Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kacau


__ADS_3

"Oh, ya ampun ... lihatlah! Dalam waktu semalam saja majikanku sudah bereinkarnasi menjadi seorang gembel," gumam Rio setelah mengetuk dan pintu kamar terbuka menampilkan sosok majikannya yang nampak tidak biasa.


Marshal berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang amburadul. Rambut acak-acakan, lingkaran hitam di bawah mata begitu kentara dan jangan lupakan pakaiannya yang begitu style list hari ini.


Mengenakan piyama berwarna biru muda dengan kancing yang tidak terpasang benar. Lebih tepatnya menyungsang. Baju bagian bawahnya terlihat tidak sama panjang. Bagian atasnya tidak terkancingkan dan setelah di teliti, ternyata Marshal mengenakan piyama ... terbalik?


"Tuan, apa kita perlu ke dokter jiwa?"


"Hm?" Marshal menatapnya tidak fokus dengan mata yang masih setengah terpejam. Mungkin baru beberapa menit majikannya itu tertidur. "Ada apa kamu ke sini? Aku ngantuk." Dia menutup mulut dengan tangan saat menguap.


"Maaf, menganggu, Tuan. Tapi, ini sudah siang. Apa Tuan tidak akan berangkat ke kantor?"


"Aku ngantuk. Hari ini tidak akan pergi ke mana pun," jawabnya dengan malas. Kembali masuk ke dalam kamar.


Rio mengikuti dari belakang. Menghela napas dalam melihat Marshal yang kembali berbaring di atas ranjang. "Ada rapat dengan para direksi hari ini. Apa Tuan akan membatalkannya?"


"Jam berapa dimulainya? Atur saja secara virtual! Aku sedang malas pergi ke luar." Marshal menarik selimut sampai menutupi kepala.


"Seharusnya sepuluh menit lagi sudah dimulai."


"Apa?" Marshal langsung menyibak selimut dan terduduk. Memandang pada Rio dengan terkejut. Asistennya itu kini sibuk menatap layar ponsel. "Kenapa tidak memberitahuku?" Marshal turun dari ranjang. Berjalan menuju kamar mandi dengan cepat.


Rio menoleh sebentar dan kembali fokus pada ponselnya. "Bukankah sudah saya ingatkan semalam? Saya kira Tuan masih mengingatnya."


Marshal berdecak kesal. Dia lupa jika semalam Rio sudah mengatakannya. Pikirannya sedang semrawut memikirkan dua wanita, jadi tidak fokus pada pekerjaan. "Yasudah, atur secepatnya untuk rapat virtual. Aku mandi dulu."


"Tapi, Tuan," Rio memandang Marshal yang sudah di depan pintu kamar mandi dengan bingung. "apa masih sempat untuk berdandan? Bahkan semua peserta rapat sudah siap di ruangan, tinggal menunggu Tuan."


"Argh, ya, sudah. Cepat kamu siapkan bajuku! Aku akan mencuci muka dan gosok gigi dulu."


Rio mendengus melihat pintu kamar mandi yang tertutup. Kenapa jadi dia yang menyiapkan pakaian Marshal?


"Menyusahkan!" makinya berjalan menuju ruang wardrobe.


"Mana bajunya?" Marshal masuk ke ruang wardrobe dengan wajah yang masih basah. Rio masih mematung di depan lemari kemeja miliknya.


"Saya bingung, Tuan mau memakai yang mana?"


Marshal melotot tajam. Dia kira Rio sudah selesai mengambilkan baju untuknya. "Kamu tidak becus. Awas!" Disenggolnya Rio dengan kasar hingga hampir terjungkal. Marshal memilih bajunya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa, Tuan?" Rio bingung melihat Marshal yang hanya terdiam memandangi deretan kemeja mahalnya. Melirik sana-sini, tetapi tidak satu pun ada yang dia ambil.


Marshal meringis sambil mengusap kasar wajahnya. "Biasanya istriku yang memilihkan baju, Yo," gumamnya terdengar sedih.


Rio mendengus. Dia kira ada apa. Ternyata Marshal hanya mengingat Viona. "Tuan, cepat! Rapatnya tinggal tiga menit lagi harus dimulai. Semua direksi sudah menunggu."


"Sebentar, Yo. Kamu siapkan saja dulu perlengkapannya di ruanganku." Marshal keluar dari sana. Berjalan menuju nakas di samping ranjang. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Tuan menelepon siapa? Rapatnya-"


"Cepat siapkan semuanya di ruanganku! Sebentar lagi aku ke sana setelah menelpon istriku."


Ingin rasanya Rio jambak rambut Marshal. Rapat seharusnya sudah dimulai, tetapi Marshal malah mengulur waktu untuk menelepon istrinya yang sekarang entah di mana. "Nanti saja lagi telepon nyonya. Sekarang Tuan bersiaplah untuk berganti pakaian. Masa mau memakai piyama terbalik seperti ini?"


"Diam! Cepat siapkan saja rapatnya! Kamu tidak mengerti keinginanku," bentak Marshal yang masih mencoba menghubungi Viona untuk yang ketiga kalinya. Tapi, panggilan tetap tidak ada yang diterima.


Rio melangkah dengan hentakan kaki keras. Kesal sudah sampai ubun-ubun. Marshal sedang stress seperti itu jadi tidak tahu waktu, padahal rapat seharusnya sudah dimulai sejak dua menit yang lalu. Jika sudah seperti ini, terpaksa Rio harus memundurkan waktu secara sepihak. Para direksi pasti mengomel, tapi mau bagaimana lagi, atasannya sendiri yang lelet.


***


Viona memandangi Rahma dengan bingung. Ponsel yang dia letakkan di atas meja, terus saja berdering. Mereka kini sedang berada di ruang keluarga yang ada di rumah Wisnu. Hanya Rahma dan Viona berdua. Wisnu sudah berangkat bekerja pagi sekali dan Michelle juga sudah berangkat sekolah.


Dari semalam, sudah sembilan puluh tujuh panggilan dari Marshal yang masuk ke ponselnya. Satu pun tidak ada yang Viona terima karena tidak dibolehlan oleh Rahma dan Wisnu. Mereka bilang, "Biarkan saja Marshal berpikir dengan dewasa. Anak itu harus diberi hukuman supaya bisa mendapat efek jera."


"Matikan saja! Biarkan dia frustasi sendiri!" ucap Rahma dengan santai. Melihat tayangan televisi yang menampilkan sinetron di saluran ikan terbang. "Mama juga kecewa sama dia. Apalagi kamu istrinya. Sudahlah, biarkan saja dia menerima hukuman! Anak itu sudah keterlaluan."


Viona hanya mengangguk. Apapun yang dikatakan oleh mertuanya, tidak pernah ia bantah atau timpali. Dia masih bingung harus bagaimana. Jadi, lebih baik diam sebelum Marshal menyelesaikan semuanya.


Dering panggilan di ponsel Viona berhenti, digantikan dengan bunyi notifikasi pesan masuk.


Rahma mengambil ponsel Viona. "Si Planet Marsmelow mengirim pesan lagi," ujarnya.


Viona mengulum senyum. Jika Rahma menyebut nama kontak itu, dia selalu merasa geli tapi merasa bersalah juga sebenarnya. Tapi, karena sudah tanggung, Rahma juga sudah mengetahui nama kontak suaminya itu, dia tidak bisa menjelaskannya saat Rahma bertanya, "Kenapa nama kontaknya 'Si Planet Marsmelow'?"


Viona hanya menjawab, "Hanya nama iseng."


"Zahra, Sayang, angkat teleponnya." Rahma membacakan isi pesan yang entah ke berapa puluh dari suaminya.


Viona terdiam setelah mendengarkan isi pesan yang dibacakan oleh mertuanya. Apa Marshal akan mengajaknya bersandiwara lagi? Tumben sekali dia membawa panggilan sayang untuknya.

__ADS_1


"Sayang, angkat dulu. Sebentar saja. Aku ingin bicara." Rahma membacakan pesan selanjutnya.


Viona makin terdiam. Ada apa dengan Marshal? Panggilan sayang itu tidak biasa dia berikan jika bukan sedang bersandiwara. Dan lagi, jam segini seharusnya Marshal sedang bekerja, kenapa dia masih sibuk menghubunginya?


"Anak itu ...." Rahma menggeleng pelan dan menyimpan kembali ponsel Viona di atas meja. "Kamu jangan pernah mau luluh sama rayuan dia. Dia itu kurang ajar. Sudah mengkhianati kamu. Jadi, sebaiknya kamu jauhi saja dia. Chal memang tidak pantas dimaafkan. Untung dia punya istri sabar seperti kamu. Kalo papa Wisnu yang selingkuh, sudah mama beubeuk itu kepalanya sampe benyek."


Viona tersenyum geli. Semua wanita juga akan meradang seperti Rahma jika tahu suaminya selingkuh. Tapi, itu tidak berlaku untuknya. Buat apa Viona menyiksa Marshal, sedangkan dia sendiri tidak keberatan jika suaminya punya kekasih.


"Heran mama," Rahma mengambil kue yang ada di atas meja. Menyuapkannya ke mulut sambil menonton televisi. "kenapa kamu biasa saja saat dia merangkul wanita lain? Apa kamu tidak marah?"


"Bukan tidak marah, tapi belum, Ma. Kemarin aku mau marah, tapi keburu ada Mama," sahutnya dengan bohong. Mana mungkin dia bisa marah, jika rasa cemburu saja tidak ada.


"Harusnya kamu itu marah langsung kemarin! Kalo perlu jambak rambutnya dia. Kesel banget mama sama si kaleng Kong Guan yang sok model itu," gerutu Rahma menggebu-gebu.


"Kaleng kong guan?" Dia mengulum senyuman. Lucu sekali cara Rahma menjuluki Amanda.


"Iya, kaleng Kong Guan. Luarnya aja keliatan bagus dan mahal, tapi isinya cuma rengginang. Zonk besar."


Bukannya ingin tertawa, Viona justru bertanya-tanya, kenapa Rahma sampai sebegitunya menjuluki Amanda? Memangnya Amanda kenapa?


***


"Tuan, bisa cepat sedikit? Peserta rapat sudah siap semua," teriak Rio di balik pintu.


Marshal langsung terperanjak. Melemparkan ponsel ke atas ranjang. Panggilannya tidak kunjung Viona terima. Mungkin lebih baik dia menuruti dulu perintah Rio, biar masalah hubungannya diurus nanti saja.


Sekarang dia menggerutu pelan. Sebenarnya yang menjadi majikannya itu siapa? Kenapa dia jadi menurut pada Rio? "Argh, sudahlah. Aku sudah terlambat." Dia langsung masuk ke dalam ruangan ganti. Membuka baju piyama dan memakai kemeja beserta jasnya.


"Ayo! Aku ingin rapatnya segera selesai. Setelah rapat, aku akan menghubungi istriku lagi." Marshal keluar dari kamarnya. Berjalan dengan tergesa menuju ruangan kerjanya. Dia tidak mempedulikan Rio yang sedari tadi berceloteh di belakangnya. Marshal ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan bisa menyelesaikan masalahnya juga.


"Tuan yakin mau memulai rapat?" tanya Rio dengan tidak percaya saat Marshal sudah duduk di kursi kebesarannya. Laptop sudah siap di depannya.


"Aku yakin. Ini sudah terlambat, kan? Jadi, cepat mulai rapatnya!"


"Dengan penampilan seperti ini?" Rio menunjuk badan Marshal dengan menahan tawa.


"Memangnya kenapa? Aku sudah siap. Pakaianku sopan dan rapi." Marshal menyisir sedikit rambutnya dengan jemari tangan. Membenarkan posisi dasi yang sedikit miring. Dan terakhir mengusap pipi dan bibir supaya bisa tersenyum indah.


Rio menganga mendengar ucapan Marshal. "Yakin, penampilan seperti ini sudah sopan?" Ditelitinya penampilan sang majikan dengan geli.

__ADS_1


Marshal menunduk memeriksa kembali pakaiannya. Dia tercengang sendiri saat menyadari,


"Oh, shit! Aku lupa memakai celana."


__ADS_2