Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Uji Coba?


__ADS_3

"Zahra!" Marshal menghempaskan tangannya dengan cepat. Amarahnya semakin memuncak melihat sikap istrinya. "Apa yang kamu inginkan sebenarnya?!"


Viona masih diam. Melirik sekitar dengan kesal. "Kita pulang dulu, tidak baik jika bicara di sini."


Marshal tidak peduli dengan emosi yang kian meninggi. "Kenapa kamu bicara seperti itu padanya tadi? Kamu pikir pernikahan kita ini apa, ha? Kenapa kamu malah berkata seperti itu pada laki-laki lain?!"


Membuang napas dengan kasar, Viona menggaruk kepala yang tidak gatal dengan kesal. Mereka masih berada di koridor rumah sakit, namun Marshal masih saja berteriak. Sebelum petugas keamanan datang untuk mengusir mereka, Viona harus bisa membawa Marshal pergi secepatnya. Tidak mau terjadi keributan hanya karena kemarahan suaminya. Namun, baru dia akan mengajaknya untuk pergi, Marshal sudah memancarkan aura kekejamannya membuat Viona mengurungkan niatnya untuk kembali menarik tangan Marshal.


Memejamkan mata sejenak, Viona membalas tatapan penuh amarah dari suaminya. Dia harus terlihat tenang, karena tidak mau tersulut dengan emosi suaminya saat ini. "Bisa kita bicara di tempat lain? Aku tidak mau pergi karena diusir satpam di sini."


"Apa mau kamu sebenarnya, huh?!"


Viona berdecak dengan kesal. Kembali melanjutkan langkahnya untuk segera pergi dari sana. Marshal menyusulnya dengan cepat dan menarik tangannya kasar. Viona berbalik badan, manatap suaminya tajam. "Sudah aku bilang, kita bicara di tempat lain. Ini rumah sakit, kamu membuat onar di sini?"


Terpaksa Marshal menurut dan menarik tangan Viona dengan cepat menuju parkiran. Istrinya hanya diam sampai mereka masuk ke dalam mobil.


"Jelaskan semuanya padaku!"

__ADS_1


Viona melirik Marshal dengan alis terangkat. "Apa yang harus dijelaskan?" tanyanya dengan datar.


"ZAHRA!" Marshal menggeram, semakin tajam memandangi istrinya yang baru dia tahu, ternyata punya sifat mengesalkan. Senang sekali Viona menyulut api emosinya. "Kenapa kamu bilang seperti itu padanya? Jelaskan padaku!"


Viona malah membuang muka ke arah jendela. Melepaskan napas secara perlahan, berusaha keras mengacuhkan tatapan Marshal yang semakin mengintimidasinya. "Untuk apa aku menjelaskannya, kamu pasti sudah mendengar semuanya tadi." Dia menoleh ke arah Marshal. "Sejak awal kamu memang menguping pembicaraan kami, kan? Itu artinya kamu juga mendengar apa saja yang aku katakan pada Sendi. Apa perlu aku perjelas lagi?"


Marshal terdiam. Kenapa Viona bisa tahu jika dia menguping sejak awal? Marshal tadinya ingin menemui Arga, niatnya dia urungkan karena tidak rela istrinya berduaan dengan Sendi.


Viona tersenyum meremehkan. Dia tahu sifat suaminya bagaimana. Marshal pasti tidak akan pernah bisa membiarkan Viona bebas begitu saja. Dan memang terbukti, Marshal hanya pura-pura mengizinkannya bicara dengan Sendi padahal dia sendiri masih menguping di balik pintu. Viona yakin akan hal itu, karena dia sempat melihat sekilas dari kaca kecil berbentuk persegi panjang yang ada di bagian atas pintu inap kamar Sendi, tubuh Marshal terlihat sedikit di sana.


Hening tercipta cukup lama. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, namun dia tetap memandang tajam pada Viona. Marshal menggapai tangan istrinya yang berada di atas pangkuan. Dia meremasnya pelan, menyalurkam emosi yang begitu terasa menyuplai suasana di dalam mobil. Rio, yang sedari tadi hanya terdiam di kursi pengemudi, hanya membisu dan mendengarkan perdebatan mereka.


Viona melirik padanya. Melepaskan tangan Marshal dari tangannya dengan kesal. "Aku benci sama suamiku. Kamu egois, kamu pemarah, kamu menyebalkan, kamu pemaksa, kamu selalu berbuat seenaknya, kamu pengekang, dan kamu tidak pernah mengerti apa maunya aku."


Perasaan Marshal kalut mendengarnya. Apa seburuk itu sosok Marshal di mata Viona? Istrinya sudah membencinya karena itu?


"Aku mau kembali sama kamu penuh dengan pertimbangan, Chal." Viona membenahkan duduknya untuk tepat menghadap Marshal yang terdiam. Mobil masih berada di parkiran rumah sakit, karena Marshal belum memerintahkan Rio untuk melajukannya. "Awalnya aku berpikir, demi orangtuaku pernikahan kita masih bisa dipertahankan. Masih bisa diperbaiki dengan alasan supaya orangtuaku tidak terus meminta maaf dan menyesal telah menikahkan aku dengan laki-laki seperti kamu. Aku juga awalnya berpikir, kamu bisa memperbaiki sikapmu. Tapi, ternyata aku salah."

__ADS_1


Diam mendengarkan dan lagi-lagi dia harus menerka ke mana arah pembicaraan Viona. Apa maksud dari ucapannya, dan apa isi pikiran istrinya? Semuanya akan terjawab jika dia mengalah untuk mendengarkan. Terkadang apa yang Viona utarakan, akan masuk ke dalam hati dan menusuknya di kalimat akhir. Siap tidak siap, dia harus mendengarkan dengan berbagai pemikiran yang akan Viona utarakan.


"Marshal tetaplah Marshal," Viona kembali melanjutkan, "tetap pengekang yang selalu banyak melarang. Bahkan untuk menjenguk Sendi saja, kamu tidak mengizinkan. Tadi saja, kamu bahkan menguping pembicaraan aku dengan Sendi. Itu artinya kamu tidak percaya sama aku, kan? Apa itu yang dinamakan cinta? Bukan, Chal." Viona menggeleng pelan. "Cinta tidak seperti itu. Aku sudah bilang, pikirkan dulu baik-baik. Apa kamu benar mencintaiku atau hanya terobsesi. Aku tidak mau mempertahankan pernikahan ini lebih lama, jika harus menjalaninya dengan orang yang hanya terobsesi."


Pandangan tajam Marshal mulai melunak menjadi penuh penasaran. Dia belum menemukan ke mana pelabuhan yang akan menjadi titik akhir ucapan Viona. "Apa hubungannya dengan ucapan kamu pada laki-laki itu? Aku minta kamu menjelaskan semuanya dengan jelas atas apa yang kamu katakan padanya tadi, bukan malah membahas masalah semalam."


Dihelanya napas dalam, Viona terlihat begitu serius. "Itu alasan aku mengatakan hal tadi. Awalnya aku memang pernah berpikir seperti itu, jika aku bercerai, masih ada Sendi yang mau menikahiku."


Lagi-lagi emosi Marshal memuncak. Ingin sekali dia menyumpal mulut istrinya yang kurang ajar tersebut. Bisa-bisanya Viona berpikir seperti itu. "Apa kamu gila? Aku tidak menyangka istriku bisa berpikiran kotor seperti itu. Jangan harap kamu bisa menikah dengannya! Kamu istriku, Zahra! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


Viona menggeser tubuhnya saat Marshal akan meraih tubuhnya. Sebenarnya keberanian Viona tidak sebesar yang terlihat, hanya saja dia terus menampakkan keberanian untuk menghadapi sikap suaminya. Marshal terlalu egois, jika tidak diingatkan dengan melawan seperti itu, dia tidak akan pernah bisa berubah.


"Jangan pernah kamu berpikir seperti itu lagi! Kamu masih punya suami, Zahra, kenapa kamu tega berkata kotor seperti itu di depan laki-laki lain?!"


"Karena aku tidak yakin terus bertahan dengan kamu," sanggah Viona dengan cepat, "kamu masih meragukan. Aku tidak nyaman hidup sama kamu, Chal. Kamu memang memperlihatkan perubahan di depanku. Lebih manis dan banyak menuruti kemauanku sekarang, tapi aku tahu jika itu hanya sandiwara, kan? Kamu cuma mau meluluhkan aku supaya bisa kamu genggam kembali?"


Marshal tertegun mendengarnya. Viona mengatakan hal itu penuh dengan keyakinan, apa sikap Marshal terlalu kentara sampai Viona bisa menangkapnya?

__ADS_1


"Awalnya aku memang berpikir untuk bercerai dan kembali pada Sendi untuk memulai kehidupan baru, tapi lagi-lagi aku ragu. Aku tetap memikirkan perasaan orangtuaku. Mereka pasti tetap merasa bersalah jika aku bercerai dari kamu. Meskipun nantinya aku hidup bahagia bersama Sendi, rasa bersalah mereka pasti tetap ada karena jejak kegagalanku dalam berumah tangga akan terus teringat. Aku gagal berumah tangga sama kamu, laki-laki yang mereka nikahkan denganku."


Ditatapnya Marshal dengan lekat, Viona memegang bahu suaminya dan mencengkramnya erat. "Kamu paham gak, sih, dari kemarin aku sedang menguji coba diri kamu?" Marshal mengernyit bingung.


__ADS_2