
"Jangan, nanti aku jelek!" Viona tergelak tawa di ruang keluarga, duduk berdua bersama suaminya. Marshal terus saja menggodanya untuk mencoba banyak hal, tetapi Viona tidak mau karena dia merasa tidak memerlukannya.
"Tapi, kenapa banyak wanita yang mau sulam alis? Mereka menyukainya."
"Ya, mungkin bagi mereka itu hal yang bagus. Tapi, aku tidak tertarik sama sekali. Bukankah alis natural terlihat lebih indah?" Viona mengangkat wajah dicondongkan pada suaminya. Niat Viona ingin menunjukkan alisnya yang indah alami, tetapi Marshal malah memangut bibirnya membuat Viona terkejut dan langsung menjauhkan wajahnya.
"Natural lebih baik. Aku suka kamu seperti ini. Tidak perlu perawatan lagi, istriku tetap saja cantik tidak tertandingi."
Viona tertawa geli mendengarnya. Menurutnya, Marshal terlalu lebay. Mereka duduk berdua di sofa. Marshal merangkul pundak istrinya sambil menonton televisi. Sebenarnya di kamar juga ada televisi, tetapi Viona malah ingin menontonnya di ruangan tersebut. Apapun keinginan istrinya, pasti Marshal turuti. Dia hanya mau Viona merasa senang berada dengannya.
"Tuan, ada undangan," suara Rio dari arah luar, terdengar mendekat. "Ada acara pertunangan anakļ¼" Rio langsung terdiam saat sudah melihat majikannya. Undangan masih dia pegang di tangan, Rio tidak berani memberikannya karena di sana ada Viona.
"Undangan dari siapa?" tanya Marshal melepaskan rangkulannya dari Viona. Dia melirik Rio penasaran, namun asistennya malah terdiam. "Undangan dari siapa?" ulangnya membuat Rio semakin tidak enak hati untuk mengucapkannya.
Marshal terus menanyakannya, Rio masih saja terdiam dengan sesekali melihat pada Viona. "Tuan Arga mengadakan acara pertunangan anaknya," lapor Rio dengan lirih.
Marshal melirik ke samping pada istrinya. Dia terkejut, tetapi Viona terlihat biasa saja. Dikiranya Viona akan sama kagetnya, namun Viona malah terlihat tenang dan kembali fokus menonton televisi. Marshal tidak mengerti, kenapa istrinya tidak memberikan respon apapun. Padahal yang Rio ucapkan mengenai laki-laki itu. Yang Marshal tahu, masih dicintai atau mungkin ... pernah dicintai istrinya.
"Kapan acaranya digelar?"
"Nanti malam, Tuan." Rio menyerahkan undangannya pada Marshal dengan pandangan yang menunduk. Dia merasa tidak enak pada Viona yang masih saja terdiam memandangi televisi. Tidak ada lagi yang Marshal bicarakan, Rio pun undur diri meninggalkan mereka berdua.
"Kamu sudah tahu masalah ini ...?" Marshal membuka undangan, membacanya sejenak dan menyimpannya di atas meja. Dia mengernyit dalam saat Viona malah kembali mendekati tubuhnya. Memberikan pelukan dari samping, dan Viona menyandar sembari kembali fokus pada televisi. "Sayang?"
"Aku sudah tahu."
__ADS_1
"Terus?" Marshal mengusap rambut istrinya, mengecupnya sesaat.
"Ya, gak ada terusannya. Memangnya kenapa?"
"Kamu tidak merasa gimana ... gitu?"
"Gimana apanya?" Viona mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu. Setelah menghela napas dalam, Viona memberikan senyuman tipis pada suaminya. "Aku berada di sini saat ini, berarti aku memilih melanjutkan rumah tangga kita. Untuk apa aku mempermasalahkan hal yang sudah tidak seharusnya aku pikirkan? Memang sulit, tapi aku sadar, jalan kita memang berbeda. Dan mungkin sudah saatnya untuk kita membuat portal supaya tidak bisa bertemu lagi."
Marshal tertegun mendengar penuturan istrinya. Viona begitu tenang, meskipun dari sorot matanya sedikit terlihat berbeda. Dia tidak percaya jika Viona bisa menghentikan hubungannya dengan laki-laki itu dengan mudah tanpa Marshal sadari.
"Nanti, aku ikut, ya!"
"Ikut ke mana?"
"Datang ke acara itu."
"Lebih baik tidak usah, Sayang. Aku tidak akan datang ke sana."
"Lho, kenapa? Padahal aku ingin ikut." Viona memberengut membuat Marshal semakin bingung. Sebenarnya apa yang Viona pikirkan sampai mau menghadiri acara pertunangan tersebut? Apa Viona benar-benar sudah melepaskan laki-laki itu dengan ikhlas?
"Lebih baik tidak usah datang, Sayang!"
Mereka sudah berpakaian rapi saat ini, siapa menghadiri pesta. Namun, Marshal ragu untuk membawa istrinya. Sampai saat ini, dia belum tahu alasan Viona mau datang ke sana. Viona tidak mengatakan alasannya, hanya ingin ikut datang untuk memberikan selamat kepada mereka, begitu katanya.
"Om Arga ngundang kamu secara hormat. Tidak baik jika tidak hadir ke sana."
__ADS_1
"Tapi, Sayang ...," Bukan itu yang Marshal permasalahkan. Dia tahu, Arga mengundangnya secara hormat sebagai rekan bisnis. "aku bisa datang sendiri. Kamu tunggu di rumah saja, ya! Acara seperti itu akan selesai sampai tengah malam. Aku tidak mau kamu bosan di sana."
Viona memandang Marshal dengan kecewa. Dia sudah mengenakan dress pesta yang mewah dan membawa tas mini mahal miliknya. Terlihat cantik dan glamour. Viona memalingkan wajah pada suaminya. Dia keluar dari kamar Marshal dengan kesal dan langkah kaki yang sedikit dihentakkan.
Marshal yang kala itu sudah mengenakan tuxedo, meraup wajah dengan kasar dan segera menyusul langkah istrinya. "Baiklah, ayo pergi!" Dia langsung menggenggam tangan Viona sebelum istrinya pergi ke kamar miliknya. "Kita hanya akan menyatakan kehadiran, tidak akan lama di sana."
Viona mengangguk, mengikuti langkah suaminya. Dia hanya ingin hadir dan melihat Sendi untuk terakhir kalinya, mungkin. Waktu itu Sendi hadir di pernikahannya, meskipun tanpa disengaja. Viona ingin hadir di pertunangannya, karena dia ingin mengatakan perpisahan juga terhadap Sendi. Tapi, Viona tidak yakin. Karena acara tersebut termasuk acara besar, dia tidak yakin berkesempatan untuk bicara berdua dengan laki-laki itu.
"Jangan jauh-jauh dariku!" Marshal membawa tangan Viona untuk melingkar di lengannya dengan erat. Dia masih saja ragu untuk menghadiri acara itu, padahal saat ini mereka sudah berada di depan gedung tempat cara pertunangan tersebut digelar.
Saat baru masuk ke dalam aula, terlihat sudah banyak orang hadir. Acara digelar begitu mewah dan terlihat sangat berkelas. Ditambah lagi, tamu yang hadir semuanya dari kalangan atas. Marshal bertukar sapa dengan setiap orang yang ia kenal sambil sesekali memperkenalkan Viona sebagai istrinya. Sedikit pun, Marshal tidak membiarkan istrinya beranjak. Viona harus tetap berada di sampingnya, karena Marshal masih belum tahu alasan di balik sikap keras kepalanya yang ingin mendatangi acara tersebut.
"Kamu tidak apa-apa?"
Viona menggeleng dan memberikan senyuman semanis mungkin. Mereka kini sedang duduk di tempat yang sudah dipersiapkan. Acara masih terasa biasa saja, belum sampai ke acara inti. Tahap demi tahap acara Viona nikmati dengan nyaman, namun tidak dengan Marshal. Dia masih saja merasa tidak karuan melihat sikap istrinya yang terlihat tenang. Viona sama sekali tidak terlihat sedih, terbebani, atau hal lain seperti kebanyakan orang saat melihat orang yang dicintainya bertunangan.
"Jika sudah ingin pulang, katakan! Aku tidak mau kamu kenapa-napa."
Marshal menyentuh wajah istrinya dengan lembut tidak peduli mereka sedang berada di mana saat ini. Rekan bisnis lain yang berdekatan dengannya bahkan mengulum senyum melihat mereka yang tetap mesra, bahkan sedari awal masuk aula, Viona terus merangkul lengan suaminya.
Tahap acara utama akan segera dimulai. Kedua keluarga yang akan mengikatkan tali suci pernikahan anaknya tersebut sudah naik ke pusat pesta. Tidak lupa juga kedua insan yang akan menyematkan simbol pertunangan, mereka saling bergandengan tangan dengan senyuman ramah terukir indah menyapa para hadirin.
Sendi menggandeng tangan pasangannya menuju pusat pesta. Mereka terlihat begitu cocok dengan pakaian yang mewah dan senada. Sebelum penyematan tanda keseriusan mereka untuk ke tahap selanjutnya, pembawa acara dan dua keluarga tersebut bergantian memberikan sepatah dua patah kata. Dan berakhir dengan tahap yang sudah ditunggu-tunggu oleh para hadirin.
Saat pembawa acara mengambil alih kembali menyusun rangkaian kata sebelum penyematan, tidak sengaja netra milik laki-laki itu melihatnya. Tubuhnya kaku seketika saat dia baru menyadari, jika sosok yang sedang duduk di deretan paling depan adalah orang yang sepertinya ia kenali. Sendi memicingkan mata untuk bisa melihat dengan jelas sosok cantik tersebut. Dia takut hanya berhalusinasi. Silau kemewahan dekorasi dan riuhnya para hadirin membuatnya kurang fokus melihat sosok tersebut. Setelah dipastikan jika penglihatannya tidak salah, setitik nyeri langsung menghantam dadanya.
__ADS_1
"Viona?"