Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Miskin


__ADS_3

"Huhh, udara bebas, i'm coming ...!" Viona berseru dengan girang. Pakaiannya sudah rapi, tinggal memakai parfum dan membawa slingbag.


Dia sangat bahagia karena dengan alasan pergi ke salon, ia bisa menghirup udara segar dan merasakan kehidupan yang sebenarnya, walaupun sejenak.


Selama menikah, Viona tidak pernah keluar dari gerbang rumah Marshal. Viona bukan tipe gadis pendiam. Dia tidak suka hanya diam saja di rumah seperti aktivitasnya akhir-akhir ini. Makanya dia tidak keberatan melakukan pekerjaan rumahan guna mengalihkan rasa bosan, tetapi perasaan bosan itu selalu hinggap dalam dirinya. Apalagi jika pekerjaannya sudah selesai, Viona hanya bisa diam di dalam kamar tanpa melakukan apapun. Ingin banyak berinteraksi dengan orang lain pun susah karena di rumah itu dia belum terlalu kenal dengan para pegawainya.


Sering Viona juga mengajak berinteraksi para pekerja di rumah itu dan mengakrabkan diri. Tapi, para pekerja Marshal tersebut menurut Viona kurang asyik diajak ngobrol. Mereka tampak malu-malu dan segan pada Viona yang berkedudukan sebagai istri Marshal. Padahal Viona sendiri pun tidak pernah ingin diperlakukan berlebihan seperti itu. Mereka sama-sama manusia hidup yang butuh interaksi satu sama lain. Jadi, tidak ada salahnya jika Viona mencoba mengakrabkan diri dengan mereka, bukan? Tapi, para pekerja itu seolah membatasi diri mereka supaya bersikap hormat pada Viona, membuatnya merasa tidak nyaman jika sedang berbincang.


Hanya dengan Rio, Viona merasa  tidak ada kecanggungan saat bicara. Mungkin karena mereka sama-sama orang pecicilan, makanya tidak pernah punya rasa malu saat mengobrol. Tapi, Rio juga sering tidak ada di rumah karena punya kesibukan yang sama dengan Marshal. Sudahlah, anggap saja Viona memang kesepian berada di rumah yang besar itu.


Semprotkan parfum dengan wangi favoritnya ke leher dan pergelangan tangan, tepat di titik nadi. Katanya, jika menyemprotkan parfum pada bagian tersebut, maka aroma dari parfumnya akan tercium tahan lama. Dan itulah yang selalu Viona lakukan.


Setelah menyimpan botol parfumnya, Viona melihat cermin sejenak. Perpect. Semuanya sudah beres, tinggal berangkat. Dia mengambil slingbag yang sudah dia siapkan di atas ranjang.


"Eh, tapi ...," Viona membuka slingbag-nya dengan tergesa. Dia jadi panik sendiri saat menyadari jika dia tidak memegang uang maupun kartu kredit. Dan benar saja, saat dia mengeluarkan semua isi dari tasnya, tidak ada sepeser pun uang di dalam sana. Di dompet juga tidak ada kartu yang nyelip satu pun.


Lemas seketika. Bagaimana dia bisa pergi jika uang saja dia tidak punya? Semua kartu yang dia punya dari Heru, tidak Viona bawa saat memutuskan untuk pindah ke rumah Marshal, karena Viona rasa dia sudah tidak pantas menerima dan memakai uang papanya.


Dia tidak berpikir panjang saat meninggalkan semua kartu itu di laci nakas kamarnya yang ada di rumah Heru. Dan Viona baru menyadarinya sekarang di saat dia membutuhkan.


Lalu bagaimana sekarang ia pergi ke salon, jika uang saja tidak punya?


"Huh, kenapa aku jadi miskin begini?" runtuknya dengan lemah. Duduk di tepian ranjang dengan dompet kosong di tangan.


Marshal tidak pernah memberikannya uang ataupun kartu kredit. Viona juga boro-boro meminta, mengingatnya saja tidak pernah karena dia tidak pernah memerlukan uang selama di rumah itu. Semuanya ada di rumah dan Viona tidak banyak keinginan.


Sekarang dia harus bagaimana? Masa dia harus membatalkan niatnya untuk pergi ke salon? Tapi, jika pergi pun juga tidak ada uang. Bagaimana dia nanti pergi ke sana? Untuk ongkos saja tidak ada.


Membuang napasnya kasar. Dia menyimpan dompetnya di atas nakas. Sudah, dia tidak akan jadi pergi saja. Susah payah dia membujuk Marshal pun sekarang menjadi sia-sia karena dia tidak akan pergi ke mana-mana jika tidak punya uang.

__ADS_1


"Apa aku minta sama Tuan?-ah, tidak. Aku tidak boleh meminta padanya."


Viona terdiam lagi. Sudah repot bersiap-siap, tetapi tidak jadi pergi. Jika dia minta uang pada Marshal, rasanya tidak usah. Banyak alasan yang membuat Viona tidak mau meminta pada Marshal. Ya, meskipun Marshal itu suaminya dan berkewajiban memberikan dia nafkah, tapi Viona rasa itu tidak perlu. Sudah cukup Marshal membantu keluarganya, jangan lagi Viona menerima materi dari Marshal.


Tidak, tidak boleh. Dia mungkin tidak akan pernah meminta pada Marshal. Jika Marshal memberikannya, dia tidak akan menerima pemberian Marshal. Viona tidak mau menerima budi Marshal lagi.


Tapi, bagaimana jika suatu saat dia memerlukan uang seperti saat ini? Tidak mungkin dia selamanya tidak memegang uang, kan?


"Argh, dari mana aku bisa dapat uang untuk keperluanku sendiri?" Dia menutup wajah dengan telapak tangan. Kenapa hidupnya jadi menyedihkan seperti ini? Bukan hanya menjalani pernikahan yang terpaksa, tapi juga dia jadi sengsara, bahkan uang pun tak punya.


Di tengah kebingungannya, Viona menoleh ke arah samping. Tepat pada barang-barang kecil yang dia keluarkan dari dalam slingbag tadi. Di sana ada ponselnya yang berdering. Tangan Viona terulur untuk mengambilnya. Tertera nama Frans di layar. Dengan segera Viona menggeser panel hijau.


"Di mana? Gue sama Aness udah nungguin di tempat biasa," ucap Frans dengan sedikit kesal. Mungkin karena terlalu lama menunggu.


Viona membuang napasnya dengan berat. Dua sahabatnya itu pasti sudah menunggu karena tadi mereka sempat janjian. Dan Frans dengan senang hati bersedia menemani ke salon. Sudah pasti, sekarang mereka sudah berada di salon milik ibunya Aness. "Frans, maaf, aku gak jadi ke sana, deh, kayaknya."


"Kenapa? Lo udah janji, ya, tadi. Kita udah nungguin lo, nih. Kapan lo nyampenya? Gue udah bosen nungguin di sini."


"Gak bisa gitu, dong, Vi. Kita udah nungguin lo dari tadi. Lagian kenapa lo batalin gitu aja? Tadi udah janji mau dateng, kan?"


Dia sampai harus menggigit bibir bawah mendengar omelan Frans. Mana mungkin Viona mengatakan yang sebenarnya pada Frans. "Pokonya aku gak jadi ke sana. Maaf. Lain waktu aja, ya."


"Kenapa? Suami lo 'kan udah ngizinin. Kenapa gak jadi ke sini?"


"Aduh, Frans. Pokoknya aku gak ja-"


"Harus jadi! Gue gak mau tau. Lo udah janji sama kita, ya." Itu suara Aness yang menyahut. Sepertinya panggilan di loadspeaker. Mereka pasti sudah lama menunggu sampai Aness dan Frans ngomel seperti itu. "Gue tungguin setengah jam lagi, lo harus udah sampe sini!" ucap Aness lagi.


Viona mengusap wajahnya dengan gusar. Bagaimana dia bisa ke sana saat ini? Uang untuk ongkos pergi saja tidak punya. Mau naik apa dia ke sana? Sudahlah, daripada diomeli terus sama kedua sahabatnya, mending Viona jujur saja. Toh, mereka juga bakalan mengerti.

__ADS_1


"Ness, Frans, aku gak bisa ke sana. Gak punya uang sama sekali. Boro-boro buat rapihin rambut, buat ongkos aja gak ada."


"APA?" Suara Aness dan Frans serempak.


"Seriously, lo gak punya duit?" tanya Frans dengan kaget. "Suami lo masih idup, kan?"


Viona yang tadinya sedih, kini jadi kesal mendengar pertanyaan Frans yang nyeleneh. "Ya, masihlah. Kamu pikir suami aku udah mati apa?"


Kini terdengar mereka tertawa membuat Viona kesal. "Kenapa malah ketawa? Gak ada yang lucu, ya. Aku lagi sengsara gak punya uang malah diketawain," omel Viona.


"Abis lucu. Lo punya suami tajir melintir, tapi lo sendiri gak punya uang," sahut Aness disertai tawanya yang terasa sangat mengesalkan bagi Viona.


Setelah lama saling meledek nasib malang Viona, mereka memutuskan untuk menjemput Viona. Kasian juga Viona ingin pergi keluar mencari udara segar, tapi modal saja tidak ada. Karena dua sahabatanya itu orang baik, mereka tidak tega mendengar runtukan sedih Viona. Jadi, mereka berniat akan mentraktir Viona untuk hari ini. Ya, hari ini saja. Tidak dengan hari selanjutnya. Viona punya suami kaya raya, masa ditraktir terus sama temannnya?


Viona keluar rumah dengan tergesa untuk menemui kedua sahabatnya yang sudah berada di gerbang, katanya.


Begitu sampai dan masuk mobil Frans, Viona tidak hentinya diledek oleh mereka karena nasib mengenaskannya. Iya, Viona juga tahu jika hidupnya itu menyedihkan, tapi dia tidak suka jika harus diledek seperti itu.


Dan, Viona semakin kesal saat baru menyadari jika kebaikan temannya hari ini bukan atas dasar kasihan saja, tapi juga karena mereka ingin mengejek Viona habis-habisan.


"Nyonya mau saya antar ke mana? Berhubung Nyonya tidak punya uang, maka dari itu, saya bersedia menjadi sopir gratis Anda untuk hari ini," ucap Frans di sertai kikikan kecil.


Viona hanya mendengus. Sungguh, dia menyesal telah ikut bersama mereka.


"Berhubung lo gak punya uang, gue bakalan bujukin Bunda supaya lo bisa nyalon gratis, gimana?"


Argh! Viona ingin tenggelam saja saat mendengar tawaran Aness. Apa hidup dia semenyedihkan itu? Kenapa temannya ini malah semakin merendahkannya. "Udah, sih, kalian jangan ledekin aku terus!" ujar Viona dengan frustasi.


Baru kali ini tercatat dalam sejarah, seorang Viona tidak memegang uang sepeser pun. Biasanya dia yang selalu mentraktir mereka. Tapi, berhubung hari ini Viona miskin, jadi, mereka yang akan mentraktirnya. Baru kali ini dia merasa stuck tidak bisa ngapa-ngapain saat dia punya keinginan, tapi uangnya tidak ada. Sungguh sangat menyedihkan!

__ADS_1


Mendengar protesan Viona, kedua sahabatnya itu malah tertawa dengan keras dan terus saja mengomentari hidup Viona yang semakin menyedihkan. Mereka juga selalu membicarakan tentang Marshal yang tidak memberikan Viona uang. Jika sudah di tanya seperti itu, Viona hanya menjawab dengan seadanya, "Aku gak mau memakai uang dia." Dan membiarkan sahabatnya mengoceh lagi sesuka hati mereka.


Tuhan, kenapa hidupku jadi seperti ini? runtuknya dalam hati.


__ADS_2