Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Chal, aku rindu.


__ADS_3

Seharusnya hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi Viona. Ya, hanya seharusnya, karena kenyataan tidak bisa ditipudayakan. Tidak ada yang membahagiakan untuk hari ini. Rangkaian demi rangkaian acara wisuda telah berlalu dan dia hanya duduk terpaku di dalam mobil yang belum melaju. Seorang diri. Tanpa suami yang sangat dia harapkan kehadirannya.


Marshal pergi ke Yogyakarta untuk masalah pekerjaan, katanya. Itu sangat penting, katanya lagi. Viona tidak percaya seberapa penting masalah pekerjaan itu. Hanya meninjau lokasi seharusnya tidak terlalu penting, bisa diundur kapan saja dan memilih untuk menemani istrinya di hari bahagia.


Semua itu hanya angan. Marshal memang pergi kemarin sore dan sampai sekarang tidak ada kabar sedikit pun darinya, bahkan Viona menghubunginya saja tidak bisa. Entah sedang apa laki-laki itu. Viona yakin Marshal tidak sedang sibuk sangat, karena setiap dia pergi ke luar kota, pasti selalu memberikan kabar, meski hanya setidaknya sehari sekali. Tapi, kali ini berbeda.


"Pulang langsung ke rumah mama, ya." Lina masuk ke dalam mobil yang sudah diduduki oleh Viona seorang diri, sejak sepuluh menit yang lalu. Kemudian, Heru menyusul dan duduk di depan, di samping sopir pribadi keluarga Pratama.


Mobil masih berada di parkiran kampus, mereka akan segera pulang ke rumah.


"Saya mengikuti dari belakang, Besan." Wajah Wisnu muncul di samping jendela yang terdapat Heru di sana.


"Siap, Tuan." Heru tersenyum sambil mengangguk dan Wisnu pergi masuk ke dalam mobil pribadinya yang sudah ada Rahma juga di dalam sana.


Viona tersenyum kecut. Kedua keluarganya bisa hadir dan menyaksikan Viona diwisuda. Dia memang bahagia dengan kehadiran mereka. Tapi, sebagian kebahagiaan kini tidak terpancar di wajahnya. Marshal tidak bisa hadir dan memilih untuk kunjungan kerja.


Apa dia sudah tidak lagi berharga? Apa Marshal masih menyayanginya? Dia sudah tidak peduli terhadap Viona. Di hari spesial seperti ini saja, Marshal tidak mementingkan kebahagiaan seorang istri. Dia tidak ada di samping Viona, sekadar memberikan selamat dan sebuket bunga cantik beserta kecupan manis.


Hanya khayalan. Keadaan sekarang sudah cukup jelas mengatakan, bahwa dia sendirian. Tanpa suami yang menemani. Marshal sudah tidak peduli lagi. Viona merasa harinya memburuk, tidak sebahagia kawan lain yang mengakhiri pendidikannya. Tidak sama sekali.


Chal, aku sudah pulang. Tapi, ke rumah Pratama. Semua keluarga berkumpul di sana untuk merayakan hari ini.


Miris. Viona menutup ponsel dengan perasaan yang campur aduk. Lima belas menit dia menunggu balasan, tetapi ponsel tidak kunjung menampilkan notifikasi tersebut.


Marshal sedang apa sebenarnya? Apa dia tidak rindu? Apa dia tidak mau mengucapkan sepatah kata pun untuk memberikan sebuah ucapan selamat?


Hari ini sudah Viona tunggu sejak lama. Semua penantian itu terasa sia-sia, karena dia tidak sebahagia yang diharapkan. Mood-nya hancur semenjak kepergian Marshal. Dia merasa terbuang, jika suaminya acuh seperti itu.

__ADS_1


Hingga mobil yang tumpanginya telah terparkir di depan kediaman Pratama, Viona masih saja memikirkan Marshal. Mengecek layar ponsel, tetap tidak mendapat balasan.


"Dek, ganti baju dulu! Abis sholat berjamaah, kita baru bersiap untuk party!" seru Vino dengan girang, menuntun Viona yang nampak sangat cantik hari ini dengan polesan yang tidak terlalu tebal dan kebaya berwarna pink masih melekat di tubuhnya.


Viona tersenyum tipis, memegang erat genggaman Vino yang terasa hangat. "Aku capek, Kak," keluhnya bernada lirih.


Vino tersenyum mengangguk, sangat paham dengan apa yang adiknya rasakan tanpa tahu apa yang Viona lelahkan sebenarnya. Hatinya yang lelah. Dia lelah menunggu kenyataan untuk segera menerima kabar bahagia berupa balasan dari suaminya. Berharap Marshal akan menelepon dan mengucapkan kalimat manis dengan sangat tulus.


"Dek, kenapa?"


Viona menggeleng, pandangannya terasa memburam. Dia ingin menangis, tapi tidak mau Vino maupun keluarga lain melihatnya.


Hari itu dua keluarga berkumpul. Keluarga Pratama dan Atmadinata mengadakan acara kecil untuk merayakan hari indah Viona. Seharusnya terasa indah, tapi nyatanya hambar.


***


Viona mengangguk dan ikut Michelle menuju tempat di mana Vino beserta istrinya tengah menyiapkan pemanggangan, sedangkan Wisnu dan Heru tengah memilah daging sapi yang bagus untuk mereka jadikan hidangan malam ini.


Sayang sekali, Miranda tidak bisa hadir di sana, karena anaknya sedang demam. Padahal jika ada Zean, mungkin mood Viona akan sedikit membaik melihat ketampanan dan kegemasan bocah kecil itu. Viona rasa, jika dia bermain dengan Zean, dia akan bahagia dan bisa mengalihkan pikirannya dari sang suami yang sampai malam ini belum juga memberikan balasan padanya.


Dua ibu yang berbesanan nampak sibuk menyiapkan peralatan dan tempat, sedangkan para bapak dan anak-anaknya sibuk untuk menyiapkan santapan. Viona tersenyum lebar saat Wisnu dan Heru berebut tempat untuk memanggang daging. Dua bapak tua tersebut kemudian saling tertawa karena tempat yang mereka perebutkan malah diambil alih oleh Vino dan istrinya, berniat mengurai perebutan.


Michelle juga nampak bahagia saat ini. Sambil memakan sebuah apel merah, dia membantu Viona membolak-balik daging dan melumuri bumbu di atasnya. Mereka terlihat kompak. Dua keluarga itu terlihat hangat dan penuh kasih sayang.


Andai Marshal ada di sana sekarang, Viona pasti semakin senang. Tapi sayang, Marshal mungkin sekarang sedang berbincang dengan Garmita dan tidak ingat dengan istrinya sama sekali.


"Coba aja di telepon jam segini, deh, Kak. Sudah masuk jam makan malam, siapa tahu kak Chal sedang istirahat, lalu terima telepon dari Kakak."

__ADS_1


Viona melihat Michelle serius. Adik iparnya memberikan saran, setelah dia menceritakan semuanya sambil membolak-balik daging dalam panggangan. "Pasti gak diangkat lagi, Chelle."


"Dicoba aja dulu, siapa tahu kali ini diangkat."


Viona berpikir sejenak. Lagian tidak ada salahnya jika dia menelepon Marshal sekarang. Jika melihat waktu saat ini, seharusnya Marshal sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Tetap tidak diangkat, Chelle." Viona nampak lesu, menutup layar ponsel dan kembali memasukkannya ke dalam saku. "Mungkin dia masih sibuk," lanjutnya, berusaha mengobati perasaan diri sendiri.


"Iya ... mungkin." Michelle ikut prihatin melihat raut wajah Viona yang semakin murung. Dia juga tidak tahu kakaknya sedang apa saat ini. "Coba nanti dihubungi lagi, Kak. Aku yakin, kalau gak sibuk, Kak Chal pasti terima panggilannya, kok."


Viona kembali menampilkan senyuman kecut. "Iya, Chelle." Rasanya percuma Michelle membujuk untuk mengalihkan pikirannya. Viona tetap saja tidak tenang. Dia ingin Marshal berada di sana sekarang, menemani dan ikut berpesta gembira bersama keluarga mereka.


Cukup lama Viona diam, membiarkan Michelle mengambil alih pemanggangan. Dia melihat ke arah kiri, Vino nampak senang sekali mengusili istrinya yang tengah menuangkan bumbu pada daging, sedangkan di sebelah kanan, Wisnu dan Heru juga sedang membolak-balik daging di atas pemanggangan sambil sesekali mengobrol masalah bisnis dan bersenda gurau.


Viona mengambil ponsel, merekam momen hangat dari aktivitas keluarganya saat ini. Hanya beberapa detik video yang dia muat dan mengirimkannya pada nomor yang sejak tadi dia nantikan notifikasinya.


Chal, kamu sedang apa? Tidak tahukah aku rindu? Lihatlah keluarga kita yang hangat ini, apa kamu tidak ingin menikmati kebersamaannya?


Masih sama tidak mendapat balasan. Viona mendesah kecewa, menyimpan ponselnya kembali. Michelle memanggil namanya, meminta dibantu menyimpan daging yang masih mentah ke atas panggangan. Viona berfokus lagi pada adik iparnya.


Ting!


Dengan tergesa Viona mengambil ponsel yang berbunyi. Senyumannya merekah seketika begitu mendapat hal yang ditunggu sejak tadi. Akhirnya, Marshal mengirimkan balasan pesan juga.


Apakah pesan itu?


Mari kita lihat di part selanjutnya, ya.

__ADS_1


__ADS_2