
"Nanti sesuai dengan jadwal, Tuan akan berangkat ke sana hari Senin. Tuan di sana selama tiga hari saja, dan hari pertama Tuan ada pertemuan bersama dengan tuan Suryo di restoran yang dekat dengan proyek," jelas Rio pada Marshal.
Mereka sekarang sedang berada di ruangan Marshal, hanya berdua. Membahas mengenai jadwal pemantauan proyek hotel baru Marshal yang ada di luar kota yang rencananya Marshal akan berangkat dua hari lagi, begitu jelas Rio.
"Lakukan semuanya sesuai jadwal, Yo. Nanti hanya kamu yang akan menemani aku keluar kota, sedangkan Maya akan mengurus pekerjaan yang di sini," ucap Marshal sembari melihat-lihat isi berkas yang Rio berikan beberapa waktu lalu, berisi tentang laporan anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan proyek tersebut.
"Baik, Tuan."
Baru Marshal akan bicara lagi, menyahuti Rio, dering ponsel Rio yang tergeletak di atas meja, di depan mereka mengalihkan perhatian keduanya. Tertera nama "Nyonya Milik Tuan" di sana.
Rio mengambilnya, mengernyit menatap Marshal dan layar ponsel bergantian. "Nona menelpon," lapornya pada Marshal yang menatap heran.
"Untuk apa dia menelponmu?"
Rio mengangkat bahu. "Saya tidak tahu, Tuan."
Ponsel masih berdering, Rio menatap Marshal meminta izin, apa yang harus dia lakukan, mengangkatnya atau tidak? Dan ternyata Marshal mengizinkan dan meminta Rio untuk mengaktifkan loudspeaker. Mungkin Marshal ingin mendengarnya juga.
Rio mengangguk, kemudian tangannya menggeser panel hijau.
"Halo, Rio?" suara lembut Viona terdengar dari seberang sana.
"Ya, halo Nona. Ada apa?" Rio dan Marshal sama-sama diam, mendengarkan, bahkan berkas yang tadi Marshal pegang, kini sudah ditutup dan disimpan di atas meja. Dia hanya fokus mendengarkan suara Viona di balik telepon.
"Kamu sedang apa? Apa aku mengganggu?"
"Tidak, Nona. Memangnya kenapa?"
"Apa Tuan ada di sana, bersamamu?"
Rio melirik Marshal, tatapannya menyiratkan apa yang harus dia sampaikan dan Marshal menjawab dengan gelengan kepala. Pertanda Rio tidak boleh mengatakan kejujurannya. "Tidak, Nona. Tuan sedang tidak bersama saya."
Terdengar helaan napas panjang sebelum suara Viona kembali masuk pendengaran. "Begini, em... aku ingin bicara padamu."
Rio dan Marshal saling pandang. Hal apa yang akan Viona bicarakan sehingga terdengar ragu seperti itu. "Ada apa, Nona? Apa di rumah ada masalah?"
"Bukan, bukan Rio. Di rumah baik-baik saja. Tidak ada masalah. Hanya ..., aku ingin meminta izin."
Rio kembali memandang Marshal yang memperhatikan ponsel Rio yang menampilkan gambar Viona sedang memakai baju berwarna biru muda tengah tersenyum di tepian pantai. "Minta izin, Nona?"
"Iya, aku ingin meminta izin untuk ke luar."
"Nona akan pergi?"
"Ya, aku ingin pergi ke salon. Kamu tahu sendiri 'kan setelah aku menikah kegiatanku hanya diam, melakukan pekerjaan rumah. Dan besok aku akan pergi ke kampus, sekalian bertemu teman-teman. Aku mau sedikit melakukan perawatan, supaya temanku tidak mengejek penampilanku. Aku tidak mau dikatai kucel setelah menikah, Rio," jelas Viona panjang lebar.
Rio tersenyum mendengarnya sedangkan Marshal hanya diam saja, mendengarkan. Perasaan heran mulai menyelimuti karena Viona tidak pernah bilang jika dia akan pergi ke kampus besok.
Mungkin belum bilang, batin Marshal husnudzon.
"Kenapa minta izin pada saya? Nona bisa minta izin pada tuan, bukan pada saya."
"Tidak bisa. Sama kamu aja, ya. Nanti kamu sampaikan pada tuan."
Marshal memandangi ponsel Rio dengan sedikit kesal. Kenapa Viona malah meminta izin pada Rio, bukan pada Marshal langsung? Bukankah seorang istri harusnya meminta izin pada suaminya, bukan pada asisten suaminya.
__ADS_1
"Tolong sampaikan ya, Rio!" suara Viona terdengar sangat lembut, memohon walaupun dari speeker ponsel.
"Hah?" Rio menatap Marshal dengan tidak mengerti. Mulut Marshal terlihat mangap-mangap seperti bicara. Dia tidak paham, apa yang mulut Marshal ucapkan?
Marshal ingin berbisik, tapi dia takut suaranya terdengar oleh Viona. Jadi dia hanya menggerakkan bibirnya, mengkode Rio. Tapi, Rio tidak paham-paham dengan gerakan bibirnya.
"Apa, Tuan?" ucap Rio sedikit berbisik, ponselnya dia jauhkan sedikit ke samping supaya Viona tidak mendengarnya. Namun salah, sepertinya Viona sayup-sayup mendengar suara Rio, karena dia bertanya, "Ha? Apa Rio? Kamu barusan ngomong apa?"
Suara Viona membuat Rio menegang, ternyata Viona tetap mendengar suaranya, padahal dia berbisik. Marshal menghela napas, geleng-geleng kepala. Rio ceroboh sampai Viona bisa mendengarnya. Rio nyengir mendapat tatapan tajam dari Marshal. Dengan segera dia tangkup ponsel dengan kedua tangannya. Berharap Viona tidak lagi bisa mendengar suaranya.
"Suruh dia minta izin langsung padaku!" bisik Marshal tepat di depan telinga Rio.
Bulu kuduk Rio merinding merasakan embusan napas Marshal. Dia jadi meremang, namun segera mengangguk, menuruti perintah Marshal.
"Rio, apa kamu masih dengar aku?"
"Ya, Nona." Rio berdehem sejenak. "Sebaiknya Nona minta izin pada tuan langsung. Saya tidak punya hak melakukan apa yang Nona inginkan, takut tuan marah."
Viona mendecak dengan kesal. "Kamu aja yang sampaikan. Aku gak bisa izin sama tuan."
Satu alis Rio terangkat, heran dengan ucapan Viona. Kenapa Viona bilang tidak bisa, padahal sudah jelas Viona bisa melakukan itu. Lalu apa masalahnya? "Kenapa, Nona? Apa Nona takut tuan tidak mengizinkan?"
"Hm... salah satunya itu. Tapi ...," Viona menjeda ucapannya. Cukup lama terdiam membuat Marshal dan Rio dirundung penasaran. "aku gak punya nomor tuan."
Tercengang. Bagaimana mungkin seorang istri tidak punya nomor suaminya sendiri? "Ti-tidak punya? Nona tidak punya nomor tuan?" Rio memandangi Marshal tak percaya sekaligus terkejut. Sama halnya dengan orang yang dipandangi, dia terkejut. Tapi jika diingat-ingat, Marshal dan Viona memang tidak pernah berkomunikasi lewat ponsel, selama ini mereka akan berkomunikasi melalui ponsel itupun lewat pelantara Rio.
"Iya, Rio. Hehe... aku gak pernah minta nomornya."
Rio membuang napasnya dengan kasar, merasa heran dengan majikan wanitanya ini. "Baiklah, Nona. Saya akan kirimkan nomor tuan. Nona bisa menghubunginya untuk meminta izin-"
Rio terdiam memandangi Marshal yang juga sedang memandangnya dengan tajam. Dan Rio teramat sangat mengerti arti tatapan itu. "Nona sebaiknya hubungi tuan dan bilang langsung padanya!" Rio memutus sambungan panggilannya, supaya Viona menurut dan tidak lagi menjadikan Rio pelantara.
.........
Viona menimbang-nimbang ponsel di tangannya. Dia bingung, apakah dia harus menghubungi Marshal atau tidak usah saja.
Ting. Pesan masuk dari Rio yang mengirimkan nomor Marshal, disertai pesan tambahan, 'Nona bisa menghubungi tuan sekarang. Tuan sedang tidak sibuk'
Hela napas dalam. Hubungi, tidak? Hubungi, tidak?
Lama Viona melamun, akhirnya dia memutuskan untuk menghubunginya saja. Selama menunggu panggilannya tersambung, Viona mulai cemas. Dia takut Marshal tidak akan mengizinkannya. Tapi batinnya malah menyumpah serapahi Rio yang tidak mau membantunya menyampaikan langsung pada Marshal. Jika sudah seperti ini, Viona jadi gugup untuk meminta izin.
"Halo?"
Viona menelan ludahnya dengan kasar. Menjadi ragu saat mendengar suara Marshal. "Halo? Ada apa?"
Viona melihat layar ponselnya dengan heran, karena Marshal tidak menanyakan ini nomor siapa. Apa Marshal sudah tahu nomor Viona?
Istri Marshal tersebut berdecak kesal karena merasa Marshal curang. Dia saja tidak punya nomor suaminya kenapa Marshal sudah menyimpan nomornya?
"Hei, istriku! Halo? Apa kamu masih di sana?"
"Eh, iya Tuan."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tuan."
"Iya, ada apa?"
"Em.. saya mau minta izin," ucap Viona dengan gugup. Dia menggigit bibir bawahnya. Melihat sekeliling kamar dengan ponsel masih di dekat telinga.
"Minta izin untuk apa?"
"Itu Tuan, em... mau pergi ke salon."
"Pergi kemana?"
"Ke salon, Tuan," ulangnya lagi.
"Mau kemana? Bicaralah dengan keras aku kurang mendengarnya"
"Mau ke salon, Tuan. Boleh tidak?" Nada bicaranya meninggi. Viona mulai kesal. Marshal ini tuli atau memang tidak punya telinga?
"Ngapain ke salon?"
Pertanyaan Marshal membuatnya semakin kesal. Apa yang akan dilakukan di salon selain melakukan perawatan? "Tuan, saya ingin melakukan perawatan."
"Untuk apa, kamu sudah cantik. Untuk apa melakukan perawatan?" Viona mendengus. Laki-laki memang tidak mengerti dengan keinginan kaum wanita. "Tuan, boleh ya saya pergi?"
"Jelaskan dulu kenapa kamu mau ke salon, untuk apa?"
Hela napas, embuskan. Viona semakin tidak bisa sabar menghadapi sikap suaminya yang selalu menyebalkan ini. "Melakukan perawatan, Tuan. Apalagi memangnya yang bisa dilakukan di salon? Jadi tukang sapu? Tidak mungkin saya ke salon jadi tukang sapu, bukan?"
"Bukan itu maksudku."
"Oke. Begini deh, Tuan. Tuan mengizinkan saya pergi, tidak? Saya hanya ingin melakukan perawatan supaya lebih terlihat segar. Bosan juga kalau di rumah terus. Sedikit refresing aja keluar. Jadi boleh 'kan saya pergi?"
Marshal termangu mendengar alasan Viona yang berbeda dengan apa yang dia katakan pada Rio. Marshal berdecak. Ternyata istrinya mulai berani berbohong.
"Bagaimana, Tuan? Saya diizinkan?"
Marshal dan Rio saling pandang. "Haruskah nona berbohong pada Tuan? Kenapa tidak jujur saja?" bisik Rio pada Marshal.
Marshal pun heran mendengarnya. Dia agak kesal juga karena Viona berani berbuat seperti itu. "Aku tidak mengizinkan!" tegas Marshal kemudian memutuskan sambungannya.
Dia menyimpan ponsel di meja kerja dengan sembarangan. "Kenapa dia berbohong padaku, Yo? Jadi mana yang benar sebenarnya, alasannya padamu atau yang dikatakan padaku?"
Rio malah tertawa, membuat Marshal harus melemparkan bilpoin padanya. "Aku serius, malah ketawa."
Rio menangkap bolpoinnya dengan sigap sebelum mengenai dada. "Saya rasa dua-duanya benar, Tuan."
Alis Marshal terangkat. "Maksudnya?"
"Tuan, kedua alasan nona masuk akal. Selain ingin terlihat cantik di depan temannya besok saat bertemu, nona juga sepertinya memang ingin keluar jalan-jalan. Saya rasa nona sudah mulai merasa bosan jika harus di rumah terus."
Marshal manggut-manggut, ucapan Rio memang ada benarnya juga. "Tapi apa harus berbeda alasan seperti itu, Yo? Apa yang dia katakan sama kamu berbeda dengan apa yang dia katakan padaku." Rio hanya mengedikkan bahu, dia juga tidak tahu.
Pesan masuk ke ponsel Rio. Dia segera membukanya, ternyata ada pesan dari nyonya mudanya, berisikan,
'Tuan tidak mengizinkan. Aku tidak mau tahu, kamu harus bilang pada tuan supaya dia mengizinkan aku pergi. Jika kamu tidak bisa membujuk tuan, aku akan menghubungi Lena, dan bilang padanya tentang semua keburukanmu.'
__ADS_1
Rio tercengang menatap layar ponsel dengan mata membuka sempurna. Apa Viona sedang mengancamnya? Dari mana Viona tahu tentang Lena?