Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Penyebab Kebakaran


__ADS_3

"Apa?" Marshal terlihat sangat kaget mendengar laporan dari Rio. "Bukannya dia di Milan?"


Rio menganggukkan kepala. Dia kembali berbisik pada majikannya dengan sangat serius. Marshal menetapnya tajam. Dia tidak percaya dengan apa yang Rio ucapkan.


"Orang suruhan tuan besar yang menemukan bukti itu, Tuan. Saya tidak bohong. Mereka mengikuti dua orang yang diduga menjadi penyebab kebakaran resort. Dan ternyata mereka ke sebuah hotel bertemu dengan nona Amanda," jelasnya lagi, meyakinkan Marshal.


Antara percaya dan tidak, Marshal hanya bingung. Untuk apa Amanda melakukan semua itu? Bukankah urusan mereka sudah selesai?


"Aku ingin buktinya. Bawa sekarang ke kamarku!" Marshal berlalu pergi mendahului Rio menuju kamarnya. Baru saja dia pulih setelah satu hari full berbaring di tempat tidur dengan pengawasan medis. Sekarang berita baru membuatnya sangat tercengang. Laporan Rio sangat mengejutkan membuat Marshal tidak bisa percaya sepenuhnya sebelum dia melihat bukti dengan nyata.


Dia belum tahu apa motif Amanda melakukan semua ini. Dan sejak kapan Amanda kembali? Bukankah dia berada di Milan? Vennay sungguh lengah menjaganya. Marshal harus bersiaga penuh. Dia tidak mau Amanda masuk kembali dalam hidupnya dan mengganggu Viona.


***


Otaknya mendadak kosong melihat rekaman bukti. Marshal memijat pelipis, pening. Orang suruhan Wisnu sangatlah hebat dan memang sudah tidak bisa diragukan lagi kemampuannya. Amanda sungguh orang di balik kekacauan resort-nya. Semua itu terlihat jelas dengan semua bukti yang ada. Dan dua orang tertangkap kamera CCTV sejak tempo hari, ternyata mereka benar suruhannya.


"Di hotel mana dia menginap?" Marshal masih bisa terlihat tenang, meskipun dadanya sudah bergemuruh. Dia marah. Tapi, dia belum tahu alasan apa yang Amanda berikan padanya atas semua kekacauan yang sudah terjadi.


Amanda balas dendam padanya?

__ADS_1


Marshal merasa hal itu terlalu kejam untuk dikatakan. Jika pun Amanda tidak bisa menerima kenyataan, seharusnya dia tidak sampai merusak aset milik Marshal. Tapi, mungkin Marshal harus bersyukur, karena hanya asetnya yang dirusak, tidak melibatkan istrinya. Dia hanya takut, jika Amanda menyakiti Viona. Marshal tidak akan memaafkan wanita itu, jika Viona berhasil dia sentuh.


"Tempatnya tidak jauh dari sini. Nona Amanda berada di sana sudah satu minggu."


Sudah satu minggu Amanda berada di Indonesia dan Marshal tidak tahu akan hal itu. Dia memang berhenti mengawasi urusan Amanda sesuai dengan permintaan istrinya. Tapi, lihatlah! Jika dia tidak mengawasi perempuan itu, akhirnya dia juga yang kecolongan dan malah berdampak buruk juga terhadap dirinya.


"Kita ke sana sekarang!" Marshal menyambar jaket miliknya dan berjalan keluar kamar di susul Rio dari belakang. "Siapkan penjagaan! Takutnya dia punya banyak orang."


Jika dia ingin menyalahkan seseorang, mungkin orang pertama yang ingin dia marahi adalah Vennay. Wanita itu telah mengingkari janjinya. Lihatlah sekarang Amanda malah kembali ke Indonesia dengan cepat dan sudah berhasil meleburkan hampir satu luasan resort miliknya.


Marshal sungguh tidak menduga dengan apa yang menjadi bukti nyata. Dia tidak pernah bisa mengira jika musuhnya adalah orang terdekat. Dia awalnya berpikir, mungkin lawan bisnisnya yang berani menyerang. Tapi, nyatanya perkiraan dia salah. Justru orang yang susah payah dia lupakanlah yang menjadi penyebabnya. Amanda mulai menunjukkan taringnya, setelah Marshal melepaskannya. Ironis. Kenapa dia kembali datang, di saat Marshal ingin membangun rumah tangga yang harmonis bersama dengan Viona.


***


Marshal menghela napas dalam. Tiba-tiba emosinya memuncak tanpa bisa dicegah. Dia memandang Rio dengan nanar. "Buka pintunya!"


Rio menganggukkan kepala patuh. Dia merogoh id card yang sebelumnya dia minta dari manager hotel tersebut secara baik-baik, namun sedikit memaksa. Untung saja Marshal mengenal pemilik hotelnya, sehingga tidak butuh waktu lama, akses menuju kamar Amanda bisa mereka dapatkan.


"Silakan, Tuan!" ucap Rio pelan, membukakan pintu.

__ADS_1


Marshal membenarkan pakaian, menghela napas sejenak dan mulai melangkah masuk. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Kosong. Di mana Amanda? Dia tidak menemukan siapa pun di dalam sana. Marshal melirik pada Rio dengan pandangan bertanya. Asistennya menunjuk arah kamar mandi dan Marshal melirik juga ke arah sana.


Rio mengangguk samar mengiyakan asumsi yang terpancar dari sorot mata majikannya. "Dia tidak mungkin kabur. Sekitar kamar sudah kami awasi, Tuan," bisiknya pada Marshal.


Suami Viona menatapnya bimbang. Tapi, dia percaya Rio bisa diandalkan. Ucapannya tidak mungkin hanya bualan semata. "Kamu keluar dulu!"


Rio mengangguk dan segera undur diri. Dia mengunci pintu dari luar karena Marshal yang memerintahkannya, sedangkan Marshal duduk tidak tenang di single sofa yang ada di kamar tersebut. Dia berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tenaga, meskipun tangannya sudah mengepal kuat. Deru napasnya sudah memburu. Dia emosi. Dia tidak bisa melawan Amanda, tapi dia harus bisa tegas. Amanda harus mempertanggung jawabkan semuanya. Jika wanita itu tidak bisa ganti rugi, setidaknya Amanda bisa mengakui jika semua itu adalah perbuatannya. Sehingga Marshal tidak perlu salah menduga dan akan langsung memperkarakan masalah ini ke jalur yang lebih serius.


Lama dia menunggu, tidak ada seorang pun yang muncul di kamar tersebut. Marshal mulai jengah. Emosinya belum bisa distabilkan. Dia harus tegas. Tapi, dia ragu. Amanda memang salah. Tapi, dia masih ingat, wanita itu pernah dia cintai. Wanita itu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Marshal selalu lemah berhadapn dengannya.


Tidak. Untuk kali ini dia pasti bisa. Sekarang bukan saatnya untuk mengenang. Mereka sudah tidak ada hubungan dan Marshal sudah memilih melupakan. Amanda salah. Dia harus memberikan tangguhan yang setimpal dengan apa yang telah Amanda lakukan.


Duduk penuh amarah, dengan kaki bersilang dan jemari mengetuk-ngetuk pinggiran sofa tidak tenang. Marshal menatap nanar ke arah kamar mandi. Dari sana dia bisa mendengar suara air yang menyala. Amanda berada di dalam. Tapi, lama sekali dia keluar. Harus berapa lama lagi dia menunggu? Marshal takut habis kesabaran dan membuatnya menghancurkan seisi hotel.


Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Marshal menundukkan pandangan, pura-pura tidak melihat. Dia masih setia duduk di sofa yang jaraknya lumayan jauh dari pintu kamar mandi.


"M-Marshal?" suara itu tercekat dengan terkejut.


Perlahan Marshal mendongak. Dia tersenyum miring melihat Amanda yang masih mengenakan bathrobe. "Kamu di sini, Manda? Bukannya kamu di Milan? Kapan pulang?" ucapan itu tenang, namun penuh penekanan.

__ADS_1


Amanda menelan ludah kasar. Wajahnya mulai terlihat pucat, ditambah lagi tanpa make up. Marshal hanya bisa terdiam memandanginya yang masih mematung di depan pintu kamar mandi. Wanita itu tidak melangkah sedikit pun, hanya menampakkan wajah kagetnya ke hadapan Marshal.


__ADS_2