
"Ck, gak mau, Chal! Itu kebanyakan!"
"Gak apa-apa, Sayang. Biar rumah kita rame."
Perdebatan ini tidak akan pernah berakhir, jika keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Marshal bilang, ingin punya anak tujuh atau delapan, tapi Viona hanya menginginkan dua saja, tidak lebih.
Pulang dari rumah Miranda, pembahasan mereka di mobil hanya tentang anak. Viona membenci bahasan ini. Mengingat Marshal yang sudah ingin punya anak, dia jadi sedikit malas jika harus membahasnya. Karena tidak mau nantinya malah merembet dan Marshal jadi menuntunya untuk mau segera hamil. Sungguh, Viona tidak menginginkan hal itu.
"Padahal banyak anak akan menyenangkan," gumam Marshal yang masih bisa didengar oleh Viona.
Istrinya menoleh dengan kesal, lalu mendengus. Jika saja mempunyai anak semudah itu, semenyenangkan itu, dia pasti mau. Tapi, apa jaminannya? Mengandung dan melahirkan bukanlah hal yang mudah. Marshal seorang laki-laki mana mungkin terpikirkan akan hal itu. Dia hanya bercocok tanam, lalu menunggu benihnya berkembang dan keluar. Tidak akan serepot seorang istri.
***
"Tamu bulananmu belum pergi juga?" Wajah Marshal terlihat sendu melihat Viona yang akan masuk kamar mandi membawa baju ganti dan pembalut di tangannya. Padahal dia berharap malam ini bisa meminta jatah. Tapi, apa daya. Istrinya ternyata belum selesai dengan masalah bulanan. Waktu satu minggu terasa satu tahun bagi Marshal.
"Baru juga berapa hari, Chal." Viona berkata pelan dan masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Marshal yang langsung menghempaskan tubuh ke ranjang, mendesah kesal.
Menatapi langit-langit kamar, pikiran Marshal teringat dengan sahabat sekaligus kakak iparnya. Bagaimana jika Vino berhasil dengan proyek kecebongnya duluan? Masa iya Marshal harus kalah dari pengantin baruļ¼meski, pembukaan pabrik kecebongnya tidak jauh jaraknya, tapi tetap saja, Marshal tidak mau kalah.
Andai dulu dia tidak menyetujui untuk menunda, benihnya saat ini pasti sudah mulai berkembang. Marshal sangat yakin. Karena benihnya pasti premium dan sangat-sangat berkualitas baik.
"Geser!"
Tubuh Marshal tersentak. Lamunannya buyar. Viona sudah naik ke atas ranjang, berganti dengan gaun tidur yang sangat Marshal sukai. Dia sangat suka, jika Viona memakai pakaian tidur yang pendek di atas lutut dengan modelan gaun seperti itu. Saat tertidur, pakaian itu biasanya tersingkap dan sangat tipis terbuat dari bahan satin. Apalagi bagian dadanya yang rendah, seakan membiarkan sesuatu untuk mengintip, ingin menyembul keluar.
"Mata kamu tuh jelataan banget, ya."
Lagi-lagi Viona membuyarkan lamunan Marshal. Sebuah tangan menutupi matanya membuat Marshal hanya terdiam. Baru juga menikmati dada sang istri, tapi Viona sudah menyadarinya. Terpaksa, jika sudah diperingatkan seperti itu, maka dia akan menghentikannya. Karena Viona akan marah. Dia selalu bilang, jika dia sedang dalam masa haid, jangan macam-macam. Viona memang pengertian. Dia tidak mau Marshal berhasrat dan tidak bisa menuntaskannya.
__ADS_1
"Ini mata kalo sama perempuan lain begitu juga?" Viona terlihat kesal, menarik tangannya dari wajah Marshal. Suaminya dikelilingi banyak wanita cantik. Wanita mana pun bisa dekat dengannya dan mereka sangat seksi seperti Amanda, misalnya. Tidak kecil kemungkinan, jika dia memang suka bermain mata.
Marshal membenarkan posisi tubuhnya untuk berbaring miring menghadap pada Viona. "Tidak, Sayang. Aku hanya melihatmu saja."
Mulut Viona mencibir pelan, tidak percaya dengan ucapan suaminya. Dia menarik selimut hingga tubuhnya tertutupi sampai ke leher. Marshal mulai gombal. Dia laki-laki normal, mana mungkin tidak bisa menjaga matanya.
"Baiklah, aku mengaku," Marshal semakin mendekatkan diri pada Viona. Ingin memeluknya, tapi Viona tidak mau. "kadang-kadang aja, Sayang. Tidak setiap saat. Jika tidak sengaja terlihat."
Viona tidak mendengarkannya dan malah memejamkan mata. Kini dia tidak menolak saat Marshal ingin memeluknya. Dia diam saja dan mulai menyelami alam mimpi.
***
"Pagi, Nyonya Marshal!"
Viona mengerjapkan mata berkali-kali menyesuaikan cahaya yang menusuk retina. Jam berapa ini? Kenapa cahaya matahari sudah masuk ke dalam kamar?
"Chal ...." Viona berdehem sejenak. Bangun tidur suaranya tidak enak di dengar. Dilihatnya sekeliling, Viona hanya terdiam. Sebuah usapan lembut di kepala membuat Viona menengadah. Wajah Marshal terlihat sangat tampan pagi ini. Pakaiannya sudah rapi dengan setelan kerja, serta senyumannya yang malah semakin menambah pesona.
Viona membuka mata lebar. Dia bangun kesiangan. Seketika nyawanya terkumpul, menyadari jika dia telah membiarkan Marshal bersiap sendiri. "Maaf."
"Untuk?"
"Aku bangun kesiangan."
Marshal hanya tersenyum, masih mengusap kepala Viona. Dia menunduk dan memberikan kecupan di kening istrinya, lalu berdiri. Merapikan kembali pakaian dan tersenyum lebar. "Cepat bangun, sarapan dulu!" Viona hanya mengangguk ringan, terlihat enggan untuk beranjak. "Aku berangkat, ya."
Melihat istrinya kembali mengangguk, Marshal tersenyum, mengulurkan tangan untuk mencubit hidung Viona. Istrinya mencebik kesal, terlihat sangat lucu dan sayang jika hanya dianggurkan. Marshal kembali menunduk, mendekatkan wajah pada Viona, memberikan ciuman gemas di bibir istrinya.
"Sudah. Aku harus berangkat." Dia menyambar ponsel, memasukkannya ke dalam saku, setelah Viona menyalami tangannya. Masih dalam keadaan berbaring. "Dah, Sayang." Dia mengucapkan salam dan mulai membalik badan untuk segera pergi.
__ADS_1
"Chal!"
Badan Marshal membalik kembali dengan cepat. Alisnya terangkat.
"Kenapa berangkat kerja?"
Kini alis Marshal bertaut tidak paham.
"Katanya mau ngosongin jadwal, ajak aku jalan-jalan."
Seketika Marshal tertegun. Matanya terpejam erat disertai embusan napas kasar. Lalu dia menggeleng lemah. "Maaf, Sayang. Aku lupa."
Viona memutar bola mata mendengarnya. "Gak niat ngajak jalan-jalan, ya, pasti lupa," gumam Viona pelan sambil membuang muka.
Marshal bisa mendengarnya. Dia kembali menghela napas, mendekati ranjang. Viona malah tidak mau melihat padanya. Dia sungguh lupa, tidak sengaja melupakannya. Tapi, Viona sudah terlihat kesal, bahkan enggan bertatapan.
"Maaf, Sayang." Marshal duduk di tepi ranjang, memperhatikan perubahan sikap Viona yang marah. "Aku gak jadi berangkat kerja. Yuk, bangun! Kita jalan-jalan."
Viona melirik cepat, tidak percaya dengan ucapan Marshal. Diperhatikannya wajah Marshal yang nampak serius dan penuh penyesalan, dia hanya mendengus pelan. Jika Viona tidak mengingatkan, Marshal pasti benar-benar lupa. Dan janjinya untuk mengajal Viona jalan seharian pasti tidak akan pernah terjadi. Marshal memang begitu. Selalu saja sibuk dengan pekerjaan sampai istri sendiri pun dilupakan.
"Ayo! Katanya mau jalan-jalan." Marshal melonggarkan dasi di leher dan mulai melepas kancing jas yang sudah terpasang rapi. "Sayang?" Melihat Viona hanya diam, Marshal menggelengkan kepala. Istrinya merajuk? Lucu sekali. "Mau jalan-jalan atau aku temani kamu tidur seharian?"
"Jalan-jalan," lirih Viona, berusaha untuk bangun.
Marshal tersenyum, membantu istrinya. "Sebentar, ya." Dia mengambil ponsel dan segera menghubungi Rio. Pasti Rio sudah siap di bawah menunggunya untuk segera berangkat. Tadi, Marshal hanya mengatakan ingin melihat Viona sebelum dia pergi ke kantor. Sama sekali tidak ingat dengan janjinya hari kemarin.
Selesai menginfokan Rio, Marshal terdiam memandangi Viona yang hanya menatap datar padanya. Apa Viona masih kesal? Atau dia tidak bersemangat untuk pergi? Marshal harap Viona tidak akan marah berkepanjangan. Karena kemarahan Viona akan membuatnya tersiksa. Viona akan terdiam cukup lama, jika dia sedang marah. Dan Marshal tidak suka dengan suasana itu.
"Jadi pergi tidak?"
__ADS_1
Viona mengangguk pelan. Kedua tangannya terangkat ke arah Marshal. "Bantuin bangun, aku mau ke kamar mandi!"
Marshal terkekeh geli melihat wajah Viona yang memelas. "Manja!" Marshal mendekat dan menarik kedua tangan yang terulur. "Tapi, aku suka," bisiknya mesra, tepat di telinga Viona.