Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Honeymoon Macam Apa Ini?


__ADS_3

"Kenapa? Mau disuapin?" Marshal memperhatikan Viona yang sama sekali tidak mau menyentuh makanannya, hanya terdiam melirik hidangan satu per satu.


Lucunya, Viona malah mengangguk antusias dengan mata yang berkedip lucu.


"Manja!" Tapi, Marshal tetap melakukan apa yang istrinya mau. Akhir-akhir ini Viona memang sedikit berubah dari biasanya. Dia akan mudah kesal dan manja secara tiba-tiba, tidak bisa ditebak bagaimana mood-nya. Marshal sedikit senang melihat Viona yang mudah sekali bermanja. Dia akan merasa dibutuhkan oleh Viona, merasa menjadi suami yang berguna. "Aaak ...."


Viona menerima suapan dari Marshal dengan antusias. Mulutnya penuh dengan makanan, dia tetap mengucapkan, "Terima kasih." Lalu, merebut sendok dari tangan suaminya dan berbalik menyuapi.


Mereka saling memberikan suapan bergantian, terlihat sangat romantis melirik ke arah balkon yang menampakkan suasana malam kota Tokyo. Namun sayang, hujan turun dengan deras di luar sana, sehingga mereka tidak bisa menikmati malam di luar hotel.


"Tidak apa. Kita masih bisa melanjutkan kehangatan di dalam kamar," ucap Marshal, saat Viona mengeluhkan tidak bisa keluar menikmati malam yang indah.


Viona sangat tahu maksud ucapan suaminya, lantas dia menggeleng tegas dan mengatakan sudah lelah untuk hari ini.


Suapan dari Marshal masih berlanjut. Viona mencicipi berbagai masakan Jepang yang terhidang di depannya. Tadi, dua orang pekerja hotel membawakan makanan ke dalam kamar, setelah Marshal memintanya lewat panggilan ponsel. Dan sekarang Viona tahu, ternyata suaminya punya kontribusi besar terhadap hotel tersebut. Pantas saja mereka diperlakukan sangat amat baik dan ditempatkan di kamar yang lumayan spesial.


Jawabannya adalah karena Marshal merupakan salah satu pemegang saham di hotel tersebut. Viona semakin mengerti dengan kekuasaan suaminya. Sampai melintasi negara, saham Marshal berkecambah di negeri orang. Tentu saja Wisnu juga berpartisipasi dalam hal ini. Marshal sedikit banyaknya memang memperoleh kenalan dari usaha ayahnya, sudah tentu sangat mudah baginya untuk memperluas dan mengembangkan kekayaan sampai ke ujung dunia sekali pun.


Mengerikan! Viona tidak menyangka suaminya punya kekuasaan sebesar itu. Bukannya terkagum-kagum, Viona justru malah ketakutan.


Dengan kekuasaan yang merambah dan berkembang pesat, dia takut Marshal akan berpaling atau mempunyai wanita lain. Sangat mudah baginya mencari selir. Viona tidak akan ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan semua wanita yang suaminya kenal. Para wanita itu pasti berbakat dan juga punya kekuasaan tinggi. Apalah daya Viona yang hanya wanita biasa, baru selesai dengan gelar sarjana dan sekarang malah menganggur.


Sudah tentu dia tidak akan sebanding dengan mereka!


Viona harus mencari cara supaya Marshal betah bersamanya dan tidak berniat mencari wanita lain. Jujur, Viona takut hal itu terjadi. Dia tidak mau diduakan atau bahkan dicampakkan demi wanita lain. Viona sudah terlanjur mencintainya, tidak mungkin bisa menjauh dari Marshal.


"Sayang, kenapa malah melamun? Cepat habiskan makanannya!"

__ADS_1


Kesadaran Viona kembali, setelah larut dalam kecemasan. Dia memperhatikan wajah Marshal dalam diam. Suaminya sangat tampan, bahkan saat saus tiram menodai bibirnya yang segar. Malah terlihat seksi di mata Viona.


Jika dia lengah dan membiarkan Marshal berkeliaran di luaran sana tanpa dia awasi, itu sangat berbahaya. Terlalu rawan. Viona harus memastikan jika Marshal tidak akan berpaling darinya. Dia akan terus berusaha menjadi istri yang baik supaya Marshal tidak berniat mencari wanita lain sekali pun. Tidak akan pernah. Marshal tidak akan pernah bisa mencampakkannya.


Viona pasti bisa mengikat Marshal seutuhnya sampai mata Marshal buta melihat wanita lain. Harus! Dia pasti bisa melakukan hal itu!


***


"Chal."


"Hm?"


"Kapan kita akan keluar? Aku udah bosan di kamar terus." Viona memeluk erat leher Marshal, menyandarkan kepala di perpotongan leher suaminya.


Mereka kini tengah menonton sebuah film begenre action romantis sambil rebahan di atas ranjang dan saling memberikan usapan dan pelukan.


Sejak tadi mereka hanya menonton film, setelah selesai makan malam. Viona sudah bosan dengan kegiatan itu. Apalagi filmnya tidak begitu menarik di mata Viona, tetapi Marshal masih saja terlihat seru menyaksikan.


"Chal ...."


"Besok, Sayang. Sekarang sudah tengah malam. Lagian aku rasa, kamu pasti masih kelelahan setelah perjalanan yang lama. Masih butuh istirahat yang cukup."


"Aku sudah pulih, kalau aja kamu gak minta jatah di kamar mandi tadi," serobot Viona mulai kesal. Rasa bosan malah memperburuk mood-nya kali ini. Dia berhenti memeluk tubuh Marshal, memilih menjauh dan memunggungi tubuh suaminya. Tidur lebih baik daripada dia emosi sendiri.


"Kenapa kamu gampang sekali marah, hm? Padahal aku hanya mengatakan hal yang wajar dan fakta yang kamu rasakan. Aku tidak mau kamu lelah berlebihan dan di luar juga sedang hujan. Aku tidak mau kamu sakit kedinginan."


Viona hanya diam saja, Marshal memeluknya dari belakang dengan erat. Sesekali tengkuk Viona merinding merasakan embusan napas yang menerpa dan kecupan ringan yang mendarat mesra.

__ADS_1


Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa mood-nya mudah sekali berubah dan malah sering berapi-api, jika sedang kesal terhadap suaminya. Seperti wanita yang sedang datang bulan, tapi Viona rasa itu tidak mungkin. Hormonnya sedang normal saat ini. Baru beberapa hari yang lalu Viona selesai dengan tamu bulanannya, tidak mungkin hormonnya kembali bermasalah.


"Kamu kenapa, sih, marah-marah terus? Selalu mengomeli aku. Apa-apa aku yang salah, selalu saja kamu kesal terhadapku."


"Aku istri yang kurang kasih sayang!" jawab Viona dengan enteng tanpa perlu repot membalikkan tubuhnya melihat ekspresi kaget dari Marshal.


"Kurang apa?" Marshal semakin mengeratkan pelukan, menopangkan dagu di pundak istrinya. "Siapa yang kurang kasih sayang, hm? Apa perlakuanku kurang menunjukkan rasa sayang? Atau sebenarnya ... kamu kurang belaian?"


Sialan! Viona memejamkan mata erat. Marshal otaknya memang sedang bermasalah. Selalu saja merembet ke arah sana.


"Sayang?"


"Diam! Aku ngantuk."


Marshal justru terkekeh mendengar bentakan istrinya. Dengan sengaja dia malah semakin semangat untuk menggodanya. Viona menutup telinga dengan rapat dan menarik selimut menutupi tubuh dengan sangat baik. Hal itu tidak menghentikan godaan dari suaminya. Viona membuka selimut kembali. Tatapan Marshal masih saja jenaka, menggodanya dengan berjuta ucapan buaya yang sangat menggelikan di dengar telinga.


"Cukup, Chal! Kamu udah kayak kadal buntung bicara seperti itu!"


"O-ya?" Marshal semakin gila dengan tingkahnya. "Bukankah sang bidadari sangat suka dipuji? Kenapa malah tidak suka? Wanita cantik sepertimu seharusnya senang mendapat pujian. Karena kamu memang pantas mendapatnya."


Menggelikan! Viona menggeliat berusaha melepaskan pelukan Marshal. "Diam atau aku akan tidur di kamar lain!" ancamnya serius.


Marshal melepaskan pelukannya dengan cepat. "Pergilah!"


Viona justru melongo karena Marshal mempersilakan niat konyolnya.


"Kamu mau tidur di kamar lain, kan? Pergi sana! Biar aku sewa wanita Jepang untuk menemani tidurku." Dengan santainya Marshal menarik selimut, menutupi tubuhnya tidak peduli dengan Viona yang menatap tajam sambil menggeram.

__ADS_1


"Awas saja kalau berani!" Tangan Viona mengepal kuat, berambisi mencekik Marshal saat itu juga, jika suaminya berani bermain api.


Berani gak? Harusnya sih, Marshal berani wahaha ....


__ADS_2