
Malam telah larut. Marshal masih berada di kantornya, mengurusi sebuah lampiran yang baru saja disetorkan oleh Rio padanya. Pekerjaan terakhir untuk hari ini yang harus dia urusi. Sungguh, harinya sangat melelahkan dengan banyak perkerjaan.
"Nyonya menghubungi, Tuan," lapor Rio, melihat ponsel yang tergelat di atas meja kerja majikannya. Sedang Marshal duduk di sofa yang sedikut jauh dari tempat kebesaran. Rio mengambilkan ponsel itu setelah diperintah dan memberikannya pada sang majikan.
"Sepertinya nyonya sudah rindu. Dia kesepian dan ingin tidur tapi tidak bisa." Marshal tersenyum sambil membayangkannya. Dia menerima ponsel dari tangan Rio dan menekan panek hijau untuk menghubungkan sambungan. "Ya, Sayang?" Lembar lampiran dia simpan sejenak dalam meja. Memberikan alih pekerjaan pada sang asisten yang hanya terdiam memperhatikan.
"Kapan pulang?"
Ternyata benar. Nyonya merindukannya. Marshal tersenyum bahagia. Rasa lelah menguap begitu saja mengharap apa yang dia inginkan ternyata menjadi kenyataan.
"Mungkin sebentar lagi, Sayang. Aku akan menyelesaikan pekerjaan dulu, baru pulang. Kamu tidur duluan aja. Jangan tunggu aku, ya!" Senyuman Marshal semakin lebar mendengar suara Viona yang mendesah kecewa.
Viona sudah takluk di tangannya. Dia mudah sekali rindu saat lama berjauhan dan akan semakin manja saat bertemu. Ah, rasanya Marshal ingin segera pulang dan memberikan ciuman bertubi di wajah istrinya. Rasa sayangnya terhadap Viona semakin besar. Apalagi sekarang dia tahu, Viona juga merasakan hal yang sama.
"Jangan pulang terlalu malam lagi! Pekerjaan memang penting, tapi kamu juga butuh istirahat, Chal."
"Iya, Sayang. Terima kasih perhatiannya. Yasudah, aku bereskan pekerjaan dulu supaya cepat pulang, ya. Kamu tidur duluan. Aku akan segera sampai di rumah." Senyuman tetap mengembang, meski panggilan telah berakhir.
Menikah dan mempunyai istri seperti Viona ternyata menyenangkan. Terlebih rasa telah berbalas. Kepulangannya ada yang menunggu dan itu rsanya sangat-sangat membahagiakan. Zahra, betapa Chal semakin mencintaimu, Sayang.
***
Sampai di rumah pukul satu dini hari. Rumah kelihatan sepi dan Marshal langsung pergi ke kamarnya, setelah menyuruh Rio untuk segera beristirahat. Tujuannya hanya ingin melihat Viona. Dia merindukan istrinya. Sangat.
__ADS_1
"Sayang?" Ternyata sang istri tengah lelap dalam tidurnya. Marshal menutup pintu dengan pelan, takut suaranya mengganggu tidur Viona. Dia melangkah perlahan dan pergi ke kamar mandi. Membersihkan diri dulu, baru setelah itu dia bisa mendekap Viona seerat mungkin dan memberikannya ciuman sepuas yang dia mau.
Berpakaian dan siap untuk tidur. Mandi telah usai dan dia kini sudah bersih. Marshal menghampiri ranjang, naik dan segera mendekap tubuh Viona yang memunggungi. Viona terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya, sehingga tidak menyadari kedatangan Marshal. Bahkan dipeluk pun dia hanya menggeliat sedikit dan kembali terlelap.
"Sayang." Marshal menyurukan wajah di tengkuk istrinya. Pelukan semakin erat dia berikan dan kecupan-kecupan ringan mulai mendarat di punggung Viona yang terbalut piyama berwarna merah muda, malam ini. "Aku pulang." Dia sedikit berbisik, namun bersuara tepat dekat dengan telinga istrinya.
Terasa tubuh Viona menggeliat lagi. Sebuah tangan menyentuh tangan yang melingkar di perutnya. Viona membalik badan dengan cepat. Tatapannya terlihat sayu, masih mengantuk. Namun, seulas senyum terbit di bibir saat Marshal memberikan kecupan hangat di pipinya.
"Chal ...." lirihnya serak. Tangan Viona bergerak memeluk leher Marshal. Kepala menyuruk di leher suaminya dan menghirup aroma maskulin yang segar. Viona kembali menutup mata rapat, tidak peduli dengan reaksi tubuh Marshal atas perlakuannya.
"Berapa hari lagi tamu bulananmu berakhir?"
"Gak tahu. Mungkin lima."
***
"Astagfirullah, Sayang ...." Marshal beristigfar lirih, menggelengkan kepala melihat Viona yang sudah sibuk dengan tanaman di halaman belakang. Padahal hari masih pagi. Dia saja belum berangkat bekerja, tapi tangan istrinya sudah belepotan dengan tanah. "Ngapain?"
Viona memberikan cengiran lucu, terlihat menggemaskan sambil mengangkat tangan yang kotor. "Tadi potnya jatuh. Aku benerin, bunganya buyar."
Marshal menghela napas dalam, kembali menggelengkan kepala. Dia mempekerjakan banyak orang di rumah. Pekerja kebun juga banyak. Tapi, kenapa istrinya selalu saja ngeyel ingin mengerjakan apa-apa sendiri?
"Sini!"
__ADS_1
"Sebentar." Viona pergi ke tempat kran dan membersihkan tangannya. Dia berjalan tanpa dosa pada Marshal yang terlihat kesal. Padahal hanya membenarkan tatanan pot yang jatuh. Tapi, Marshal melihatnya seolah Viona yang menjatuhkan pot itu. Terlihat galak.
"Lain kali, minta bantuan orang lain untuk mengerjakan hal seperti itu. Jangan dikerjakan sendiri! Kotor. Aku mempeker-"
"Iya, iya, iya!" Viona memotong, jengah. Jika dia mengerjakan apapun pasti diomeli oleh Marshal. Padahal Viona juga tidak masalah dengan hal-hal seperti itu. Dia senang melakukannya, karena di sana dia tidak punya aktivitas lain lagi. "Cuma benerin pot jatuh, Chal. Apa salahnya? Aku bisa membereskannya sendiri, Chal."
Mengomeli sang istri memang percuma. Viona si keras kepala itu tetap akan menang dan Marshal hanya bisa menahan diri untuk tidak memberikan larangan ini-itu lagi. Karena Viona pasti muak dan malah membantahnya. Viona tidak suka di nyonya-nyonyakan di rumah. Dia selalu ingin mengerjakan semua pekerjaan sendirian. Lalu, untuk apa Marshal punya banyak pegawai?
"Kamu gak suka, ya, aku seperti itu? Apa kamu jijik lihat aku kotor-kotoran, megang tanah kayak tadi?"
Tarik napas, embuskan! Marshal tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi wanita yang punya kebiasaan berbeda seperti konglomerat lainnya. Viona bukan dari kalangan rendahan. Bukan pula anak yang dititah untuk selalu punya kepribadian sederhana. Marshal jelas tahu bagaimana keluarganya. Dia berasal dari keluarga kaya raya dengan perlakuan yang cenderung memang dimanjakan. Tidak jauh beda dari keluarga lainnya yang setara. Tapi, kenapa bisa pribadi Viona seperti itu?
"Terserah. Aku hanya tidak mau kamu lelah. Aku harap, kedepannya, jika ada apa-apa, minta bantuan orang lain. Banyak pekerja di sini. Pekerjakan mereka! Bukan mempekerjakan diri sendiri seperti tadi."
"Iya-iya, Sayang, iya." Viona terlihat semakin jengah. Dia merangkul lengan Marshal. Menggiringnya untuk masuk kembali ke dalam rumah. "Kamu mau berangkat kerja, kan? Harusnya sudah berangkat, kenapa masih saja mengomeli aku?"
Tadinya Marshal juga mau berangkat bekerja. Tapi, istrinya tidak ada saat dia akan berpamitan. Jadinya dia mencari dulu dan ternyata Viona lebih memilih menyibukkan diri dengan tanaman jatuh, ketimbang mengantar suaminya sampai ke depan dan memberikan ritual rutin seperti biasanya saat Marshal akan berangkat bekerja.
"Sayang, seorang bos itu tidak boleh menekuk wajah. Harus terlihat cerah dan berwibawa." Viona berkata lembut, pelan dan sangat manis. Dia membenarkan dasi milik Marshal sambil tersenyum hangat. "Sudah rapi, tampan, masa mukanya masam. Coba senyum! Gimana senyumnya?" Tangan Viona terangkat. Kedua tangannya menarik pipi Marshal sisi kanan kiri supaya membentuk sebuah senyuman. "Mana senyumnya?"
Terpaksa Marshal tersenyum. Matanya melotot kaget dengan tubuh menegang merasakan kenyal, hangat dan lembutnya bibir Viona di bibirnya.
"Sudah. Sekarang berangkat."
__ADS_1
Marshal masih mematung di tempat merasakan efek luar biasa yang berikan istrinya. Ini terlalu manis. Terlalu tiba-tiba. Marshal tidak siap. Apa bisa adegannya diulangi sekali lagi supaya Marshal bisa mempersiapkan diri?