
"Kamu lucu, Chal! Udah diam, ah!"
Akhirnya Marshal hanya bisa menurut, ketika Viona memasangkan sebuah topi bertema panda di atas kepalanya. Viona tertawa bahagia melihat penderitaan Marshal yang sejak tadi harus mencoba banyak barang.
Mereka kini sedang berada di pusat perbelanjaan oleh-oleh terbesar dan mewah di kota tersebut. Tidak terlalu banyak barang yang mereka beli untuk oleh-oleh nanti, karena Marshal yang melarangnya. Bukan karena tidak ada uang atau Marshal yang pelit. Tapi, karena setelah dari Jepang, mereka akan pergi lagi ke negara lain. Jika banyak yang Viona beli, maka nantinya pasti malah akan merepotkan. Jadi, hanya beli barang yang diperlukan dan sangat langka yang mereka ambil.
"Chal, ini lucu banget." Viona menunjukkan sebuah boneka kucing kecil sebesar genggaman tangan orang dewasa yang terbuat dari bahan elastis. Viona tertawa geli saat meremas benda tersebut, terasa kenyal dan mengasyikan. "Mirip kamu." Tawanya malah semakin keras terdengar, memperlihatkan ekspresi kucing itu pada Marshal.
Matanya yang bulat, kedua alis yang mengacung saling bertautan juga pipinya yang mengembung lucu. Viona suka sekali melihat kucing tersebut. Dia menyerahkannya pada Marshal dan berniat membelinya beberapa. Lumayan untuk pajangan atau sebagai boneka voodoo, jika suaminya berbuat macam-macam.
Jarang ada penolakan dari mulut Marshal. Semua yang istrinya mau, dia turuti selagi masih dalam batas wajar. Tangannya bahkan sudah penuh hanya dengan barang yang akan Viona berikan kepada para keluarga. Istrinya terlalu baik. Padahal mereka pergi honeymoon, tidak perlu membawa pulang banyak oleh-oleh, cukup dengan kabar bahagia saja. Tapi, Viona tetap kekeh dan bilang tidak mau seperti Vino yang pulang dari bulan madu hanya membawa tangan kosong.
Dia ingin membuktikan pada kakaknya, jika bulan madu yang dia lakukan lebih menyenangkan dari mereka.
Alasan yang masuk akal. Karena Marshal mengajak Viona berbulan madu secepatnya juga karena hal itu. Dia tidak mau kalah dengan Vino.
***
"Dengarkan ini, Sayang," Viona mengacungkan telunjuk di depan wajah, memperingatkan pada suaminya. "jangan pernah lirik wanita lain seperti tadi lagi! Aku gak suka!"
Harus berapa kali Marshal bilang, dia tidak jelalatan melirik wanita lain! Hanya sekadar melihat saja saat mereka berpapasan. Wanita tadi memang cantik, tapi dia tidak berniat buruk. Tidak ada niatan untuk berpaling, sedikit pun.
"Kalau kamu begitu lagi ...."
Marshal membuka mata takut, mundur selangkah saat Viona mengepalkan tangan untuk meninju udara, hampir dekat pada wajahnya.
"Jaga mata!"
Viona akhir-akhir ini sangat cemburuan. Dia selalu melarang Marshal banyak hal mengenai wanita dan sensitif akan hal itu. Barusan Marshal berpapasan dengan wanita yang memang cantik, Marshal akui itu. Mereka saling menatap saat berpapasan di depan meja recepsionis. Hanya melihat sebentar saat lewat, bahkan tidak saling kenal satu sama lain. Tapi, Viona melihat hal itu seolah dia telah memergoki suaminya berselingkuh. Terus marah dan berakhir dengan omelan mematikan. Padahal dia tidak berniat untuk melirik lebih pada wanita lain. Tidak sama sekali.
"Aku haus, Sayang." Marshal menghela napas panjang saat akan beranjak ke pantry, Viona malah menahan tangannya sambil menatap tajam. "Boleh, kan? Hanya ke sana." tunjuknya ke arah dapur kecil yang ada di kamar.
Karena mereka menempati suite room, sudah pasti fasilitas di dalamnya sangat lengkap. Bukan hanya ruang tamu pribadi, dapur, tapi juga di depan kamar terdapat kolam renang yang sangat bagus dan indah untuk dinikmati.
Viona bangun dari duduknya, mengikuti langkah Marshal untuk mengambil air minum di kulkas. Semua gerak-gerik suaminya tidak pernah lepas dari perhatian. Bahkan jakun Marshal yang naik turun saat menengguk air, menjadi pemandangan indah untuknya.
__ADS_1
"Kamu tampan, Chal. Berpotensi selingkuh. Aku gak mau kamu lihat wanita lain seperti tadi lagi."
Marshal tersedak hingga terbatuk-batuk mendengar ucapan istrinya. Dia berpotensi selingkuh? Bagaimana Viona bisa menyimpulkan seperti itu? Sedikit pun tidak ada niat untuk melakukan hal itu di benaknya.
"Kamu ini kenapa, Sayang? Kenapa selalu menuduhku selingkuh? Apa kesetiaanku kurang terlihat?"
Viona memanyunkan bibirnya, menatap Marshal dengan malas dan segera berbalik badan. Kedua tangan dilipat di depan dada, dia melangkah menuju sofa di depan televisi yang menyala.
Marshal menyusulnya dengan cepat, membawa sisa minum di tangannya. "Kenapa lagi, hm?"
Viona malah membuang muka.
"Sayang?" Marshal meraih tangannya, tetap tak bergeming. Dia meraih bahu Viona dan mengarahkan tubuh ringkih itu untuk menghadap padanya. "Kenapa? Apa kamu pernah melihat aku selingkuh? Kenapa harus sampai seperti ini, Sayang?"
Viona hampir memutar bola mata mendengarnya. Apa kamu pernah melihat aku selingkuh? Cih! Sang tuan ternyata sudah amnesia.
"Siapa Amanda? Apa kamu lupa? Dan siapa aku? Kamu bahkan nikahin aku saat masih pacaran sama Amanda. Apa aku pernah melihatmu selingkuh?"
Skak mat! Marshal langsung bungkam, tidak bisa mengelak, jika ucapan Viona mengingatkan zaman jahiliahnya.
Marshal hanya terdiam membuat Viona menggeram kesal. "Diam berarti menolak! Kamu mau berselingkuh, ya?"
Marshal segera menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang. Tidak akan lagi seperti itu. Dulu memang aku bingung saat berhubungan dengan Amanda, tapi juga ...."
"Juga apa? Juga tergoda wanita lain? Itulah kamu, mudah tergoda!" Viona kembali membuang muka, menepis tangan Marshal yang mencoba menghadapkan lagi tubuh padanya.
"Aku bukan tergoda sama kamu-" Marshal langsung terdiam melihat Viona menoleh cepat, sangat tajam. Apa dia salah bicara? "A-aku ...."
"Kalau gak tergoda, kenapa kamu mau nikahin aku?!"
Matilah kau Marshal! Viona beranjak dari duduknya, pergi menuju tempat tidur.
Apa yang harus dia katakan? Dia sudah salah bicara dan sekarang Viona marah padanya. Viona sangat mudah kesal akhir-akhir ini. Marshal harus ekstra sabar menghadapinya.
"Sayang, bukan begitu ...." Dia menyusul Viona yang duduk membelakangi di tepi ranjang. "Justru kamu menggoda, lebih menggoda dari Amanda. Dan ... dan aku hanya mencintai kamu sejak dulu. Makanya aku mau nikahin kamu."
__ADS_1
Marshal terlihat bingung menghadapi Viona yang tidak mau mendengarkannya, bahkan sangat enggan untuk melihat padanya. Dia harus mencari cara lain. Membujuk dengan kata-kata malah akan berbahaya, takutnya dia salah bicara lagi dan Viona malah semakin marah padanya.
"Sayang ...."
Viona tetap tidak mau membalik badan, lebih memilih memandangi tembok yang tidak terdapat apa pun tertata di sana.
Menyerah. Marshal bingung harus bagaimana lagi. Dia duduk di belakang Viona, gusar. Nanti juga Viona akan membaik sendiri, walaupun tidak dibujuk lagi, mungkin. Ya, dia berharap seperti itu.
"Kamu marah?" Marshal tidak bisa menyerah ternyata. Dia kembali mendekati Viona, berharap istrinya bisa luluh lagi. "Sayang?" Viona tetap saja tidak mau melihatnya.
"Ya, sudah, aku sarankan kamu marah lebih lama lagi." Marshal beranjak dari duduknya, mendapat ide bagus. "Aku akan pergi ke luar. Kamu diam di sini, jangan ke mana-mana sebelum aku pulang."
Menoleh. Idenya berhasil. Viona sekarang melihat dengan tatapan yang penasaran dan bertanya-tanya, ke mana suaminya akan pergi?
"Aku tampan. Kamu bilang begitu bukan?"
Viona diam, tidak mengerti maksud pembicaraan suaminya mengarah ke mana.
"Aku berpotensi selingkuh. Jadi ... tidak ada salahnya jika aku membuktikan ucapanmu, kan? Iy-uugh!"
Viona berdiri dan langsung menedang kaki suaminya dengan marah. Marshal sampai terlihat kaget dan kesakitan. "Berani kamu!" Tatapannya tajam, api berkobar-kobar dalam manik matanya.
"Kamu mengacuhkanku. Lebih baik memang aku mencari yang la-Argh, Sayang! Iya-iya, tidak. Tidak, Sayang, tidak. Ampun! Aku tidak akan mencari yang lain. Awsh!" Marshal meringis kesakitan, saat Viona menjewer telinganya dan mengomel sambil marah-marah murka. "Ampun, Sayang. Iya, tidak. Tidak akan."
Viona melepaskan telinga Marshal dengan kesal. Wajahnya tertekuk. Malah terlihat seperti anak kecil merajuk di mata Marshal. Terlihat sangat lucu.
"Tuhkan, kamu seperti ini. Aku mana betah sama kamu, kalau kamu-" Marshal membeku karena Viona menyongsong tubuhnya dengan cepat. Memeluk erat dan memperingatkan supaya Marshal berhenti berbicara.
Senyum terbit di bibir Marshal saat itu juga. Dia membalas pelukan Viona dan memberikan kecupan di pelipis istrinya. "Aku tidak akan berpaling, Sayang."
"Tidak akan pernah!" sambar Viona, mengoreksi.
"Iya, tidak akan pernah," Marshal mengusap rambut Viona dengan lembut. "jika tidak khilaf-Aduh!" Dia meringis karena Viona mendongak cepat, membuat kepalanya mengenai dagu Marshal.
Viona kembali melotot tajam. "Rasain!"
__ADS_1