
WARNING!
... Terdapat banyak kata-kata kasar di bab ini. Harap maklum dan bisa bijak dalam membaca. Diharapkan juga jangan terbawa suasana. ...
Sekian. Terima kasih kepada para pembaca setia yang sangat dikasihi. Zhao harap kalian sehat dan bahagia selaluš
___________________________
Suasana di dalam kamar itu terasa sangat panas. Hawa menyeruak penuh amarah Marshal tunjukkan pada istrinya yang kini sedang duduk di tepi ranjang sambil menunduk.
"Aku tidak tahu apa maumu, Sayang." Kepala Marshal menggeleng-geleng pelan. Marah yang sudah sampai ubun-ubun tidak bisa dia keluarkan pada istrinya. Jelas dia sakit hati, dia kecewa dan sangat merasa terluka atas apa yang barusan terjadi di taman belakang rumah mertuanya.
Bahkan Lina hampir saja pingsan mendengar pengakuan dari anaknya. Entah apa yang Viona lakukan pada ibunya. Setelah Lina terjatuh ke tanah saat mendengar ucapan Viona, anak gadisnya itu langsung menolongnya dan membantu Lina untuk bangun. Viona membawa Lina ke kamarnya seraya terus mengucapkan kata maaf, sedangkan Marshal memilih mengurus Rio yang malah semakin menantang emosinya.
Adu mulut tak terelakan antara Marshal dan Rio. Keduanya baru berhenti berkelahi saat Viona baru kembali dari kamar ibunya dan segera menarik tangan Marshal untuk bicara berdua di kamarnya.
"Kenapa kamu melakukannya?" Di kamar itu hanya ada mereka berdua. Marshal tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. "Apa kamu tahu, Ra, aku sangat terkejut mendengarnya? Kenapa?! Kenapa harus Rio, Sayang?!"
"Chal ...." Viona menengadah, memandang suaminya yang sudah memerah menahan amarah. "Aku ...."
Marshal tersenyum kecut melihat istrinya yang terlihat merasa bersalah. Hatinya sudah terluka. Dia hancur dan sangat kacau saat ini sampai dia tidak tahu harus dengan cara apa dia meluapkan emosinya.
Dengan penuh kecewa Marshal beranjak. Daripada dia membunuh istrinya di sana, lebih baik dia pergi. Mungkin bunuh diri di luar untuk menyudahi semua perasaan yang sangat berkecamuk dia rasakan. Namun, langkahnya untuk beranjak terhenti melihat nakas di samping ranjang. Matanya menyipit tajam. Tidak bersuara, dia melangkah menuju arah pandangannya. Marshal mengambil benda yang dia sangat tahu apa fungsinya.
"Ini ... kamu meminumnya?" suara Marshal langsung menggema di ruangan tersebut. Dia mengangkat tangan tinggi ke hadapan istrinya seraya menunjukkan benda yang baru saja dia ambil. Pil KB. Benda itu terlihat sudah terbuka tiga butir. Berarti sudah diminum membuat Marshal heran melihatnya.
Viona berbalik padanya dengan kaget dan matanya langsung membulat melihat benda yang dipegang oleh suaminya. "Aku ... aku meminumnya."
Jelas Marshal terkejut. Sejak kapan Viona meminumnya? Dan untuk apa, jika mereka tidak .... "Kenapa?"
Viona menatap Marshal dengan takut. Dia memberanikan diri untuk bicara, meskipun dia tahu, apa yang dia katakan malah akan semakin menyulut emosi Marshal. "Hanya berjaga-jaga," ucapnya dengan lirih.
__ADS_1
Alis Marshal terangkat dengan bingung. Viona tidak jelas mengutarakannya. "Berjaga-jaga apa? Kita tidak melakukan ...."
"Rioļ¼"
Marshal langsung naik pitam. Darahnya kembali mendidih di saat otaknya mencerna hal lain. "APA MAKSUDMU?!" Dia meremas lembar pil yang dia pegang. Tatapannya tajam melihat ke arah Viona yang perlahan bangun dan mendekat padanya.
"Maaf ...."
Tanpa sadar Marshal melemparkan lembar pil tersebut tepat pada wajah istrinya. Dadanya naik turun memikirkan betapa brengseknya mereka berdua. "Kamu sungguh main api sama Rio?!" Ironisnya, Viona malah mengangguk membuat Marshal tidak tahu harus membunuh siapa duluan.
"Sejak kapan?! Zahra! Istri sialan!" Marshal mencengkram tangan Viona dengan kuat. Tidak peduli istrinya meringis menahan sakit. "Kau menusuk suamimu dari belakang?!"
"Chal, sakit ...." Viona meringis mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Marshal. "Ha-hanya sekali. Sungguh! Hanya sekali!"
Entah apa maksud dari "Hanya sekali" yang Viona katakan. Marshal malah semakin menggeram tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Chal ...." Air mata Viona bahkan luruh. "Aku minta maaf! Aku khilaf."
"Argh!" Marshal melepaskan cengkramannya di tangan Viona dengan kasar. Dia juga mendorong tubuh Viona sampai terjengkang ke belakang. Untung saja tepat ke atas ranjang.
"Maaf. Aku khilaf, Chal. Hanya sekali." Viona mencoba bangun, menggapai tangan suaminya yang malah ditepis kasar oleh Marshal. "Maaf! Rio yang maksa, bukan aku yang mau. Chal, maaf!"
"Kamu sungguh melakukannya?" suara Marshal mulai merendah. Perasaan yang berkecamuk membuatnya tidak tahu harus berbuat apa saat ini. "Kamuļ¼argh!" Marshal menjambak rambutnya frustrasi. Matanya semakin memburam dengan kepala yang terasa semakin berat dan sakit. "Sejak kapan, ha? Apa Rio yang memaksamu melakukannya? Hanya dia yang berkhianat, kan? Cuma dia yang brengsek?"
Viona malah menggelengkan kepalanya. Dia bungkam. "Rio emang maksa, tapi aku juga ... aku menginginkannya. Kami saling mencintai, Chal. Aku memberikannya pada Rio, karena aku juga sayang sama dia."
Marshal diam dengan rahang yang mengeras. Kenapa harus Rio? Kenapa dia tidak tahu hubungan istrinya dengan laki-laki yang selalu dia percaya untuk menjaga gadisnya? Marshal menyesal telah percaya pada Rio. Laki-laki yang dia anggap baik dan bisa dia andalkan, ternyata memang busuk di belakang. Rio sialan! Marshal ingin membunuhnya sekarang juga!
Perlahan Viona bergerak untuk berdiri di hadapan suaminya. Dia menggigit bibir dengan ragu. "Chal ...." Viona tahu, suaminya ini pasti sudah di ujung tingkat emosi. Sudah meradang dan akan tambah meradang jika dia bicara sekarang. "Kamu sudah tahu hubunganku sama Rio. Selama ini aku gak bahagia nikah sama kamu. Aku ⦠aku mau kita berpisah. Aku cinta Rio. Jadiļ¼"
"Bastard!" Marshal membentak istrinya. Apa yang Viona pikirkan sampai dia berkata seperti itu? "Kau mau mati?! Berani sekali bicara seperti itu padaku!" Marshal mencengkram rahang istrinya dengan erat. "Sudah bosan hidup, ha? Kau istriku, Zahra, kenapa lebih memilih dia? Apa kelebihannya sampai kau berkata kotor pada suamimu sendiri?!"
__ADS_1
Viona meringis menahan sakit di rahangnya. "A-aku mencintainya."
"Bullshit!" Marshal menghempaskan wajah istrinya kasar. Cukup sudah! Dia harus segera pergi dari sana sebelum tangannya melukai Viona lebih jauh.
Brak!
Pintu kamar tertutup dengan keras membuat Viona terperanjat kaget.
Viona mengusap rahangnya yang terasa sedikit perih. Dia menghela napas dalam sebelum menyusul langkah suaminya.
"MARSHAL!" Viona berteriak keras, matanya membulat tajam melihat suaminya yang sudah menodongkan pisau ke leher Rio di ruang tengah.
Secepat mungkin Viona berlari dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. "Jangan! Please, jangan lakukan itu!"
Marshal tidak peduli. Dia mencoba melepaskan pelukan istrinya dan kembali mendekat pada Rio. Laki-laki itu refleks beringsut mundur. Dia tidak mau pisau yang tajam itu mengenai lehernya dan merenggut nyawanya begitu saja.
"Aku tidak tahu apa saja yang sudah kau lakukan di belakangku. Aku hanya ingin membunuhmu, Yo! Kau harus mati!"
"Chal, jangan!" Viona kembali memeluk suaminya dengan erat. Dia sudah mengeluarkan air mata memohon pada suaminya untuk tidak membunuh Rio. "Hentikan, Sayang! Simpan pisaunya!"
"Diam istri sialan! Jangan menghalangiku!"
Viona melepaskan pelukannya. Dia bergerak cepat ke hadapan suaminya. "Sayang, jangan!" Tatapan Viona penuh mohon. Dia meraih tangan Marshal yang memegang pisau mencoba untuk menghentikan niat suaminya. Viona menggelengkan kepala disertai air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Marshal malah menggeram marah. Dia mendorong tubuh Viona supaya menjauh darinya. "Dia harus mati!" Marshal sudah hilang akal. Dia berlari mengejar Rio yang sudah lebih dulu berjalan cepat menuju dapur. Marshal tidak peduli sekarang dia berada di rumah siapa. Sasarannya hanya leher Rio. Dia ingin membunuhnya sekarang juga. Dikhianati oleh orang sangat dia percayai sangatlah menusuk. Marshal sangat kecewa.
"Tuan, saya mohon jangan bunuh saya!" Rio beringsut mundur saat Marshal berhasil menahan pergerakannya di ujung dapur. "Saya minta maaf!"
"Minta maaf?! Kau bilang minta maaf?! Cih!" Marshal tersenyum kecut. Dia kembali mengangkat pisau di tangannya. "Aku ingin kau mati!"
"Tuan, jangan!" Rio sudah ketakutan. Nyalinya menciut tidak seperti tadi saat dia menantang majikannya. Nyawanya terancam di tangan Marshal. Apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1
"NYONYA, TOLONG ...!" Napas Rio sudah tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dia ketakutan setengah mati melihat amarah Marshal.
"NYONYA ...!" Satu-satunya orang yang bisa membantunya hanya Viona. Tapi, wanita itu tidak kunjung menolongnya dan sekarang entah berada di mana.