
"Ada apa, Yo?" tanya Marshal heran melihat Rio yang terlihat cemas di depannya.
"Euh, ini Tuan. Nona mengirim pesan."
"Apa katanya?"
"Saya harus membujuk Tuan supaya mengizinkan nona pergi." Marshal tersenyum. Ternyata Viona tidak menyerah, bahkan malah menyuruh Rio.
Pesan masuk kembali dari Viona. Rio terkejut, setelah melihat isinya. Ada screenshoot-an profil dan nomor Lena di sana, disertai pesan susulan.
'Aku bisa menghubungi Lena dan menghasutnya, bahkan aku bisa membuat kalian putus hubungan. Itu bukan hal sulit bagiku, kamu mungkin tahu ceritaku yang bisa merusak hubungan orang lain, tentang Frans. Dan itu berlaku juga padamu.' Diakhiri emotikon setan menyeringai membuat Rio berdebar.
Jelas ia masih ingat, Viona pernah bercerita jika dia selalu membantu Frans yang playboy, dalam mengurusi pacarnya. Tak jarang Viona juga menghasut para wanita itu agar memutuskan Frans, dan selalu berhasil. Mengingatnya saja Rio jadi bergidig ngeri. Hubungannya dengan Lena bahkan baru sebentar, masa harus segera berakhir hanya karena majikannya yang balas dendam karena tidak mendapat izin pergi ke salon dari suaminya.
Rio langsung menghubungi Viona saat itu juga. Dia tidak peduli dengan Marshal yang melihatnya heran.
"Apa, Rio? Cepat lakukan! Jangan menghubungiku lagi!"
Marshal memukul lengan Rio pelan. "Siapa?" bisiknya penasaran.
Tidak menjawab pertanyaan dari Marshal, Rio menjauhkan ponsel dari telinganya, mengaktifkan loudspeaker.
"Rio, aku bisa melakukan apapun ya."
Marshal menatap Rio tidak terbaca saat mendengar suara istrinya yang tegas.
"Nona tahu dari mana nomornya?" Rio terdengar sangat cemas, Marshal bingung melihatnya. Hal apa yang membuat Rio sampai segelisah itu?
Terdengar Viona tertawa sangat keras, seperti sebuah ejekan. "Jangan meremehkan aku tentang hal ini! Pokoknya kamu harus membujuk tuan! Atau aku akan bertindak sekarang juga." Rio mulai panik, meraup wajahnya dengan kasar.
Kenapa Nona jadi menyeramkan seperti ini? batin Rio.
"Aku tunggu lima menit, jika tidak juga diizinkan, aku akan bertindak"
"Tapi, Nona …."
"Oke, sepuluh menit."
Tut
Tut
Tut
Rio lemas seketika saat panggilannya terhenti. Dia melirik Marshal yang sedang menatapnya dengan tajam meminta penjelasan.
Rio bingung. Apakah dia harus melakukannya? Tapi, bagaimana jika Marshal tetap tidak mengizinkan? Bisa hancur hubungannya dengan Lena. Tapi, jika dia membujuk Marshal, dia tidak yakin Marshal akan mengizinkan.
"Ada apa di antara kalian? Dia mengancam apa padamu?"
Rio menghela napas, tidak mungkin mengatakannya pada Marshal. "Tuan, izinkan saja nona pergi. Lagian nona hanya pergi ke salon, tidak masalah, kan? Izinkan saja, Tuan!" ucap Rio dengan mengiba, dia terlihat penuh harap.
Marshal menatap Rio tajam, dia bingung mengira-ngira, ada apa di antara Rio dan Viona? "Ancaman apa yang dia katakan sampai kamu takluk padanya seperti ini?"
Rio menggeleng, tidak mungkin mengatakan hal pribadi pada Marshal. "Bukan apa-apa, Tuan. Tapi saya mohon, Tuan izinkan nona pergi, ya, ya!"
Marshal memincingkan mata melihat raut wajah Rio yang terlihat panik. Dia sangat penasaran, sebenarnya apa yang Viona lakukan pada Rio sampai membuat asistennya itu sangat cemas? "Jelaskan ada apa di antara kalian! Kenapa dia berani mengancammu?"
"Tuan, nanti saja saya jelaskannya, sekarang berikan dulu nona izin untuk pergi. Waktu saya hanya sebentar, Tuan." wajah Rio sangat memelas. Dia bahkan menangkup tangan di depan dada, memohon pada Marshal.
__ADS_1
Marshal semakin penasaran dengan ancaman Viona. Sekejam apa ancaman Viona hingga Rio memohon seperti ini. Hal pertama yang baru Rio lakukan pada Marshal selama mereka kenal.
"Tuan, bagaimana? Tuan mengizinkan nona, bukan?"
"Tidak. Aku tidak tahu di antara kalian itu ada apa, jadi aku tidak peduli Viona mengancammu sekalipun." Marshal beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan.
Rio mengejarnya dengan tergesa, waktunya tidak banyak lagi. Dia harus bisa membujuk Marshal supaya Viona tidak menghancurkan hubungannya dengan Lena.
"Tuan, tunggu dulu!" Marshal tak menghiraukannya, dia tetap berjalan menjauh dari Rio.
"Tuan, saya mohon izinkan nona pergi!" Rio berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Marshal.
"Kenapa aku harus mengizinkannya? Apa supaya kamu bebas dari ancamannya?"
"Iya. Eh, bukan. Supaya nona bisa melakukan perawatan sesuai keinginannya."
Marshal menghentikkan langkahnya, Rio pun mengikuti. "Suruh dia meneleponku dan membujukku dengan caranya sendiri!"
Marshal berbalik badan, kembali menuju ruangannya.
Rio menatap punggung Marshal dengan bingung. Tapi dia segera mengirim pesan pada Viona sesuai dengan apa yang Marshal ucapkan. Setelah selesai, dia kembali menyusul Marshal. "Tuan tadi mau pergi ke mana sampai aku lari menyusul langkahnya, kenapa dia malah balik lagi keruangannya?" gumamnya.
Tak berapa lama kemudian, setelah Marshal duduk di sofa sembari melihat pekerjaannya, dan Rio duduk di sampingnya dengan cemas, ponsel Marshal berdering. Viona yang menghubungi. Marshal melirik Rio sejenak, dia tersenyum. "Apa yang dia lakukan sampai kamu takluk seperti ini, Yo?" Rio hanya diam saja. Dia juga kesal, ancaman Viona membuatnya sangat ketakutan. Takut hubungannya dengan Lena berakhir.
"Halo, Tuan?" suara lembut Viona sudah terdengar.
"Apa yang kamu lakukan pada Rio? Dia sampai cemas seperti itu."
"Eh? Rio kenapa memangnya, Tuan?"
Rio memandang ponsel Marshal dengan horor setelah mendengar suara Viona karena lagi-lagi, panggilan di-loudspeaker sehingga keduanya bisa mendengar.
"Jangan mengancam Rio seperti itu! Kasian dia jadi gelisah. Dia sangat takut pada ancamanmu." Marshal tersenyum geli melihat Rio yang mendengus mendengar ucapannya.
"Tidak, Tuan. Siapa yang mengancam Rio? Saya tidak mengerti maksud Tuan."
Ingin rasanya Marshal tertawa terbahak sekarang mendengar Viona yang mengelak dengan tenang, padahal jelas dia melakukannya pada Rio sampai Rio terlihat panik.
"Oke, baiklah. Jadi kenapa kamu meneleponku?"
"Masih yang tadi, Tuan. Masalah Perizinan untuk pergi ke salon, hehe..."
"Berikan aku alasan yang kuat supaya aku bisa mengizinkanmu."
Viona menghela napas sebelum berbicara, "Tuan, saya harus melakukan perawatan tubuh sedikit. Akhir-akhir ini saya hanya tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan rumah. Tuan tahu sendiri 'kan--"
"Jangan berbelit-belit! Berikan alasan yang singkat"
"Baiklah. Saya melakukan perawatan demi Tuan."
Uwoekk... rasanya Viona pengen muntah diseberang sana.
"Demi aku?" Pikiran Marshal mulai menuju keharapan yang mengasyikan. Tapi, itu tidak mungkin Viona lakukan.
"Iyalah, Tuan. Apa saya salah jika melakukan perawatan untuk suami sendiri? Nanti Tuan juga yang senang jika tubuh saya terawat, bukan? Nanti jika Tuan menyentuh saya--"
"Stop! Di sini ada Rio"
"Eh? Hihi.. maaf saya tidak tahu. Emang Rio mendengarnya, ya?"
__ADS_1
Marshal tertawa, kenapa Viona bisa berbicara seperti itu, sampai menuju hal vulgar. Selama ini Viona tidak pernah berbicara semanis itu pada Marshal, bahkan jauh menuju hal vulgar seperti barusan. Marshal pun heran, tapi dia senang mendengarnya. Jika tidak ada Rio, akan sangat senang Marshal menanggapi obrolan mereka dengan sedikit guyonan yang menjurus. Tapi sayangnya ada Rio, mungkin nanti di rumah bisa dilanjutkan lagi.
Rio memasang wajah masam. Dia tidak nyaman mendengar obrolan pasutri. Dia iri.
"Jadi Tuan akan mengizinkan?"
"Belum," Marshal menghentikan tawanya. "bicaralah lebih manis padaku! Baru akan aku izinkan." Viona mendengus mendengarnya. Dia tidak mau. "Tidak mau, yasudah, aku tidak izinkan."
"Eh? Tapi di sana ada Rio." Marshal melirik Rio sejenak, dia mematikan loudspeaker-nya.
"Rio, bisa keluar sebentar!"
Rio mendengus, geleng-geleng kepala. Sepertinya akan ada lanjutan obrolan dewasa sampai dia diusir seperti itu. "Baik, Tuan. Saya akan ke kantin saja." Rio berlalu keluar ruangan. Tapi dia senang, itu artinya dia sudah terbebas dari ancaman Viona, bukan?
"Ayo lakukan!"
"Emang harus, ya, Tuan? Tapi kalau Rio dengar bagaimana?"
"Dia udah pergi" terdengar Viona ber'oh ria. "Katakan!"
"Seperti apa, Tuan? Bagaimana mengatakannya?"
"Katakan lebih lembut dari yang tadi!"
Viona menghela napas dalam. Tarik napas, embuskan. Tarik lagi napas, embuskan. "Tidak bisa, Tuan."
Marshal tertawa, sudah dia kira, jika disuruh mana mau Viona mengatakannya. "Kamu ingin mengatakannya di telepon, atau nanti saja di rumah dihadapanku langsung?" Viona langsung mematikan sambungannya secara sepihak.
.....
"Apa dia gila? Huh, meminta izin saja ribetnya minta ampun." Viona cemberut menatap ponselnya dengan geram. "Jika bukan tuan Marshal sudah ku robek mulutnya."
"Tapi kalo belum diizinin, aku gak mungkin pergi gitu aja. Bisa-bisa dia menghukumku dengan kejam nanti."
Ditatapnya layar ponsel yang menampilkan nomor Marshal dengan ragu. Hela napas sejenak, dan tekan nomornya. Panggilan tersambung.
"Apa?"
"Sayang, Tuanku, saya minta izin untuk pergi ke salon. Saya mohon izinikan saya pergi."
Marshal terpaku ditempat. Tertegun mendengar suara lembut Viona. Berkali-kali dia mengedipkan matanya guna meyakinkan bahwa yang barusan dia dengar bukan hanya angin lalu. "Katakan lagi!"
Viona mendecak, ingin rasanya dia melemparkan ponsel itu sekarang juga. "Tuanku sayang, saya ingin pergi ke salon. Harap Tuan mengizinkan. Nanti saya kasih sesuatu jika Tuan mengizinkan."
"Kasih apa?"
"Apa saja yang Tuan mau."
Marshal menyeringai. "Oke, aku izinkan."
"Yeesss... terima kasih Tuanku sayang. Bye, sampai ketemu di rumah. Jangan kerja terlalu capek!"
Sambungan terputus. Viona berjingkrak ria, senang akhirnya diizinkan. "Dari tadi kek, kan aku gak usah repot-repot ngancam Rio segala."
Viona bersenandung ria sembari memilih baju yang akan dikenakannya. "Repot banget ya udah jadi istri, ke mana-mana harus minta izin sama suami sampai harus membujuk dulu baru diizin-eh?" Viona teringat sesuatu. Dia mematung.
"Aaa... bodoh! Kenapa kamu tadi berkata seperti itu sama tuan Marshal. Aa.. bodoh, Tuan Marshal pasti kegeeran dipanggil sayang kayak gitu." Viona menangkup baju yang dipengangnya menutupi wajah. Dia jadi malu sendiri. Harusnya dia tidak seberani tadi sampai mengeluarkan kata-kata menjijikan.
Di seberang sana, tak hentinya Marshal tersenyum. Dia teramat senang mendengar Viona saat membujuknya. Tapi dia berharap jika apa yang dia dengar barusan bukan hanya sandiwara. Sudah terlalu sering Marshal terjebak dengan sandiwara Viona. Dan hal itu tidak boleh terjadi lagi. Ya, semoga saja apa yang barusan Viona katakan bukan hanya sekadar sandiwara.
__ADS_1
Marshal menyeringai saat otaknya menyarankan untuk meminta Viona bersikap lembut seperti tadi jika sudah sampai di rumah.