
"Kamu ngajak aku honeymoon?"
"Heem ... kita belum melakukannya. Jadi, aku ingin membawamu ke mana pun yang kamu mau. Sekalian liburan, kan."
Viona malah ambigu sendiri. Melakukannya? Dia berpikir apa yang Marshal maksudkan. Tapi, Viona melihat-lihat brosur tersebut. Sebenarnya dia tidak pernah memikirkan hal seperti ini. Sejak awal menikah, Viona selalu mengira pernikahannya tidak akan sampai sejauh ini. Berharap bisa nyaman bersama suaminya saja Viona ragu. Tapi, sekarang memang dia mulai merasa nyaman dan Viona juga mulai menerima pernikahan dan ingin menjalaninya dengan baik.
"Apa kita perlu honeymoon?"
"Perlu, Sayang. Aku belum pernah membawamu ke mana-mana. Dan aku rasa, pergi honeymoon bukankah hal yang sangat diinginkan oleh hampir semua pasangan, kan?"
Viona hanya diam membaca brosur tersebut. Berbagai paket ditawarkan di sana. Semuanya bertempat ke luar negeri dalam waktu yang paling sebentar satu minggu. Viona tidak bisa membayangkan berapa harganya. Sudah tentu sangat mahal. Apalagi semua tempat tersebut berada di luar benua. Entah dari mana Marshal tiba-tiba terinspirasi untuk bulan madu. Padahal mereka tidak pernah membicarakannya.
"Bagaimana? Kamu mau pergi ke mana?"
Viona tidak tahu. Dia tidak pernah memikirkan bulan madu, jadi tidak pernah punya keinginan untuk pergi ke mana pun. Disimpannya kembali brosur tersebut di atas meja, Viona melirik lagi pada suaminya. Tidak bicara. Hanya saling pandang dan tersenyum saat Marshal juga tersenyum. Sekarang mereka terlihat aneh. Sama-sama memberikan senyuman, tapi tidak tahu maksudnya apa.
"Jadi?"
Viona menggeleng. "Emang beneran mau honeymoon?"
"Iya, Sayang. Kenapa? Apa kamu tidak mau?"
Bukan tidak mau, Viona hanya masih bingung. Apa yang akan mereka lakukan jika pergi honeymoon? Hanya liburan saja? Dia malah berpikir ke mana-mana. Marshal menginginkan bulan madu, Viona merasa cemas karena dia belum memberikan hak suaminya. Viona berpikir, Marshal ingin mereka melakukannya saat mereka pergi berlibur. Entahlah, pikiran Viona selalu saja memikirkan hal itu. Dia terlalu cemas karena belum bisa memenuhi kebutuhan suaminya.
"Kapan?"
"Apanya?"
"Perginya."
"Tergantung kamu maunya kapan. Makanya kamu harus memutuskan dari sekarang, supaya aku bisa mengatur jadwalnya. Kamu tahu sendiri 'kan, jadwalku padat. Jika tidak direncanakan dari sekarang, pasti lama mendapat waktu luang."
"Aku sebentar lagi sidang. Jika dalam waktu dekat, aku rasa tidak bisa."
"Ya, sudah, kita pergi honeymoon setelah kamu selesai sidang." Marshal sudah mulai mengendus leher istrinya lagi. Dia mengecupnya dan menyesapnya dalam. Menjilatinya sampai Viona meremang, tapi tidak bisa menghentikan apa yang suaminya lakukan.
Viona meringis pelan, Marshal menghisap lehernya sangat kuat. Kembali, panas dan perih terasa setelah Marshal berhasil memberikan tanda. Viona mencubit tangannya kesal. Suaminya memang menyebalkan! Dia berada di ruangan itu belum lama, tapi dua tanda sudah Marshal torehkan di lehernya.
__ADS_1
"Jangan di tutupi! Aku suka melihatnya." Marshal menahan tangan Viona yang mengusap bekasnya. Istrinya malah mendengus sebal serta memberikan tatapan yang sangat tajam. "Aku yang membuatnya, harusnya kamu senang."
"Aku malu jika dilihat orang. Apa kata orang nanti? Kamu tuh ... ck!"
Viona semakin sebal melihat suaminya yang malah terkekeh. Dia malu. Dia kesal, Marshal selalu meninggalkan bekas di tubuhnya. Bagaimana jika orang lain melihatnya? Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa harus malu? Itu buatan suamimu, Sayang."
"Ya, tapi, kan ...."
"Jangan banyak alasan! Pokoknya jangan ditutupi! Aku suka melihatnya."
Viona hanya mencebikkan bibirnya, malah terlihat imut di mata Marshal. Dia menguyel-uyel pipi istrinya dengan gemas sampai Viona benar-benar kesal dan mencubit lengannya cukup kuat, hingga meninggalkan bekas.
"Kamu harus dilaporkan! Selalu saja main KDRT pada suami sendiri." Marshal meringis. Istrinya memang menakutkan. Pukulan, cekikan, injakan, tamparan, dan apa lagi kekerasan yang pernah Viona lakukan padanya? Viona begitu kejam pada suaminya sendiri. "Bisa tidak, bersikap lembut sedikit?"
Viona beranjak dari pangkuan suaminya. Salah Marshal sendiri yang selalu membuatnya kesal. Suaminya itu menyebalkan dengan segala tingkahnya! Lebih baik dia pergi sebelum suaminya berulah lagi. Cukup dua tanda merah yang membuat Viona jengkel, jangan ada lagi tanda tambahan!
Marshal hanya menggelengkan kepala melihat Viona yang keluar dari ruangannya. Dia mengulum senyum. Viona bahkan terus menutupi lehernya dengan kedua tangan saat keluar tadi. Apa dia merasa jijik dengan hasil karya suaminya? Viona selalu saja tidak suka, jika Marshal mencupang lehernya. Padahal Marshal sangat menyukai hal tersebut. Apalagi melakukan yang lebih dari itu. Ah, sudahlah! Otak Marshal mulai ke mana-mana saat ini. Dia harus fokus pada pekerjaan, mumpung istrinya sudah tidak ada.
Tapi, tidak bisa. Lima menit berlalu setelah kepergian Viona, Marshal malah mengacak rambutnya dengan frustrasi. Dia sulit melupakan istrinya. Membaca sebuah dokumen, yang terbayang malah wajah Viona. Membuka email, yang terbaca malah nama istrinya.
"Nyonya di mana?" tanya Marshal pada pekerja yang ada di dapur.
Pekerja itu membungkukkan badannya sejenak. "Tadi saya lihat ke halaman belakang, Tuan."
"Halaman belakang?" Pekerja itu mengangguk. Marshal melirik jendela yang sedikit menampilkan ke arah halaman belakang. Senyumannya mengembang melihat Viona yang sedang tertawa. Entah bersama siapa. Pandangannya terbatas untuk melihat seluruh halaman dari jendela tersebut.
Ternyata Viona sedang melihat Rio yang berada di pinggir kolam ikan yang baru. Asistennya itu sedang memasukkan ikan-ikan yang menjadi penghuni baru di kolam tersebut. Pantas saja Viona terlihat senang. Semua ikan itu keinginannya yang sudah Marshal pesan sejak jauh-jauh hari untuk istrinya. Tentu saja semuanya ikan mahal. Viona jika sudah ada kemauan, pasti milihnya yang bagus. Dan Marshal suka hal itu. Dia ingin selalu memanjakan istrinya, supaya Viona tetap bahagia.
"Apa-apaan ini?" Marshal menarik handuk kecil dari leher istrinya. Setelah memperhatikan Viona dari jauh, dan dia mendekat, Marshal baru sadar, ada handuk kecil yang melingkar di leher Viona.
Dengan kaget, istrinya itu berbalik badan dan langsung menyambar handuk tersebut dari tangan suaminya. Viona segera menyampirkannya kembali di leher dan menatap tajam pada Marshal. Dia sengaja melakukan itu karena malu, jika dilihat oleh orang lain.
"Aku sudah bilang, jangan ditutupi!" bisik Marshal dengan tidak suka.
Viona justru semakin tajam melihatnya. Dia sengaja menutupinya saat melihat Rio yang membawa banyak kotak berisi ikan pesanannya. Dia ingin melihat segera ikan-ikan tersebut. Kebetulan, saat dia lewat ke kamar mandi yang ada di dekat kolam renang, Viona melihat handuk yang selalu tersedia di lemari kamar mandi sana. Dia mengambilnya untuk menutupi jejak Marshal, tentu saja.
__ADS_1
"Aku bukan kamu, ya. Emangnya kamu, leher merah saja tidak tahu malu," sindirnya disertai delikkan mata.
Marshal malah bingung melihatnya. "Memangnya kapan aku punya tanda seperti itu?"
Viona mendengus sebal. Marshal sudah lupa? Padahal belum lama hal itu terjadi. Suami Viona memang tidak tahu malu. Tidak tahu diri juga!
"Sayang?" Marshal menyusul langkah istrinya yang malah masuk ke dalam rumah. Dia bingung, Viona malah terlihat tidak mau melihatnya dan malah menghindar. Dia salah apa? Kenapa Viona tiba-tiba seperti itu? Apa karena Marshal yang melarangnya menutupi tanda itu?
"Sayang!"
Viona tidak menghiraukannya dan malah masuk ke dalam kamar. Marshal ikut masuk dan menutup pintu dengan masih heran melihat Viona yang kini melemparkan handuk kecil tadi ke atas ranjang.
"Kenapa?" Marshal segera memeluk tubuh Viona yang sedang membuka pintu kaca menuju balkon kamar. Ekspresi istrinya terlihat sangat tidak enak. Entah karena apa, Marshal juga bingung. "Kenapa, hm?"
Viona tetap diam. Dia melepaskan pelukan Marshal dengan paksa. Entah kenapa dia jadi kesal pada suaminya. Sebenarnya memang sudah kesal dari awal, sejak berada di ruangan Marshal. Tapi, setelah mengingat ... dia malah semakin kesal.
"Kamu kenapa?" Marshal berdiri di samping istrinya yang juga berdiri di depan pagar balkon. Melihat ke bawah, pada Rio dan satu pekerja yang masih mengurus ikan-ikan di kolam. Dia mengembuskan napasnya kasar. Viona mendiamkannya. "Kamu kesal karena tanda ini?" Disentuhnya leher Viona, tangannya malah ditepis dengan kasar.
Marshal terdiam memandangi istrinya yang berteriak pada Rio. Dia mengingat kembali ucapannya yang tadi. Takutnya ada kata yang menyinggung istrinya tanpa dia sadari. Jika Viona marah karena Marshal tidak boleh menutupinya, dia merasa bukan karena itu. Viona memang kesal sejak tadi karena hal itu, tapi dia tidak sekesal saat ini.
"Ikan yang hijau siripnya, simpan di akuarium ruang tamu, Yo!" teriak Viona lagi melihat ke bawah.
Rio mendongak dan menganggukkan kepala pada majikannya.
"Sayang?" Marshal menggapai tangan istrinya yang berpegangan pada pagar. "Kamu tidak suka aku memberikan tanda ini?"
Viona meliriknya sekilas, terlihat sinis dan kembali melihat ke arah bawah. "Aku tidak seperti kamu yang bisa biasa saja jika lehernya merah dilihat orang lain."
Lagi-lagi kalimat seperti itu yang Viona lontarkan. Marshal jadi berpikir keras mengingat semuanya. Kapan lehernya merah? Dia rasa tidak pernah. Viona tidak pernah mau memulai ciuman duluan. Mana pernah istrinya mencupang Marshal. Jadi, dia tidak pernah punya tanda merah seperti itu, kan?
"Amanda," ucap Viona dengan pelan. Hampir tidak terdengar di telinga Marshal, karena terhalau embusan angin yang lewat di balkon tersebut.
Ah, ya, Marshal ingat sekarang. "Lalu?"
"Lalu apa?" Viona melirknya dengan malas dan kembali mengalihkan pandangan ke arah bawah.
"Kamu tidak suka, ya, Amanda melakukan itu padaku? Apa kamu cemburu?"
__ADS_1
"Ck!" Viona hanya berdecak tanpa mau melihat suaminya lagi.