Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Petuah


__ADS_3

"Emm ... Dek, apa kamu sudah mencintai Marshal?"


Glek. Tuhkan! Viona mati kutu jika sudah ditanya seperti itu. Dia bingung harus menjawab apa pada Lina. Jika dia berbohong, jelas itu tidak boleh. Tapi, jika dia berkata jujur, itu juga tidak mungkin dia lakukan. Takut Lina malah semakin mengintrogasinya.


Lina memicing melihat reaksi Viona. Pikirannya langsung yakin jika Viona belum bisa mencintai suaminya. Mencintai seseorang memang bukan hal mudah dan Lina juga mengerti akan hal itu. Apalagi Viona menikah dengan Marshal karena terpaksa.


"Mama mengerti ... sudah, kamu tidak perlu mengatakannya. Mama juga tahu." Lina mengusap tangan Viona dengan lembut.


"Mama tahu apa?" Sok bingung, padahal dia tahu makna ucapan ibunya.


"Kamu belum mencintainya," tebak Lina disertai kekehan. Viona menunduk dengan malu. Yah, mothers always know what their children are thinking. Tidak aneh jika Lina bisa menebak apa yang ingin Viona katakan. "Mama juga dulu begitu ...."


Baru Viona mendongak, menatap pada ibunya. "Maksud Mama?"


Lina membenahkan duduknya untuk bisa menghadap pada Viona dengan nyaman. Dia menggenggam kedua tangan Viona yang berada di atas pangkuan. "Sedikit banyaknya, Mama merasakan apa yang kamu rasakan. Awal pernikahan Mama juga bukan karena saling mencintai."


Viona tercengang mendengarnya. Melihat Lina tidak percaya dengan pikiran menerka ke mana-mana. "Jadi, Mama sama papa ...."


"Ya. Tapi kasusnya berbeda," Lina menepuk-nepuk pelan punggung tangan Viona. "kami dijodohkan. Opa sama kakek kamu itu dari dulu sahabatan, jadinya berimbas pada mama sama papa, deh. Jadi kami yang dijodohkan demi mempererat silaturahmi antara opa sama kakek kamu."


Viona manggut-manggut mendengar cerita Lina. Dia baru tahu tentang kisah orangtuanya. Dikiranya Lina dan Heru menikah memang mereka saling mencintai, karena mereka selalu lengket sampai sekarang. Tapi, ternyata tidak. "Kok, aku gak tau, Ma? Mama maupun papa gak pernah cerita. Jadi, gimana ceritanya, Kok, Mama sama papa bisa saling mencintai seperti sekarang? Kok, bisa gitu?"


Lina tertawa. Mencubit pipi anaknya dengan gemas. "Ya, bisalah. Kalo gak bisa, kamu gak mungkin ada di dunia ini."


"Eh?" Viona jadi kikuk sendiri. Entahlah, dia memikirkan apa. Tapi, dia sangat tertarik mendengar kisah cinta orangtuanya itu. Apakah ceritanya dramatis seperti di novel-novel? Atau sangat ... ah, tidak tahu juga. "Gimana ceritanya Mama bisa cinta sama papa? Ceritain dong, Ma!" Viona menaikan kakinya ke atas ranjang. Duduk bersila menghadap pada Lina yang terus saja tertawa, padahal Viona sudah tidak sabar menantikan ceritanya.


"Kamu mau dengerin ceritanya, biar jadi inspirasi supaya kamu juga bisa mencintai Marshal?"


Raut wajah antusiasnya sirna seketika. Viona sampai mendengus. "Apaan, sih, Ma. Aku tuh pengen denger ceritanya aja, kali."

__ADS_1


"Denger ceritanya, apa cari tipsnya?" goda Lina menoel-noel lengan Viona.


"Mama, ih." Viona merajuk dengan lucu. Tidak ada niatan untuk mencari inspirasi, dia hanya penasaran dengan cerita orangtuanya, kenapa Lina malah berkata seperti itu?


Lina semakin keras tertawa. "Kamu kayak anak kecil," ledeknya.


Viona menatap Lina dengan jengah. Sudah serius dia siap menyimak, tapi Lina malah menggodanya. Ingin kesal pun Viona tidak bisa karena tidak mungkin dia kesal dengan ibunya sendiri. "Gak mau cerita juga gak pa-pa."


"Marah?" Lina tersenyum dengan geli. Sudah lama dia tidak melihat sikap kekanakan Viona. "Iya, deh, iya. Mama ceritain."


Viona kembali menegakkan duduknya. Menyiapkan telinga dengan baik. Diam menunggu Lina bercerita, seperti anak TK yang sedang dibacakan dongeng oleh ibunya.


Ternyata kisah kedua orangtua Viona itu tidak mudah. Mereka dulu saling cuek dan tidak peduli satu sama lain. Bahkan, Lina pernah mengajukan perceraian sangking tidak maunya menjalani pernikahan yang dingin. Tapi, semuanya berubah saat opa-ayahnya Lina meninggal, mengamanatkan supaya Heru menjaga dan mencintai Lina dengan baik. Perlahan sikap Heru juga berubah karena merasa diamanati barang berharga. Lina anak opa satu-satunya dan dia harus menjaganya sesuai amanah terakhir mendiang opa.


Lina juga mulai mengikuti perannya sebagai seorang istri karena dia sudah tidak punya tempat berlindung lagi. Setelah ayahnya meninggal, satu-satunya laki-laki yang bisa dia jadikan sandaran untuk berteduh hanya Heru. Dan semuanya berlangsung begitu saja. Perlahan cinta itu tumbuh dan mereka mempunyai anak, yaitu Vino. Dengan kehadiran Vino, semakin menguatkan cinta di antara keduanya dan sampai sekarang mereka selalu bahagia dan terlihat harmonis.


"Ooo ... so sweet!" puji Viona diakhir cerita Lina. Dia sampai berkaca-kaca. Terharu mendengar kisah cinta yang berakhir indah sampai membawanya ke dunia itu. Baru kali pertama Viona mendengarnya.


"Jadi," Lina kembali menggamit tangan Viona. Menepuknya pelan. "kamu juga pasti bisa bahagia dengan pernikahanmu. Mama yakin, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Asalkan kamu mau membuka hati, kamu pasti bisa meraihnya."


Viona hanya terdiam memandangi wajah penuh kasih sayang ibunya. Apa yang Lina katakan sangat tidak disukainya. Dia tidak akan membuka hati. Tidak mencintai dan tidak akan mencoba mencintai Marshal. Entah sampai kapan hal itu bisa dia pertahankan, tapi Viona selalu berharap jika dia tidak boleh sampai mencintai Marshal.


"Ngomong-ngomong ... gimana?" Lina mengerling. Tersenyum dengan arti lain melihat putrinya.


Viona mengernyit. Perasaannya mulai tidak enak saat Lina bertanya dengan makna tersirat dan kerlingan mata jahil seperti itu. "Gimana apanya, Ma?"


"Cucu mama," ucap Lina dengan antusias, "prosesnya udah sampai mana?"


"Hufhh ...," Viona mulai jengah mengahadap pada Lina. Dia memasang raut yang sangat tidak enak dipandang. "gak ada proses sama sekali, Ma. Pabriknya disita sama bank. Jadi, gak bisa memperoses," ucap Viona sekenanya.

__ADS_1


"Ih, kok, gitu? Masa gak ada proses? Emang tiap mal-"


"Mama," tegur Viona dibuat selembut mungkin. Tidak pernah menyangka jika Lina jadi seperti ini sikapnya. Sama seperti Rahma saat menanyainya soal cucu. Apa karena mereka sering bersama, jadi sikap Rahma menular, gitu?


Lina membuang napasnya kasar. Geleng-geleng kepala melihat Viona yang sudah pasti sedang jengah dihadapkan pertanyaan seperti itu. "Mama tahu kamu terpaksa. Tapi, mama 'kan sudah pernah bilang-"


"Mencoba menjadi istri yang baik dan melayani suami dengan niatan ibadah," lanjut Viona dengan cepat.


Masih ingat dalam benak kalimat yang Lina lontarkan saat berpisah dengannya di hari pernikahan. Viona dibekali kalimat yang disertai beberapa petuah yang membuat Viona mau tidak mau menuruti perkataan ibunya.


"Nah, itu kamu masih ingat." Lina tersenyum bahagia. Jika Viona mengingat kalimat itu, berarti Viona juga melakukan apa yang dia sarankan. "Kamu istri yang baik," pujinya mengusap wajah Viona dengan lembut.


"Istri baik apa, Ma? Aku tuh gak suka melakukan itu. Aku tersiksa. Apalagi saat tuan Marshal meminta ditemani tidur dan dia meluk aku. Aku gak suka, Ma. Sekuat tenaga menahan diri supaya menurut. Tapi, hatiku tetap tidak rela." Viona terdengar meradang.


"Niatkan karena ibadah, Sayang!"


"Ma," Viona mulai terlihat frustasi. "ibadah itu kalo akunya beneran ikhlas. Aku merasa wanita murahan, tau, Ma. Aku diam aja dipegang, dipeluk sama dia. Aku kayak gak punya harga diri banget. Aku gak suka diperlakukan kayak gitu."


Ibu dua anak itu menghela napas. Apa yang Viona dapatkan, pernah dia rasakan juga. Dia sangat paham dengan perasaan Viona. Tapi, dia tidak mau jika sikap Viona menurun seperti dirinya. Viona harus menjadi istri yang baik dari awal.


"Ma, semua aku lakukan karena menuruti perkataan Mama. Aku mau aja dipegang sama dia, padahal hatiku menolak habis-habisan sama sikapnya. Sampai kapan, Ma? Aku gak bisa terus-terusan menahan diri seperti itu."


Lina hanya terdiam mendengar Viona mengeluarkan semua unek-unek yang dia tahan selama seminggu ini. Dada Viona bahkan naik-turun seiring dengan emosinya yang mulai naik.


Dia menahannya seorang diri. Semua yang Viona lakukan karena terpaksa. Dia mau menuruti Marshal, menerima dan bahkan menghormatinya. Semua dia lakukan semata-mata karena keinginan Lina yang memperingatkannya saat hari pernikahan.


Sekuat jiwa dan raga Viona menahan semua ketidaksukaannya. Saat dipegang, dipeluk, diperintah, bahkan dicium oleh Marshal. Dia diam bukan berarti dia menerima. Hatinya menolak dengan tegas perlakuan itu. Tapi, otaknya selalu mengingat perkataan Lina supaya Viona bersikap baik pada Marshal dan melayaninya selayaknya istri yang baik dengan niatan ibadah. Tapi, tetap  saja Viona tidak bisa menerimanya dengan lapang dada. Rasa marahnya selalu muncul saat Marshal bersikap seenaknya. Viona selalu mencoba menahan diri seorang diri selama ini. Dan itu sangat menyiksa baginya.


"Dengerin Mama!" Lina mengunci pandangan Viona hanya menatap pada manik mata ibunya. "tidak ada harga diri yang terinjak maupun terlihat murahan di saat seorang istri melayani suaminya. Tugas kamu mulia, Sayang. Setiap apa yang kamu lakukan untuk suamimu, semuanya akan terhitung ibadah. Kamu tidak boleh seperti itu lagi! Kamu perempuan mulia. Meskipun awalnya terpaksa, tapi cobalah untuk mengikhlaskannya. Mama yakin, kamu bisa melakukannya."

__ADS_1


"Tapi, Ma-"


"Sstt, tidak ada tapi untuk menjadi istri yang baik. Tidak ada bantahan untuk ibadah." Lina tersenyum. Memandang Viona dengan lekat hingga Viona bisa melihat pancaran sinar kasih sayang yang melimpah dari matanya. "Rumah tangga yang bahagia kuncinya ada ditangan seorang istri. Di sini," Lina menunjuk dada Viona. "di dalam hati seorang istri yang selalu ikhlas menjalani perannya."


__ADS_2