Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kesal Berlanjut


__ADS_3

Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!


Ingin sekali dia mencakar wajah Marshal. Suaminya memang tidak tahu diri. Setelah dia memberikan apa yang Marshal mau, dia malah ditinggalkan begitu saja. Marshal pergi tanpa bicara dan sekarang dia bilang sedang berada di Bali.


Viona sangat kesal pada suaminya. Dia marah semarah-marahnya. Marshal memang tidak bisa menjadi suami yang dia inginkan. Harusnya dia berada di samping Viona saat pagi menyapa, memanjakan istrinya. Huh, semua angan tinggal kesal. Marshal lebih buruk dari yang dia kira.


Sudah, jangan pulang sekalian! Tinggal saja di sana selamanya! jangan temui aku lagi!


Viona mengirim pesan terakhirnya untuk Marshal. Setelah itu dia mematikan ponselnya. Rasa kesalnya sudah sampai ubun-ubun, tidak bisa dilunakkan lagi.


"Siapa?" Viona berteriak ke arah pintu. Dia terdiam sesaat menunggu sahutan, setelah barusan terdengar suara ketukan. Viona mendengus kesal dan segera berdiri. Orang di luar sana pasti tidak mendengar suaranya. Dia pun melangkah untuk membuka pintu.


"Maaf, Nyonya. Ada Nyonya Rahma di bawah," lapor pekerja rumah perempuan dengan sopan.


Viona mengernyit. Ada apa Rahma datang ke rumahnya? "Hanya mama?"


"Bersama nona Michelle," sahut pekerja tersebut mengikuti langkah Viona turun ke lantai bawah.


Pekerja itu pamit ke belakang dan Viona menghampiri ibu mertuanya di ruang tamu.


"Mama." Viona mencium punggung tangan Rahma, cepika-cepiki seperlunya. Tidak lupa dia juga menyapa Michelle yang setia menemani ibunya. "Tumben kalian ke sini." Dia duduk di samping adik iparnya, bersebrangan dengan Rahma.


"Mama jenuh. Jalan-jalan, yuk!" ucap Rahma dengan tatapan memelasnya.


"Iya, yuk, Kak! Aku juga mumpung lagi libur belajar, nih." Michelle ikut menyahuti. "Nge-mall bentaranlah. Yuk!"


Viona nampak berpikir sejenak. Tapi, percuma dia berpikir karena Rahma dan Michelle memang sengaja datang ke sana untuk memaksanya ikut. "Ya, sudah, tunggu bentar, ya. Aku siap-siap dulu." Menolak pun tidak bisa. Rahma terus membujuknya untuk mau pergi. Akhirnya Viona menuruti kemauan mereka dan ikut untuk jalan-jalan bersama. Lumayan untuk mengalihkan kekesalannya terhadap Marshal.


***


Hampir setengah harian mereka pergi jalan-jalan. Viona senang karena Rahma dan Michelle yang sangat baik dan begitu hangat padanya. Keluarga Marshal memang sudah menerimanya baik sejak dia menyetujui untuk menikah. Mereka tidak pernah menunjukkan gelagat tidak suka padanya sekalipun. Bahkan Viona merasa jika dirinya sudah dianggap keluarga inti oleh mereka. Seperti saat ini, mereka sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar kota mereka tinggal. Rahma dan Michelle terlihat sangat bahagia bisa melihat dan memilih semua barang yang terlewati oleh pandangan mata mereka.


"Beli apa lagi, Ma?" tanya Michelle pada ibunya.


Viona menggelengkan kepala mendengarnya. Tangan Michelle sudah penuh dengan barang belanjaan, tapi dia masih melirik barang lain. Begitu juga dengan Rahma dan Viona. Istri Marshal dipaksa untuk membeli banyak barang apa pun yang dia suka. Semua Rahma yang membayarnya, meskipun Viona sudah menolak dan mengatakan dia bisa membayarnya sendiri. Uang Marshal banyak yang Viona miliki, dia tidak perlu ditraktir. Tapi, Rahma memaksanya, sehingga mau tidak mau Viona harus menuruti semua perkataan ibu mertuanya.


Mall tersebut hampir sudah seluruhnya mereka nikmati. Mencuci mata sana-sini sampai Viona merasa kakinya pegal terlalu lama berkeliling. Dia tidak suka terlalu lama berkeliling di pusat perbelanjaan seperti sekarang. Jika bukan karena paksaan Michelle dan ibu mertuanya, Viona mungkin sudah lebih dulu pulang sejak tadi.

__ADS_1


"Mama lapar, Chelle. Kita makan aja, ya."


Sudah empat jam lebih mereka berkeliling. Viona menghela napas lega mendengar ucapan Rahma. Berarti mereka akan beristirahat sebentar. Mereka pun mencari foodcourt untuk memasok kembali energi yang sudah terkuras karena melirik barang sana-sini.


"Kak, dari tadi bunyi terus, tuh. Kenapa gak diangkat?" tanya Michelle menunjuk ponsel milik Viona yang tergeletak di atas meja. Mereka sedang istirahat sembari menunggu pesanan mereka datang.


"Biarin aja, Chelle." Viona malas menanggapi panggilan tersebut. Sejak tadi suaminya terus saja menghubungi. Tidak satu pun Viona menerima panggilannya. Sampai sekarang, kekesalannya tehadap Marshal masih tidak bisa dia lupakan. Walaupun sudah dia alihkan pada barang-barang branded, tapi rasa kesalnya tetap besar.


"Kalian marahan?"


Pertanyaan Rahma membuat Viona menoleh dengan cepat. Dia menggeleng dan memberikan senyuman kepada ibu mertuanya. "Kita baik-baik aja, Ma."


"Syukurlah." Rahma bernapas lega. "Chal kerja?"


Viona mengangguk samar, tiba-tiba amarahnya terasa membara mengingat hal itu. "Sekarang dia lagi ngurus masalah resort di Bali, Ma."


"O, ya? Kapan perginya? Bukannya semalam kita habis pesta. Dia berangkat jam berapa?"


Jika jujur, Viona juga tidak tahu dia berangkat jam berapa. "Subuh tadi. Katanya, ada masalah darurat."


Viona menyetujui ucapan Rahma. Marshal memang tidak peduli padanya dan lebih mementingkan urusan pekerjaannya. "Ya, gitu, Ma. Sama aja."


Rahma mengusap lengan menantunya iba. "Mama kira dia gak gitu sama kamu. Duh, kalo Chal gitu terus, kapan mama punya cucu lagi," keluhnya sangat mengena di hati Viona.


Apa Rahma akan kecewa, jika tahu kalau Viona menunda kehamilan? Uh, rasa kesalnya terhadap Marshal jadi datang lagi, kan, jika mengingat hal itu. Baru dikasih permulaan, Marshal sudah keterlaluan seperti itu. Apalagi jika Viona hamil anaknya. Dia takut Marshal malah tidak mempedulikannya. Marshal menyebalkan!


Pesanan mereka datang. Viona tertawa renyah melihat Michelle yang kalap menyantap makanannya.


"Aku lapar. Dari pagi gak sempat makan, disuruh mulu sama mama," celotehnya saat Viona mengejek cara makannya.


Rahma pun demikian lahap. Mungkin karena mereka lelah telah berkeliling, jadi tingkat kerakusan mereka meningkat. Senyuman Viona bisa kembali bersama mereka. Dia bahagia karena kebersamaan mereka terasa menyenangkan. Dia jadi ingin mengajak Lina juga. Sudah lama Viona tidak pergi bersama ibunya. Dia jadi merindukan keluarganya. Padahal kemarin malam dia masih bisa bertemu mereka.


"Kak, perasaan dari kemarin aku gak lihat Kakak ngasih hadiah sama kak Chal. Gak mungkin Kakak gak ngasih apa-apa, kan?"


Viona termangu mendengar pertanyaan Michelle. Dia diam melihat adik iparnya mengunyah dengan nikmat sembari sesekali melihat sekeliling.


"Makasih, hadiahnya, Sayang. Ulang tahun kali ini paling berkesan untukku. Hadiahnya sangat berharga. Aku pasti akan terus mengingatnya sampai tua nanti," ucap Marshal saat mereka selesai melakukan kewajiban sebagai pasangan suami-istri.

__ADS_1


Viona tersenyum miris mengingatnya. Dia rela memberikan keperawanannya pada Marshal sebagai hadiah ulang tahun untuk suaminya. Marshal sangat menyukai hadiahnya. Berkali-kali dia berterima kasih padanya. Viona hanya menganggapnya sebagai kewajiban yang memang sudah seharusnya menjadi hak Marshal. Dia mempersiapkan semuanya dengan baik. Sengaja Viona memilih memberikannya malam tadi, karena dia merasa saatnya yang pas dan ternyata Marshal memang sudah mengharapkannya. Viona tidak salah memilih momen.


Namun, sekarang? Semua tinggal kesal. Viona tidak menyangka Marshal akan meninggalkannya setelah dia mendapat kepuasan.


"Kak! Ih, malah ngelamun."


Viona tersentak kaget menyadari lambaian tangan di depan wajahnya. Dia memasang senyuman canggung pada Rahma dan Michelle.


"Jangan bilang, Kakak gak ngasih hadiah, ya?"


Viona menggaruk pelipis dengan bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa pada Michelle. Viona cukup malu jika harus mengakuinya. "Ngasih, kok."


"Apa? Pasti istimewa, ya. Kakak ngasih apa? Terus reaksi kak Chal gimana saat menerima hadiahnya?" Michelle bertopang dagu sambil mengunyah menghadap Viona. Dia sangat penasaran. Tapi, Viona malah menggeleng dan memberikan senyuman misterius.


"Ada, deh," sahut Viona jenaka membuat Michelle memberengut seketika. "Kamu gak usah tahu, hadiahnya rahasia."


"Hih, aku cuma mau tau aja, kali, reaksi kak Chal saat dapat hadiahnya," cibir Michelle pelan sembari terus mengunyah.


Viona tersenyum tipis. Marshal merem melek merasa puas penuh kenikmatan saat mendapatkannya, Chelle.


_______________________


Untuk Crazy Up akhir bulan, Zhao serius. Emang akan ada. Zhao akan memberikannya pada kalian. Apa kalian mau crazy up?


Jika mau, penuhi dulu syaratnya, ya.


Harus banyak Komentar, Like dan tentu saja Vote!


Hanya itu saja, kok. Gak susah, kan?


Yo, tulis komentar sebanyak mungkin! Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya!


Kalo syaratnya terpenuhi dan jumlah Vote-nya banyak sampai naik ranking, Zhao akan Crazy up dua hari berturut-turut kalo perlu.


Ayo, dukung author untuk up banyak.


Salam hangat๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2