
"Sayang, kamu di sini ternyata."
Viona tersentak kaget saat seseorang memeluknya dari belakang. Dengan cepat Viona membalik badan. Matanya membulat sempurna melihat Marshal tersenyum lebar dan mencium keningnya.
"Tuan?"
"Apa, hm? Merindukanku?" Marshal mencium bibirnya tanpa permisi. Tangannya melingkar dengan posesif di pinggang Viona yang hanya terdiam. Masih kaget dengan kedatangan Marshal yang tiba-tiba. Bukankah suaminya sedang di luar kota? Kenapa sekarang ada di sini?
"Sayang, kamu sangat cantik sekali malam ini. Kamu berdandan khusus untukku, kan? Iya, hm?"
Kecupan-kecupan kecil mendarat di pelipis Viona. Marshal melirik pada Sendi dari sudut matanya. Tersenyum penuh kemenangan melihat wajah lawannya yang memerah. Tangan mengepal di samping paha. Tatapannya tajam melihat pada Viona. Mungkin Sendi marah karena Viona sama sekali tidak menolak perlakuan dari Marshal.
"Kenapa Tuan ada di sini? Bukankah baru pulang besok atau lusa?" tanya Viona masih tidak percaya jika yang ada di hadapannya adalah Marshal. Suaminya datang terlalu tiba-tiba, membuatnya sedikit kebingungan.
"Aku sengaja pulang cepat, supaya bisa menemanimu. Aku tidak mau ada laki-laki lain mendekatimu, Sayang." Marshal melirik sinis pada Sendi yang masih terdiam. Hatinya bersorak girang. Apakah Sendi akan mengaku kalah sekarang, setelah melihat semua itu?
Viona menoleh pada Sendi. Tersadar jika dia sedang bersama dengan laki-laki yang masih dicintainya. Melirik kembali pada Marshal yang masih melingkarkan tangan di pinggangnya. Dia takut suaminya marah, tetapi Marshal selalu mengumbar senyuman. Viona tidak paham. Jadi tidak enak melihat Sendi yang hanya terdiam.
"Sayang, aku lapar. Ayo cari makanan!" Marshal menarik Viona menjauh dari Sendi.
Viona hanya terdiam mengikuti langkah Marshal. Dia melihat ke belakang. Sendi memandanginya dengan nanar. Penuh kekecewaan di matanya. Viona semakin merasa bersalah. Tapi, dia tidak punya pilihan. Menuruti Marshal adalah satu-satunya yang harus dia lakukan jika tidak mau suaminya marah atau bahkan mungkin akan menghajar Sendi. Lebih baik cari aman, urusan Sendi nanti bisa dia selesaikan dengan baik-baik.
Membisu. Memandangi mereka yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras dengan perasaan hati yang begitu sakit. Bahkan dicium pun dia tetap menerima? Apakah Viona sudah berpindah haluan? Jika benar, maka Sendi bisa mati sekarang juga. Pantas saja beberapa hari ini Viona sulit dihubungi. Mungkin salah satu alasannya adalah itu.
Apa Viona sudah mencintai Marshal dan melupakannya? Dadanya semakin berdenyut nyeri. Tidak bisa membayangkan jika benar Viona sudah melupakannya. Dia tidak mungkin bisa menerima jika Viona lebih memilih laki-laki lain.
"Tuan," Viona melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Marshal. Kesal karena ditarik tanpa perasaan. "bisa tidak jalannya pelan-pelan? Saya takut tersandung."
"Tidak bisa. Aku sedang marah." Marshal kembali menarik tangan Viona. Semakin menjauh dari keramaian.
Viona kembali diam. Mengikuti Marshal ke mana pun dia membawanya. Tidak mau menyulut api amarah suaminya yang entah akan jadi seperti apa nantinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bersamanya?" Mereka berhenti jauh dari pusat pesta. Berdiri di dekat kolam yang ada di taman tersebut. Hanya ada cahaya lampu dan sinar rembulan menerangi. "Lupa dengan peringatanku?"
Viona menggeleng. Tangannya masih digenggam oleh Marshal sehingga dia tidak bisa menjauh sedikit pun. "Tidak, Tuan. Kami tidak sengaja bertemu. Saya tidak tahu jika Sendi ada di sini." Viona menunduk. Tatapan Marshal yang tajam membuatnya takut untuk membalas pandangan.
"Aku tidak ada bukan berarti kamu bebas, ya. Tapi, kamu malah mencari kesempatan untuk bertemu dengannya."
Viona menghela napas dalam. Sikap Marshal selalu saja seperti ini. "Kami tidak sengaja bertemu, Tuan."
"Walaupun tidak sengaja bertemu, seharusnya kamu menghindar, bukan malah mengobrol dengannya!" bentak Marshal dengan tegas.
Sangat tidak suka saat melihat Viona dekat dengan Sendi. Dia tahu karena sudah lumayan lama memperhatikan mereka dari kejauhan. Emosinya tersulut saat dia sempat melihat Viona tersipu ketika Sendi memujinya. Berbeda sekali di saat bersama Marshal. Beberapa kali Marshal memujinya, tapi Viona tidak pernah tersipu seperti itu.
"Aku tidak suka jika kamu masih dekat dengannya."
Viona tidak menghiraukan perkataan Marshal dan malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sorot matanya terlihat penuh rasa bersalah. Sangat sendu dan mulai berkaca-kaca.
"Lain kali jika tidak sengaja bertemu dengannya, kamu harus menghindar! Jangan malah meladeninya seperti tadi." Istrinya itu tetap tidak menghiraukan.
Perasaan kesalnya semakin menjadi. Marshal memeluk Viona dari depan sampai istrinya tersentak. Marshal tidak peduli. Dia hanya tidak ingin pandangan Viona terus tertuju pada Sendi dan semakin mengeratkan pelukannya. Menempelkan wajah Viona di dadanya.
Melihat hal itu hati Sendi semakin berdenyut nyeri. Kenapa Viona sama sekali tidak berontak? Apa benar, Viona sudah mencintai Marshal? Kenapa rasanya begitu sakit ketika melihat sang pujaan hati bermesraan dengan laki-laki lain. Sendi tidak terima. Dia tetap harus memperjuangkan Viona.
Dengan penuh emosi, Sendi berjalan ke arah mereka. Dia yakin, Viona pasti belum benar-benar melupakannya. Dia harus merebut kembali Viona ke dalam pelukannya. Marshal tidak boleh merebutnya begitu saja. Namun, langkahnya terhenti saat sudah berada dua meter dari mereka. Hatinya semakin hancur melihat Viona yang juga membalas pelukan Marshal. Tangan yang selalu dia genggam kini melingkar di punggung laki-laki lain.
Sendi mematung. Dia hanya bisa melihat punggung Marshal. Mereka berpelukan di depannya yang sangat berharap jika itu hanyalah sebuah mimpi. Dia beharap apa yang dilihatnya hanya sekelebat bayangan semu yang sebentar lagi akan hilang tertiup angin. Tapi, harapannya salah.
Apa yang dilihatnya memang kenyataan. Viona berpelukan dengan Marshal. Apakah dia harus mundur setelah mengetahui semua itu? Viona sudah menerima suaminya? Lalu melupakannya begitu saja? Sungguh sangat menyakitkan. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Rasa cintanya pada Viona masih sangat besar. Tidak mungkin bisa hilang begitu saja hanya karena melihat kemesraan mereka.
Perlahan namun pasti, langkah Sendi mulai mundur menjauhi mereka. Hatinya panas. Raganya sakit melihat hal itu. Dia tidak bisa terus-terusan bertahan di sana melihat mereka. Sendi tidak mau perasaannya semakin terluka setelah tahu jika Viona ternyata lebih memilih suaminya.
Seringaian kecil terbit di wajah Marshal. Dia melihat pantulan Sendi yang kembali menjauh dari air kolam. Meskipun terlihat tidak jelas, tapi Marshal tahu jika itu adalah Sendi. Tidak sia-sia dia memaksa Viona untuk membalas pelukannya dengan sedikit mengancam. Itu semua dia lakukan untuk membuat Sendi marah. Karena Marshal menyadari jika tadi Sendi mendekat ke arah mereka. Dan sekarang laki-laki yang menjadi musuhnya itu telah hilang entah ke mana.
__ADS_1
"Kenapa Tuan ada di sini?" Viona melerai pelukan. Menengadah melihat pada Marshal. Raut wajah suaminya sulit dimengerti. Apakah masih marah atau tidak? Viona hanya berharap amarah Marshal segera mereda. Dia tidak mau mendapat kemarahan suaminya hingga sampai di rumah nanti.
Ternyata Marshal datang karena disuruh oleh Rahma. Tadi pagi Rahma meneleponnya supaya cepat pulang karena tidak membolehkan Viona datang ke pesta sendirian. Mertua Viona itu memaksa Marshal untuk segera pulang jika tidak mau, maka Viona akan dipulangkan ke rumah orangtuanya selama seminggu ke depan.
Mendengar ucapan Rahma tersebut, Marshal langsung memesan tiket dan segera pulang. Dia tidak mau kalau sampai nanti Viona dipulangkan ke rumah orangtuanya. Baru berjauhan dua hari saja Marshal sudah merasa kehilangan, apalagi jika sampai seminggu tanpa Viona. Marshal bisa uring-uringan nanti.
***
Sendi menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli beberapa pengendara lain membunyikan klakson bahkan ada yang memaki dirinya di tengah jalanan yang masih terlihat ramai karena hari belum terlalu malam.
Setelah melihat Viona berpelukan dengan suaminya, Sendi langsung meminta izin pada Arga untuk pulang duluan. Ayahnya itu bertanya dengan bingung kenapa Sendi sudah mau pulang padahal pestanya baru dimulai? Sendi tidak menjawab dan langsung pergi meninggalkan pesta begitu saja.
Arga tidak tahu dengan apa yang barusan terjadi padanya. Tidak tahu dan tidak akan pernah mengerti dengan perasaannya yang begitu hancur di saat melihat orang yang paling dicintainya lebih memilih pria lain.
Dia sakit hati.
Dia menderita.
Dia terluka.
Hatinya terlalu rapuh jika harus menerima tusukan secepat ini. Terlalu pedih matanya melihat semua yang barusan terjadi. Kenapa Viona jadi seperti itu? Apa benar Viona sudah menaruh hati pada Marshal dan melupakannya?
Sendi menambah kecepatan saat melewati jalanan yang mulai sepi. Dia tidak punya tujuan saat ini. Perasaannya terluka terlalu dalam. Semuanya sulit dipercaya jika Viona tidak lagi mencintainya. Apalagi saat melihat Marshal yang mencium istrinya penuh kasih sayang berbinar di matanya, Sendi semakin meradang.
Kenapa harus secepat ini Viona berubah? Bahkan Sendi belum memperjuangkan apapun untuk mendapatkannya kembali. Tapi, Viona sepertinya sudah sulit untuk dia jangkau lagi. Viona bahkan mengacuhkannya saat ada Marshal. Apa Viona tidak menghiraukan kehadirannya di sana? Tidak memperhatikan betapa terlukanya Sendi melihat dia bahkan berpelukan dengan suaminya?
Arghh! Apa yang harus Sendi lakukan sekarang? Rasa sakit ini terlalu perih menyayat hati. Terlalu tajam membelah jiwa. Viona sungguh berhasil membuatnya terluka. Membuatnya kehilangan semua impian yang bahkan belum ada satu pun yang bisa dia wujudkan.
Apakah dia harus menyerah sekarang? Penikaman ini terlalu sadis dibandingkan mengetahui Viona menikah di belakangnya. Memikirkan Viona sudah mencintai suaminya, itu adalah hal yang paling menyakitkan. Sendi tidak bisa menerima itu. Tapi, apakah ada harapan jika dia berjuang kembali maka Viona masih bisa mencintainya? Ia tak yakin. Melihat sikap Viona bersama suaminya, itu sudah cukup menjawab bagaimana perasaan Viona saat ini.
"Lebih baik aku mati saja, Vi. Kamu mungkin sudah merasa bahagia bersamanya." Mobil yang dikendarainya semakin cepat melaju. Tidak peduli akan maut tiba. Tidak peduli bagaimana nantinya. Dia lelah. Dia sudah tidak punya tujuan hidup lagi. Wanita yang dicintainya kini telah berpaling. Untuk apa dia hidup di dunia ini?
__ADS_1