
Senyum sumbringah tidah pernah memudar dari bibirnya. Rio berjalan dengan santai memasuki ruangan kerja Marshal dengan tangan yang menteng kantung Lunch box berukuran besar berwarna biru muda. Setelah mengetuk dan dipersilahkan masuk dengan sahutan Marshal dari dalam, Rio membuka pintunya dengan segera. Terlihat Marshal sedang sibuk dengan banyak berkas di atas mejanya.
"Istirahat dulu, Tuan! Sudah waktunya makan siang," ucap Rio menghampiri Marshal.
"Sebentar, tanggung tinggal dua lagi yang harus ditandatangani," sahut Marshal tanpa menoleh sedikit pun pada Rio dan tetap fokus pada lembar demi lembar laporan di tangannya.
Rio hanya mengangguk tanpa bicara. Dia berdiri di depan meja kerja Marshal, menunggu sang tuan selesai dengan berkasnya.
"Huh, ayo, kita makan siang di resto Reasyn saja! Sudah lama aku tidak ke sana." Marshal berdiri dan meregangkan otot-ototnya setelah dia selesai menandatangani berkas dan merapihkannya di atas meja bagian samping.
"Tidak usah makan siang di luar, Tuan." Rio tersenyum dan mengangkat Lunch box yang dia bawa, dihadapan Marshal.
"Apa itu, Yo?" Marshal mengernyit heran memperhatikan kantung di tangan Rio.
"Makan siang, Tuan," jawab Rio membuat Marshal bingung.
"Kenapa kamu bawa makan siang ke sini? Aku tidak memintanya," ucap Marshal dengan bingung. Jarang sekali dia meminta dibawakan makan siang jika pekerjaannya tidak terlalu sibuk seperti sekarang. Tapi, kenapa Rio malah memberikan makan siang disaat dia sendiri pun tidak meminta.
"Ini kiriman, Tuan. Nyonya yang memberikan ini." Rio berjalan menuju sofa dan menaruh Lunch box-nya diatas meja.
Marshal mengikuti langkahnya dengan linglung. "Nyonya siapa, Yo? Apa Mama yang mengirimkan ini?"
Rio malah terkikik mendengarnya. Dia membuka kantong Lunch box itu dengan perlahan di depan Marshal yang masih benar-benar kebingungan. Di dalamnya terdapat tiga kotak yang berisikan menu masakan yang berbeda. "Nyonya saya hanya satu yang di rumah Tuan. Memangnya nyonya Rahma pernah mengantarkan makan siang selama ini? Tidak, kan. Sudah jelas ini dari Nyonya saya." Rio terkikik kembali.
Marshal terdiam untuk berpikir sejenak. Begitu otaknya mencerna ucapan Rio, dia langsung tercengang dengan pemikirannya sendiri. "Istriku?" tanya Marshal, terkejut.
Rio mengangguk dan tersenyum. Marshal hanya melongo melihatnya. Tiba-tiba Viona mengiriminya makan siang, membuatnya menggeleng tidak percaya. Untuk apa dia mengirimkannya padahal Marshal tidak meminta atau menyuruhnya?
"Sudah, mending dimakan saja." Rio menyerahkan sendok ke tangan Marshal yang masih termagu sembari menatap makanan dengan beberapa menu yang sudah dikeluarkan oleh Rio dari dalam Lunch box berwarna biru itu.
"Tuan, berpikirnya nanti saja. Mending makan dulu keburu gak enak," ucap Rio lagi. Marshal masih diam bahkan untuk duduk pun dia tidak melakukannya. "Duduk dan makanlah, Tuan!" lanjut Rio lagi dengan nada yang lumayan tingga hingga menyadarkan Marshal dari lamunannya.
Dia duduk seperti orang linglung. Menatap meja penuh makanan itu dengan tatapan kosong. Masih belum percaya jika Viona mengirimkan makan siang untuknya. "Lalu istriku ke mana, Yo?" tanyanya melihat Rio yang kini sedang mengecek ponsel.
Setelah selesai membalas pesan yang masuk, Rio menyimpan ponselnya ke dalam saku dan beralih menatap pada Marshal yang sama sekali belum menggerakkan tangannya untuk menyentuh makanan. "Egi yang mengantar makanannya. Katanya, ini dari Nyonya untuk Tuan. Nyonya tidak datang hanya mengirimkan ini saja lewat supirnya," jelas Rio dengan tenang.
Marshal hanya manggut-manggut dan mulai menyentuh makanannya dengan masih heran. Tidak lupa juga dia mengajak Rio untuk makan bersama menikmati masakan istrinya yang selalu terasa nikmat. Tapi, pikirannya terus menanyakan alasan Viona dan kenapa baru sekarang dia melakukan ini? Padahal mereka sudah menikah beberapa hari. Yang membuat Marshal semakin heran karena Viona mengiriminya tanpa diperintah. Itu bisa dibilang tidak biasa karena Viona tidak pernah melakukan tindakan yang tidak Marshal titahkan.
__ADS_1
***
"Maaf, Nyonya," Pelayan rumah menghampiri Viona yang sedang menata bunga ditaman belakang. Dia menundukkan kepalanya di depan Viona. "di gerbang ada dua orang yang menanyakan, Nyonya. Mereka katanya teman Nyonya tapi satpam tidak berani membiarkan mereka masuk karena tidak mengenal mereka," lapornya pada Viona yang langsung menghentikan kegiatannya.
Viona berbalik badan menatap pekerjanya dengan pikiran bertanya-tanya, siapa yang datang ingin menemuinya? Dia baru pindah ke rumah itu, tidak banyak yang tahu selain keluarganya. "Aku akan segera ke sana. Aku harus cuci tangan dulu, suruh mereka menunggu!" ucapnya pada pelayan tadi yang langsung mengangguk patuh.
"Pak, izinkan kami masuk! Kami ini temannya Viona, istrinya Tuan Marshal. Kami bukan orang jahat," ucap perempuan yang di tahan di luar gerbang.
"Tidak bisa, Mba. Saya harus menunggu perintah dari majikan saya, tidak bisa langsung mempersilahkan begitu saja. Kalian tidak pernah terlihat datang ke sini," ucap salah satu pria yang memakai baju satpam.
Viona ditemani Erni, pelayan pribadinya, berjalan dengan cepat menuju gerbang. Dia penasaran dengan siapa orang yang ingin menemuinya itu? Begitu melihat dari celah gerbang, Viona tersenyum girang.
Terlihat empat orang sedang beradu mulut di sana. Dua orang pria berseragam yang tak lain adalah pekerjanya dan dua orang lagi dibalik gerbang yang di tahan oleh pak satpam.
"Aness, Frans!" Viona segera berhambur untuk mendekat.
Para satpam langsung membungkuk hormat saat melihat Viona muncul di sana. "Selamat siang, Nyonya." sapa mereka.
Viona hanya tersenyum dan mengangguk. Langsung beralih pada wajah kesal kedua sahabatnya dibalik gerbang.
"Nyonya, mereka-"
Setelah bilang, "Tidak apa-apa." Viona langsung berhambur memeluk Aness disaat pintu gerbangnya terbuka. Rasa rindu terhadap dua sahabatnya tercurah di sana. Di depan para pekerjanya. Viona berkali-kali mengatakan jika dia teramat rindu pada mereka. Sama halnya dengan Viona, kedua sahabatnya bahkan mengeluhkan waktu Viona yang tidak bisa diajak nongkrong lagi. Mereka rindu kumpul bersama lagi, tapi Viona tidak bisa ditemui sama sekali.
"Duduk-duduk!" titah Viona pada sahabatnya yang masih celingukan setelah diajak masuk ke dalam rumah. Mata mereka terlihat sekali berbinar dengan raut teramat bahagia dan memancarkan perasaan takjub melihat rumah Marshal.
"Gila-gila, rumah suami lo bagus banget, anjay," seru Aness dengan antusias, geleng-geleng kepala.
Viona hanya tersenyum dan menanyakan, "Mau minum apa?"
"Apa aja boleh," sahut Frans dan Aness berbarengan.
Viona tersenyum mendengar kekompakan para sahabatnya dan beralih pada pelayan pribadinya. "Mba, tolong bawakan mereka minuman dan camilan!" ucapnya pada Erni yang masih setia mengikuti langkah kaki Viona.
"Baik, Nyonya." Erni mengangguk patuh dan segera pergi menuju dapur.
Frans yang tadinya terdiam sembari celingukan melihat seisi rumah, dia malah tertawa terbahak hingga Viona dan Aness kaget menatapnya dengan heran.
__ADS_1
"Kenala lo ketawa?" tanya Aness dengan bingung, sepemikiran dengan Viona.
Frans belum menjawab dan malah semakin keras mengeluarkan tawanya. Dia melihat Viona dengan geli.
Viona dan Aness bertatapan kemudian melihat penampilan Viona. Tidak ada yang aneh. Dari pakaian dan tataan rambut Viona biasa saja, tidak ada yang lucu ataupun menarik perhatian. Kenapa Frans malah ketawa?
"Sumpah-sumpah, gokil banget," ucap berusaha keras menghentikan tawanya.
"Lo kenapa, sih?" tanya Aness lagi. Viona hanya terdiam menatap Frans aneh.
"Seriously? Lo dipanggil 'Nyonya' di sini?" tanya Frans pada Viona yang langsung mengangguk paham. Pantas saja Frans tertawa seperti itu, ternyata dia menyadari panggilan Viona dari setiap pekerjanya.
Aness malah ikutan terkikik. Viona mencibir dengan gumaman. Menatap dua sahabatnya sebal. Itulah makanya dia tidak mau dipanggil 'Nyonya'. Panggilan itu memang tidak cocok untuknya. Lagian dia juga masih muda. Kenapa juga semua pekerjanya itu tidak menurut saja saat dilarang memanggilnya 'Nyonya'. Erni lagi, kenapa dia memanggil Viona dengan panghilan 'Nyonya' lagi, bukankah sebelumnya dia menurut dengan memanggilnya 'Nona'.
"Gue gak nyangka." Aness mengiyakan ucapan Frans dan mereka berdua tertawa lagi, sedangkan Viona hanya mendengus kesal.
"Udah, ledekinnya?" Kecam Viona dengan sorot mata tajam.
"Iya-iya, Ekhem. Haha, Udah." Aness menghentikan tawanya yang masih ingin dia keluarkan sama halnya dengan Frans. Tapi mereka benar-benar menghentikan tawanya saat melihat aura Viona yang mencekam.
"Kemana suami lo?" tanya Aness begitu suguhan datang.
Frans mengatakan, "Terima kasih." Pada pelayan yang mengantar suguhan. Dia mengangkat gelas berisi minuman orange segar dan segera meminumnya.
"Jam segini kerja," sahut Viona seadanya. Aness nampak terkejut namun segera dia menguasai raut wajahnya. Berbeda dengan Frans yang menghembuskan napasnya lega. Dia senang jika Marshal tidak ada karena jika ada Marshal di rumah, mereka pasti merasa canggung karena belum mengenalnya.
"Kenapa malah kerja? Harusnya kalian Honeymoon, dong. Kalian pengan- "
"Kalian ke sini mau ngapain?" potong Viona dengan cepat. Dia akan merasa jengah mendengar ucapan Aness tentang Honeymoon. Viona sama sekali tidak berminat membicarakan hal itu. "Kenapa gak ngabarin dulu kalo mau ke sini?"
Terdengar helaan napas kasar dari Frans. Dan Aness memberengut karena ucapannya dipotong oleh Viona.
"Itulah masalahnya, makanya kita ke sini," ucap Frans. "Lo gak bisa dihubungi. Kita ke sini karena dapet amanat dari dosen pembimbing lo. Katanya lo janjian hari kemarin tapi sampe hari ini gak datang juga. Lo kenapa?"
"Iya, gue sebagai sahabat tambah khawatir aja. Lo gak dateng ke kampus terus dihubungin susah. Makanya kita ke sini buat mastiin lo setelah tadi nanya alamat rumah ini dari tante Lina," jelas Aness melanjutkan.
Mengusap wajahnya kasar. Viona lupa jika dia sudah janji dengan dosen hari kemarin. Dan, "O iya, handphone-ku kemana?" gumamnya.
__ADS_1
Sudah dua hari dia tidak memegang ponselnya. Dan Viona lupa menyimpannya di mana. Pantas saja Aness dan Frans mengeluhkan Viona tidak bisa dihubungi. Viona terdiam cukup lama untuk mengingat terakhir kali dia menyimpan ponselnya. Tapi dia tidak ingat sama sekali. Di kamar Viona rasa tidak ada. Lalu di mana dia menyimpannya?