
"Kamu pikir wanita mana yang akan mengizinkan kekasihnya menikah? Siapa? Apa ada di luar sana yang rela laki-laki yang paling dia cintai menikahi wanita lain, di depan matanya sendiri?"
Telapak tangan yang menutupi wajahnya perlahan terbuka. Marshal mengepalkan tangan dengan kuat menahan rasa perih di dada. Dia sangat tidak kuasa melihat wajah Amanda berlinang air mata seperti saat ini.
"Sejak awal kamu menikah, aku sudah cemas. Aku sudah tidak punya harapan lagi. Dan ternyata, semua yang aku cemaskan memang benaran terjadi. Perlahan tapi pasti, perubahanmu sangat terasa, Marshal. Kamu mulai menjauh, dan malah semakin peduli padanya dan mulai menghindariku karena dia."
Amanda kembali menutup wajah dengan telapak tangan. Kepalanya menggeleng pelan menahan rasa sakit yang semakin lama semakin sesak dia rasakan. Tangisannya kian pilu. Dia hampir gila memikirkan hal ini sendirian. Di saat Marshal menghindarinya, dia sangat marah. Tapi, Marshal tetap saja tidak kembali dekat dengannya. Sekalinya datang, dia malah membuat emosi Amanda semakin menjadi dengan malah membela istrinya yang sangat Amanda benci.
Dengan mata terpejam erat, dahi Marshal sampai terlihat mengernyit sakit. Marshal tidak kuasa melihat Amanda seperti saat ini. Batinnya kembali bertempur dengan apa yang harusnya dia lakukan. Dia tahu, dia harus bisa tegas, namun sulit untuk dilakukan.
Tangisan yang terdengar seperti gebrakan di telinganya membuat Marshal semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya. Amanda menangis kencang dengan kalimat-kalimat yang keluar semakin sakit Marshal rasakan. Terdapat nada kecewa, marah dan sakit hati dari apa yang Amanda ucapkan. Marshal semakin tidak tega melihatnya.
Dia belum mengatakan apa yang seharusnya dia katakan, tetapi Amanda sudah terlihat begitu meradang. Apalagi jika Marshal sudah mengatakan untuk putusnya hubungan di antara mereka. Marshal tidak bisa membayangkan hal apa yang akan Amanda lakukan untuk meluapkannya.
"Manda?" panggil Marshal dengan lembut, meraih pundaknya yang terguncang. "Akuļ¼" Lagi-lagi hanya bisa menghela napas dalam saat Amanda berbalik dan langsung menyonsong tubuhnya dengan erat.
Tangisan Amanda malah semakin pecah. Tangannya mengepal memukul-mukul dada Marshal yang masih terdiam kaku. Semua perasaan yang selama ini terpendam, Amanda luapkan pada Marshal. Apa yang menjadi katidaksukaannya terhadap Viona juga dia utarakan.
"Kamu hanya milikku, Marshal! Hanya milikku!" Amanda tidak henti memukuli dada kekasihnya.
Marshal menahan tangannya dan mulai membalas pelukan Amanda. Perasaan campur aduk dia rasakan melihat Amanda yang tidak kunjung menghentikan tangisannya. Jika sudah seperti ini, Marshal tidak yakin bisa mengatakan niat awalnya sekarang.
Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia mengatakannya sekarang, di saat Amanda bahkan terlihat begitu emosi? Tapi, jika dia tidak mengatakannya sekarang, bagaimana dengan kepercayaan Viona yang sudah dia berikan untuknya? Viona sedang menunggunya di mobil, menantikan keputusan yang Marshal ambil akan membuahkan sebuah ketegasan yang bisa dipertaruhkan.
Viona sedang mengujinya. Marshal tahu akan hal itu. Dia menyadarinya. Viona sengaja tidak mau menemaninya menemui Amanda karena dia ingin melihat keseriusan Marshal terhadap ucapannya. Viona melakukannya karena dia tidak melihat kesungguhan dan keyakinan dari apa yang suaminya akan lakukan. Dan semua itu kini malah menjadi kebimbangan bagi Marshal. Menjadi beban yang begitu berat untuk dia selesaikan.
__ADS_1
Sedangkan saat ini, wanita yang sedang mengujinya itu malah sedang tertawa geli melihat asisten suaminya yang barusan kalah main game darinya.
"Nyonya curang. Harusnya saya yang menang," protes Rio lagi. Dia duduk di kursi pengemudi, memegang ponsel dengan menyamping sedikit mengarah ke belakang pada Viona.
"Mana ada aku curang. Kamu saja yang tidak becus mainnya." Viona tertawa lagi melihat Rio yang malah mendengus kesal. Dua kali bermain, selalu Viona yang memang. Entah Rio mengalah atau dia memang tidak becus, Viona tidak peduli, yang penting kemenangan berpihak padanya.
"Yok, main lagi! Siapa tahu, kali ini kamu yang menang." Viona sudah siap dengan ponselnya lagi.
Rio meliriknya sejenak, kemudian melihat layar ponsel barunya. Iyalah ponsel baru. Ponsel lamanya 'kan sudah hancur dilempar oleh Marshal. Ponsel yang sekarang adalah bentuk ganti rugi dari majikannya. Entah sudah berapa kali Marshal mengganti ponsel Rio akibat kerusakan yang diperbuatnya.
"Em ... maaf, Nyonya, saya ada pesan penting dari GM. Jadi, tidak bisa main lagi."
Viona malah mencibir, "Halah, bilang saja takut kalah lagi. Kamu banyak alasan. Ayo, main lagi, mumpung tuan belum datang. Jika di rumah mana bisa kita seperti ini. Tuan selalu saja membayangiku."
Asisten andalan Marshal itu malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga heran pada Viona yang malah terlihat biasa saja. Padahal suaminya sedang bertemu dengan Amanda. Lucu. Rio merasa majikannya sangat berbeda dari pasangan lain. Marshal bertemu dengan kekasihnya di antar oleh istrinya sendiri. Viona bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Dengan santainya, dia malah mengajak Rio bermain game sambil tertawa-tawa ringan seolah hidupnya memang tidak punya beban.
Viona baru saja akan memulai kembali permainan. Dia melirik Rio sejenak dan fokus kembali pada layar ponselnya. "Dia sudah besar, Yo. Dia punya pikiran yang sehat. Seharusnya dia tahu apa yang harus dan tidak dia lakukan. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Tapi, bagaimana jika tuan ...."
"Itu urusan dia. Aku hanya ingin melihat seberapa besar keseriusan dia terhadap ucapannya." Mood Viona untuk bermain game tiba-tiba hilang karena Rio tidak mau bermain lagi dengannya dan malah banyak bertanya. Viona menyimpan ponsel di sampingnya. "Lagian, aku heran padanya ... seharusnya, jika dia tidak yakin bisa, kenapa harus mencobanya sekarang? Aku lihat dia belum rela atau entah bagaimana, aku juga tidak tahu." Viona mengedikkan bahunya acuh.
Rio terdiam memandangi majikannya yang juga terdiam. Apa yang terjadi terhadap majikannya memang sangat memusingkan. Tapi, Rio ikut khawatir pada Marshal. Dia takut, majikannya itu tidak berhasil melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
"Aku dengar Amanda punya riwayat depresi berat, ya?"
__ADS_1
Rio tercengang. "Dari mana Nyonya tahu?"
Dengan acuh, Viona mengambil kembali ponsel dan membuka layarnya. "Tuan yang bilang."
Rio mengangguk-anggukan kepala. Suasana di dalam mobil hening kembali. Basement terasa sangat sepi. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir di sana, termasuk mobil yang mereka tumpangi saat ini.
"Apa Nyonya tidak berniat menyusul tuan?"
Viona mengalihkan pandangan dari layar ponsel, melihat pada Rio. "Untuk apa?"
"Ya ...," Rio menggaruk kening dengan ujung telunjuk. "seperti kata tuan tadi, untuk menjadi penguat tuan saat mengatakannya supaya tuan bisa tegas."
Viona malah berdecak dan kembali asyik dengan ponselnya. "Jika pun aku ada di sana, itu tidak akan merubah apapun. Keputusan ada di tangannya. Ada atau tidak ada aku, jika dia sudah bulat dengan keputusan, dia pasti bisa mengatakannya dengan benar. Tapi, aku tidak yakin hal itu akan terjadi. Tuan pasti tidak tega melakukannya."
Rio mengangguk-anggukan kepalanya lagi. Apa yang Viona katakan memang bisa dijadikan sebagai pemikiran yang selaras. Dan Rio juga merasakan hal demikian. Dia tahu betul bagaimana Marshal dan Amanda. Rio juga yakin, halangannya pasti terdapat dari Amanda yang tidak akan menerima keputusan dari kekasihnya.
"Sudahlah, jangan mikirin mereka!"
Rio kembali tersadar dari lamunan. Viona sudah menggoyang-goyangkan lagi ponsel di depannya. Alisnya bahkan sudah naik turun dengan senyuman jahilnya.
"Main sekali lagi, lah! Jika kamu menang, aku akan membuatkanmu masakan Jepang. Khusus untuk Rio. Bagaimana?"
Laki-laki yang sedari tadi kalah darinya itu malah menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. Inilah yang dia suka dari sikap Viona. Majikannya yang satu ini selalu bisa bersikap hangat selayaknya teman.
"Ck, ayolah! Jangan pikirkan tuan! Dia sedang melepas rindu dengan kekasihnya. Sudah, lupakan dia! Lebih baik cepat login lagi, sambil menunggu tuan kembali. Daripada kita mati bosan di sini."
__ADS_1
Rio sampai ternganga mendengar perkataan yang terkesan sangat santai itu terucap dari mulut Viona. Kenapa ada istri yang terlampau tenang seperti ini saat suaminya sedang menemui kekasihnya?