
"Sayang, kita pulang, ya," bujuk Marshal entah untuk ke berapa kali. Dia terus mengajak Viona untuk kembali ke rumah mereka, karena takut Viona kelelahan jika harus terus menjaga Rahma di sana. Apalagi sekarang sudah malam. "Ya?"
"Iya, Kak, mending pulang aja. Ada aku di sini yang jagain mama. Kak Zibran sama kak Miranda juga bilang akan menginap. Mereka sedang di jalan," ucap Michelle, ikut membujuk.
Terpaksa Viona mengangguk dan ikut Marshal untuk kembali ke rumah. Sebenarnya, Viona tidak mau pulang dan ingin tetap menjaga mertuanya. Tapi, Marshal terus saja memintanya untuk pulang ke rumah. Dia memang belum pernah mampir ke rumah itu lagi, semenjak memutuskan untuk bercerai. Selama beberapa hari mereka rujuk pun, Viona memilih untuk menginap di rumah sakit atau pulang ke rumah orangtuanya.
Marshal memang selalu tidak mengizinkan dan tidak mau berpisah tidur lagi. Tapi, Viona memang muak melihatnya lama-lama. Maka, demi kebaikan Viona, Marshal hanya bisa mengalah dan tetap tidur seorang diri.
Sampai di depan rumah Marshal, Viona tertegun melihat para pekerja rumah saling berkumpul menyambut kehadirannya. Dia tersenyum melihat keramahan mereka yang memberikan ucapan selamat datang. Kabar gembira mengenai kehamilan Viona juga sudah diketahui kyalayak orang rumah. Mereka memberikan selamat dan berdoa demi kebaikan ibu dan anak yang masih ada dalam kandungan.
Viona terharu akan hal itu. Dia melihat lagi pada Marshal yang tersenyum padanya. Marshal sangat baik, tapi ... Viona berlari cepat ke dalam rumah dan mencari kamar mandi. Semua orang panik dan menyusulnya, terutama Marshal yang berteriak pada Viona untuk tidak terlalu cepat berlari, karena takut janinnya kenapa-kenapa.
Muntah lagi. Viona menolak kehadiran Marshal di sana. Dia menyuruh Marshal untuk menjauh dan menghindarinya untuk saat ini. Jika melihat suaminya tersenyum dan wajahnya terlihat sangat tampan, perut Viona akan semakin dahsyat merasakan gejolaknya.
"Nyonya perlu bantuan?" Rio sigap berdiri di depan kamar mandi, menggantikan Marshal yang terpaksa harus menjauh dan bersembunyi di balik tembok melihat ke arah mereka.
"Aku ingin ke kamar, Yo." Viona mengulurkan tangan pada Rio, emminta bantuan untuk menuntunnya. "Tolong, ya."
Dengan senang hati, Rio menuntun Viona menuju tangga dengan perlahan dan membawanya sampai masuk ke dalam kamar. Marshal ingin menangis melihat hal itu. Seharusnya, dia yang menuntun Viona ketika sedang lemah. Bodohnya juga karena dia malah meminta Rio yang membantu, seharusnya pekerja wanita yang lain saja supaya dia tidak merasa iri.
Sekarang, bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamar? Viona pasti akan mengusirnya lagi.
"Nyonya bilang, harap Tuan tidak masuk ke dalam untuk saat ini. Tuan bisa tidur di kamar lain. Nyonya masih mual dan meminta Erni untuk mendampinginya," ujar Rio, ketika keluar dari kamar majikannya, setelah memastikan Viona beristirahat dengan baik.
"Panggilkan Erni! Jaga dia baik-baik!" Marshal membalik badan untuk masuk ke kamar lain. Jika seperti ini, apanya yang dinamakan rujuk? Mereka bahkan masih saja pisah kamar dan Viona enggan melihatnya.
Chal junior, apa salah papa? Kenapa kamu menyiksa papa seperti ini? ringis Marshal dalam hati.
***
Malam hari Viona terbangun. Dia keluar dari kamar, melirik sekitar yang terasa sepi. Dia lapar. Perutnya ingin makan makanan yang segar dan menggugah selera. Dia membuka kulkas, mengambil jeruk dari sana.
__ADS_1
"Sayang, jangan makan itu dulu!"
Viona membalik badan dengan kaget mendengar suara itu. Dia melirik sekitar, tapi tidak ada orang di sana. "Chal?" Dia yakin, itu suara suaminya. Tapi, tidak ada siapa pun di dapur. Hanya dia seorang yang masih berdiri di depan kulkas yang bahkan masih terbuka dan jeruk yang baru terkupas kulitnya sedikit.
"Makan makanan yang baik dulu. Jangan makan jeruk, nanti asam lambung kamu naik, terus kamu mual lagi," suara itu terdengar lagi.
Viona melirik sekitar, mencari-cari sosok Marshal, tapi tidak menemukannya di mana. "Chal?" Dia menutup pintu kulkas, melangkah dan kembali memperhatikan sekitar, memastikan keberadaan suaminya. "Chal ih! Jangan buat aku takut."
"Tidak, Sayang. Aku hanya tidak mau kamu melihatku, terus mual."
"Kamu ngumpet di mana?" Viona kembali melangkah, masih memegang jeruk di tangannya. Dia melirik sekitar, sosok itu tetap tidak ada. "Chal!"
"Aku ada, Sayang. Jangan takut! Aku hanya tidak mau menampakkan diri sama di hadapan kamu."
Viona mendengarkan asal suara itu dengan baik-baik. Dia melangkah lagi sampai ke dekat meja makan. "Chal?"
"Iya, Sayang?"
"Hehe ...." Marshal memberikan senyuman konyol, terlihat seperti orang tidak waras. "Aku bersembunyi di sini, Sayang."
"Kenapa?"
"Supaya kamu tidak melihatku. Kamu selalu mual dan tidak mau melihatku, kan? Aku harus mengawasimu setiap saat. Makanya-"
"Tapi, gak harus ngumpet di bawah meja juga, kan?"
Marshal malah tersenyum, konyol. Viona tidak habis pikir dengan pikiran suaminya. "Ayo, keluar!" Viona berdiri dan menyuruh suaminya untuk keluar.
Marshal malah tidak mau, takut Viona mual lagi.
"Barusan aku lihat wajah kamu. Apa aku muntah? Aku sudah lebih baik."
__ADS_1
Ragu-ragu Marshal merangkak dan keluar dari bawah meja. Viona membantunya untuk bangun dan terlihat sangat kesal.
"Tuhkan, kamu malah memasang raut wajah seperti itu." Marshal kembali berjongkok.
Viona menahan tangannya. "Mau ke ngapain?"
"Ngumpet lagi," ucap Marshal, kembali bersembunyi di bawah meja. "Pergilah dan segera ambil makanan! Aku tidak akan memperlihatkan wajahku lagi di hadapanmu, Sayang."
Viona hanya mampu menggelengkan kepala sambil mengusap perutnya. "Sayang, jangan sampai kamu sepertinya, ya," Dia bermonolog pada janinnya. "Mama tidak mau mengakui ini. Tapi, sebodoh apa pun, dia tetap ayahmu, Nak."
***
"Tidurlah! Aku mencintaimu." Marshal mengecup tangan Viona sejenak dan segera membalik badan untuk pergi. Tapi, tangannya malah ditahan oleh Viona. Dia berbalik lagi dengan bingung. "Kenapa, Sayang? Butuh sesuatu? Atau mual lagi?"
Viona menggelengkan kepala, menarik Marshal untuk masuk ke dalam kamar mereka. "Temani aku tidur."
Bukannya senang, Marshal malah ketakutan mendnegar permintaan istrinya. Baru saja Viona membaik dan tidak muntah melihat suaminya. Bagaimana jika nanti saat Marshal tengah enak-enaknya bermimpi, ternyata Viona mendorong tubuhnya dan mengusir Marshal dari kamar mereka?
Itu mengerikan. Lebih baik berpisah kamar dari sekarang, daripada harus terusir ketika tengah tertidur pulas.
"Kamu baru saja makan, Sayang. Aku tidak mau kamu mengeluarkan lagi makanan itu, hanya karena mual melihat aku."
"Nggak akan. Aku baik-baik saja. Sudah lebih baik. Ayo, temenin tidur!"
Marshal meragu lagi. Tapi, dia tetap menurut dan naik ke atas ranjang. "Apa aku boleh memeluk? Mencium? Menyentuh sedikit? Atau hanya boleh memunggungi saja?" tanya Marshal berentetan membuat Viona mendengus sebal.
"Semuanya sudah boleh. Termasuk nelanjangin."
Ya, Tuhan ....
Marshal hampir saja pingsan di tempat.
__ADS_1