
Helaan napas lega terdengar begitu jelas mengisi kamar. Viona mengusap dadanya yang berdebar. Dia harus berterima kasih pada Rio. Sekarang Marshal pergi untuk menemui tamu yang ternyata adalah ayahnya yang datang. Keberuntungan baik untuk Viona. Hampir saja dia melepas masa gadisnya.
Sebelum keluar dari kamar, Marshal memang terlihat sangat emosi pada Rio. Namun, setelah asistennya mengatakan ada Wisnu datang, Marshal langsung meredam, walaupun tetap tertahan.
Viona keluar dari kamar setelah lama terdiam mengembalikan kesadarannya yang sempat oleng karena ulah Marshal. Dia tidak bisa menolak, karena jujur, dia terbuai dengan permainan yang Marshal berikan padanya. Selama ini Viona selalu saja menolak, tapi untuk kali ini semuanya berbeda.
Hanya ciuman. Itu yang dia pikirkan, makanya Viona memberikan kesempatan pada Marshal untuk melakukannya. Tapi, untuk hal lebih, Viona pun sebenarnya belum siap dan masih merasa takut menghadapinya.
Saat turun ke lantai bawah, keadaan rumah terasa sepi. Tidak ada orang sama sekali. Viona memutuskan untuk pergi ke dapur, mengambil minum atau mungkin makan untuk menghilangkan perasaan yang tidak menentu. Bahkan jantungnya masih saja berdebar tidak beraturan jika mengingat hal tadi.
"Tuan sama papa ke mana?" Ternyata di dapur ada Rio yang sedang duduk di bar stool. Viona pun ikut duduk di samping asisten suaminya. "Katanya papa datang, kenapa gak kelihatan?"
"Mereka berbicara di ruangan Tuan, Nyonya," sahut Rio pelan, setelah menyesap kopi yang masih terlihat mengepulkan asap halus ke udara.
Viona menganggukkan kepala, paham. "Sepertinya ada hal penting sampai papa datang malam-malam begini."
Rio mengiyakan dengan anggukan. Marshal dan ayahnya memang sedang membicarakan hal serius, sehingga Rio pun tidak mau ikut campur dalam urusan mereka. Bukan masalah pekerjaan, namun ada masalah lain yang sedang dihadapi oleh Marshal.
"Apa saya boleh bertanya?"
Viona yang baru saja bangun untuk mengambil minum, kembali duduk dan menunggu Rio mengutarakan pertanyaannya.
"Tadi saat saya ke atas, tuan terlihat marah. Tuan kenapa, padahal saya tidak berbuat apa-apa?"
Seketika wajah Viona merona. Mana mungkin dia menjelaskannya pada Rio. Viona hanya bisa mengedikkan bahu dan kembali beranjak mengambil minuman di kulkas. Apa yang terjadi antara dirinya dengan Marshal tadi, kembali berputar dalam memori. Dia malu. Viona sudah hilang kesadaran sampai dia mau mengimbangi kebuasan suaminya. Ah, kenapa sekarang semua rasa ini berbeda? Sebelumnya Viona selalu marah jika Marshal mengambil kesempatan, bukan malah merona seperti sekarang.
Rio terus mengikuti gerak-gerik Viona. Dia menantikan jawaban dari bibir istri majikannya, tetapi Viona tidak mengeluarkan suaranya dan malah khidmat menikmati minuman dingin yang baru dia ambil dari dalam kulkas. Dengan santainya, Viona duduk kembali di samping Rio, menyimpan minuman kaleng di atas meja bar.
"Kamu tenang saja, Rio," Viona mulai buka suara sambil memainkan embun dingin di pinggiran kaleng minumannya. "kamu tidak salah apa-apa. Tadi, tuan sedang marah padaku, makanya saat membuka pintu dia emosi."
Bukannya puas mendengar jawaban Viona, justru rasa penasaran Rio semakin timbul. "Kalia bertengkar, lagi?"
Viona menggeleng. Dia sebenarnya canggung jika harus menghadapi Rio saat ini, karena kejadian tadi selalu saja teringat jika dia mengingat suaminya. "Hanya masalah biasa, Yo. Tidak usah dipikirkan. Biasalah, kita sering beda paham, kan."
Rio mengangguk-anggukan kepala, paham dengan ucapan majikannya. Dia tidak tahu saja, jika ucapan Viona hanya pengalihan supaya Rio tidak tahu apa yang terjadi antara Marshal dan istrinya.
"Saya lebih senang, jika tuan dan Nyonya akur," ucap Rio, menyesap kopi sesaat, lalu menyimpannya kembali. "Saya harap, kalian terus akur dan bisa mempunyai anak secepatnya."
Viona baru mengangkat kaleng minumannya, langsung tersedak oleh ludahnya sendiri. Buru-buru dia teguk isi kaleng tersebut dengan cepat untuk meredakan tenggorokannya yang begitu syok mendengar ucapan Rio.
Asisten Marshal terlihat panik melihat Viona yang terbatuk-batuk setelah minum. "Biar saya ambilkan air hangat."
__ADS_1
Viona segera menahan Rio yang akan beranjak. "Tidak us-uhuk, uhuk... aku baik-baik sa-uhuk!"
Rio tidak peduli dengan larangan Viona. Dia tetap beranjak untuk mengambil air putih hangat dan segera memberikannya pada Viona yang masih terbatuk.
Setelah tenang, batuknya terhenti, Viona menatap tajam kaleng minumannya. Dia lupa jika minuman yang dia ambil terdapat buliran dan kelapa halus di dalamnya. Saat tersedak, dia langsung meneguknya tanpa mengunyah buliran-buliran tersebut, sehingga membuatnya kembali tersedak.
"Ucapanmu sangat menakutkan, Yo. Aku sampai tersedak."
Alis Rio terangkat melihat Viona yang mengusap-usap lehernya serta meminum kembali air hangat pemberiannya. Viona bilang ucapannya menakutkan, padahal ucapan Rio hanya kalimat biasa.
"Memangnya ucapan saya kenapa, Nyonya?"
Viona membuang napasnya kasar, sebal melihat Rio. "Jangan membicarakan anak padaku!"
"Memangnya kenapa? Apa Nyonya tidak ingin mempunyai anak? Kalian menikah sudah lumayan ada waktu, tapi saya belum mendengar Nyonya ngidam," ujar Rio dengan polosnya.
Viona memukul lengannya pelan sambil menggerutu, "Ucapanmu seperti ibu-ibu komplek. Ck! Kamu pikir punya anak itu mudah apa?"
"Bukankah membuat anak itu memang mudah? Saya yakin, tuan pintar mengolah adonan sampai mengembang. Tapi, sampai sekarang, Nyonya belum terlihat mengembang." Rio melirik perut Viona yang terhalang piyama yang dipakainya.
Viona tidak kuasa menahan tawa. Rio yang dia anggap bijaksana dan bisa jadi teman yang baik untuk bicara, ternyata bisa juga berkata konyol seperti itu. "Kamu pikir anak itu kue bolu? Hei, Bung, anakku tidak akan terlahir dari bahan terigu, telur, dan baking soda." Tawa Viona menggema mengisi kehampaan suasana dapur.
Rio pun ikut terkekeh melihat Viona tertawa lebar. Tawanya begitu renyah sampai Rio pun ikut tertular.
"Selir?" Nama si pemanggil yang tertera di sana. Viona menatap Rio dan ponsel bergantian. Dia tertawa geli melihat wajah Rio yang mulai pucat setelah menghentikan tawanya. "Kamu punya selir?"
Rio hanya memandang Viona gugup dan terlihat bingung. Melihat lagi layar ponsel yang masih menyala dengan nama pemanggil yang sama. Dia ragu untuk menerima panggilan tersebut karena ada Viona di sana.
"Cie, yang punya selir," ejek Viona menoel-noel lengan Rio dengan ujung telunjuknya. "Angkat, gih! Selirnya rindu kakanda itu."
Rio masih diam saja. Tidak mengambil ponsel maupun menerima panggilan tersebut sampai layar ponsel tidak lagi menampilkan nomor si pemanggil.
"Yah, kok, gak diangkat?"
Tidak lama kemudian, ponsel Rio kembali berdering. Masih menampilkan nomor yang sama. Viona tersenyum lebar dan mengambil ponsel Rio, berniat untuk menerima panggilannya. Karena sang pemilik ponsel seperti tidak berminat untuk menerimanya. Namun, Viona tidak sempat menggeser panel hijau, karena Rio segera merebut ponsel tersebut.
"Jangan diterima, Nyonya! Nanti tuan marah," ucap Rio terlihat gelisah.
Viona tidak paham. "Itu 'kan selirmu, kenapa bawa-bawa nama tuan? Heh, kamu mau mengelak, ya? Ciah, Rio malu-malu kalo punya kecengan. Jadi, pacarmu selain si Lena, ada lagi yang lain? Huh, kasihan Lena di diselingkuhi." Viona tergelak kembali dalam tawanya.
Rio segera mematikan ponsel dan memasukannya ke dalam saku celana. Dia membuang napas gusar melihat Viona yang masih terus mengejeknya. "Itu selir tuan."
__ADS_1
Tawa Viona berhenti seketika, menatap Rio tajam. "Selir tuan?"
Dengan ragu Rio mengangguk pelan. Menghela napas kembali dan segera membuang muka seraya mengangkat gelas kopi dan menyesapnya.
"Tuan punya selir maksudmu? Siapa?" Rio hanya diam, masih membuang muka membuat Viona semakin gereget, dirundung penasaran. "Jika tuan punya selir, berarti aku juga termasuk selirnya?"
"Tidak," Dengan enteng Rio menjawab, masih memalingkan wajah sambil sesekali menyesap kopinya. "Nyonya permaisuri satu-satunya. Tidak ada yang lain."
Viona mengulum senyum. Rio sepertinya terlalu banyak membaca cerita karajaan. Sebutannya sampai seperti itu. "Lalu selir tadi? Kamu bilang selir tuan, tapi sekarang kamu bilang tidak ada. Jadi bagaimana?"
Rio kembali melihat pada Viona. Menyimpan gelas kopi yang sudah tandas isinya. Melihat Viona yang tenang, Rio jadi sedikit lega dan tidak terlalu gugup menghadapinya.
"Itu dulu, sekarang hanya Nyonya. Serius, tuan hanya punya satu. Selir yang itu, sudah tereliminasi."
Viona tertawa geli. "Kamu itu ngomong apa, sih?" Dia memukul pelan lengan Rio dengan gemas. "Jadi, bagaimana? Tuan punya selir atau tidak? Dan apa maksudnya itu ... kenapa tereliminasi?"
Rio mengangkat kedua jari telunjuknya di depan Viona. Dia menempelkan kedua telunjuk itu, lalu memisahkannya. "Mereka sudah seperti itu sekarang. Nyonya tenang saja, mereka sudah berpisah."
Viona justru mengernyit. Dia tidak paham dengan maksud ucapan Rio yang berbelit-belit. "Apa itu artinya, tuan sudah menceraikan dia?"
Dengan ragu asisten Marshal itu mengangguk setelah lama berpikir. "Bisa jadi," ucapnya pelan penuh keraguan.
Mata Viona membelalak kaget. "Serius kamu, Yo? Berarti selama ini aku di madu?!" Emosi Viona naik seketika. "Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu?"
Rio terlihat takut menghadap Viona. Dia segera memalingkan wajah dan beranjak menuju sink, menyimpan gelas bekas kopinya tadi. "Lebih baik Nyonya tanyakan saja pada tuan, saya tidak mau ikut campur," ucap Rio, memunggungi Viona sambil mencuci gelasnya.
Mendengar ucapan Rio, Viona menggertakan giginya dengan geram. Jika benar Marshal punya selir, berarti Viona bukan satu-satunya istri yang dia punya. Viona marah. Bisa-bisanya dia di madu.
"Rio apa-"
"Saya tidak tahu, Nyonya. Lebih baik tanyakan langsung pada tuan! Saya tidak bisa menjelaskannya."
Viona langsung berdiri dari duduknya. "Aku akan menanyakannya pada tuan."
"Eh," Rio cepat menyimpan gelas yang sudah bersih di tempatnya. "tapi jangan membawa nama saya, ya! Nyonya jangan bertanya terlalu berlebihan, nanti tuan marah!" Wajah Rio terlihat memelas.
Viona memicingkan mata melihatnya. "Kamu berbohong padaku? Selir siapa yang menelpon tadi sebenarnya?"
"Selir tuan." Rio mengangkat tangan, memperlihatkan kesungguhannya lewat jari telunjuk dan tengah teracung membentuk huruf 'V'. "Tidak mungkin saya punya selir, menikah saja belum pernah."
"Awas kalo kamu bohong, Rio!"
__ADS_1
Viona segera pergi ke kamarnya dengan emosi yang tertahan. Dia akan menanyakannya pada Marshal, nanti jika suaminya sudah beres urusan dengan Wisnu. Enak saja, seorang Viona di madu? Huh, memangnya dia wanita seperti apa? Kenapa juga dia tidak tahu jika Marshal punya istri lain. Padahal mereka menikah sudah tiga bulan. Jika benar Marshal berpoligami, Viona akan laangsung menuntut cerai padanya. Dia tidak mungkin mau punya suami yang tidak cukup dengan satu istri. Lihat saja nanti!