Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Malu


__ADS_3

"Aku malu diledek terus sama mereka. Chal, please ... mau sampai kapan aku seperti ini?"


"Aku melakukannya demi kebaikanmu, Sayang."


"Apa harus dikawal sampai pergi ke toilet? Itu berlebihan. Aku tidak suka."


Marshal mengela napas kasar. Duduk di tepi ranjang memperhatikan Viona yang berdiri di depan jendela sambil melipat kedua tangannya di dada. Viona sudah mulai menunjukkan protesnya kali ini. Semua sudah bisa diduga, tapi Marshal tetap saja tidak suka dengan protesannya.


"Semalam kamu janji, aku seharian menghabiskan waktu sama mereka. Tapi, jam makan siang kamu minta aku pulang. Apa itu namanya?"


"Baiklah, aku minta maaf. Okay, aku salah." Hanya pada Viona Marshal akan mengalah. Dia tidak mungkin bisa tegas lagi untuk saat ini. Dia sudah ketakutan. Viona bisa saja marah berkepanjangan. Dan Marshal tidak mau hal itu terjadi. Sungguh, dia lelah mengurus pekerjaan. Tidak mau urusan Viona juga semakin membuatnya gila, setelah ancaman Amanda yang ingin mencelakainya.


Melihat Viona yang sudah terdiam, Marshal melepaskan dasi dan jasnya. Dia merebahkan tubuh dengan kaki yang menjutai ke bawah. Memejamkan mata sejenak mungkin akan lebih baik guna menghilangkan sedikit ketakutannya. Tapi, dia malah terusik dengan keberadaan Viona yang mendekat. Viona duduk dengan kasar di sampingnya. Marshal kembali membuka mata, melirik ke samping.


"Protesnya sudah? Padahal aku nungguin kamu mengomel panjang." Marshal terkekeh melihat Viona yang mendelik sebal. "Percayalah Sayang, aku melakukan semua itu demi kebaikan kamu juga. Tidak ada yang tahu penjahat itu sedang di mana sekarang. Aku harus tetap waspada guna memastikan kamu baik-baik saja. Setiap saat."


"Aness pergi besok."


Marshal bangun dan segera meraih pinggang istrinya. Dia memberikan kecupan ringan di pelipis Viona. Marshal mengerti, Viona belum puas bersama temannya. Dia pasti sangat kesal. "Aku gak akan ke kantor lagi. Kamu mau pergi ke tempat Aness lagi?"


Mata Viona berbinar. Dia melirik pada Marshal. "Boleh?"

__ADS_1


Marshal melepaskan tangannya dari pinggang Viona. Membuka sepatu dan kaos kakinya. Kemudian naik ke atas ranjang. Marshal merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup. "Pergilah! Aku lelah, ingin istirahat. Biarkan aku sendiri sampai malam."


Viona melihat tubuh telungkup Marshal dengan pandangan yang berubah. Binar bahagianya hilang seketika. Dari nada dingin dan sifat mengalah yang Marshal tunjukkan saat ini, membuatnya tahu, jika Marshal tidak benar-benar mengizinkan. Dia ragu untuk beranjak. Tapi, dia ingin menghabiskan waktu bersama Aness. Viona tidak tahu kapan mereka bisa bertemu lagi.


"Suruh Rio untuk tidak memerintah pengawalmu untuk ikut. Kamu boleh pergi hanya bersama Egi. Atau mau menyetir sendiri, seperti keinginanmu, juga tidak apa. Aku izinkan. Aku tidak akan mengekang. Pergilah sesuka hatimu."


Viona tertegun mendengarnya. Dia semakin lekat memperhatikan Marshal yang masih menampakkan punggungnya. Hatinya tidak nyaman mendapat perkataan seperti itu dari Marshal. Harusnya dia senang, karena bisa pergi bebas. Bukankah itu yang dia inginkan? Tapi, kenapa dia malah merasa sakit hati, jika Marshal membiarkan dia bebas begitu saja. Dia merasa Marshal sudah tidak peduli lagi terhadapnya. Viona merasa dibuang sekarang.


"Kenapa masih diam? Pergilah!"


Mata Viona memanas melihat Marshal yang membalik badan menghadap padanya. Marshal bangun dari ranjang dengan acuh.


"Chal!" Viona menyusul langkahnya dengan cepat.


"Chal ...."


"Kamu boleh pergi sendiri. Ambil kunci mobil yang kamu inginkan. Menyetir sendiri lebih menyenangkan bukan? Pergilah! Dan jangan lupa bilang pada Rio supaya para suruhannya tidak mengikutimu. Bilang padanya kamu ingin bebas dan sudah aku izinkan."


"Chal!" Viona memeluk tubuh Marshal erat dari belakang, sebelum suaminya akan beranjak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat di punggung sang suami. "Aku gak apa-apa. Aku gak mau pergi lagi."


Marshal mengulum senyum, masih berdiri kaku merasakan pelukan Viona yang semakin erat. Dia terdiam karena ingin melihat bagaimana reaksi Viona. Tapi, istrinya tidak lagi mengatakan apapun. Hanya memeluknya.

__ADS_1


Tidak mendapatkan apa yang dia mau. Marshal membalik badan. Viona tetap terdiam, padahal dia ingin Viona bermanja dan meminta maaf padanya. Ternyata Viona tidak bisa diharapkan untuk lebih sedrama itu. Dia memperhatikan wajah Viona. Dan betapa terkejutnya saat dia melihat mata Viona yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?" Marshal mengusap wajah Viona. Istrinya hanya menggeleng dan kembali memeluk erat Marshal dari depan. "Sayang?" Viona menggeleng lagi. Marshal memaksanya untuk mendongak. Dia memperhatikan wajah Viona dengan serius. Viona hanya diam, dengan alis yang mengernyit. Terlihat menahan sesuatu. "Kenapa, hm?"


Kepala Viona kembali terbenam dalam dada Marshal. "Aku takut," lirihnya membut Marshal semakin tidak mengerti. "Ternyata aku lebih suka kamu yang kejam. Jangan terlantarkan aku dengan membiarkan aku pergi sendiri. Aku takut. Jangan berhenti pedulikan aku, Chal."


Marshal terdiam sesaat mencerna dengan baik ucapan Viona. Senyumannya terbit seketika merasakan kecupan ringan di lehernya. Tangan Viona terangkat untuk melingkar di leher Marshal. Dia kembali menyandarkan kepalanya. "Aku takut," lirihnya lagi.


Marshal tidak bisa menahan bahagia. Sambil mengelus lembut kepala istrinya, Marshal tersenyum. Apa Viona sudah mulai membutuhkannya sekarang? Termasuk dalam hal perhatian? "Aku melakukan semua itu demi kamu, Sayang. Demi keselamatan kamu."


Kepala Viona mengangguk pelan. Marshal memegang kedua tangan Viona. Dia melepaskan lingkaran itu dari lehernya. Melihat kecemasan Viona, Marshal tersenyum. "Makanya jangan membantah, ya."


Tatapan Viona melunak saat dia memberikan anggukan. Marshal kembali tersenyum, mencium kening Viona lalu memeluknya erat. Saat Viona berusaha melepaskan diri, Marshal melihatnya heran. Viona juga menatap padanya. Tatapan yang sulit diartikan. Tatapan Marshal turun ke bibir Viona yang bergerak. Terbuka sedikit, kemudian terkatup kembali. Viona menggigit bagian dalam bibir bawah. Melihat hal itu, Marshal menyalahartikannya. Dia tersenyum jenaka dan segera menyambar bibir itu dengan buas. Viona sampai tersentak, sedikit mundur ke belakang.


Viona tidak bisa melawan, tangan Marshal sigap menahan tengkuknya supaya tidak menghindar. Lama kelamaan ciuman semakin menuntut. Tidak ada alasan untuk Viona menolak. Dia hanya bisa membalasnya dengan hal yang serupa. Mereka terlihat buas satu sama lain. Marshal bahkan tidak membiarkannya mengambil napas sejenak saja.


"Ah, Chal!" Viona memekik saat Marshal mendorong tubuhnya ke ranjang.


Marshal menyeringai. Dia naik ke atas ranjang, mengungkung tubuh Viona yang masih terlihat kaget. Napas keduanya terengah-engah. Viona beringsut mundur, ingin menghindar. Tapi, Marshal sudah kembali menyambar bibirnya dan mereka kembali berciuman.


"Aku anggap kegiatan ini bisa menggantikan jam produktifku untuk bekerja," bisik Marshal tepat di telinga istrinya, setelah tautan bibir mereka terlepas.

__ADS_1


Wajah Viona merona. Dia hanya bisa mengangguk pasrah saat Marshal memintanya. Tidak ada alasan untuk Viona menolak. Selain kewajiban, apa yang Marshal lakukan memang membuat Viona tidak bisa mengelak, jika perbuatan suaminya memang membawa kenikmatan.


Siang ini, terjadi lagi untuk kedua kali. Jangan lupakan pil KB, karena itu sudah menjadi kesepakatan mereka.


__ADS_2