
"Udah, ah, gak mau lagi." Viona menahan Marshal yang ingin menyosornya lagi. "Harus banyak istirahat. Gak usah minta cium-cium lagi! Dan luapakan dulu pekerjaan!"
Marshal menuruti perkataan istrinya, meskipun dia masih ingin merasakannya. Tapi, Viona tidak mau memberikannya lagi.
Setelah memastikan Marshal istirahat dengan damai, Viona pergi keluar dari kamar. Baru membuka pintu, dia melihat Rio yang mendekat.
"Kamu udah balik, Yo. Jadi, apa kata papa? Kenapa papa ngajak kamu ketemu?"
Rio melirik pintu kamar majikannya sejenak. "Mungkin lebih baik jangan bicara di sini, Nyonya."
"Kenapa memangnya? Tuan sudah tidur, tidak mungkin mendengarkan kita."
Rio terlihat ragu untuk bicara. Dia malah melirik-lirik pintu kamar Marshal yang tertutup. "Nona Michelle ada di bawah. Ingin bertemu Nyonya. Nyonya akan dapat jawabannya nanti."
Viona mengernyit. Ada apa Michelle mendatanginya? Dia memilih untuk menemui Michelle langsung. Viona turun diikuti oleh Rio di belakangnya. Terlihat Michelle yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Terlihat sangat santai. Duduk di depan televisi dengan setoples biskuit di tangannya. Viona mendekat dan duduk di sampingnya tanpa bicara membuat Michelle tersentak kaget.
"Kakak!" Michelle menyimpan toples biskuit ke atas meja dengan kaget. Sedetik kemudian, dia memeluk Viona sejenak, senyuman mengembang di wajahnya. "Kangen ...."
Viona hanya membalas pelukan seperti biasa. "Tumben .... ada apa?"
Michelle malah mencebikkan bibirnya dengan kesal. Dia kembali mengambil toples dari atas meja dan mengambil isinya. Biskuit di rumah Marshal rasanya sangat enak. Dia menyukainya. Kebetulan, saat baru datang, Michelle langsung diminta menunggu oleh Rio dan asisten Marshal yang memanggilkan Viona ke atas. Tadinya Michelle ingin menemui Viona sendiri, tapi Rio melarang. Takutnya malah mengganggu Marshal yang sedang sakit, katanya.
"Apa ada hubungannya sama papa?" tebak Viona tidak yakin. Dia ingat, tempo hari Michelle mengajaknya untuk bertemu dan bilang ingin berbicara serius padanya. Dia mengira ada hubungannya dengan Wisnu, karena ayah mertuanya itu juga mengajak Rio bertemu secara privat dan pulang malah membawa Michelle untuk datang menemuinya.
"Kok, Kakak tahu?" Michelle termangu sambil mengunyah biskuit. "Tahu dari mana?"
Viona mengedikkan bahu. "Nebak aja."
Kepala adik iparnya mengangguk-angguk sambil memasukkan lagi biskuit ke dalam mulutnya. Setelah selesai mengunyah, dia menyimpan kembali toples tersebut di atas meja. Michelle membenahkan duduknya supaya berhadapan dengan Viona. Dia melirik sejenak pada Rio yang langsung pamit untuk pergi. Wajah Michelle terlihat sangat serius. "Sebenarnya ...," Michelle mendekat pada Viona dan membisikkan sesuatu padanya.
__ADS_1
Viona mendengarkannya dengan baik. Dia kadang mengernyit, kadang mengangkat sebelah alisnya kadang juga mengangguk-anggukan kepalanya.
"Gimana?" Michelle tersenyum licik sambil menaik turunkan alis, setelah selesai dengan bisikkannya..
Viona berdecak. "Gak, ah. Dia lagi sakit, Chelle. Aku gak tega lakuinnya."
"Ya, ampun, Kakak. Biarin aja, sih! Kak Chal cuma demam aja. Kita tetap bisa jalanin sesuai rencana."
Viona menggeleng tegas. Dia tidak setuju dengan apa yang Michelle katakan. Apalagi Marshal sedang sakit. Viona pasti khawatir dan tidak tega untuk mengikuti keinginan Michelle.
"Kak ...." Michelle menyentuh tangan Viona, menggoyang-goyangkannya, memaksa Viona supaya setuju.
"Gak mau, Chelle. Jangan maksa, deh!"
"Ck!" Michelle memandang sebal pada kakak iparnya. Dia mengambil ponsel dari tas miliknya, menekan-nekan layarnya. Setelah itu, dia menempelkan ponsel tersebut di telinganya. "Halo, Pa? Kak Viona gak mau."
Istri Marshal hanya menghela napas. Michelle mengadu pada ayahnya karena keinginannya tidak Viona penuhi.
"Ya, halo, Pa?" Viona memandang Michelle dengan kesal. Ternyata Michelle aduan dan pemaksa seperti kakaknya. Viona mengangguk-angguk paham mendengar suara Wisnu yang bicara dari seberang sana. "Tapi, dia lagi sakit, Pa. Kasian. Gak ada yang ngurusin juga."
"Biarin aja! Nanti dia juga sembuh sendiri," sahut Wisnu.
Viona menghela napas kasar. Kenapa keluarga Marshal sampai tega seperti itu pada anak mereka? Padahal kondisi Marshal sangat lemah saat ini. Tapi, mereka malah memaksa Viona untuk mengikuti keinginan Michelle.
"Ya, sudah, aku usahakan. Tapi, tidak sekarang, ya, Pa. Marshal sakitnya masih parah banget, kasian."
Setelah Wisnu menyepakati perkataan Viona, sambungan terputus. "Kalo kakak kamu kenapa-napa, aku gak ikut tanggung jawab, ya. Kamu yang harus disalahkan!"
"Iya-iya," ucap Michelle dengan malas, menerima ponsel dari tangan Viona.
__ADS_1
Kakak iparnya itu terlihat sedang berpikir keras. Keinginan Michelle terlalu berat. Viona tidak mau menurutinya, tapi dia juga sudah berjanji pada Wisnu akan menjalankannya.
***
"Tuan, kasus tuan Suryo teredam berganti jadi naiknya berita besar atas kasus pencemaran nama baik," lapor Rio dengan pelan pada Marshal. Majikannya sudah terlihat lebih baik dari dua hari sebelumnya. Bahkan dia sudah bisa berdiri tegak, meskipun tidak bisa terlalu lama karena kadang masih merasa pusing dan sakit kepala.
"Kenapa bisa begitu? Apa pengacara kita tidak mengatasinya dengan baik?" Marshal sedang berjemur pagi di taman belakang bersama istrinya yang selalu sabar untuk menemani. "Jika tidak bisa diatasi, kita keluarkan saja semua buktinya. Tuan Suryo benar-benar ingin mengajak perang. Padahal sudah jelas dia yang salah sudah korupsi."
Rio berpandangan dengan Viona. Mereka sama-sama bicara lewat pandangan mata.
"A ...." Marshal membuka mulutnya lama, Viona tidak kunjung menyuapkan salad buah ke mulutnya. "Sayang?" Dia melirik Viona heran. Istrinya malah main mata dengan Rio.
"Ah, iya, aaa ...!" Viona kembali menyuapinya dengan cepat. Dia tidak mau Marshal menegurnya lagi. Suaminya memang manja selama dia sakit. Dia bisa makan sendiri, tapi tetap saja harus selalu Viona yang menyuapinya. Sangat merepotkan, tapi Viona tetap sabar melayaninya.
"Jika berita lama kembali naik, berarti kita harus siap kehilangan kepercayaan para investor untuk kedua kali?"
Marshal melirik pada Rio dengan masih mengunyah. Dia terkekeh pelan. "Aku tidak peduli lagi dengan berita itu. Masalahnya sudah selesai. Kalaupun nanti mereka menaikan berita itu ke permukaan lagi, aku bisa menyangkalnya dan menjelaskan pada mereka kalau masalahnya sudah selesai. Ada istriku yang bisa mengonfirmasinya. Ya, kan, Sayang?"
Viona mendengus kesal. "Kenapa jadi aku yang dibawa-bawa?"
"Ya, kan, kalau kamu yang bilang pada publik kalau masalahnya sudah selesai, mereka pasti langsung percaya. Yang mereka lihat itu bukti, Sayang. Jika mereka melihat rumah tangga kita sudah baik-baik saja, mereka pasti percaya kalo aku sama Amanda gak selingkuh lagi."
"Oh, emang awalnya kalian selingkuh, ya?" Dengan santainya Viona bertanya membuat raut wajah Marshal berubah seketika.
"Tapi, Tuan, apa itu tidak berbahaya pada performa perusahaan?" Rio kini duduk di bangku lain yang berhadapan dengan Marshal yang sedang disuapi oleh istrinya.
Marshal menelan dulu makanan dalam mulutnya. "Aku rasa tidak akan berpengaruh. Berita yang dulu masuknya ranah pribadi. Itu berita perselingkuhanku, bukan berita perusahaan. Seharusnya tidak berdampak pada performa perusahaan kita."
"Jadi, yang waktu itu benaran berita perselingkuhan kamu, ya? Oh, jadi kamu sekarang mengakui, jika berita itu benar perselingkuhan?" Viona tertawa geli melihat ekspresi suaminya yang tidak enak. "Ternyata kamu selingkuh, ya."
__ADS_1
Marshal mendelik jengah melihat istrinya yang tertawa geli. Rio juga terlihat mengepalkan tangan di depan mulut, menahan tawanya. "Harus diingat, kamu yang ngizinin aku pacaran sama Amanda!" ucap Marshal penuh penekanan.
Viona menghentikan tawanya. Dia memukul pelan lengan suaminya. "Kamu yang maksa supaya aku gak ikut campur, ya. Bukan aku yang ngizinin."