bertanya lagi, Viona mendekat pada pintu lemari kaca besar itu. Dia menggesernya perlahan. Dan ternyata benar, disana banyak piyama dan juga ada beberapa pakaian untuk sholat juga.


"Ini dia" Viona mengambil piyama setelan berwarna biru dongker. Kemudian menyerahkannya pada Marshal. "Ini, tuan" Marshal menerimanya dengan wajah datar.


  Viona berbalik menutup semua lemari. Namun saat sedang menutupnya, Marshal kembali bersuara. "Hei! Dalemannya mana?"


Mata Viona membulat. "Apa harus saya juga yang ambilkan?" Viona membalik badannya dengan kaget melihat Marshal.


"Iyalah. Masa cuma pake piyama doang" katanya mengejek. "Cepat ambilkan dalemannya!"


Oke, sekali lagi Viona pasrah. Dia hanya bisa menurut apa kata Marshal. Viona membalikkan badan. Mengambil apa yang Marshal minta lalu memberikannya pada Marshal.


Setelah memberikan semua yang Marshal perintahkan, Viona hendak berlalu keluar ruangan wardrobe. Namun Marshal mencegahnya dengan menarik tangan Viona hingga membuatnya kaget menatap heran pada Marshal.


  Ada apa lagi, Ya Alloh....


"Mau kemana?"


"Keluar, Tuan" sahutnya gugup membuat Marshal menarik tangannya lagi hingga Viona mundur beberapa langkah berada pas didepan Marshal. "Bantu aku berpakaian!"


"Apa?" Viona kaget kembali dibuatnya. Entah kenapa, Kini wajahnya sudah bersemu merah.


"Cepat bantu aku memakai baju! Jangan diam saja!"


  Huh! Dia ini gila apa. Masa aku harus memakaikan baju padanya. Sama dalemannya?.. Oh, Nooo..


"Em.. emm.. tuan. Apa tuan tidak bisa memakainya sendiri?" Sebenarnya Viona tidak ingin memakaikannya pada Marshal. Selain malas, dia juga merasa malu jika harus mengenakan pakaian pada Marshal. Meskipun Marshal suaminya, tapi tetap saja, dia belum terbiasa dengan hal itu. Terlebih mereka baru menikah tadi pagi. Jadi bukankah mereka belum pernah melakukan kontak fisik sedekat itu.


  Marshal meraih dagu Viona, mendongakkan wajahnya yang kini sudah bersemu merah. "Apa kamu tidak mau, iya hah?" Nadanya pelan namun membuat Viona gemetaran karena sorotan mata yang Marshal berikan terasa begitu mencekam.


"Emm.. tuan, apa tuan tidak bisa memakainya sendiri? Saya tidak bisa memakaikannya" Viona gugup. Dia gemetaran saat ini.


"Kamu tidak mau?" Marshal mengusap-usap dagu Viona. "Mau membantahku, huh!" Suaranya semakin mencekam bagi Viona. Sorotan tajamnya membuat Viona harus menelan ludahnya dengan susah payah.


"Aku akan menelpon ayahmu, sekarang. Dan bilang padanya, jika puteri tercintanya ini tidak berguna" tatapan membunuhnya mampu membuat Viona tak bisa berkutik selain hanya menganggukan kepala. "Ba-baik, Tuan. Saya akan membantu tuan berpakaian" akhirnya Viona pasrah membuat bibir Marshal menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.


  Viona membantu Marshal berpakaian. Tangannya terlihat gemetar. Rasa gugup menjalari tubuhnya dan juga, jangan lupakan pipi merah meronanya. Entah apa yang dia rasakan. Tapi pipinya tak mau menghilangkan blushing.


  Viona memasangkan kancing piyamanya satu persatu dengan perlahan. Dia gugup sekali saat ini. Memasang daleman sama celananya?.. tentu saja bukan Viona yang melakukannya. Viona bersi keras untuk tidak memakaikannya, meskipun beberapa kali Marshal memaksa untuk memasangkan daleman serta celananya. Tapi dia tetap kekeh. Dia tidak mau memasangkannya.


  Setelah berpakain, Marshal keluar dikuti Viona yang mengekor dibelakangnya. Kemudian Marshal duduk ditepi ranjang dan Viona hanya berdiri di sampingnya.


"Rio bawakan aku kopi!" Titahnya pada Rio yang sedang duduk disofa yang ada dikamar Marshal.

__ADS_1


Rio yang fokus pada ponselnya kini melirik pada Marshal. "Kopi?" Marshal mengangguk membuat Rio harus mengernyit. "Tapi, tuan. Ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya Anda minum teh hangat saja, biar tuan rileks dan cepat istirahat"


Ternyata Rio masih mempedulikan kesehatan Marshal.


"Aku ingin kopi, bukan teh hangat. Cepat bawakan sekarang!" Titahnya dipertegas.


Tanpa bicara lagi, Rio keluar dari kamar mengambilkan pesanan tuan mudanya.


  Viona melirik kepergian Rio. Dia juga melirik sejenak pada Marshal. Dan hatinya kembali mengerutu.


  Huuh!.. kenapa hidupku jadi begini? kenapa aku harus bertemu dengannya? Aku sangat lelah, ingin tidur. Tapi kenapa dia terus menyiksaku.


Marshal menatap wajah kesal Viona. Bibirnya kembali menyunggingkan senyuman.


Dia penurut juga..


"Hei! Rambutku masih basah" Marshal memegang rambutnya yang masih kelimis.


Lah terus?.. apa lagi yang harus kulakukan tuan menyebalkan?.. hatinya kembali menggerutu.


"Keringkan rambutku!"


  Viona langsung kembali keruang wardrobe.


"Mau kemana?" Teriak Marshal heran dengan tindakan Viona.


Viona menghentikan langkahnya. Menatap pada Marshal "Saya mau ambil handuk dulu, tuan"


Marshal menautkan alisnya. "Handuk yang tadi kemana?"


  Apa dia lupa telah melemparkan handuknya?


"Sudah saya masukan kedalam keranjang, tuan"


"Kenapa malah dimasukin keranjang?"


"Handuk yang tuan lemparkan pada saya tadi sudah terjatuh ke lantai. Dan saya pikir, handuknya akan sudah kotor. Makanya saya mau mengambil handuk yang baru. Masa iya saya harus mengeringkan rambut tuan dengan handuk kotor" jelasnya lembut membuat Marshal manggut-manggut, mengerti. "Yasudah, ambilkan yang baru" ujarnya dingin. "Cepat!"


   Setelah mengambil handuknya Viona kembali mendekat pada Marshal yang masih duduk ditepi ranjang, namun kini dia terlihat fokus pada ponsel yang dipegangnya.


  Viona berdiri disamping Marshal. Namun dia hanya bisa terdiam. Dia ragu jika harus melakukannya pada Marshal.


"Kenapa hanya diam saja?" Marshal melirik Viona yang hanya mematung dengan handuk ditangannya. "Cepat keringkan rambutku!"


"Ma-maaf, tuan" Viona mulai menggosokkan handuknya dikepala Marshal dengan pelan-pelan. Tangannya rada gemetar. Dia sebenarnya ragu melakukan ini.


Menggosok pelan, gemetaran. Menggosok lagi semakin gemetaran. Digosok lagi, uh kenapa jadi deg-degan.


"Ini kopinya, Tuan" Rio menyerahkan secangkir kopi hitam pada Marshal yang diterima langsung olehnya. "Makasih" sahut Marshal menerima kopinya. Dan langsung menyeruput kopi itu.


"Nih, pegangin!" Marshal menyerahkan cangkir kopinya pada Viona.


  Viona menghentikan aktivitasnya, lalu menerima cangkir kopi dari Marshal.


  Marshal kembali sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Viona masih berdiri disamping Marshal dengan kedua tangan kerepotan. Dimana tangan kanan memegang cangkir kopi, dan tangan kirinya memegang handuk.. hatinya kembali mengumpat karena rasa kesal kembali menyelimuti dirinya.


  Uh, dasar menyebalkan!!.. tanganku pegal nih kalau harus terus-terusan kaya gini.


Viona memandangi Marshal penuh kekesalan. Ingin rasanya dia menumpahkan kopi yang dipegangnya ini pada wajah Marshal yang selalu terlihat angkuh itu.


"Kenapa hanya diam?" Menatap Viona tajam. "Gosok rambutku lagi! Ini belum kering" ucap Marshal sembari meraba rambutnya.


Apa dia pikir aku ini punya 4 tangan apa,.. tanganku hanya dua, tuan. Dan keduanya terisi...


"Ayo cepat! Aku belum menyuruhmu berhenti"


Memasang wajah setenang mungkin. "Maaf, tuan. Saya tidak bisa melakukannya tangan saya hanya dua" Viona menunjukkan kedua tangannya didepan Marshal. Dimana tangan kanan ditempati cangkir kopi dan kirinya terdapat handuk.


Marshal mengambil cangkir kopi dari tangan Viona. "Ayo lakukan lagi! Tanganmu sudah tidak repot, kan?"

__ADS_1


"Baikhlah" Viona mengulurkan tangannya menggosok rambut Marshal kembali. "Maaf, tuan" Viona merasa tidak enak jika harus menyentuh kepala orang lain.


"Kenapa kamu minta maaf terus? Aku'kan menyuruhmu menggosok rambut bukan meminta maaf"


Viona tersenyum. "Saya takut tidak sopan, tuan"


Marshal kembali asyik pada ponselnya sembari menikmati kopi yang dipegangnya. Sedangkan Viona, dia tetap mengerjakan titahan Marshal dalam diam.


"Sudah, sudah. Pekerjaanmu ini tidak becus. Tidak enak. Enakan juga disalon"


Viona menghentikan aktivitasnya. Menatap Marshal penuh kesal.


Huh! Dasar menyebalkan! Dia bilang tidak enak, tapi dia menyuruhku melakukannya lagi tadi. Mana sampai rambutnya kering lagi. Mana ada tidak enak, tapi menikmatinya... Jika sudah selesai saja, dia bilang tidak enak. Dasar menyebalkan!


Marshal beranjak. Duduk disofa disamping Rio berada, meninggalkan Viona yang menatapnya kesal.


Dia berlalu gitu aja? aku gak disuruh duduk nih?.. Tuan menyebalkan!


"Yo, besok jadwalku apa?" Marshal menaruh cangkir kopinya di atas meja.


"Seharusnya sih, Meeting bersama Purwaka Group"


"Jam berapa?"


"Sembilan" Rio menatap Marshal penuh ragu. "Tapi, Tuan.." dia menggantungkan kalimatnya membuat Marshal melirik padanya. Menanti kelanjutan kalimatnya. "Apa tidak sebaiknya di reschedule dulu. Tuan kan baru saja menikah. Mungkin lebih baik cuti dulu menikmati suasana pengantin baru" Rio harap-harap cemas berucap, takut Marshal tidak suka dengan sarannya.


Ternyata Marshal hanya manggut-manggut. Namun Viona terbelalak.


What! Rio bilang menikmati suasana pengantin baru?.. Mana mungkin pernikahan seperti ini bisa dinikmati. Bisa-bisa aku mati muda gara-gara Tuannya yang menyebalkan ini. Dia pasti akan semena-mena padaku. Pasti dia menyiksaku.


"Tidak" ujarnya halus. "Aku akan tetap hadir sesuai jadwal. Bagaimana pun juga kerja sama kita dengan Purwaka Group sangat penting. Aku tidak bisa menundanya lagi"


Nah, kan. Bagus kalo gitu. Itu artinya aku bisa bebas kalo dia kerja.


"Huufhh.." Marshal mendarkan punggungnya pada sofa. Memijat keningnya pelan. "Aku sangat lelah hari ini, Yo"


"Tuan, sebaiknya langsung tidur dan istirahat" sarannya lembut. "Mungkin seharusnya tadi tuan tidak minum kopi. Harusnya minum teh hangat saja. Biar tubuh tuan rileks dan tuan cepat istirahat"


Masih memijat kening. "Aku sengaja minum kopi, supaya tidak cepat ngantuk" Rio mengernyit mendengarnya. "Aku akan begadang malam ini"


Rio semakin menautkan alisnya lekat.


"Begadang?" Marshal menangguk lemah. "Kenapa tuan harus begadang?.. Bukannya sudah tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan, sekarang?"


"Bukan karena kerjaan" ujarnya membuat Rio semakin bingung. "Tapi aku akan melakukan aktivitas"


"Aktivitas apa yang akan tuan lakukan ditengah malam seperti ini?" Rio benar-benar tak paham. "Sebaiknya tuan segera tidur saja! Jangan melakukan aktivitas lagi!" Saran lembut yang baik namun memaksa.


Marshal duduk tegak. Menatap Rio dengan senyuman yang sulit diartikan. "Kamu pikir, apa yang akan kulakukan?"


Lah, mana Rio tahu.


"Bukankah baru beberapa jam yang lalu aku menggelar pernikahan?" Marshal melirik Viona dengan senyuman devilnya. Rio pun sama mengikuti arah pandang Marshal. Dan kemudian Rio tersenyum simpul. Dia paham dengan apa yang akan Marshal lakukan.


Ah, iya.. tentu saja malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk pasangan baru.. hehe


"Kamu paham, kan Yo?" Marshal memastikan kepahaman apa yang Rio dapatkan.


Rio tersenyum geli melihat Marshal. "Haha.. tentu saya paham, tuan" Rio tertawa renyah diikuti tawa Marshal sembari melirik Viona yang tampak cengo. Melihat Rio dan Marshal tidak mengerti. Apa yang mereka bicarakan? Begitulah kira-kira kebingungan Viona.


"Haha.. ternyata kamu benar-benar paham, Rio" mereka akhirnya tertawa bersama sembari melirik pada Viona.


Viona yang tak tahu apa-apa, dia hanya bisa melihat mereka penuh kecurigaan.


Apa yang mereka bicarakan? Kenapa melihat padaku terus? Kenapa mereka tertawa?.. sangat mencurigakan. ada apa dengan mereka?..


Rio beranjak dari duduknya. "Baiklah, kalo gitu saya pulang dulu tuan" pamitnya. "Semoga semuanya berjalan lancar" Rio kembali menyunggingkan senyuman gelinya yang membuat Marshal semakin terkikik.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2