
Ke mana pun Viona mau, Marshal akan menurutinya.
Ini bukan urutan dari paket honeymoon yang mereka pesan. Bukan pula perjalanan berlibur yang sudah direncanakan secara detail mereka akan pergi ka mana saja. Semua itu tergantung keinginan dan minat sang nyonya. Marshal hanya membawanya pergi dan akan menuruti semua permintaan istrinya. Sekali pun Viona mau travelling ke ujung dunia, selagi Marshal mampu, dia akan mengabulkannya.
Dan tempat yang Viona pilih saat ini adalah tempat sejarah. Memang terasa sedikit aneh, mereka pergi bulan madu, lalu mengunjungi tempat sejarah. Ayolah, ini acara romantis, bukan study tour anak sekolahan. Tapi, meski begitu Marshal tetap menuruti kemauan istrinya. Dia tidak mau Viona merajuk, jika tidak dituruti.
Bukankah tujuannya membawa Viona adalah membuat istrinya bahagia? Seharusnya tidak boleh mengeluhkan hal sekecil apa pun dan nikmatilah suasana yang mereka ciptakan sendiri.
Viona mengangguk-anggukan kepala saat tour guide mereka menjelaskan banyak hal mengenai temapt sejarah tersebut. Sedikit banyaknya Viona mengetahui tentang Tokyo dan banyak hal mengenai budaya Jepang, hingga berbagai hal dia lihat dan dia perhatikan.
Selesai menjelah pembahasan sejarah, Viona mengajak Marshal ke tempat yang berseberangan dengan tempat sejarah yang barusan mereka kunjungi. Sebuah tempat dengan bangunan tradisional khas Jepang tersaji di depan mata. Banyak orang yang berada di sana, menyaksikan taman dan bersua foto bersama.
Dengan antusias, Viona menarik tangan Marshal untuk masuk. Mereka langsung di sambut oleh seorang wanita yang menyapa dan menjelaskan tempat tersebut. Viona ditawarkan untuk menikmati hidangan khas Jepang dan juga merasakan budaya dari negeri sakura tersebut.
"Apa aku terlihat cantik?" Viona memutar tubuh di hadapan Marshal dengan memakai pakaian khas negeri Matahari Terbit tersebut.
Marshal sampai tertegun melihatnya. Kulit Viona sangat putih, bersih dan cantiknya natural. Memakai baju komono dan tatanan rambut yang tradisional, dia malah terlihat semakin memukau.
"Siapa ini? Aku tidak mengenalinya." Marshal pura-pura memasang pandangan penuh selidik, memperhatikan tubuh Viona.
Istrinya malah tersipu malu, terlihat begitu manis dan imut.
Viona pun pangling melihat suaminya yang gagah. Marshal juga dia ajak untuk memakai pakaian tradisional, lalu mereka bersua foto bersama dan mengelili taman dan makan di restoran yang tersaji di tempat tersebut. Tidak lupa, Rio juga selalu mengikuti ke mana pun mereka pergi.
***
"Sampai keringatan begini, Sayang." Marshal mengusap pelipis Viona yang terlihat basah.
"Bajunya ketebalan, Chal. Berlapis-lapis. Gerah," keluhnya, menikmati tiupan mulut Marshal di leher untuk mengurangi rasa gerahnya.
Mereka baru saja selesai melepas pakaian yang sangat tebal-pakaian tradisional khas Jepang yang sejak tadi mereka kenakan. Dan sekarang Viona terlihat malah semakin bahagia saat suaminya bertanya, ia ingin pergi ke mana lagi.
__ADS_1
"Tokyo Skytree!" seru Viona dengan cepat. Senyumannya melebar melihat Marshal yang memberi anggukan setuju dan mereka akan pergi ke tempat yang diinginkan oleh sang nyonya.
Tokyo Skytree adalah bangunan menara yang berdiri di Distrik Sumida dan letaknya berada di dekat Sungai Sumida yang berseberangan dengan Asakusa.
Menara yang memiliki ketinggian 634 meter dan dinobatkan sebagai bangunan menara tertinggi di dunia oleh Guinness Book of Records. Viona ingin pergi ke sana untuk menikmati pemandangan dari ketinggian dan merasa berjalan di langit kota Tokyo.
Masuk ke dek observations, mereka memesan tiket dan segera naik ke lantai atas yang menjanjikan sebuah fasilitas menakjubkan. Viona tidak lepas untuk memeluk lengan Marshal dan tersenyum, menunjukkan pada semua orang, jika dia bahagia saat ini.
"Tidak takut?"
Tentu saja Viona menggeleng. Dia tidak takut sama sekali saat menapaki lantai kaca tebal 48 milimeter yang ada di lantai 340 menara tersebut. Viona melihat ke bawah, takjub melihat pemandangan yang sangat luar biasa memanjakan mata. Seolah kakinya menapat di langit, Viona tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya, jika mereka terus naik ke lantai teratas? Apakah jantung Viona masih bisa berdetak normal, melihat keindahan dunia yang penuh keragaman ini?
Dan itulah yang dia rasakan saat Marshal mengajaknya untuk naik ke lantai atas. Mata Viona hampir saja melompat keluar dari kerangkanya, jika saja dia tidak ingat jika yang dia saksikan begitu sayang untuk dilewatkan. Pemandangan yang snagat indah dan luar biasa menakjubkan ini selalu membuat mulutnya menganga dan berdecak kagum.
Pemandangan langka yang entah kapan lagi bisa dia lihat. Dan setelah puas melihat kota Tokyo dari ketinggian, Marshal mengajak Viona untuk melihat fasilitas lain yang ada di Tokyo Skytree Town tersebut.
"Apa mau belanja?"
Banyak yang Viona inginkan, tapi dia tidak membeli semua yang dia pegang. Hanya beberapa, karena sadar jika tangan mereka terbatas dan setelah ini masih ingin berkeliling.
"Itu tempat apa, Sayang?" Dengan tangan yang penuh barang bawaan, Viona menunjuk ke arah lain di mana banyak orang yang terlihat sangat antusias menuju ke arah sana. Dia merangkul lengan Marshal, takut tersasar.
"Itu Aquarium Sumida. Kamu mau pergi ke sana?"
Uh, sudah tentu nyonya pecinta ikan itu akan sangat senang jika bisa masuk ke tempat tersebut. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu dan segera masuk area penuh kaca yang di dalamnya terdapat ratusan atau bahkan mungkin jutaan jenis ikan yang indah dan ada pula yang langka.
"Jangan minta untuk dibuatkan aquarium seperti ini di rumah!"
Viona nyengir lebar mendnegar peringatan dari Marshal. Mereka sedang berjalan, saling bergandengan tangan di bawah terowongan yang terbuat dari kaca dan ikan-ikan seolah berenang bersama mereka. Sungguh suasana yang sangat mengasyikan. Viona menyukainya, hingga tanpa sadar mengecup rahang Marshal dan mengucapkan kata terima kasih.
Marshal tersenyum manis, semakin erat menggenggam tangan istrinya. Mereka berkeliling melihat berbagai jenis ikan dan hewan air yang terdapat di sana. Beberapa kali Viona berseru senang sambil menunjuk hewan air yang menarik perhatian. Marshal harus lebih dahulu mengingatkan supaya Viona tidak meminta ikan-ikan yang ada di sana di pelihara di rumah mereka juga. Viona sangat suka ikan dan tanaman, tidak bisa melihat hal bagus sedikit, pasti langsung ingin mempunyainya.
__ADS_1
"Sayang, sebentar lagi Maghrib. Masih mau di sini atau kita kembali ke hotel?" tanya Marshal ragu. Viona tampaknya masih terlihat asyik berada di sana. Seperti enggan untuk pergi. Tapi, melihat prediksi cuaca di ponselnya, mengabarkan bahwa malam ini daerah Tokyo akan terguyur hujan kembali, meski tidak lebat. Viona tidak mau mereka pulang dalam keadaan lembap sedikit pun.
"Ya, sudah, kita kembali ke hotel."
"Yakin?"
Viona mengangguk cepat, mengangkat tangan yang penuh dengan barang bawaan. "Aku pegal dan kerepotan karena ini. Tangan kamu juga." Dagunya menunjuk tangan Marshal yang menjinjing juga.
"Tidak ingin pergi ke mana-mana lagi?"
Viona memberikan gelengan pelan, tersenyum kembali pada suaminya. "Capek ...," keluhnha bernada sangat manja dan bersandar di lengan Marshal.
"Kita kembali ke hotel."
Viona hanya patuh. Mereka berjalan beriringan untuk segera pulang dengan sisa senyuman bahagia di wajahnya.
Cup!
Padahal sudah sering Viona memberikan kecupan mendadak padanya, tapi Marshal masih saja terpaku. Sangat terkejut saat Viona menciumnya, ketika mereka sudah berada di dalam mobil menuju hotel.
Satu kalimat yang bisa dia jadikan pedoman.
Nyonya senang, Marshal menang!
Begitulah kiranya yang dia rasakan. Maka dia akan memberikan banyak kesenangan terhadap istrinya supaya dia juga mendapatkan keuntungan yang berlimpah.
________________________________________
......TOKYO SKYTREE TOWN......
__ADS_1