Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Berapa istrimu sebenarnya?


__ADS_3

Sudah mencari ke seluruh sudut kamar, tetapi dia tetap tidak menemukan sosok istrinya. Ke mana Viona? Marshal sudah memanggil namanya, namun di kamar mandi, dia mengecek dan ternyata tetap tidak ada.


Akhirnya Marshal memutuskan untuk memeriksa kamar istrinya. Viona pasti berada di sana, dan benar saja, saat Marshal membuka pintu kamar istrinya, Viona terlihat sedang duduk di ranjang sambil menyandarkan kepala dan memainkan ponselnya.


"Sayang, kenapa pindah lagi ke sini? Gak tidur di kamar kita?" Marshal mendekat dan duduk di samping istrinya. "Sudah malam, kamu tidak mengantuk? Kenapa malah main hape seperti ini?"


Viona memandangnya sejenak dan kembali fokus pada ponselnya. Marshal mencolek dagunya dengan gemas saat istrinya memberikan delikan mata yang cukup tajam.


"Kamu kenapa melihatku seperti itu?"


Viona masih diam, tidak melirik Marshal sedikit pun. Jari-jari tangannya sibuk menari di atas keyboard dalam layar ponselnya, sedang bertukar pesan dengan temannya.


"Pindah kamar, yuk! Tidur di kamar kita."


Viona menggeleng, membenarkan selimut supaya menutupi kakinya yang berselonjor.


Marshal mulai aneh melihat sikap istrinya yang dingin. Dia pun menunduk dan memiringkan kepala untuk melihat wajah Viona yang terus terfokus pada ponsel. "Sayang, kamu kenapa? Apa kamu marah karena kesenangan kita tertunda?"


Viona diam dan kembali menggerakkan jemari di atas layar ponsel.


"Jangan marah! Kita bisa melanjutkannya sekarang." Marshal mulai melancarkan kembali aksinya. Dipeluknya tubuh Viona dengan wajah yang menyuruk di leher istrinya. Marshal mengecupnya hangat beberapa kali sampai Viona merasa risih dan mendorong pelan kepalanya untuk menjauh. "Kamu benaran marah? Sayang, maafkan aku! Tapi, tadi ada papa datang, aku tidak mungkin mengacuhkannya. Kita lanjut saja, ya!"


Viona tidak mau, mendorong pelan dada suaminya untuk menjauh. Setelah Marshal diam di posisinya, Viona menyimpan ponsel di atas nakas dan kembali menghadap suaminya. "Aku ingin bertanya, aku harap kamu berkata jujur."


"Bertanya apa? Sepertinya serius sekali, hm?" Marshal kembali memeluk istrinya, mencium rahang Viona sekilas dan tersenyum gemas. "Cantik sekali, Istriku."


Viona hanya terdiam membiarkan Marshal berbuat semaunya. "Berapa istrimu sebenarnya?"


"Hm?" Marshal melepaskan diri dari dari tubuh Viona. Alisnya terangkat dan meminta Viona mengulangi pertanyaannya.


"Kamu punya istri berapa?"


Marshal terkekeh geli mendengar pertanyaan istrinya. "Ya, satulah, Sayang. Istriku hanya kamu, Viona Azzahra Pratama," ucapnya dengan gemas mencubit hidung Viona. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Viona melepaskan tangan Marshal dari wajahnya. Suaminya terlihat begitu tenang dan malah tersenyum padanya. "Aku serius, Chal. Aku mau kamu jawab jujur."


"Iya, Sayang, aku jujur. Memangnya kenapa?" Marshal mulai mengendus leher istrinya. "Jangan bicara omong kosong denganku, Sayang! Sekarang bukan saatnya."


"Aku hanya bertanya, kamu tinggal jawab saja dengan jujur." Viona mulai menaikkan intonasinya. Kesal karena Marshal terlihat main-main menanggapi pertanyaannya.


Marshal kembali mengangkat wajah, melihat istrinya yang mulai tidak enak dipandang. "Kamu menuduhku punya simpanan?"


"Memang benar, kan?"


Suami Viona tersebut langsung terbelalak kaget. "Jaga ucapanmu, Sayang! Kamu pikir aku laki-laki seperti apa?"


"Aku yang harusnya bicara seperti itu. Kamu pikir aku wanita seperti apa, sampai kamu berpoligami?"


"Siapa yang berpoligami?" Marshal mulai terlihat kesal. Ditatapnya Viona dengan tajam, Marshal menggelengkan kepala, tidak percaya Viona menuduhnya yang tidak-tidak. "Aku hanya punya satu istri, Sayang. Aku tidak berpoligami. Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Yakin?"


"Yakin. Sudahlah, jangan bicara omong kosong lagi! Ucapanmu jika sedang kesal jadi melantur. Jika kamu kesal karena kegiatan kita terganggu, jangan seperti ini! Kita tetap bisa melanjutkannya sekarang, Sayang."

__ADS_1


"Bukan begitu," Viona menahan kepala Marshal yang sudah kembali memangsa lehernya. "aku hanya ingin membenarkannya. Apa kamu punya istri lain, selain aku?"


"Sudah kubilang tidak, kenapa masih saja bertanya?" kesal Marshal dengan nada tinggi. "Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu memitnah suami sendiri? Kamu tidak percaya padaku? Aku hanya punya kamu, jangan bicara sembarangan!"


"Yakin tidak punya yang lain?"


Marshal mengangguk cepat. "Mana mungkin aku berpoligami, Sayang. Apa kamu pernah kehilanganku satu malam saja? Tidak, kan. Kita tinggal bersama. Jika pun aku punya simpanan, kapan aku mengunjunginya? Setiap malam aku bersamamu."


"Bisa saja kamu mengunjunginya di siang hari. Kamu bilang berangkat bekerja, padahal aslinya ...."


Marshal mengacak rambutnya kesal serta membuang napasnya kasar. Dia menggeram. "Kamu ini bicara apa, sih? Sudah kubilang, aku tidak punya simpanan. Kenapa kamu tidak juga percaya? Kita menikah baru sebentar, aku tidak mungkin berpoligami."


"Oh, jadi, kalo kita menikah sudah lama, kamu berniat melakukannya? Atau justru aku yang berstatus sebagai simpanan? Kamu menjadikan aku yang ke berapa?"


"Ya ampun, Sayang ...," Marshal semakin kesal, "jangan bicara ke mana-mana! Aku tidak punya istri yang lain, hanya kamu seorang, sungguh!" Melihat Viona yang mendelik, Marshal mengembuskan napasnya kasar. "Kamu tidak percaya, huh? Aku harus membuktikannya dengan apa supaya kamu percaya?"


Viona memilih memalingkan wajah ke arah lain, tidak mempedulikan suaminya yang semakin emosi.


"Jadi, kamu curiga aku punya simpanan?" Viona tetap diam, masih tidak mau menatap suaminya. Marshal justru menyeringai, memeluk istrinya kembali. "Apa itu artinya kamu cemburu? Kamu tidak mau aku menduakanmu? iya, hm?"


Viona menggerakkan bahunya supaya Marshal menjauh, tetapi suaminya malah semakin menggodanya. "Memangnya istri mana yang mau dimadu? Semua istri juga pasti tidak akan ada yang mau dijadikan simpanan," ucap Viona dengan ketus.


"Memangnya siapa yang menjadikanmu simpanan, hm? Kamu istriku satu-satunya, tidak ada yang lain."


"Jangan berbohong! Jika benar, lebih baik katakan dengan jujur. Mumpung pernikahan kita belum terjalin lama. Aku tidak mau-"


"Jaga ucapanmu, Zahra!" Marshal langsung membentak, menjauhkan diri dari istrinya. "Atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu? Aku tidak menduakanmu. Aku menikah hanya sekali, denganmu. Mana mungkin aku berani berkata bohong."


Viona membalas tenang tatapan suaminya. "Jadi, tidak benar? Kamu tidak punya simpanan lain? Mana buktinya?"


Viona terdiam, ucapan Marshal ada benarnya juga. Berarti Rio berbohong padanya. "Baik, aku akan mencatatnya. Tapi, ingat, aku tidak mau dimadu! Jika aku mengetahui kamu punya istri lain, kita bercerai saat itu juga!"


"Iya-iya, Istriku." Marshal mengangguk-anggukan kepala. Viona ada-ada saja. Marshal tidak habis pikir, kenapa istrinya bisa berkata seperti itu?


Setelah lama saling diam, Marshal kembali mendekati istrinya. "Omong-omong, kenapa kamu tidak mau dimadu? Kamu tidak mau diduakan karena kamu cemburu, kan? Sayang, apa kamu sudah mencintaiku? Hm? Hm?" Marshal menggoda istrinya dengan alis yang naik turun.


Viona justru mendengus sebal. "Bukan cemburu, aku hanya tidak mau saja dimadu. Aku punya harga diri yang tinggi. Jika aku dimadu, itu artinya, tahtaku tidak tinggi dan harus berbagi pada wanita lain. Sebagai wanita, aku ingin mendapat gelar dan penghormatan yang sempurna. Bukan berarti aku cemburu, ya, ingat itu!"


Marshal bedecak kecewa, lemas seketika. Dia kira Viona sudah mencintai, ternyata masih belum juga. Tidak apa, dia akan berusaha merebut hati istrinya. Bukankah Viona sudah bilang, Marshal adalah suaminya, sulit ataupun mudah, dia tetap harus mencintai suaminya.


"Lantas, kenapa kamu bertanya seperti tadi?"


Viona menarik selimut, melorotkan tubuh hingga berbaring. "Tadi ada yang menghubungi Rio, katanya dia selirmu," ucapnya pelan tertahan selimut yang mulai menutupi kepalanya.


Marshal mengernyit dalam melihat istrinya yang malah tenggelam dalam kehangatan selimut. "Selirku? Siapa?"


"Aku tidak tahu, makanya bertanya. Jika dia benar istrimu juga, aku akan meminta cer-"


"Bukan," Marshal menarik selimut yang menutupi kepala istrinya. "aku tidak punya selir, Sayang. Jangan mengada-ngada! Rio pasti becanda."


"Terserah!" Viona memejamkan mata, menarik kembali selimut menutupi kepalanya.


Marshal terdiam sesaat sebelum dia ikut merebahkan badan di samping istrinya. Sepercik bahagia hadir menyelimuti hatinya. Viona sangat tidak ingin dimadu membuatnya senang karena merasa Viona hanya ingin memilikinya seorang diri.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah berpoligami, Sayang. Satu saja cukup untukku."


Mendengar ucapan suaminya, Viona kembali membuka selimut. "Jangan-jangan ucapan Rio benar, ya? Apa karena aku tidak bisa memuaskanmu, kamu jadi mencari kepuasan dari wanita lain?"


Tadinya Marshal ingin memeluk tubuh istrinya, namun dia urungkan dan langsung menatap tajam. "Aku bukan laki-laki seperti itu," bantahnya dengan tegas. "walaupun kita tidak pernah melakukannya, aku tetap bersabar, Sayang. Aku tidak mungkin mencarinya di luar. Percayalah!"


"Jangan berbohong!"


Marshal memeluk Viona dengan erat, menyandarkan kepala di bahu istrinya. "Aku punya harta karun di rumah yang belum pernah aku buka, untuk apa mencari di luar?" Marshal mengangkat kepala, melihat wajah tenang istrinya, dia tersenyum lebar dan mengelus wajah Viona lembut. "Bagaimana jika kita lakukan sekarang? Supaya aku semakin betah di rumah, tidak akan pernah mencarinya di luar," bisiknya mengecup hangat bibir istrinya.


Viona bergidig ngeri, segera menggeleng. "Sudah larut malam, aku mau tidur, ngantuk."


"Kita bisa melakukannya sampai pagi, bagaimana?"


"Besok kamu kerja, jangan macam-macam!"


"Aku tidak akan berangkat bekerja, untuk istriku."


"Aku besok ke kampus, pagi-pagi sekali."


Marshal berdecak kesal, kembali berbaring di samping istrinya. "Kamu terlalu banyak alasan. Bukankah tadi kita hampir melakukannya? Kita tinggal meneruskannya, kan?"


Viona memiringkan tubuhnya menghadap Marshal. Tangannya terangkat untuk menggapai kepala suaminya, mengusapnya pelan rambut Marshal. "Tunggu aku sampai siap!"


"Tapi, tadi kamu ...."


"Tadi kelepasan."


"Oh, kelepasan, ya?" Marshal menyeringai, menggapai tangan Viona yang masih mengusap kepalanya. Dia menunduk dan mengangkat dagu Viona dengan jari telunjuk dan jempol, supaya menatapnya lebih dekat. Dilihatnya bibir Viona yang merah muda alami. Marshal masih ingat benar bagaimana rasa benda kenyal tersebut. "Jika aku membuatmu kelepasan lagi, bagaimana?."


Viona segera menggeser tubuh setelah Marshal mencuri ciuman di bibirnya. Dia memukul pelan dada suaminya dengan kesal dan segera membalikkan badan.


Marshal terkekeh, memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mulai memberikan kecupan ringan di tengkuk Viona membuat bulu kuduk istrinya berdiri.


"Tadi papa datang, mau apa?"


Kecupan Marshal terhenti. Viona membalikkan tubuh kembali, melihat pada suaminya yang langsung terdiam dengan tatapan yang sulit di tebak. Marshal terlihat sedikit muram. Viona membenahkan tubuhnya saat Marshal memintanya untuk semakin merapat dan memeluk tubuhnya.


"Begini saja," tolak Viona melipat tangan di bawah pipi, menghadap miring pada suaminya.


Marshal tetap keukeuh ingin dipeluk. Tangannya menyusup di bawah kepala Viona, menyangganya dan merangkul bahu istrinya. Tubuh Viona kian merapat, Marshal menarik tangan Viona supaya melingkar di perutnya.


"Tidur dengan posisi seperti ini, sepertinya akan sangat nyaman, Sayang." Marshal mengecup kepala Viona yang terbenam di dadanya. "Aku sudah mengantuk, selamat malam, Sayang."


Viona mengangkat kepala melihat suaminya yang malah memejamkan mata. "Kamu mengacuhkan pertanyaanku?" kesalnya.


Mata Marshal kembali terbuka. "Papa hanya membicarakan masalah pekerjaan. Tidak ada hal lain. Sudah, lebih baik tidur saja, tidak usah bertanya lagi, ya."


Viona tidak mau karena masih penasaran. Marshal mengembuskan napasnya kasar, Viona malah melepaskan diri darinya. "Sayang, papa hanya membicarakan masalah biasa, bukan apa-apa."


Viona hanya diam menatapnya. Marshal ingin merapatkan tubuh kembali, namun Viona malah menjauh.


"Aku sudah memutuskan untuk belajar jadi istri yang baik untukmu. Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama."

__ADS_1


"Baiklah." Marshal menghela napas pelan sebelum berhasil memeluk Viona kembali. "aku mencintai, Zahra. Sangat!"


"Hm," Viona berada di dalam dekapan suaminya, mengangkat wajah. Pandangannya bertemu, karena Marshal juga sedang menunduk melihat padanya. "kamu pernah bilang, sangat mencintai nona Amanda. Jika aku bertanya sekarang, lebih besar cintamu padanya atau pada istrimu?"


__ADS_2