Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Memuakkan!


__ADS_3

Viona menghela napas dalam. Kakinya sudah pegal dari tadi berdiri, jalan ke sana, jalan ke sini untuk menyapa orang-orang yang dikenal oleh suaminya. Meskipun tidak mau, Viona tidak bisa menolak saat Marshal meminta untuk menemaninya. Hanya pasrah dan memasang senyuman ramah setiap kali Marshal memperkenalkan Viona sebagai istrinya.


"Tuan, apa masih lama?" bisik Viona, berdiri di samping Marshal yang asyik mengobrol dengan mitra kerja ayahnya, sekaligus kenalannya juga.


Marshal meliriknya dengan tatapan tajam. Viona sampai menggigit bibir bawahnya. Dia paham kenapa Marshal meliriknya seperti itu, karena ini bukan hal pertama yang diberikan suaminya selama di pesta. Viona selalu salah memanggil, makanya Marshal selalu memperingatkan lewat sorotan mata tajamnya.


Dengan takut, Viona tersenyum dan semakin mendekat pada Marshal. "Sayang, apa masih lama?" ulangnya dengan terpaksa. Sebenarnya dia tidak suka jika sikap suaminya seperti itu. Tapi, karena di sana sedang banyak orang, Viona tetap harus menjaga perannya.


Melihat Viona yang tersenyum, Marshal langsung berpamitan kepada dua bapak-bapak yang berbincang dengannya. Mereka adalah salah dua pemegang saham di perusahaan milik Wisnu. Hanya itu yang Viona tahu. Selebihnya dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Selama ditanya atau diajak bicara, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Tidak banyak mengeluarkan suara karena obrolan mereka juga masih seputar pekerjaan. Viona tidak paham. Bahkan saat di pesta yang bebas seperti itu saja, mereka masih membawa profesi. Mereka sungguh pengusaha yang dominan.


"Michelle tadi ke mana?" tanya Marshal. Mereka berjalan beriringan melirik kiri kanan. Tersenyum saat berpapasan dengan orang yang dikenal.


"Michelle sepertinya sedang pacaran." Viona melingkarkan tangannya pada lengan Marshal. Sungguh menyebalkan! Selama pesta, dia harus terus memainkan drama. Bersikap manis bersama Marshal supaya orang-orang yang melihat mereka, berpikir jika mereka adalah pasangan yang romantis.


Memuakkan! batin Viona.


Langkah Viona terhenti karena Marshal yang berhenti duluan. Suaminya itu memandangi Viona dengan sorotan yang tidak bisa diartikan. "Michelle punya pacar?"


Viona memandangi Marshal sejenak sebelum dia mengedikkan bahu. "Tadi saya sempat melihatnya bersama laki-laki. Sepertinya mereka pacaran."


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Belum tentu dia pacarnya Michelle."


"Tapi tadi ...." Viona tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Mungkin memang seharusnya dia tidak langsung menyimpulkan seperti itu dulu. Siapa tahu laki-laki itu hanya temannya Michelle, kan?


Alis Marshal terangkat, menunggu kelanjutan kalimat istrinya. Tapi, Viona malah tersenyum dan menggeleng. "Saya juga tidak tahu, sih, Tuan-eh, Sayang. Mungkin hanya teman saja."


Memilih acuh dan kembali melanjutkan langkah. Mereka mencari keberadaan Rahma dan Wisnu yang entah di mana. Orang yang mengadakan pesta itu pasti sangat sibuk menyambut para tamu. Viona dan Marshal sampai kesusahan mencari mereka.


"Awsh!" Viona meringis. Langsung berjongkok untuk mengusap kakinya yang tersandung sebuah pot bunga yang ada di pinggiran jalan kecil menuju pusat pesta. Perasaannya jadi tidak enak. Dia melamun sampai tidak melihat apa yang dilewatinya.


"Kamu kenapa?" Dengan panik Marshal ikut berjongkok. Meneliti kaki kanan istrinya yang sedang Viona usap pelan.


"Kena pot." Viona meringis kembali saat Marshal menyentuh kakinya. Kaki bagian depannya terasa sedikit sakit. Marshal langsung membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


"Makanya, jalan yang bener. Sakit?" Viona mengangguk. Memegang tangan Marshal sebagai tumpuan. "Duduk dulu di sana!" Mereka melangkah menuju kursi yang kosong. Beberapa orang memperhatikan dengan tatapan bertanya-tanya. Marshal tidak menghiraukan dan mendudukan Viona di sana.


"Sudah tidak sakit, Tuan. Hanya tersandung." Viona menahan Marshal yang akan berjongkok di hadapannya sudah duduk. Suaminya itu menggapai kaki Viona. Mengangkatnya sedikit serta menelitinya.


Marshal mengangguk. Menurunkan kembali kaki Viona menapak tanah dengan pelan. "Jika sakit, bilang! Kita ke dokter."


Ingin rasanya Viona mencibir. Masa hanya tersandung sedikit saja harus ke dokter? Kakinya bahkan tidak patah atau memar sedikit pun.


"Kenapa? Sakit?" Marshal ikut duduk di samping Viona. Dia heran melihat Viona yang terdiam. Tatapannya kosong menghadap ke arah tempat di mana banyak orang yang sedang menikmati pesta.


Alunan lagu Beautifull in White terasa tenang didengar telinga saat dibawakan oleh seorang perempuan muda yang memakai gaun hitam. Bernyanyi dengan suara merdunya di atas panggung kecil di tengah pesta. Di sekitaran panggung terdapat beberapa pasangan yang sedang berdansa ria. Mereka terlihat bahagia menikmati pesta yang Wisnu adakan itu.


"Ra?" Viona menoleh dengan cepat. Marshal sampai membuang napas kasar. Beberapa kali dia memanggil istrinya, tapi Viona hanya melamun dari tadi. "Apa kakinya sakit?"


Viona menggeleng. Kakinya memang tidak terasa sakit lagi. Dia hanya merasa gundah. Entah kenapa, tapi perasaannya mulai tidak enak. Bahkan dia sudah tidak bisa fokus. Perasaan yang tidak jelas itu terlalu mengusai dirinya. "Apa acaranya masih lama, Tuan?" tanya Viona dengan pelan. Jika memanggil Marshal dengan sebutan seperti itu, dia harus pelan. Takut terdengar oleh orang lain.


"Kakinya sakit, ya?" Raut wajah Marshal terlihat sangat cemas. Mengusap lutut kanan istrinya. Dengan segera Viona menggapai tangan Marshal. Dia menggeleng. "Apa kamu sudah bosan? Mau pulang sekarang?" Istrinya itu mengangguk pelan.


Mereka beranjak untuk mencari keberadaan Rahma dan Wisnu. Tidak baik jika pulang begitu saja tanpa berpamitan.


Terdengar dengusan pelan dari mulut Viona. Sikap Marshal terlalu berlebihan. Dia tidak suka, tapi tidak bisa menolak dan membiarkan tangan Marshal merangkul pinggangnya dari samping dengan posesif. Beberapa pasang mata melirik dan tersenyum kepada mereka. Viona hanya membalas senyuman seadanya. Ada rasa malu dalam dirinya, tapi dia tidak bisa mengelak karena sikap berlebihan suaminya tersebut.


Viona menghentikkan langkahnya secara tiba-tiba membuat Marshal jadi heran dan ikut berhenti. Tubuh Viona mematung menatap ke depan. "Kenapa?"


Viona segera menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Marshal. Tatapannya tetap lurus ke depan. Marshal semakin heran melihat sikap istrinya. Dia hendak menggapainya tapi Viona malah menepis tangannya.


"Tuan mengajak orang lain ke sini?" Viona menghadap pada Marshal yang nampak kebingungan.


Alisnya terangkat. "Tidak. Kenapa memangnya?"


Tangan kanan Viona terangkat. Menjulur ke depan dengan telunjuk yang mengarah tempat masuk taman.


Deg. Marshal terbelalak seketika. Di sana terdapat wanita yang mengenakan jumpsuit berwarna marun dengan rambut digerai. Membawa tas tangan bewarna hitam. Pandangan wanita itu meneliti sekitaran. Seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


Amanda? batin Marshal.


"Tunggu di sini sebentar!" ucapnya pada Viona.


Istrinya hanya diam dan mengangguk. Melihat sekitaran dengan cemas, takut ada keluarga Marshal yang melihat kekasih suaminya. Meskipun apa yang dilakukan Marshal adalah sebuah kesalahan, namun dia sudah mengatakan tidak akan membeberkan masalah itu. Dia harus menutupinya, entah sampai kapan. Viona hanya menjalankan perintah dari suaminya.


"Manda," Dengan cepat Marshal menarik tangan Amanda untuk menjauh dari kemewahan pesta. Dia tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi. Tidak peduli Amanda yang masih terkejut serta berontak minta dilepaskan. "kenapa kamu ada di sini?"


Amanda menarik tangannya kasar dari genggaman Marshal membuat mereka menghentikkan langkahnya. "Kenapa memangnya? Apa aku tidak boleh datang ke pesta calon mertuaku sendiri?"


"Aku bertanya kenapa kamu ada di sini?" tegas Marshal menggenggam kembali tangan Amanda berniat membawanya keluar dari area taman. Tapi, Amanda tetap menolak dan menepis tangannya.


Suami Viona tersebut menggeram. Perasaannya sudah tidak karuan. Dia takut orangtuanya melihat Amanda. "Ngapain kamu ke sini?"


Ternyata Amanda mengikutinya sejak dari luar kota. Amanda merasa heran karena Marshal yang terburu-buru pulang padahal urusan pekerjaannya belum selesai. Dan bahkan menolak ajakan Amanda untuk pergi jalan-jalan sebentar di kota tersebut dengan alasan harus pulang cepat.


Kecurigaan mulai muncul. Amanda mengikuti ke mana pun Marshal pergi. Dia juga sempat mendengar obrolan Marshal dengan ibunya melalui telepon saat tidak sengaja Amanda masuk ke dalam kamarnya. Hatinya panas saat tahu jika Marshal buru-buru pulang karena harus menemani istrinya ke pesta yang digelar oleh Wisnu.


Amanda semakin merasa tersisihkan mengetahui hal itu. Marshal sampai rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk wanita sialan itu. Diajak jalan olehnya saja, Marshal menolak, tetapi kenapa saat disuruh menemani istrinya ke pesta dia tidak menolak dan langsung memesan tiket untuk pulang?


Apakah wanita sialan itu mulai menjadi kepentingannya? Amanda tidak terima. Bagaimana pun caranya dia harus bisa menjadi yang terpenting bagi Marshal untuk selamanya. Dia tidak mungkin bisa kalah dari Viona. Marshal masih mencintainya. Jadi, dia masih bisa memiliki Marshal seutuhnya. Yang menjadi halangannya hanya masalah restu, maka Amanda akan memperjuangkan hal itu.


Dan di sinilah dia sekarang. Amanda tersenyum dengan seringaian muncul di bibirnya. "Aku ingin bertemu orangtuamu."


Mata Marshal membulat sempurna. Tercengang mendengar apa yang Amanda katakan. "Untuk apa kamu bertemu orangtuaku?"


"Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan keluarga kamu. Untuk-"


"Tapi, sekarang bukan saatnya, Manda. Kamu jangan macam-macam!"


"Kenapa? Sampai kapan aku harus seperti ini? Aku juga mau diakui oleh keluargamu." Amanda berjalan melewati Marshal begitu saja. Tekatnya sudah bulat. Satu-satunya cara untuk mendapatkan Marshal seutuhnya hanya dengan mendekati keluarga Marshal kembali. Dia harus bisa mendekati mereka. Terutama Rahma. Karena larangan terbesar yang tidak memberikan restunya pada hubungan mereka adalah Rahma.


Marshal kembali menarik tangan Amanda. Kekasihnya itu berontak, tetapi Marshal tidak peduli dia terus saja menariknya. Di pesta orangtuanya itu banyak sekali kerabat, banyak dari mereka yang sudah mengetahui jika Amanda pernah jadi kekasihnya sebelum Marshal memutuskan untuk menikah. Marshal tidak mau kalau sampai mereka tahu dan mengadu pada kedua orangtuanya. Bisa mati dia dihajar oleh Wisnu.

__ADS_1


"Kamu mau bawa aku ke mana? Aku mau ketemu sama mama kamu." Amanda terus berontak. Menghempaskan tangannya supaya terlepas, tetapi cekalan Marshal terlalu kuat. Dia tidak bisa mengalahkan tenaganya. "Marshal lepaskan aku!" Marshal tetap bungkam dan menarik Amanda untuk segera menjauhi pesta. Sudah tidak ada waktu lagi. Secepatnya dia harus menghindarkan Amanda dari tempat itu.


Entah apa yang Amanda pikirkan sehingga dia bisa datang ke tempat itu. Marshal sendiri tidak mengerti dan sangat terkejut melihat kedatangannya.


__ADS_2