
"Gak usah, Ma. Biar aku aja."
"Mama aja, Viona. Gak apa-apa, kok."
"Ma ... please, aku aja, ya. Nanti Chal marah kalau mama yang bayarin."
Rahma terdiam sesaat melihat Viona yang memaksa. "Yaudah, deh, kamu yang bayar. Tapi, lain kali mama aja yang bayar, ya."
"Iya, Ma." Viona tersenyum dan segera membawa kartu miliknya ke kasir toko. Mereka belanja tidak sedikit, dengan harga yang selangit. Viona keukeuh ingin membayar semua belanjaan mereka, karena jika bukan dia yang membayar, maka kartu miliknya tidak akan pernah ada riwayat penggunaan. Viona tidak pernah menggunakannya sama sekali dan Marshal marah mengetahui hal itu. Jadilah dia mentraktir semua belanjaan mereka kali ini. Hanya untuk menambah riwayat pemakaian di kartu miliknya.
"Sudah, Ma. Kita pulang atau ke mana dulu?" Selesai dengan pembayaran, Viona kembali menghampiri Rahma dan Michelle. Dia masih saja bisa tersenyum hangat, sedangkan mereka sudah terlihat sangat lelah.
"Lapar ...." pekik Michelle dengan wajah memelas.
Viona hanya tersenyum dan mengajak mereka untuk mampir di restoran Mall. Rahma dan Michelle terlihat senang. Begitu pun dengan Viona. Mereka sama-sama bahagia untuk hari ini. Menghabiskan waktu bersama sampai hampir malam menjelang.
"Marshal mengirim pesan, Ma." Viona membuka ponsel mendapat notifikasi khusus dari suaminya.
Mereka duduk, menunggu pesanan datang. Michelle terlihat memainkan ponsel dan Rahma malah asyik mengintip pesan yang sedang Viona buka.
Sayang, aku sudah pulang. Apa kamu masih lama berada di sana?
Viona melirik Rahma, meminta saran untuk membalas apa. Tapi, Rahma sepertinya tidak berniat nimbrung dan malah tersenyum, membiarkan Viona yang memikirkan balasannya sendiri.
Aku lapar. Ingin makan dulu. Mungkin tidak lama lagi akan pulang. Boleh 'kan, aku makan dulu? Viona menambahkan emotikon memelas.
Di seberang sana, Marshal tersenyum geli. Lucu sekali istrinya ini. Marshal membacanya sambil senyum-senyum, meski tubuh masih terbalut handuk yang melilit di pinggang. Dia baru selesai mandi.
Tidak berpikir panjang, Marshal menekan nomor Viona. Panggilan pertama langsung di terima dan dia sangat bahagia bisa mendengar suara istrinya.
"Apa aku perlu ke sana, menjemput kalian?"
Viona tidak langsung menjawab, malah terdengar berdiskusi bersama Rahma. "Gak usah, Chal. Aku 'kan bawa mobil. Lagian kamu pasti capek. Mending istirahat."
__ADS_1
"Aku masih bisa jemput kalian. Bagaimana?"
"Tidak perlu. Aku ingin menyetir sendiri. Kamu bilang, asal jaga keselamatan, aku boleh membawa kendaraan sendiri. Dan jangan sampai pulang dengan goresan sedikit pun, bukan?" Viona mengutip perkataan suaminya tadi siang saat meminta izin.
Marshal terkekeh mendengarnya. "Baiklah. Hati-hati di jalan, ya. Jangan pulang terlalu malam." Marshal mendekatkan ponsel dari telinga ke mulut dan dia berbisik, "Aku sudah merindukanmu."
"Chal, mama bisa denger, lho."
"Tuhkan!" protes Viona membuat Marshal tertawa. Jadi Viona mengaktifkan loudspeaker. Pantas saja Rahma bisa mendengarnya. Marshal tidak bisa membayangkan betapa merahnya wajah Viona saat ini. Pasti dia malu dengan kelakuan suaminya sendiri. Andai saja mereka melakukan panggilan Video, Marshal pasti bisa menikmati pipi lembut itu memerah, menahan malu.
***
"Mari kita lihat, apa saja yang Nyonya Marshal beli tadi." Dengan antusias Marshal mengambil banyak paper bag dari tangan istrinya. Dia sangat penasaran dengan apa yang Viona beli. Karena sang istri sangat jarang sekali berbelanja, bahkan tidak pernah, jika bukan Rahma yang mengajaknya. Viona bukan tipe wanita yang suka shopping atau memang dia ragu untuk berbelanja?
Rahma dan Michelle sudah pulang ke habitatnya. Jadi Marshal bisa berduaan bersama Viona di dalam kamar. Istrinya sudah tidak sabar ingin mandi, tapi Marshal malah sibuk membuka belanjaan Viona, tidak mengizinkannya untuk masuk kamar mandi.
"Gerah, Chal," keluh Viona yang sudah tidak sabaran.
"Yasudah, buka bajunya sekarang."
"Wah, wah, wah ... apa ini, Sayang?"
Wajah Viona langsung memerah saat Marshal membuka salah satu paper bag, berwarna biru muda dan mengeluarkan isinya. Marshal mengangkat pakaian kurang bahan yang nampak transparan ke atas sambil terkekeh geli.
"Mama yang maksa. Aku gak ada niat beli itu."
Marshal masih terkekeh geli memperhatikan pakaian yang kurang bahan tersebut. Nampak membayang dan dia rasa, akan percuma jika Viona memakainya. "Lingeria seperti ini memang akan indah, jika kamu pakai, Sayang. Tapi, aku akan lebih suka, jika kamu telanjang. Dan apa gunanya ini? Jika kamu memakai ini, malah menyulitkan aku, bukan?"
Viona semakin bersemu merah. Menundukkan kepala, tidak mau menerima tatapan menggoda yang Marshal berikan padanya.
"Ck, ck, ck ...." Marshal menggelengkan kepala sambil tersenyum, membuka paper bag yang lainnya lagi. "Kamu beli set bikini seksi juga? Aduh, Sayang, aku sangat menghargai hasil belanjaanmu. Aku menyukainya. Sungguh ... menakjubkan." Marshal tertawa renyah melihat wajah Viona yang kian memerah, sambil menggigit bagian dalam bibir bawahnya.
Jika saja bukan Rahma yang memaksa, Viona mana mau membeli barang-barang seperti itu. Setelah pakaian seksi yang pertama Rahma tunjukan ditolak oleh Viona, Rahma malah menawarinya pakaian lain. Viona tidak bisa menolak lagi, karena ibu mertuanya sangat pemaksa, persis seperti Marshal.
__ADS_1
"Usaha yang bagus, Sayang." Marshal menepuk-nepuk pelan puncak kepala Viona. "Tiga Lingeria dan satu set bikini seksi terselip dalam barang belanjaanmu." Dia tersenyum geli, tapi juga bahagia mengatakannya. "Aku suka. Dan malam ini, kamu akan memakai yang mana?"
Viona menggeleng cepat. Tidak mau memakai pakaian seperti itu.
"Baiklah, aku memang mengharapkan kamu tidak memakai semua pakaian ini. Karena ...," Tubuhnya menyerong pada Viona, hingga istrinya sedikit mundur ke belakang. "aku akan lebih suka kamu telanjang. Sangat menggairahkan." Suaranya disertai desahan khas laki-laki.
Viona menjitak kepala suaminya. Sudah dia duga. Marshal memang akan lebih suka jika dia tidak memakai apapun.
"Mau ke mana?"
"Aku mau mandi, Chal." Viona berusaha untuk bangun, tapi Marshal mencegah dan malah mendorong tubuhnya untuk berbaring di ranjang. "Aku gerah, mau mandi dulu." Viona tahu, Marshal pasti ingin menyosornya. Sungguh, dia lelah dan kegerahan saat ini. Viona merasa tubuhnya sangat lengket, ingin segera berendam di bathub dengan busa-busa lembut yang harum.
"Mandinya nanti saja. Kita main dulu sebentar." Suara Marshal sudah mulai parau. Hanya membayangkan Viona memakai pakaian seksi tadi, dia sudah terangsang. "Bagaimana, hm?" Dia mulai mengendus-endus leher Viona. Aroma parfum bebungaan yang bercampur dengan keringat malah semakin menyulut api gairahnya.
"Aku menginginkanmu," bisiknya semakin serak dan mulai menjelajahi leher, naik ke rahang. Viona hanya terdiam di bawahnya. Marshal merasa diberikan lampu hijau, segera menyambar bibir Viona dan memainkannya penuh gairah. Viona membalasnya membuat Marshal semakin menggila.
"Mmmhh ...." suara itu membuat hasrat Marshal menegang. Bukti gairahnya bangun tanpa bisa dicegah.
"Chal ...." Viona melepaskan tautan bibir mereka. Mendorong kuat tubuh Marshal untuk beranjak. Dia tahu, suaminya sudah mulai terpancing, dengan segera Viona bangun, menghindari serangan Marshal. "Aku mau mandi dulu."
Marshal menggeleng-gelengkan kepala, tidak mengizinkan. Tapi, Viona malah berlari ke arah kamar mandi, dia menyusulnya dan mendekap erat tubuh Viona ke dalam pelukan. "Mandinya nanti saja. Sekalian." Marshal menggendong Viona hingga kembali berbaring di ranjang.
"Chal akuļ¼"
"Tidak ada penolakan!" Marshal mulai membuka kaos yang dia pakai. Viona menggigit bibir bawahnya merasa terpana melihat otot perut yang terbentuk sempurna.
"Nggak, Chal. Aku masih halangan! Gak mau!" Sekuat tenaga Viona menolak untuk dijamah.
Marshal bangun, terdiam sesaat memperhatikan wajah Viona. Tatapannya turun ke bawah, melewati perut dan ************ istrinya.
Sialan! Pantas semakin tembam.
Dengan cepat Marshal berlari ke arah kamar mandi. Masuk ke dalam dan membanting pintu sekeras mungkin, membuat Viona terperanjat kaget.
__ADS_1
"Kamu mandi di kamar sebelah!" teriak Marshal dari dalam, tidak peduli istrinya cengo masih berbaring di atas tempat tidur.
Sialan! Sudah menikah pun Marshal masih harus bermain solo. Dasar nasib!