
"Rio, aku pergi dulu"
Marshal menghampiri Rio dan Viona yang masih duduk dimeja bar dekat dapur.
Pakaian Marshal sudah berbeda. Bukan pakaian yang Viona pilihkan tadi. Bukan pakaian rumahan, tapi pakaian casual. Dia mengenakam celana Jeans berwarna hitam, dipadukan dengan atasan kaos putih dibalik Cardigan berwarna abu dengan bagian lengannya digulung jadi seperempat tangan. Uh, penampilan Marshal sungguh mempesona. Semua pakaian cocok dipakainya, membuat Marshal semakin terlihat tampan.
"Tuan akan pergi kemana?" Tanya Rio.
Sebenarnya bukan hanya pertanyaan Rio, karena batin Viona juga menanyakan hal yang sama. Sama-sama ingin tahu, Marshal akan pergi kemana?
"Pergi sama Amanda," sahutnya santai membuat Rio harus melirik Viona. Memastikan ekspresi apa yang Viona tampilkan mendengar tuturan Marshal.
Kenapa Nona biasa saja?.. dia benar-benar tidak marah. Kenapa Nona mengijinkan tuan bertemu kekasihnya?
Rio semakin aneh melihat reaksi Viona. Bagaimana mungkin seorang istri terlihat biasa saja saat mengetahui suaminya akan pergi dengan wanita lain. Terlebih pergi dengan kekasihnya sendiri.
"Aku akan pulang malam. Jadi jangan menungguku" ucapnya pada Viona.
Tidak pulang juga tidak apa. Batin Viona.
"Makan malam dengan Rio. Dia akan menjagamu selama aku tidak ada" Viona hanya menganggukkan kepala.
Marshal pun berlalu meninggalkan rumah. Viona nampak acuh dengan kepergian Marshal. Dia malah mengambil toples dari tangan Rio. Dan memakan biskuit yang ada didalamnya.
Setidaknya aku bisa bebas saat Tuan tidak ada. Batin Viona senang.
Sedangkan Rio, dia hanya termagu melihat semuanya. Bagaimana mungkin seorang suami mengatakan secara terang-terangan pada istrinya, jika dia akan bertemu dengan kekasihnya? Dimana pikiran Tuannya itu?
"Rio!" Panggil Viona. Rio pun tersadar. Menoleh pada Viona yang tengah duduk disampingnya. Sembari memakan biskuit dari toples yang sebelumnya dia rampas dari tangan Rio.
Nona pasti akan membicarakan Tuan. Dia pasti tidak suka jika tuan malah bertemu dengan kekasihnya. Secara, istri mana yang rela punya suami yang masih berhubungan dengan wanita lain? Aku yakin. Nona juga sebenarnya ingin marah pada tuan. Batin Rio.
Rio memposisikan duduknya menghadap Viona. Membenahkan diri supaya lebih nyaman. Dia sudah siap mendengarkan ocehan Viona terhadap Marshal. Dia akan mendukung Viona penuh. Karena Rio juga tidak suka Marshal masih berhubungan dengan Amanda. Rio yakin. Viona sebenarnya juga geram dengan tingkah Marshal. "Benar, Nona. Tuan memang seharusnya--"
"Ini biskuit kamu dapat dari mana? Kok rasanya enak"
"Hah?" Rio terkejut dengan pertanyaan Viona. Dia menganga. Rio kira Viona akan membahas Marshal. Tahu-tahunya... Biskuit. Oh, tidak.
"Aih.. Nanyain biskuit?"
Viona mengernyit. "Hah?"
"Kamu ngomong apa, Yo?" Rio malah menggeleng cengo. Ternyata apa yang dipikirkannya itu tidak terjadi. Viona memang tidak peduli dengan hubungan Marshal.
"Tidak apa-apa, Nona" Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tadi Nona bertanya apa?"
Viona mendecak kesal. "Tadi aku nanya, Ini biskuitnya kamu dapat dari mana? Kok rasanya enak?" Ulang Viona ketus.
Rio cengengesan. "Oh.."
"Biskuitnya dibeli dari supermarket kok, Nona"
"Oh" Viona hanya ber'oh' ria dan kembali mengambil biskuit. Dan memakannya dengan damai didepan Rio.
Nona benar-benar yah... kenapa Nona harus setenang ini saat Tuan sedang pergi dengan pacarnya? Jika aku yang menjadi Nona, sudah kupenggal kepala Tuan. Berani sekali tuan kencan dengan pacarnya meninggalkan istri dirumah. Padahal baru kemarin mereka menikah. Dasar Tuan ini ya..
__ADS_1
___________
Marshal memasuki sebuah resto ternama. Menyapu seisi ruangan, mencari sosok yang akan ditemuinya.
Itu dia.
Dia melangkahkan kakinya menuju meja yang terdapat sesosok wanita cantik tengah duduk sendirian sembari menikmati orange juice yang ada didepan mejanya.
"Maaf lama" Marshal menghampirinya.
Dia menoleh. Dan tersenyum riang melihat kedatangan Marshal. Dia langsung berhambur kepelukan Marshal. Mencium pipinya lembut. "Aku kangen" dia bergelayut manja pada Marshal.
Wanita itu adalah Amanda. Kekasihnya Marshal.
"Kamu kangen sama aku, kan?" Amanda masih bergelayut manja pada Marshal.
Marshal hanya mengangguk. Tersenyum. Kemudian mencium pipi Amanda sekilas.
"Kita jalan-jalan yuk!" Ajak Amanda dengan manjanya yang diangguki oleh Marshal. "Kamu mau jalan kemana?" Tanya Marshal lembut.
"Mall" sahutnya. "Pengen belanja-belanja. Bolehkan?"
"Boleh. Apapun yang kamu mau, pasti aku turutin" Marshal mencubit gemas pipi Amanda.
"Beneran, kamu akan turutin semua kemauanku?"
"Ya. Kenapa tidak? Apapun akan aku berikan untuk pacarku" Amanda semakin senang mendengarnya.
Mereka pergi ke salah satu Mall terbesar.
"Ayo makan, Rio!" Ajak Viona sembari menyimpan wadah terakhir yang berisikan makanan hasil masakannya diatas meja makan.
Sesuai dengan titahan Marshal, malam ini Viona akan makan malam ditemani Rio. Karena Marshal belum pulang juga. Mungkin Marshal sedang bermesraan dengan pacarnya. Pikir Viona.
"Kenapa Nona selalu merepotkan diri sendiri? Disini banyak pegawainya. Nona tidak perlu memasak. Suruh saja mereka!" Viona tak menjawabnya. Dia memilih acuh. Dan duduk dikursi meja makan.
"Nona masak banyak sekali" Rio duduk dikursi yang bersebrangan dengan Viona. Dia melirik semua masakan Viona.
Sangat menggiurkan. Baru lihat saja sudah bikin perut keroncongan.
"Sebenarnya, aku Hobi masak juga, Yo"
"Oh, ya? Sejak kapan?"
"Udah lama, sih. Yah... dari sejak SMA lah kira-kira" Viona mengambil makanannya.
"Nona belajar masak dari mana?" Rio pun ikut mengambil makanan dan ditaruh dipiringnya. "Pasti Nona sekolah masak, ya?"
"Sekolah masak?" Viona tersenyum geli. "Aku gak pernah sekolah masak, Yo. Aku belajar masak dari Mama" Rio hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Ternyata tebakannya salah.
Mereka makan malam bersama dalam hening. Hanya terdengar suara sendok, garpu yang bertentangan dengan si piring. Tak ada yang bersuara sampai mereka selesai makan.
....
"Maaf, Nona. Saya pulang dulu. Ibu saya menelpon. Dirumah ada saudara yang berkunjung. Jadi saya harus pulang" ujarnya pada Viona yang barus selesai mencuci piring bekas makan mereka.
__ADS_1
"Ternyata Rio itu anak Mama juga yah" Viona cengengesan melihat Rio dengan geli. "Bukan anak Mama saja. Tapi juga anak Papa" sahut Rio cepat dengan tersenyum kikuk membuat Viona tertawa renyah. "Oh, kamu juga punya Papa? Aku kira kamu anak buangan.. haha"
"Mana ada anak buangan tampan begini?" Rio menyurai rambutnya kebelakang. Memasang wajah angkuh seolah menyombongkan diri bahwa dirinya memang tampan.
Viona tersenyum geli melihat tingkah Rio. Dia tak percaya jika Rio bisa diajak becanda sebagai teman yang asyik. Ya, setidaknya dirumah Marshal ini, Viona masih punya teman ngobrol.
Gelak tawa kembali pecah. Saat Rio dengan sombongnya mengangkat lengan. Menekuknya. Menunjukkan otot lengannya yang memang tercetak bagus. Membuat dirinya terlihat Macho. "Lihatlah, Nona!" Viona meneliti ototnya. "Mana ada anak buangan punya otot seindah ini.. hahaha" Viona kembali tertawa. "Itu otot tercetak karena kamu pernah jadi kuli panggul kali.. haha"
"Kuli panggul?" Rio mengangkat satu alisnya. "Mana ada kuli panggul tampan, macho seperti saya. Bisa-bisa semua karung yang saya panggul, pada ambrol. Sangking terpesonanya melihat ketampanan saya"
"Karung aja terpesona, apalagi dia.. hahaha"
kedua kembali larut dalam gelak tawa. Hingga Viona kelelahan. Memegang perutnya. "Udah, ah. Katanya mau pulang. Kok malah nyombongin diri" Rio tersenyum kikuk. Pipinya terasa pegal akibat tertawa bersama Viona.
Nona ternyata orangnya seru juga. Bisa diajak becanda..
Satu lagi yang Rio tahu dari Viona. Ternyata Viona orangnya sangat menyenangkan. Dan juga ternyata ekspresi Viona saat tertawa membuat aura kecantikannya semakin terpancar. Viona sangat baik, ramah, dan juga asyik untuk dijadikan partner humor.
"Nona tidak apa, jika saya tinggalkan. Soalnya tuan kan belum pulang?"
"Hm, enak ya. Udah makan pulang" sindir Viona membuat Rio gelagapan. Benar juga sindiran Viona. Setelah kenyang, langsung pamit. Tak tahu diri sekali. Tapi mau bagaimana lagi, ibunya menelpon untuk segera pulang. Jadi dia harus cepat pulang. Tapi tadi Viona juga kan yang mengingatkan Rio untuk pulang?
"Nona tidak apa, jika saya tinggalkan. Soalnya tuan kan belum pulang?" ulangnya kembali
"Aku tidak apa. Tenang saja. Lagian disini juga banyak yang jaga"
Rio mengangguk dan pamit untuk pergi. Sedangkan Viona, dia naik kelantai atas. Menuju kamarnya. Tak lupa untuk melaksanakan sholat isya yang belum ia tunaikan. Setelahnya ia mengganti pakaian dengan piyama tidur.
_______
Amanda baru selesai. Semuanya Marshal yang bayar. Pengeluaran sebesar apapun tak masalah bagi Marshal. Asalkan kekasihnya senang, dia akan menuruti apapun kemauan Amanda.
"Udah?" Tanya Marshal pada Amanda setelah membayar semua belanjaan Amanda.
"Udah kayanya. Aku udah cape. Pengen pulang aja" Amanda kembali bergelayut manja ditangan Marshal yang menjingjing barang bawaannya.
"Babe. Istri kamu gak marah kan kamu pergi sama aku?" Mereka kini berada didalam mobil Marshal. Marshal mengantarkan Amanda pulang.
"Gak. Dia gak akan marah." Sahutnya sembari fokus menyetir dengan Amanda yang menyandar pada lengannya.
Amanda tahu betul Marshal telah menikah. Dan Amanda tak mempermasalahkan itu. Dia tahunya, Marshal menikah dengan Viona karena dijodohkan oleh orangtua Marshal. Ya, Marshal memang berbohong pada semua orang. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya pada Amanda.
Yang orang tua Marshal tahu, dia menikah dengan Viona karena saling mencintai. Dan yang Amanda tahu, Marshal menikahi Viona karena mereka dijodohkan. Namun kenyataannya, Marshal menikahi Viona karena balas budi dari tuan Heru. Bukan karena saling mencintai ataupun karena perjodohan. Sebenarnya ada alasan lain yang membuat Marshal ingin menikahi Viona. Alasanya hanya Marshal sendiri yang tahu. Dan dia tidak akan memberitahu siapapun soal alasannya ingin sekali menikahi Viona. Dia akan mengatakannya nanti. Setelah Viona sudah mencintainya. Katanya.
_____
"Huuhh!!" Viona menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Hari ini rasanya sangat lelah. Dia ingin beristirahat dengan tenang mumpung Marshal tidak ada pikirnya.
Sudah pukul 20:47 tapi Marshal belum pulang juga. Viona tak ambil pusing. Dia tak akan ikut campur urusan Marshal. Biarpun Marshal tak pulang sampai pagi pun, Viona tak peduli. Dia malah merasa senang, karena jika Marshal tak ada, dia bisa bebas dari kecanggungan juga ketakutan pada Marshal.
Saat ada Marshal, Viona akan lupa pada dirinya sendiri. Dia hanya akan patuh pada Marshal. Dia akan diam, tak banyak berbicara. Dan, dia sudah pasti akan seperti orang lain jika sudah berhadapan dengan Marshal.
Sebenarnya, Viona memang gadis baik, ramah juga periang terhadap semua orang. Viona memiliki jiwa yang aktif, supel dan mandiri. Dia sangat suka berpendapat. Dan kadang keras kepala juga. Tidak suka dikekang. Dan banyak bicara jika keinginannya ditentang orang lain. Viona tidak suka dikekang, namun bukan berarti Viona gadis yang pembangkang. Orang tua Viona sangat possesiv padanya. Suka melarang ini, melarang itu. Mereka kadang menolak keinginan Viona. Dan Viona tak suka itu. Namun bukan berarti Viona akan membangkang, dia akan melakukan berbagai cara halus sampai keinginannya terkabul. Jika keinginannya tidak disetujui juga oleh Papanya, dia tidak akan membantah. Melainkan akan pasrah dan patuh pada ucapan Papanya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1