
Ingatkan Marshal untuk tidak lagi tersenyum dan mengendalikan matanya supaya melepas pandangan dari istrinya!
Bersepakat untuk mengawali kembali semuanya membuat Marshal teramat sangat bahagia. Tidak menyangka jika apa yang Viona putuskan ternyata sejalan dengannya, meskipun awalnya Viona menunjukkan ketidaksetujuannya. Tapi, kini semua itu akan berubah jadi kesepakatan. Mereka sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya untuk lebih baik dan berjalan sebagai mana mestinya.
"Sayang," Marshal terus saja memandangi Viona yang tengah menyiapkan makanan untuknya. Rutinitas yang sudah sangat Marshal rindukan. "kapan kita pulang ke rumah?"
"Nanti, jika mama sudah sembuh. Kasihan kalo gak ada yang ngurus," sahut Viona tanpa menoleh dan tetap mengambilkan makanan untuk suaminya yang mulai ceweret itu. Sejak tadi, Marshal lebih banyak mengoceh dan Viona teramat muak mendengarnya. Dengan malas, dia memberikan piring yang sudah terisi pada suaminya.
Marshal tersenyum senang, menerima piring dari istrinya. "Terima kasih, Sayang." Viona malah mendengus, memandanginya dengan tatapan tidak suka. "Kenapa?"
"Jangan panggil seperti itu ...!"
Tangan yang sudah siap menyuapkan makanan, terhenti di udara. Melihat Viona dengan alis terangkat. "Terus aku harus panggil apa? Tidak ada yang salah dengan panggilan itu."
Viona memilih acuh dan melangkah untuk pergi. Dengan cepat Marshal menahannya. "Kamu tidak makan?" Viona menggeleng, melepaskan tangan Marshal perlahan. "Kalau begitu, temani aku!"
Mengangguk dan memilih untuk menuruti, Viona duduk di samping suaminya dalam diam. Marshal terus saja melirik pandang padanya. Ingin Viona menolak saat Marshal menyuapinya, tapi laki-laki itu tetap memaksa, sehingga Viona mau tidak mau harus memakannya.
"Dia bagaimana?" tanya Marshal menyodorkan kembali suapan. Alis Viona terangkat sambil menerima sendok yang terus memaksa untuk masuk ke dalam mulutnya. "Anak Arga?"
Diam cukup lama. Viona mengunyah serta berpikir sejenak. "Aku akan minta maaf sama dia."
"Kenapa harus meminta maaf?" Marshal menyodorkan kembali sendok yang penuh ke depan mulut istrinya. Viona mendorong pelan sendok itu, namun lagi-lagi Marshal memaksanya. "Makan, Sayang!"
"Aku kenyang. Tadi yang minta makan siapa? Kenapa jadi aku yang harus ngabisin?"
__ADS_1
Marshal malah terkekeh melihat kekesalan Viona. Dia tidak lagi menyuapi istrinya dan menghabiskan makanannya sendiri. "Jadi, kenapa harus meminta maaf?"
"Aku udah jadiin dia umpan, dan mungkin akan bilang sama dia kalau kita udah-"
"Alhamdullilah," seru Marshal senang hampir tersedak disela kunyahannya. Menelan sisa makanan sebentar, Marshal memandang Viona dengan binar bahagia. "berarti kamu tidak akan lagi berhubungan dengan dia? Kamu akan melupakan dia, demi aku?"
Viona hanya diam memandangnya datar. Mengambil air minum Marshal, lalu meneguknya hingga tersisa separuh dan kembali menaruhnya di tempat semula. Melihat senyuman lebar suaminya, Viona merasa jengah. Dia ingin pergi dari sana, namun Marshal tetap saja menahannya untuk tetap diam.
"Apa itu artinya, kamu akan mencoba mencintaiku?" tanya Marshal penuh harap. Viona tetap diam, memandang ke arah lain dengan pandangan yang mengecewakan. Marshal menghela napas dalam. "Jika tidak dicoba, kamu tidak akan pernah mencintaiku, Sayang."
Baru Viona melihat padanya. "Apa itu perlu?"
Marshal yang sedang mengunyah sampai tersedak mendengarnya. Matanya membulat tajam pada Viona yang tetap terlihat tenang. "Bukankah kita sudah sepakat? Jika tidak saling mencintai, bagaimana pernikahan kita nanti?"
Menantu Rahma malah mengedikkan bahu. Mengembuskan napas kasar serta kembali mengalihkan pandangan. Dia menggeleng. Sampai saat ini, Viona tidak tahu apakah dia bisa mengalihkan cinta atau tidak. Semuanya tidak mudah dia lakukan. Perasaan tidak bisa dipaksakan maupun direncanakan. Untuk saat ini, yang dia pikirkan hanya bagaimana menjalani pernikahan yang lebih baik lagi. Belum memikirkan bagaimana perasaan cinta datang atau tidak. Toh, itu tidak terlalu berarti untuknya. Dia tetap bisa bertahan menjalani pernikahan selama ini, walaupun penuh keterpaksaan.
***
Michelle terus saja merengek pada kakak iparnya. Marshal sampai mengembuskan napas kasar, melihat adiknya yang manja itu bergelayut di lengan Viona.
"Dia tidur denganku, Chelle." Marshal tetap bersikeras menolak keinginan Michelle yang ingin Viona tidur di kamarnya. "Sudah malam, sana tidur! Aku tidak akan pernah mengizinkannya tidur denganmu!" Ditariknya tubuh Viona supaya terlepas dari Michelle. Adiknya mencebik saat Marshal dengan kasar, menyuruhnya untuk keluar dari kamarnya.
Namun, senyuman Michelle terbit sedetik kemudian, saat Viona yang ternyata tidak sejalan dengan suaminya. Viona melepaskan diri dari Marshal dan menarik Michelle keluar. "Ayo, tidur, Chelle!"
"Sayang, mau ke mana!" Marshal menggeram marah karena istrinya lebih memilih tidur dengan Michelle ketimbang dengannya. Cepat Marshal menyusul langkah Viona, namun istrinya tidak peduli saat dia memintanya untuk kembali ke kamar mereka. "Masa mau tidur sama Michelle?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Sama-sama tidur, tidak ada yang salah, kan?" Viona tetap berjalan dengan Michelle yang bergeyut manja di lengannya. Adik iparnya itu menjulurkan lidah pada Marshal yang terus mengikuti mereka dengan kesal.
Hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap manja adiknya. Marshal menghela napas dalam, membuangnya secara perlahan melihat mereka masuk ke dalam kamar Michelle. Baru saja hubungannya dengan Viona membaik dan sekarang harus tidur sendiri karena ulah Michelle yang kekanak-kanakan. Baiklah, Marshal lebih baik mengalah. Istrinya nyaman, dia pun tidak akan memaksa lagi, untuk sekarang. Tidak tahu nanti.
Saat kembali ke dalam kamar, ponsel Marshal sedang berbunyi nyaring. Dengan malas, Marshal menggapainya dari atas nakas, tertera nama asistennya di sana. Langsung saja dia menerima panggilan dan menempelkan benda pipih tersebut ke depan telinganya.
"Kenapa?"
"Nona Amanda tidak mau berhenti menghubungi saya, Tuan."
Marshal terdiam cukup lama. Nomor Amanda sudah dia blokir karena saat itu pikirannya sedang kalut memikirkan Viona. Pantas saja jika Amanda terus meenghubungi Rio untuk menjangkaunya. Marshal memang sengaja menghindarinya karena lebih memilih untuk memperjuangkan istrinya yang saat itu mengatakan perceraian. Hingga saat ini, dia memang masih saja mengingat Amanda. Tidak mudah untuk melupakannya, namun Marshal sudah membuat keputusan untuk bertahan dengan istrinya.
"Besok, kamu hubungi agensi tempat Amanda bekerja! Usahakan untuk mengalihkan kontrak kerja Amanda ke luar negeri! Kamu bilang, istriku yang terbaik, kan? Maka bantu aku untuk melupakan Amanda secepatnya!"
Tidak ada sahutan dari seberang sana, hanya terdengar embusan napas kasar. Rio sepertinya sedang berpikir keras untuk menuruti perintah majikannya.
"Tuan yakin?"
Marshal mendengus kesal. Ponsel masih menempel di telinga, dia duduk di tepi ranjang. "Kamu ini bagaimana, Rio?" kesalnya cukup lemah, "kamu yang menyarankan, supaya aku memilih istriku, tapi sekarang kamu masih meragukan aku. Aku memilih ikut dengan saranmu, 'mengejar cinta nyonya'. Jadi, bantu aku untuk menata semuanya. Pokoknya, kamu atur supaya pihak agensi memindahkan kontrak kerjanya. Untuk sementara waktu, aku harus menggindarinya."
Belum Rio kembali menyahut, Marshal sudah menutup sambungan. Memang sulit melepaskan orang yang kita cintai, namun lebih sulit lagi kehilangan istri yang sudah lama dia dambakan. Entah perasaan apa yang sebenarnya hinggap untuk Viona, hingga membuat Marshal melakukan semua ini. Jika hanya obsesi, apa akan sampai sejauh ini? Marshal sendiri tidak yakin. Dia hanya bisa memulainya kembali dengan Viona. Tidak apa, Amanda harus dia lepaskan. Semuanya akan terasa impas, karena Viona juga akan melepaskan cintanya. Mereka sama-sama melepaskan cinta demi membina rumah tangga yang harmonis. Marshal hanya bisa berharap, cinta akan segera hadir mengiringi bahtera rumah tangganya bersama Viona dan mereka bisa hidup bahagia bersama anak cucu mereka.
Ngomong-ngomong soal anak, Marshal tersenyum misterius. Jika Viona sudah memutuskan untuk memperbaiki rumah tangganya, itu berarti hubungan mereka akan lebih baik. Mereka akan menjalaninya dengan benar dan itu artinya, mereka akan menjadi pasangan yang sesungguhnya. Marshal sudah tidak sabar untuk punya anak yang lucu. Wajah mereka mirip dengannya dan Viona. Sangat menggemaskan. Mereka memanggilnya papa dan berlarian ke sana ke mari dengan tawa renyah menghiasi wajah tampan dan cantik mereka.
Hhh... lamunan itu buyar seketika saat ponselnya kembali berdering. Kali ini nomor tidak dikenal yang masuk. Marshal mengabaikannya. Dia tidak suka menerima panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. Dan dia hanya menduga itu panggilan dari Amanda dengan nomor barunya. Setelah Marshal memblokir nomor dan akun media sosialnya, Amanda terus meneror asistennya. Meminta pelantara untuk bisa berhubungan dengan Marshal. Namun, tetap saja tidak bisa. Marshal sudah ingin benar-benar menutup diri untuk Amanda. Bahkan pengamanan rumah dan kantornya dia jaga begitu ketat supaya Amanda tidak bisa menemuinya.
__ADS_1
Perasaan sulit itu dia lakukan karena sangat tidak mau menambah masalah lagi. Setiap hari Rio mengoceh untuknya, dan sedikit banyaknya, Marshal mengerti dan bahkan menuruti saran dari asisten andalannya tersebut.