
"Kamu yakin?"
Marshal membuang muka dengan jengah. Sudah lebih dari sepuluh kali Viona menanyakan hal itu padanya. "Aku yakin, Sayang. Aku merasa tidak enak denganmu, jadi lebih baik aku akhiri semuanya sekarang. Aku merasa bersalah dan terus terpikirkan dengan ucapanmu. Aku tidak mau hanya kamu yang berusaha memperbaiki rumah tangga kita."
"Tapi, ini Amanda lho, Chal." Viona masih merasa ragu dengan keputusan suaminya.
"Memangnya kenapa jika ini Amanda? Aku sudah memutuskannya. Kamu tahu, aku memikirkan hal ini sampai kepalaku mau pecah rasanya. Dan semua itu aku lakukan demi istriku, demi kebaikan rumah tangga kita."
Sulit dipercaya memang jika Marshal memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Amanda sekarang. Viona tidak yakin Marshal bisa melakukan hal itu. Dia masih ingat ucapan suaminya saat mereka akan berpisah. Marshal juga mengatakannya, namun nyatanya ucapan itu tidak benar-benar terjadi. Marshal mengatakan hal tersebut hanya untuk meyakinkan keluarga dan istrinya jika dia benar-benar berubah. Tapi, kenyataan Marshal masih punya hubungan dengan wanita model itu.
"Ayo siap-siap, kita akan berangkat sebentar lagi!"
"Eh?" Viona menolak saat Marshal membawanya ke ruang ganti. Marshal memilihkan baju untuknya, Viona hanya terdiam dengan bingung. Dua hari ini Marshal memang sangat memanjakkan istrinya dengan alasan Viona sedang sakit. Dia hanya luka lebam dan goresan sedikit di dahi, tapi Marshal bersikap seolah Viona lumpuh total. Segala sesuatu Marshal yang mengambilkan, bahkan untuk ke kamar mandi saja, Marshal menggendongnya.
"Aku takut kamu terjatuh. Kamu terluka lumayan dalam di kening, banyak mengeluarkan darah akibat hantaman sepatu itu. Pasti akan terasa pusing jika terlalu lama berdiri atau berjalan." Viona hanya pasrah menerima perlakuan suaminya. Padahal dia tidak apa-apa, tetapi perhatian yang Marshal berikan sangat berlebihan menurutnya.
"Memangnya kita akan ke mana? Kenapa aku harus berganti baju?"
Marshal terlihat serius memandangi pakaian istrinya yang berjejer rapi. Dia mengambil dress berwarna navy, dilihat sejenak ... "Sepertinya terlalu seksi." Marshal menyimpannya kembali.
"Chal?"
"Sebentar, Sayang. Kali ini biar suamimu yang ambilkan. Aku harus memilihkan baju yang tertutup. Aku tidak mau tubuhmu terlalu terekspos."
"Memangnya kita akan ke mana?"
"Pergi ke luar. Sudah, kamu diam saja! Tinggal menurut dan ikut denganku!"
Viona berdecak kesal, Marshal selalu saja seperti itu padanya. Sebal melihat suaminya yang terus melihat pakaian, mengambil yang satu menaruhnya kembali, mengambil lagi, bergumam sendiri dan menyimpannya kembali.
"Ck, kenapa bajumu banyak yang seperti ini? Aku belum menemukan yang pas untukmu."
__ADS_1
Viona memandangnya sebal. "Ya, sudah, ambilkan aku mukena! Kamu mau aku memakai yang tertutup, kan? Jika memakai mukena, tubuhku tertutup sempurna," ujar Viona dengan kesal.
Marshal berbalik badan pada istrinya, dia tersenyum lebar. "Ide bagus. Di mana mukenanya? Kamu memang harus memakainya supaya tubuhmu tidak terlihat laki-laki lain."
"Eh?" Viona melongo tidak percaya, jika usulannya diikuti oleh Marshal. Suaminya pasti sedang mengalami gangguan, sehingga pikirannya mulai sedikit melenceng dari batas.
***
"Kita mau ke mana?" Viona tetap menanyakannya karena Marshal tidak kunjung memberitahu ke mana mereka akan pergi.
"Rrgh... Kenapa kamu malah terlihat seksi dengan jaket kebesaran itu?" Marshal menggeram rendah, kesal dengan penampilan istrinya yang selalu saja terlihat cantik.
Viona berdecak kesal melihat suaminya. Hampir dua jam dia memilih pakaian. Ini tidak boleh, itu tidak cocok, ini terlalu terbuka, itu terlihat kurang pas, selalu saja seperti itu. Saat sudah menemukan yang sesuai dengan keinginan suaminya, sekarang Marshal masih saja mengomentarinya.
"Kita pergi ke luar sebentar. Tidak akan lama."
Viona menurut saat Marshal menggandeng tangannya dengan lembut. Dia masuk ke dalam mobil, masih penasaran, ke mana Marshal akan membawanya pergi?
Mobil sudah mulai mejau, Rio yang mengemudi. Sementara di jok belakang, Viona memandang suaminya dengan bingung. Dia benar-benar tidak tahu apa maksud dari Marshal membawanya pergi. Suaminya bahkan tidak mau mengatakan ke mana tujuan mereka.
"Dengan membawamu, mungkin aku bisa lebih kuat untuk melepaskannya."
Viona tertegun mendengar ucapan suaminya. "Jadi, kamu mengajak aku ketemu sama Amanda?" Viona menggeleng tidak percaya saat suaminya malah mengangguk. "Untuk apa? Bukankah itu urusanmu? Kenapa jadi aku yang di bawa-bawa?"
"Aku sudah bilang, jika kamu berada di dekatku, aku akan bisa tegas menyikapinya."
"Tapi, itu urusanmu, tidak ada hubungannya denganku. Sejak awal aku tidak pernah ikut campur urusan kalian. Kamu juga yang memintanya, kan? Lalu, kenapa sekarang kamu malah membawa namaku? Pokoknya aku tidak mau. Jangan libatkan aku dalam urusan kalian!"
Marshal memelas melihat istrinya yang terlihat sangat kesal. Diraihnya tangan Viona, Marshal menatapnya dalam penuh harap. "Sayang, jangan seperti ini! Aku melakukan ini demi rumah tangga kita juga."
Viona hanya diam, memalingkan wajah ke arah lain. Dari dulu, Marshal selalu bilang supaya Viona tidak ikut campur dalam urusannya dengan Amanda. Viona sudah melakukannya. Tapi, kenapa sekarang dia dibawa-bawa, di saat Marshal ingin menyudahinya? Apa urusannya dengan Viona?
__ADS_1
"Aku tidak mau!" bantah Viona lagi.
Marshal terus saja membujuknya untuk turun dari mobil. Mereka sudah berada di basement sebuah apartement yang diyakini tempat di mana Amanda menetap.
"Hanya sebentar. Aku janji, dia tidak akan melukai kamu lagi."
"Aku tidak mau. Itu urusanmu dengannya, jangan memaksa, aku tetap tidak akan mau!" Viona menepis tangan Marshal yang berusaha membujuknya untuk keluar. "Sudah, sana, kamu pergi sendiri! Aku menunggu di sini."
Marshal mengugar rambutnya kesal. Jika dia pergi sendiri, sama saja bohong. Justru dia mengajak Viona supaya menjadi penguatnya untuk menyampaikan keputusan. Tapi, jika istrinya tidak mau menemani, Marshal tidak yakin, dia bisa tegas menghadapi Amanda. Kekasihnya itu selalu punya banyak drama yang selalu berhasil meruntuhkan pertahan Marshal. Apalagi tangisannya, Marshal selalu tidak kuasa jika sudah melihatnya mengalir.
"Ayo, Sayang, hanya sebentar saja!"
Viona tetap tidak mau. Dia terus saja menolak ajakan suaminya yang tidak berhenti membujuk. "Jika kamu yakin dengan keputusanmu, ada atau tidak ada aku, kamu pasti bisa mengatasinya."
Itulah yang Marshal cemaskan. Dia tidak benar-benar yakin dengan apa yang akan dia lakukan. Satu-satunya yang bisa membuat Marshal teguh pada pendirian hanya Viona. Hanya istrinya yang bisa menjadi alasan Marshal untuk kuat menghadapinya. Untuk siap mengatakan semuanya dengan tegas.
"Aku ingatkan, ya, jika tidak yakin dengan apa kamu putuskan, lebih baik jangan dulu dilakukan! Lagian, bukannya kamu akan menunggu sampai dia mendapatkan yang baru? Kenapa sekarang kamu tiba-tiba ingin memutuskannya? Kamu lupa dengan rasa sayang kamu sama dia?"
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya memikirkanmu. Aku tidak mau bertindak egois lagi terhadapmu. Aku tidak suka kamu mencintai laki-laki lain, dan sekarang kamu sudah melepaskannya demi mempertahankan pernikahan kita. Sedangkan aku? Kamu sendiri yang bilang, untuk apa mempertahankan rumah tangga, jika hanya kamu yang berusaha memperbaikinya." Marshal terlihat begitu gelisah. Dia menggamit tangan Viona penuh perhatian. "Aku juga mau berusaha. Aku ingin mencoba melepaskan hal sulit itu untuk membangun hal baru bersama istriku."
Viona menatap manik mata suaminya dalam-dalam. Saat mengatakan hal tersebut, mata suaminya berpancar tanda keseriusan yang sangat besar. Viona akui, jika dia memang mengharapkan hal tersebut, namun bukan berarti dia harus membuat suaminya berada dalam kondisi seperti saat ini.
"Aku tidak mau ikut. Jika kamu serius dengan ucapanmu, aku akan menunggumu di sini."
Marshal terdiam, nampak berpikir dengan keras. Lama menimang, akhirnya dia mengangguk dengan pelan. Sepertinya Viona masih meragukan keseriusannya, dan Marshal akan membuktikan jika apa yang dia putuskan memang bisa jadi apa yang mereka inginkan. Rumah tangga mereka bisa berjalan sebagaimana mestinya tanpa penghalang lagi.
"Aku mencintaimu. Tunggu aku di sini! Aku pasti bisa menghadapinya dengan tegas, demi kamu."
Viona memejamkan mata saat hangat dan lembut menyapa kening lewat bibir suaminya. Cukup lama Marshal mencium keningnya membuat Viona harus bersabar menunggu. Marshal terlihat gusar dan jelas jika dia masih bimbang dengan apa yang akan dia putuskan.
"Aku mencintaimu," ucap Marshal lagi sebelum dia mencium bibir istrinya sejenak. Dia tersenyum tidak yakin pada istrinya yang hanya terdiam. "Rio, jaga istriku dengan baik. Aku tidak akan lama, kalian tunggu di sini!" lanjut Marshal pada Rio sebelum dia turun dari mobil.
__ADS_1
Asisten Marshal tersebut hanya mengangguk. Dalam hati dia bersorak senang dan berdoa semoga Marshal bisa mengakhirinya sesuai dengan apa yang dia harapkan. Supaya rumah tangganya berjalan dengan baik setelah ini dan kebahagiaan menyapa kedua majikannya.