
Tawa renyah itu kembali bisa dia dengar, setelah sekian lama. Viona menaikkan alisnya, merapatkan bibir supaya tidak ikut tertawa. Sendi bergurau cukup mengejutkan. Laki-laki itu mengatakan memang sudah ikhlas dan ingin menata hidup baru bersama calon istri yang telah orangtuanya pilihkan.
"Viona-Viona ...." Sendi menarik napas panjang, menghentikan tawa dan duduk menghadap pada Viona. Mereka berada di bagian lain, terpisah dari aula. Entah apa namanya, tapi ada sebuah sofa panjang yang mereka jadikan sebagai tempat untuk mengobrol. "Nih, jangan lupa datang, ya!"
Tangan Viona terulur untuk mengambil sebuah kertas tebal berwarna hitam dengan rangkaian tipografi berwarna gold di bagian depan. Terukir nama Sendi dan pasangannya di bagian depan benda tersebut.
"Sengaja aku ngasihnya malam ini. Berhubung ini acara suami kamu dan aku juga gak tahu kapan kita bisa ketemu lagi. Jadi, aku memberikannya sekarang saja, sekalian."
Viona tersenyum menimpali ucapan Sendi. Suasana ruangan itu memang sepi, tidak ada orang lain. Tapi, suara dari aula yang meriah masih dengan acara Grand Opening, terdengar keras sampai ke sana. Setidaknya, suara itu membuat mereka tidak terlihat canggung.
"Ingat, harus datang! Aku juga waktu itu datang ke pernikahan kamu," Sendi menundukkan pandangan pada jemari yang saling bermain di antara lutut yang renggang. Duduk laki-laki memang seperti itu, bukan? Tidak rapat seperti wanita. "meskipun aku tidak kau undang," lanjutnya dengan lirih.
Viona merasa bersalah seketika. Kejadian itu tidak sengaja terjadi dan jika Sendi tidak datang bersama Arga, sudah pasti laki-laki ini akan semakin murka mengetahuinya dari orang lain.
"Keliatannya kamu bahagia, ya." Sendi mendongak, menatap pada Viona yang banyak terdiam di sampingnya. "Tuan Marshal sangat menyayangi istrinya." Dia tersenyum kecut. Tidak bisa menampik, jika perasaan tidak nyaman merambat hati. Seikhlas apa pun lidah berkata, jika sudah pernah bersama, memang akan sulit untuk melupakan rasanya.
"Ya ...," Viona mengangguk-anggukan kepalanya pelan. "memang bahagia."
Mereka bertatapan. Sendi tersenyum manis membuat sudut bibir Viona juga ikut tertarik.
"Apa sudah ada tanda-tanda punya jagoan?"
Viona mengernyit. Tapi, akhirnya dia paham saat pandangan Sendi tertuju pada perutnya. "Doakan saja, ya. Kami sedang berusaha," ucapnya penuh percaya diri.
"Pasti." Sendi menghela napas yang terasa kurang nyaman. Kembali tersenyum, menepuk paha dan melihat sekitar. "Kita kelamaan ngobrol di sini. Apa suami kamu gak marah?"
Mereka berbincang berdua tentu saja harus dengan izin Marshal. Jika tidak mendapat izin, mana mungkin mereka sempat mengobrol berdua sampai bersenda gurau seperti tadi. "Dia paling sibuk sama rekan kerjanya, Sen."
"Berarti tidak akan marah?"
Viona menggeleng yakin. Mana mungkin Marshal marah.
__ADS_1
"Tapi, calon istriku yang akan marah." Sendi tertawa sambil berdiri membuat Viona mendongak menatap padanya. "Dia sangat cemburuan. Aku hanya menatap satu orang yang lewat saja pasti marah. Apalagi sampai kita berdua ngobrol lama seperti ini. Saat bertemu dengannya, aku pasti dicaci maki dulu."
Meskipun Sendi mengatakannya disertai tawa, tapi Viona merasa tidak enak setelah mendengar hal itu. "Kalau begitu, kenapa kamu mau ngobrol sama aku? Gimana kalau nanti dia ...."
"Yap, itulah. Karena dia cemburuan, jadi dia membiarkan aku ngobrol sama kamu, Vi."
Alis Viona bertaut tidak mengerti. Sendi terkekeh melihatnya. "Dia tidak mau aku terus berhubungan sama kamu atau terus teringat sama kamu. Dia cemburu dan dia memang mengizinkan aku untuk mengobrol supaya kita tidak saling terlihat terikat lagi. Mengakhiri semuanya. Dia hanya mau aku memikirkannya saja."
Viona paham. Calon istri Sendi terpaksa mengizinkan supaya hubungannya dengan Viona cepat berakhir dengan baik dan tidak seperti ini lagi. Mereka akan menikah. Memang seharusnya tidak saling mengungkit rasa yang pernah ada. Semua itu telah disirnakan. Akan berakhir dan menghilang dengan sendirinya.
"Jadi ... kita akan kembali menjadi teman."
"Memangnya kita pernah pacaran?" Tawa Viona lepas melihat Sendi yang mendelik. "Sudah, ah. Temui calon istrimu itu. Aku gak mau, ya, dituduh pelakor nantinya."
"Dih, kegeeran!" Sendi menekan dahi Viona dengan ujung telunjuknya. "Lagian, aku gak akan selingkuh! Pantang selingkuh. Sekali satu, tetap satu. Seperti memperjuangkanmu dulu. Aku tetap mengejar satu sampai akhirnya aku ditinggal nikah duluan, kan. Itu menyedihkan. Tapi, dari sana semua orang juga tahu kalau aku memang tipe laki-laki setia."
Viona tertawa geli melihat dagu Sendi yang terangkat. "Sombong!" ledeknya melempar tatapan sebal.
"Idih!" Viona ikut tertawa geli. "Kayak apa aja digaet."
"Ya, kan, istriku cantiknya gak ketulungan. Di sini banyak laki-laki. Mereka pasti terpesona dengan kecantikannya. Tidak kecil kemungkinan banyak yang lirik."
"Oh, begitu ya ...," Viona memberikan senyuman yang jahil. "bukannya Viona adalah wanita tercantik milik Sendi. Dan sekarang udah ada yang lain, ya?"
"Hei, itu kan dulu!" Sendi memberikan tatapan tajamnya. "Please, Vi ... jangan pancing ingatan masa lalu kalo gak mau aku nikahin jandamu!"
Tawa Viona lepas begitu saja melihat kekesalan Sendi. Dia ikut berdiri dan menepuk pundak laki-laki itu dengan pelan. "Sabar, Sen. Semuanya udah berakhir. Itu hanya masa lalu. Lagian gak akan pernah ada laki-laki tampan lain yang menggantikan Marshal juga di mataku. Itu yang kamu lakukan pada pasangan kamu. Lagian, kamu memang ganteng banget, sih. Aku gak bakal bohong. Kamu memang keren."
Wajah Sendi kaku seketika. Menelan ludah kasar, menampilan ekspresi datar supaya tidak terlihat senang dipuji oleh Viona.
"Cielah, masa mukanya merah. Ingat woi, aku istri orang. Jangan baper, ya!"
__ADS_1
Viona melangkah mendahului Sendi untuk segera pergi. Masih menyisakan tawa geli di wajahnya. Sendi pun demikian. Melihat kepergian Viona, ia tersenyum penuh arti. Lega. Semuanya telah berakhir sampai di sini. Viona bahagia, tinggal dirinya yang meraih kebahagiaan.
Sendi berharap Viona bisa segera diberikan momongan sebagai pelengkap kebahagiaannya.
***
"Apa ini, Sayang?"
"Oh, ini ...," Viona memberikan benda yang dipengangnya pada Marshal. "undangan dari Sendi."
Marshal memperhatikan wajah Viona, sebelum melihat undangan tersebut. Tidak ada raut lain selain senyuman manis. Viona baik-baik saja. Marshal cukup lega mengetahuinya.
"Apa acaranya masih lama?"
Marshal menutup undangan yang sedang dia lihat dan menoleh pada Viona yang sedang menguap. "Masih ada satu jam lagi. Apa mau pulang sekarang?"
Viona mengangguk cepat, merangkul lengan Marshal dan menyandarkan kepala di sana. "Ngantuk, Chal."
Marshal menuruti keinginan istrinya untuk segera pulang. Berpamitan sebentar pada beberapa orang dan mengandeng tangan Viona untuk keluar dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil sudah ada Rio yang tengah memainkan ponsel di balik kemudi. Laki-laki itu tampaknya sudah lama berada di sana, meninggalkan pesta. Terlihat dari pakaiannya yang sudah tidak terlihat rapi dan juga tangannya yang sibuk memainkan sebuah game di layar ponsel. Terlihat santai. Memang itu lebih asyik daripada menikmati pesta yang mewah barusan.
"Pulang, Yo!"
"Siap, Tuan." Rio menoleh sebentar ke belakang, memperhatikan layar ponsel yang masih menyisakan permainan. Dia tersenyum penuh arti pada Marshal yang hanya mengangguk sambil menghela napas. Tersirat izin untuk menyelesaikan permainan terlebih dahulu.
"Sini!" Marshal menarik kepala Viona untuk bersandar di dadanya. Viona beberapa kali menguap dan mengatakan sudah mengantuk berat. Hari memang sudah larut malam. Acaranya akan berakhir satu jam ke depan, sebenarnya tidak masalah bagi mereka untuk tetap berada di sana. Tapi, Viona bilang sudah bosan dengan suasananya, jadi ingin pulang dan tidur di rumah.
Tangan Viona melingkari tubuh Marshal, memeluknya erat sambil bersandar dan mulai memejamkan mata. Tidak peduli ada Rio di sana. Toh, laki-laki itu masih sibuk menyelesaikan permainan di ponselnya.
"Eh, Chal," Viona melepaskan tangannya dari tubuh Marshal, bangun seketika. Raut wajahnya langsung berubah tidak terlihat ngantuk lagi, namun terlihat ... kesal? "aku 'kan masih marah sama kamu. Kenapa aku mau aja meluk kamu?"
__ADS_1
Hadeuh ... Marshal menghela napas panjang mendengarnya. "Kamu masih cemburu?"