Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Koleksi?


__ADS_3

"Chal?"


"Em ... itu ...," Apa yang harus Marshal katakan? Viona sudah menemukan foto tersebut, pasti tidak akan diam sebelum dia menjelaskannya. "koleksiku, Sayang."


"Koleksi?"


Marshal menggangguk pelan. Melihat Viona dengan gugup dan mendekatinya. "Aku hanya menyimpannya satu, itu saja ...."


"Untuk apa kamu menyimpannya?" Tatapan Viona penuh penasaran, membuat Marshal semakin gugup. Dia pasti terus dituntut penjelasan oleh istrinya. "Sejak kapan?"


Marshal memasang senyuman semanis mungkin, menuntun istrinya untuk duduk di ranjang. Viona memang menurut, namun tetap mendesaknya untuk segera menjelaskan. "Kamu tahu, cinta pertama sulit dilupakan?"


Alis Viona terangkat, bingung dengan ucapan suaminya. Apa hubungannya dengan cinta pertama, yang Viona tanyakan masalah foto, tapi Marshal malah mengalihkan topik.


"Sayang," Marshal menggamit kedua tangan Viona yang masih memegang dompet di tangan kanan dan foto di tangan kiri. Dia menyatukan tangan istrinya untuk dia genggam erat. "mungkin kamu tidak akan percaya dengan ucapanku. Tapi, itu yang aku rasakan. Aku mencintai gadis kecil ini sejak aku masih sekolah."


"Ini maksud kamu ...?" Marshal mengangguk saat Viona menunjukkan foto tersebut. Mata istrinya membulat tidak percaya. "Kamu tahu aku sudah lama?" Marshal mengangguk lagi, tersenyum dan mengusap kepala istrinya lembut. "Kamu siapa?"


"Aku suami kamu, Sayang."


"Bukan, bukan itu maksud aku. Jadi, kita pernah bertemu sebelum persetujuan itu ...?"


"Iya," Marshal membenahkan duduk di samping istrinya, merangkul bahu Viona supaya menempel di tubuhnya. "kita sering bertemu dulu. Apa kamu lupa?"


Viona memutar mata ke atas, berpikir untuk mengingat masa lalu. Jika benar dia sering bertemu dengan Marshal, tapi kenapa dia tidak ingat apapun?


"Kamu memang benar-benar lupa, Sayang." Marshal menggeleng kecewa. "Aku akan menjelaskan semuanya, jika kamu sudah ingat."


"Tidak bisa seperti itu ... jelaskan sekarang, supaya aku ingat," bantah Viona yang memang semakin penasaran. "kamu siapa? Dan kita dulu bertemu di mana?" Dipukulnya pelan dada Marshal, Viona kesal melihat suaminya bungkam.


"Coba diingat-ingat kembali! Nanti aku jelaskan jika kamu sudah ingat, ya."


Viona mencebikkan bibirnya kecewa tidak mendapat penjelasan. Padahal dia sudah sangat penasaran. Apa benar mereka pernah bertemu? Dalam memori Viona, sosok Marshal memang tidak pernah ada mengisi hidupnya. Apa Viona memang lupa, karena masih kecil?


"Dulu aku usia berapa saat bertemu kamu?"


"Em ...," Marshal nampak berpikir melihat ke arah lain. "mungkin sebelas, atau dua belas."


Sudah sebesar itu, seharusnya Viona ingat. Diumurnya yang disebutkan oleh Marshal, Viona sudah bisa berpikir dengan baik dan bisa mengingat semua yang telah dilaluinya. Tapi, kenapa tentang Marshal dia tidak tahu apa-apa?


"Kita bertemu di mana?"


Marshal menghela napas dalam, membuangnya dengan kasar. "Kamu banyak bertanya. Ingat-ingat kembali, baru aku akan memberitahu semuanya."

__ADS_1


Viona justru memukul kembali dada suaminya. "Ih, jika aku sudah ingat, untuk apa aku bertanya lagi? Makanya, jelaskan saja sekarang supaya aku ingat!"


Marshal tetap tidak mau, memasang wajah angkuh sampai istrinya mencebik kembali. Memang kecewa dia rasakan, Viona sama sekali tidak mengingatnya. Padahal dia sangat sulit melupakan istrinya yang masih kecil tersebut.


Viona terus memutar otak untuk mengingingatnya. Dia memperhatikan wajah suaminya dengan lekat, membelainya perlahan.


"Aku memang tampan, Sayang. Aku milikmu, tidak usah berlebihan seperti itu."


Viona memandangnya kesal. Marshal terlalu percaya diri. Ya, meskipun dia memang tampan, tapi Viona kesal mendengar suaminya terlalu narsis.


Terdengar suara ketukan di pintu kamar, Viona melepaskan diri dari rengkuhan suaminya dan berdiri.


Dibukanya pintu perlahan. "Ada apa?" Ternyata ada Rio di depan pintu kamarnya.


"Ada tamu, Nyonya."


"Siapa, Yo?" Marshal ikut berdiri dan menghampiri mereka. Di hari libur seperti ini, siapa yang bertamu? Seingatnya, dia tidak ada janji tamu untuk hari ini.


"Kakak Nyonya menunggu di bawah, Tuan."


"Kak Vino?" Setelah mendapat anggukan dari Rio, Viona cepat keluar dengan antusias. Menuruni tangga dengan terburu-buru. Dia sangat senang mendengar kakaknya datang.


Dan benar saja, di ruang tamu Vino sudah duduk sendirian. Erni baru keluar dari sana untuk menyimpan minum dan suguhan.


Vino terkejut melihat keantusiasan adiknya yang memberikan pelukan hangat.


"Aku rindu!"


Vino membalas pelukan adiknya, mengusap kepala Viona lembut. "Kakak susah napas, Dek," pekiknya berusaha melepaskan pelukan Viona yang semakin lama malah semakin erat.


"Lama sekali kita tidak bertemu, Kak."


"Iya ... iya, Dek. Lepasin dulu!"


Wajah bahagia masih terpancar di wajah Viona yang baru saja melepaskan pelukannya. Vino segera menghirup udara sebanyak-banyaknya menghilangkan sesak.


"Kakak ke siniļ¼"


"Suami kamu mana?"


Viona mencibir dengan kesal. Dia yang merindukkan Vino, tapi kenapa malah Marshal yang ditanyakan kakaknya? "Ke sini sebenarnya mau apa?"


Vino mengernyit mendengar nada suara Viona yang ketus. Melihat Viona yang memandangnya kesal, Vino baru sadar. "Maaf, Dek. Tapi, kakak ke sini untuk menemui suami kamu."

__ADS_1


Kesal Viona semakin menjadi. "Bukan aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri. Langsung memukul bahu Vino keras karena kakaknya malah menggeleng.


Viona segera berdiri saat melihat Marshal yang menghampiri mereka. Dia tidak peduli jika Vino memanggilnya kembali. Viona sudah kesal. Apa Vino tidak merindukkannya? Padahal mereka sudah lama tidak bertemu, tapi sikap Vino sangat mengecewakan.


Langkah Viona terhenti karena Marshal menahan tangannya saat berpapasan. Marshal heran melihat istrinya yang acuh pada Vino yang bahkan terus saja memanggilnya. Viona tidak peduli dan malah memalingkan wajah.


"Kenapa?" Marshal melihat aura tidak enak dari istrinya.


Viona tidak menjawab dan malah melepaskan tangan Marshal. "Tamu Tuan Marshal, tuh."


"Kamu kenapa?" Marshal kembali menahan Viona yang akan pergi. Istrinya semakin tidak enak dipandang. Marshal tidak mengerti, ada apa dengan Viona. Padahal tadi dia terlihat sangat antusias mengetahui kakaknya datang. Tapi, kenapa saat ini terlihat tidak senang?


"Jangan seperti ini ...!" Marshal merangkul bahu istrinya. "Sambutanmu sangat buruk terhadap orang, Sayang. Dia kakakmu," bisik Marshal serta mengajak Viona untuk kembali mendekat pada Vino.


Viona malah tidak mau dan melepaskan rangkulan Marshal di bahunya. "Aku mau ke kamar lagi. Dia ingin bertemu kamu, katanya. Gak ada urusan sama aku," ucap Viona dengan nada keras penuh penekanan. Dia sengaja melakukannya supaya Vino bisa mendengarnya.


Marshal hanya menggelengkan kepala, melihat sikap istrinya yang kekanak-kanakan. Dia baru pertama kali melihatnya. Dengan sedikit peksaan lewat tatapan tajamnya, Viona mau tidak mau kembali menghampiri Vino. Dia duduk di sofa dengan kesal dan merapat pada suaminya yang duduk bersebrangan dengan Vino.


Dua laki-laki itu saling menyapa. Viona melihat mereka heran, karena terlalu akrab menurutnya. Yang Viona tahu, Marshal sangat disegani banyak orang termasuk keluarganya. Tapi, sikapnya terhadap Vino terlihat berbeda. Bahasa yang mereka gunakan pun tidak formal dan lebih ke bahasa yang tidak sopan.


"Bagaimana kabar kamu, Dek?"


Viona hanya diam, mengalihkan pandangan ke sudut ruangan. Pura-pura tidak mendengar pertanyaan kakaknya. Namun, menghindarnya tidak bertahan lama karena Marshal menyikut lengannya membuat Viona menoleh.


"Kamu tidak boleh seperti itu, Zahra!" tegur suaminya dengan pelan. Viona tetap tidak peduli. Pandangannya teralih pada Vino yang bersorak girang sambil bertepuk tangan.


"Jadi Viona udah tahu semuanya ...?" Vino tersenyum lebar.


Marshal justru mengembuskan napasnya kasar. "Belum," Dipandanginya Viona yang terlihat bingung, Marshal memasang wajah kecewa. "dia tidak ingat apapun."


"Benaran? Tapi, udah panggil Zahra. Berarti udah ingat semuanya, kan?"


Baru Viona memandangi mereka dengan serius. "Memangnya kenapa dengan panggilan Zahra?" Viona jadi penasaran. Obrolan mereka pasti ada sangkut pautnya dengan penjelasan Marshal mengenai foto tadi. Jika Viona tidak dapat menuntut penjelasan dari suaminya, dia pasti bisa menanyakannya pada Vino.


"Wah, wah, wah ...Adek benaran lupa," ejek Vino melempar cengiran pada Marshal.


"Emang kenapa, Kak?" Rasa penasaran Viona sudah sampai ubun-ubun. Dia melirik suaminya yang hanya terdiam, masih saja membungkam. Memang lebih baik dia mengorek informasi dari Vino. "Kakak tahu semuanya, kan? Kalian udah kenal sejak kapan?"


"Kita teman," sahut Marshal tenang, bersandar dan merangkulkan satu tangannya di sandaran kursi.


Viona menganga tidak percaya. Dilihatnya Marshal dan Vino bergantian. Dia tidak tahu akan hal itu. "Sejak kapan?"


"Jangan banyak bertanya! Aku sudah bilang, ingat dulu semuanya, baru aku akan jelaskan."

__ADS_1


Viona memandangi suaminya dengan kesal. Dia tidak bisa mendapat penjelasan dari mereka karena Vino juga malah mengedikkan bahunya.


__ADS_2