Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Bersyukur Jadi Istri Marshal


__ADS_3

"Lihat, itu!"


Marshal yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang-sibuk dengan ponselnya-menoleh pada Viona yang menunjuk ke arah televisi yang sedang ditontonnya. Pandangan Marshal mengikuti ujung telunjuk istrinya mengarah. Di layar televisi terdapat sebuah adegan romantis yang membuat Marshal merasa tercubit. Kedua tokoh dalam film itu terlihat sangat manis. Setelah meresmikan hubungan mereka untuk berpacaran, sang pria menyanyikan sebuah lagu romantis sambil memberikan sebuah kotak berisi cincin. Pria itu berjongkok, hanya bertumpu dengan sebelah lutut dan satu kaki ditekuk seperti yang Marshal lakukan tadi di depan istrinya.


"Jadilah ibu dari anak-anakku!"


Sang wanita tersipu malu menutup mulut dengan sebelah tangan untuk menutupi senyuman kaget dan bahagianya. Baru beberapa menit mereka jadian, tapi sang pria sudah melamarnya.


Sang wanita menganggukkan kepala malu-malu, menyodorkan tangan kirinya pada sang pria. Dan satu cincin berlian tersemat di jari manis wanitanya. Pria itu kemudian berdiri. Mereka berhadapan dan saling berciuman sebentar, sebelum wanitanya terpekik kaget karena tubuhnya digendong ala bridal style oleh kekasihnya. Wanita itu tertawa bahagia dan dibawa menuju sebuah ruangan dan kemudian mereka ... tidak perlu dijelaskan mereka melakukan apa di ruangan itu karena televisi sudah menampilkan sebuah iklan minuman bersoda.


Marshal melirik Viona yang sedang duduk di sampingnya. Malam sudah menunjukkan pukul sebelas, tapi mereka belum tidur. Sejak tadi, Viona asyik menonton televisi dan Marshal sibuk dengan ponselnya memantau resort-nya lewat saluran dari Rio.


"Jadi?" Marshal memandang Viona dengan alis terangkat.


Viona terlihat mendengus kecil sebelum tubuhnya merosot hingga terlentang. Dia menarik selimut menutupi tubuhnya. "Ya, tidak apa-apa."


Marshal mengernyit melihat respon istrinya. Sesaat kemudian dia tersenyum, menyimpan ponsel di atas nakas dan ikut berbaring bersama Viona. "Maaf, kalo aku kurang romantis." Dia memeluk tubuh Viona dari samping. Istrinya hanya diam saja, pura-pura tertidur. "Sayang, lihat aku!"


Viona membuka mata. Pandangannya langsung terkunci melihat manik mata suaminya yang terlihat hangat dan membuat hati nyaman. Dia diam saja saat Marshal mengecup bibirnya. Tidak ada ******* maupun hisapan, hanya menempel dan Viona mulai memejamkan mata. Hati Viona menghangat merasakannya. Dia baru kembali membuka mata saat Marshal menghentikannya.


"Seharian tadi kamu ke mana saja?" tanya Marshal yang sudah kembali berbenah memeluk istrinya. Dia harus menghentikannya karena tidak mau sampai memaksa istrinya untuk melakukan hal panas lagi. Baru semalam mereka melakukannya, dia takut Viona belum pulih.


Entah mengapa Viona merasa sedikit kecewa. Dia bergerak menyamping, mengangkat sebelah tangan Marshal dan menekuknya. Viona menjadikan tangan suaminya sebagai bantalan dan memeluk tubuh Marshal juga. Jemari lentiknya bermain di dada suaminya. Membuat garis-garis kecil yang abstrak. Mengalirlah semua cerita aktivitasnya seharian itu. Viona menceritakan juga bagaimana dia menahan amarah terhadap Marshal dan merasa tidak nyaman saat berjalan.


Marshal jadi merasa bersalah mendengarnya. Dia meminta maaf pada Viona dengan tulus. Istrinya tidak bilang memaafkan, membuat Marshal jadi tidak enak hati. "Apa kesalahanku bisa ditebus? Apa yang harus aku lakukan untuk mengganti waktu seharian ini?"


Viona mendongak untuk memandang wajah suaminya. "Jangan tinggalkan aku lagi! Aku gak suka kamu pergi setelah puas. Aku istri kamu, bukan hanya pemuas nafsu kamu."


Marshal tercengang. Benar dugaannya, apa yang dia takutkan ternyata tidak meleset, Viona beranggapan seperti itu. "Maafkan aku! Lain kali tidak lagi."


Viona menganggukkan kepala. "Awas kalo gitu lagi, aku gak akan ngasih lagi!"


Senyum licik mulai terbit. Marshal semakin erat memeluk istrinya. "Aku sudah berjanji tidak akan seperti itu lagi. Jadi ... apa sekarang boleh?"

__ADS_1


Mata Viona memicing tidak bisa diartikan sebagai apapun. Marshal tertawa renyah, mencium puncak kepala istrinya penuh sayang. Dia masih terbayang bagaimana cara jalan Viona tadi pagi. Apa istrinya berjalan seperti kepiting menahan rasa tidak nyaman diselangkangannya? Marshal ingin terbahak membayangkannya. Raut kesakitan Viona tadi malam juga sulit dia lupakan. Namun, di samping itu, dia juga masih ingat, bagaimana istrinya mendesah dan menjerit di bawah kekuasaannya.


"Rrmmh ...."


"Kenapa?" Viona mengernyit heran mendengar Marshal menggeram lirih sambil memejamkan mata.


Marshal membuka mata cepat, langsung tertawa melihat istrinya. Dia menggeleng dan membenahkan Viona untuk lebih rapat dengannya. "Tidak apa. Cepat tidur, sudah malam!" Sebelum dia hilang kendali, lebih baik istirahat.


Marshal tidak akan melakukannya malam ini. Dia merasa Viona butuh pemulihan. Dia wanita, tidak seperti dirinya yang kapan saja siap untuk diajak tempur.


***


"Pergi lagi?" Viona memberengut di hadapan suaminya. Dia yang sedang memasangkan dasi, langsung hilang mood-nya saat Marshal mengatakan akan pergi ke Bali pagi ini.


"Sayang, urusan di sana belum selesai. Penyebab kebakaran belum bisa diketahui dan ternyata malam tadi malah kembali terjadi kebakaran di sisi yang lain lagi. Aku tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Aku harus memeriksanya sendiri."


"Bukannya kamu udah nyuruh orang selidiki? Kenapa masih harus pergi ke sana?"


"Seminggu. Kenapa?" jawab Viona dengan ketus.


Marshal tersenyum tipis. "Aku akan menjaga diri, tidak akan mengganggumu. Fokus buat sidang, ya. Ingat, harus semangat!" Marshal mengepalkan tangan, mengangkatnya ke atas untuk menyemangati sang istri. "Semoga hasilnya sangat baik, ya," lanjut Marshal penuh dukungan penyemangat.


Viona hanya bergumam, kembali memasangkan dasi dengan rapi. "Kapan pulang?" Dia mengusap bahu suaminya, setelah pakaian Marshal terlihat rapi, siap untuk berangkat. Sebenarnya pakaian Marshal terlihat formal, karena Viona yang menyiapkannya. Dia tidak tahu jika Marshal akan pergi ke Bali pagi ini, makanya dia berpikir Marshal hanya pergi ke kantor. "Kamu tidak capek bolak-balik terus? Baru semalam pulang, sekarang udah mau pergi ke sana lagi."


"Ya, habis mau bagaimana lagi. Urusan di sana penting dan urusan di sini juga lebih penting. Apalagi urusan kamu, itu sangat-sangat penting. Number one." Marshal mencolek hidung istrinya sambil terkekeh.


Viona mendengus, melempar tatapan sebalnya. "Aku ke kampus nanti siang."


"Diantar Egi!" Marshal berbalik badan, berjalan santai menuju tempat berjejernya sederetan jam tangan mahal miliknya. "Aku tidak mengizinkan, jika hanya pergi sama temanmu. Jika sama Egi, kamu boleh pergi."


Viona mengepalkan tangan kesal. Baru dia akan menyahuti untuk pergi bersama Aness dan Frans. Tapi, Marshal sudah menyambar perintah lebih dulu.


"Menurut atau tidak boleh pergi sama sekali?"

__ADS_1


Viona berdecak kesal melihat suaminya yang sedang menunduk memilih jam tangan. Marshal mengambil satu jam, menyimpannya lagi dan mengambil lagi. Memilih yang cocok dia kenakan sekarang. Setelah menemukan yang dirasa pas, dia berbalik sudah tidak melihat istrinya berada di sana.


Marshal menggelengkan kepala. Viona pasti tidak suka dia atur seperti itu. "Atau mau aku yang antar?" bisik Marshal, memeluk tubuh Viona dari belakang. Istrinya terlihat sangat kesal berdiri di depan kaca besar jendela kamar.


"Chal?"


"Apa, Sayang?"


"Apa aku boleh minta sesuatu?"


"Hm? Minta apa?"


"Aku minta mobil."


Alis Marshal terangkat. Dia melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Viona. "Untuk apa?"


"Untuk aku bepergian. Aku gak mau disopiri. Boleh, kan? Aku lebih suka berangkat sendiri."


Marshal langsung menggeleng cepat. "Tidak boleh. Aku takut kamu kenapa-napa."


"Memangnya kalo aku disopiri orang lain, aku akan terjamin baik-baik saja?"


"Tidak, sih. Tapi, setidaknya kamu tidak kelelahan untuk menyetir, yang pertama. Yang kedua, kalo ada apa-apa, pasti ada yang bantuin kamu. Atau ada yang bisa kamu andalkan. Percayalah, Sayang, aku gak mau sesuatu terjadi sama kamu. Jadi, nurut aja, ya, pergi sama Egi!" ucapan Marshal memang lembut dan penuh perhatian. Tapi, Viona yang cenderung tidak suka dikekang, tetap saja tidak terima.


"Kapan aku bebas? Aku sudah besar, Chal. Aku bisa melakukannya sendiri. Tapi, kamu gini terus. Aku mau bebas."


"Tidak akan pernah. Kamu sudah menikah. Kamu istriku sekarang. Aku bertanggungjawab untuk semua yang terjadi sama kamu. Termasuk keselamatan kamu. Aku hanya mau membahagiakan kamu, Sayang. Buat apa aku punya harta, punya banyak pekerja kalo kamu gak mau aku manjain?"


Marshal mengusap-usap kepala istrinya penuh sayang. Dia menggamit kedua tangan Viona dan mengecupnya lembut. "Setiap waktu tidak ada kata tenang, bagiku. Setiap saat pikiranku terus terkunci untuk memastikan kamu baik-baik saja. Aku hanya ingin kamu nyaman, kamu bahagia menjadi istriku. Aku berjuang dari dulu mengumpulkan semua aset, membangun banyak proyek, hanya untuk menabung. Aku melakukannya untuk masa depan. Aku gak mau istri dan anak-anakku kekurangan. Aku mau memanjakan kalian. Aku mau hari tuaku bersama istriku terlewati dengan manis penuh sukacita melihat anak kita bahagia."


Rasanya mata Viona memanas. Pandangannya juga memburam mendengar penuturan Marshal yang penuh kelembutan. Hatinya bergetar kecil merasakan hangat yang perlahan merambat menjadikan sebuah rasa menguat. Dengan cepat Viona bergerak. Dia memeluk tubuh suaminya erat menyalurkan rasa haru yang sangat dalam. Perasaannya tidak bisa terbayangkan atau diungkapkan dengan kata. Sekarang, Viona malah bersyukur bisa menjadi istri Marshal. Dia tidak menyangka jika suaminya ternyata punya hati yang tulus. Bahkan mau menyiapkan segalanya sejak muda hanya untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia di dalam hidupnya kelak.


Terima kasih, Tuhan, untuk pernikahan ini.

__ADS_1


__ADS_2