
Suara pintu terbuka menghentikan tangisannya. Dia mendongak ke arah pintu. Laki-laki yang sudah terlihat lebih segar, masuk ke dalam kamarnya dan kembaki menutup pintu.
Melihat wajah Viona penuh air mata, Marshal langsung mendekatinya dengan panik. "Kamu kenapa nangis?" tanyanya penuh nada khawatir.
Viona menggeleng, menenggelamkan kembali wajahnya di atas bantal. Ternyata dia menangis sudah cukup lama. Marshal saja sudah selesai mandi dan siap untuk makan malam, tetapi dia masih belum selesai dengan rasa sakitnya.
"Kamu kenapa?" Disibakkannya rambut yang menutupi wajah istrinya, Viona langsung bangun dan mengusap air mata. "Kenapa nangis?"
Marshal semakin panik saat Viona sudah duduk, air mata istrinya kembali merembes. Dengan segera Viona mengusapnya dan mengatakan, "Aku tidak apa-apa."
"Kamu kenapa? Ada yang sakit? Apa tadi terjadi sesuatu sama kamu?"
Sakit, di hati, batin Viona menyahuti. Dia terdiam memandangi Marshal yang terlihat begitu cemas. Viona tidak mungkin mengatakan apa yang dia rasakan pada suaminya. Marshal terlalu asing untuknya berbagi kisah. Dia memang butuh orang untuk diajak meluapkan semuanya, namun bukan Marshal orangnya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
Viona menggeleng lagi. Tersenyum manis pada suaminya dan berdiri. "Aku mau mandi. Kalo mau makan, lebih baik makan duluan."
"Tunggu dulu!" Marshal menarik Viona yang akan beranjak ke kamar mandi. "Kamu kenapa? Kenapa barusan kamu nangis?"
"Aku gak apa-apa. Hanya lelah dan butuh istirahat."
"Kamu sakit?" Tidak panas, saat Marshal menyentuh kening Viona. Dia mendudukan tubuh Viona kembali, perasaannya kian khawatir melihat istrinya yang tidak nampak seperti biasa ini. "Apa lelah harus sampai mengeluarkan air mata? Kamu kenapa sebenarnya? Katakan padaku!"
"Aku gak pa-pa, sungguh!"
"Apa Amanda menyakiti kamu?"
"Kamu tahu?" Viona terkejut mendengar pertanyaan suaminya.
Dihelanya napas dalam, Marshal ikut duduk bersampingan dengan istrinya. "Dia mengirim pesan pada Rio." Kembali dia cemas mendengar istrinya mendesah lelah. "Kamu benaran tidak apa-apa? Dia tidak menyakiti kamu, kan?"
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu tidak percaya padanya?"
"Aku hanya takut kamu disakiti sama dia. Amanda aku hindari beberapa hari terakhir. Aku takut dia malah berbuat yang tidak baik sama kamu." Diraih tubuh istrinya, mendekapnya dari samping. Viona hanya diam dan membenamkan wajahnya di dada Marshal. "Aku khawatir sama kamu, Ra. Jika dia berbuat buruk, katakan padaku!"
"Kami hanya bertegur sapa," Viona menjauhkan kepala setelah Marshal mengusapnya. "dia tidak menyakiti aku."
"Syukurlah." Marshal bernafas lega. Setidaknya mereka tidak bertengkar, itu sudah membuatnya sedikit tenang.
__ADS_1
Viona menggeleng dan segera berdiri saat Marshal ingin mencium keningnya. "Aku mau mandi. Makan duluan saja!"
Marshal tidak mencegahnya saat Viona pergi ke kamar mandi. Dia hanya melihatnya masuk dan terdiam kembali, sendiri. Jika bukan karena Amanda, lalu kenapa Viona menangis? Dia kembali tidak tenang. Pasti ada yang Viona sembunyikan darinya, sehingga air mata yang langka itu meluruh. Dua kali. Dua kali Marshal melihat istrinya menangis. Itu menyakitkan. Marshal tidak mau melihatnya lagi. Viona tidak boleh menangis lagi! Marshal janji akan membuatnya selalu bahagia, bersamanya!
***
Keluar dari kamar mandi, Viona melihat suaminya dengan malas. Dia kira Marshal sudah pergi dari kamarnya, namun ternyata malah berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponsel miliknya.
Miliknya?
Viona segera berlari mendekat pada Marshal. Tidak peduli dengan keadaannya yang masih mengenakan bathrobe. Dia segera merebut ponsel dari tangan suaminya.
"Ngapain?" Viona menatap marah. Ponsel adalah privasinya, kenapa Marshal harus melihat isinya? "Kenapa bisa kamu buka? Kamu tahu password-nya?"
Dengan santai, Marshal bangun setelah dia bisa mengendalikan rasa terkejutnya. "Hape kamu gak di-password, Ra."
Viona melotot tajam dan segera mengecek ponselnya. Benar juga. Dia baru ingat, dia tidak memakai password karena suka lupa. Baiklah, mulai sekarang dia akan menguncinya. Tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Marshal sudah melewati batas privasinya.
"Kamu tidak menyimpan nomorku? Kenapa di sana tidak ada?"
Viona hanya diam. Berbalik badan untuk menyimpan ponsel di tas yang ada di sofa. Bagaimana jika Marshal tahu nama kontaknya? Apa dia akan marah? Viona tidak berani bicara, takut suaminya tidak suka. Lebih baik dia segera memakai baju, daripada menahan kesal terus-terusan.
"Tidak kenapa-napa. Lepas, ih!"
"Frans ngirim pesan supaya kamu tidak sedih lagi. Kamu kenapa sebenarnya?"
Tubuh Viona menegang. Marshal sampai membuka pesan di ponselnya. Itu sudah sangat kelewatan. Viona tidak suka privasinya dimasuki orang lain seperti itu. "Lepas, ih! Aku mau ngambil baju."
Marshal tidak melepaskannya. Memainkan tali bathrobe membuat Viona semakin takut dan mencoba melepaskan diri. "Boleh aku tarik?" godanya dengan berbisik. Viona cemas dan segera menggeleng. "Katakan alasan kamu menangis atau aku tarik talinya?"
Viona menelan ludah. Marshal semakin berani memojokannya. Tapi, dia tidak bisa berontak lebih kuat lagi. Jika dia berontak, tali yang sedang dimainkan oleh Marshal pasti terlepas dan tubuhnya pasti terbuka. Viona lebih baik diam. Namun, diamnya tidak bertahan lama karena Marshal malah mencium pipinya.
"Kenapa kamu menangis? Amanda tidak menyakiti kamu, atau ada alasan lain? Frans tahu, kenapa aku tidak boleh tahu?" Perlahan, Marshal menarik tali bathrobe, Viona semakin takut dan akhirnya menyerah.
"Oke, aku katakan," Ditepisnya tangan Marshal, Viona segera menjauhkan diri setelah mendorong tubuh suaminya ke belakang. Dia membenarkan tali yang hampir terlepas hingga kuat kembali membalut tubuhnya. "aku lapar," lanjutnya dengan nada manja.
Alis Marshal terangkat. Kembali mendekati tubuh istrinya yang semakin menjauh sampai Viona terpentok tembok dan Marshal mengunci pergerakannya dengan tangan kanan dan kiri di samping tubuh istrinya. "Katakan!"
Viona memejamkan mata serta menggigit bibir bawahnya. Dia menggeleng, tidak mau mengatakan apa yang terjadi padanya. Tangan kanan Marshal terangkat, menyentuh dagu istrinya. "Katakan, kenapa kamu menangis? Jangan menutupinya dariku! Jika ada yang berani menyakitimu, aku akan mencarinya."
__ADS_1
Viona tetap memejamkan mata. Embusan napas Marshal begitu terasa menerpa kulit wajahnya, sangat dekat.
"Katakan, Zahra sayang!" Marshal geram melihat istrinya yang terus bungkam, padahal dia sudah sangat khawatir.
Mata Viona membuka dengan cepat karena kaget. Marshal mencium bibirnya begitu dalam. Dia berontak dengam mendorong dadanya sekuat tenaga. Marshal malah menahan kedua tangannya, dan kembali memperdalam ciuman.
Viona terengah-engah, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya saat ciuman terlepas. Marshal menatapnya tajam, masih menahan kedua tangan istrinya. "Mau mengatakannya atau aku lanjutkan di ranjang?" ancamnya penuh penekanan membuat Viona ketakutan dan mulai melunakkan pandangan yang semula penuh emosi. "Aku paling tidak suka melihat wanitaku menangis. Aku pasti menghukum siapa pun yang membuatnya mengeluarkan air mata. Tapi, kamu tidak mau mengatakannya."
"Aku tidak ap.-"
"Berhenti mengatakan, 'Tidak apa-apa'!" bentak Marshal penuh kesal.
Menurut pengetahuannya, tidak pernah ada kata "tidak apa-apa" dalam kamus wanita. Sudah pasti, dari kalimat tersebut terdapat "apa-apa" yang sangat besar telah terjadi, namun seorang wanita tidak mau mengatakannya.
"Kita suami istri, Ra. Jika ada masalah, katakan padaku! Apa semua ini karena Amanda?!"
Viona menggeleng. Matanya mulai berkaca-kaca dan satu buliran meleleh turun melewati kulit mulus pipinya.
Marshal semakin emosi, melepaskan tangan Viona dan mengusap air matanya. "Aku hanya bertanya, Sayang. Aku khawatir," ucapnya dengan lembut memandangi Viona lekat. "Katakan!"
"Sendi-"
"Kamu menemuinya lagi?!" Marshal langsung membentak dengan marah. Tangannya mengepal dengan emosi yang kian meningkat. "Kenapa kamu menemuinya lagi?! Untuk apa?!"
Viona kembali memejamkan mata, Dia tidak menanggapi Marshal yang mengguncang bahunya kesal, padahal Viona belum selesai bicara. Ucapan Fatma kembali terdengar dalam telinganya. Dia sakit hati, namun tidak mungkin dia kembali larut merasakannya.
"Zahra!"
Viona langsung memeluk tubuh suaminya. Emosi Marshal sudah sampai batas jika sudah menyebut nama tengahnya dengan bentakan. "Jangan marahi aku, Chal! Aku hanya melihatnya sebentar."
Marshal malah semakin emosi, melepas tubuh Viona dengan kasar. "Untuk apa?! Aku tidak mau kamu bertemu lagi dengannya, tapi kenapa kamu menemuinya?"
"Hanya menjenguk, sebentar."
"Kamu-"
"Apa?" Viona membalas tatapan Marshal dengan tajam. Dibaiki, Marshal malah semakin emosi. Viona bingung, bagaimana caranya untuk meredam emosi Marshal. Sungguh, Viona sedang tidak mau bertengkar. Dia sangat lelah saat ini, tetapi Marshal malah mendebatnya. "Kenapa kamu memarahiku? Aku hanya menjenguknya, jangan marah seperti ini! Aku tahu, kamu tidak suka. Tapi, aku hanya ingin menjenguknya. Sebagai teman yang baik, apa salah jika aku melihat keadaannya? Salah?"
Marshal terdiam meluhat istrinya yang masuk ke ruang ganti dengan raut kesal. Apa dia sudah kelewatan? Marshal hanya cemas pada istrinya, namun Viona justru malah membuatnya marah. Dua kali Mardhal melihatnya menangis, dan keduanya hanya menangisi laki-laki itu. Apa Sendi begitu berarti bagi Viona sampai dia selalu saja menangisinya? Marshal kesal dan sangat marah. Kenapa Viona masih saja mengingat laki-laki itu, tidak pernah meliriknya? Apa Marshal benar tidak bisa merebut hatinya? Kenapa harus laki-laki itu yang Viona pikirkan? Kenapa Viona tidak pernah memikirkannya?
__ADS_1