
"Nyonya bawa pasukan," bisik Frans, terkekeh geli di samping Aness.
"Huum, nyonya kita udah kayak ibu pejabat aja, ya. Gue gak nyangka, kalo nasib teman kita yang satu ini tuh beruntung banget." Aness ikut menimpali.
Mereka berdua terkekeh geli melihat Viona yang baru turun dari mobil langsung dikawal oleh dua pengawalnya yang terlihat gagah dan kekar. Bahkan pak sopir pun ikut turun dan mengaping langkahnya.
"Gila-gila ... si Viona udah kayak ratu aja." Frans menggelengkan kepala sambil tertawa geli. Aness pun melakukan hal yang sama. "Selamat datang, Nyonya!" Frans menepuk Aness supaya mengikuti gerakannya untuk membungkuk hormat saat Viona semakin mendekat.
"Apaan, sih!" Viona melempar tatapan sebal. Kedua sahabatnya malah terbahak sambil berdiri. "Udah, cukup!" Viona tahu, mereka sedang meledeknya. Karena saat dia mengabari jika Marshal mengizinkan pergi dengan syarat diberi pengawalan, Frans sudah menunjukkan ledekan lewat sambungan telepon. Viona juga sadar, jika apa yang Marshal lakukan memang berlebihan. Tapi, itu juga demi keselamatannya. Dan jika tidak seperti itu, maka Viona pasti tidak akan pernah bisa keluar rumah.
"Kalo liat lo begitu, gue kok jadi ngerasa kita itu gak setingkatan, njir."
Viona mendelik mendengar ucapan Frans. Dia juga tidak mau dikawal seperti itu. Jika bukan Marshal yang memaksa, Viona pasti tidak akan pernah mau menyetujuinya.
Baru Viona akan masuk ke dalam rumah Aness bersama kedua sahabatnya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah Aness, di samping mobil Viona tadi terparkir. Dua orang berpakain rapi turun dari sana. Mereka tersenyum dan membungkuk hormat pada Viona yang langsung mematung seketika.
"Sumpah demi apa, nyonya dikawal empat cowok gagah!" jerit Aness histeris, sekaligus terkejut melihat dua orang yang baru datang tersebut.
Viona melirik dua pengawal yang sejak tadi menemaninya. Dia melirik lagi dua orang yang baru saja datang. Pakaian mereka sama. Apa mereka juga akan mengawalnya? Dia bertanya lewat tatapan pada salah satu pengawal yang memang sejak dari rumah terus bersama. Pengawal itu mengangguk.
"Demi keamanan, Nyonya. Saya tidak bisa mengelak, jika tuan sudah memerintah," sahut pengawal itu dengan sopan.
Oh, Marshal ...
Ingin sekali Viona menangis, menjerit meluapkan rasa kesalnya terhadap Marshal. Apa harus sampai seperti itu? Marshal terlalu berlebihan.
***
__ADS_1
"Apa Tuan ingin makan siang sekarang?" Rio berjalan di belakang Marshal. Rapat baru saja dibubarkan. Mereka terlihat lebih rileks dan seharusnya segera bersiap untuk isrirahat sambil makan siang, setelah salat nanti.
Marshal hanya mengangguk, berjalan menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai paling tinggi. Tempat Mushola berada. "Kabari orang rumah, aku sepertinya akan makan siang di rumah."
Rio baru saja akan berbelok ke tempat wudhu, dia berbalik cepat. Berdiam sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepala melihat Marshal yang tersenyum. Berarti jadwal Marshal hari ini akan sedikit berbeda. Jika sudah mengingat rumah, maka urusan kantor dikesampingkan.
Dan memang seperti dugaan Rio. Selesai salat, Marshal langsung menghubungi istrinya supaya cepat pulang ke rumah.
"Aku sampai setengah jam lagi. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?" ucap Marshal sebelum mematikan sambungan.
Nadanya tegas, tidak bisa dibantah. Rio heran, di saat merasa Viona terancam, Marshal memang lebih banyak mengeluarkan lagi perintah. Rasa ketakutan Marshal memang sangat besar. Dia sangat menyayangi istrinya. Pantas saja jika dia mulai kembali posesif.
"Aku pulang hanya ingin makan siang, Yo. Tidak usah kosongkan jadwal. Nanti setelah makan siang, kita kembali ke sini."
Rio ingin bertanya kenapa, tapi Marshal hanya menepuk pundaknya pelan sambil tersenyum. Memang merepotkan jika harus kembali lagi. Kenapa Marshal tidak mengajak Viona makan di luar saja, jika dia hanya ingin makan siang bersama istrinya? Jawabannya dia dapatkan saat membukakan pintu mobil untuk Marshal. Majikannya menepuk kembali pundak Rio.
Rio yang baru paham dengan maksud sebenarnya, juga ikut terkekeh. Dia menggelengkan kepala pelan sebelum memutari mobil dan masuk ke dalam. Marshal kembali posesif, tapi dengan cara yang sedikit berbeda. Dia jadi ingin tahu bagaimana reaksi Viona selanjutnya, jika menghadapi sikap Marshal yang kembali seperti dulu. Pasti Viona tidak akan terima. Nyonya Marshal sangat tidak suka dikekang.
***
"Apa masih lama? Aku sudah lapar, Sayang."
"Aku udah di depan!"
Marshal menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia terkejut mendapat nada ketus dari Viona. Senyuman terbit melihat Viona masuk ke dalam rumah dan menghampirinya yang sedang menunggu di ruang tengah. Marshal ingin memeluk dan memberikan kecupan ringan, Viona malah mendelik tajam sambil mengayunkan tas miliknya sembarangan.
Raut wajah yang Viona tunjukkan tidak sesuai harapan. Marshal tetap mendekat, meskipun Viona terlihat tidak mau bertemu dengannya. Dia menarik pinggang Viona supaya merapat. Memberikan kecupan ringan di pelipis dan menggiringnya untuk pergi ke ruang makan. Viona menurut, meskipun terlihat enggan. Bahkan tidak memberikan senyuman sedikit pun sejak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Marshal di sela makan.
Viona hanya meliriknya sekilas sambil menggeleng. Bibirnya mencebik. Marshal jadi heran melihatnya. Dia juga takut sesuatu sudah terjadi terhadap Viona. Dia pun menghentikan makan dan fokus melihat Viona yang enggan untuk mengunyah.
"Sayang?"
Viona kembali meliriknya. Marshal tersentak kaget saat Viona menyimpan sendok dengan kasar hingga terdengar dentingan keras. Bahkan Rio yang sejak tadi hanya diam, menikmati makan siangnya, kini ikut melirik. Sama terkejutnya dengan Marshal.
"Aku kenyang."
Marshal melotot tajam melihat sikap Viona. Dia meliriknya sinis dan sangat jutek. "Kenapa? Apa yang terjadi sebelum kamu pulang? Kamu tidak apa-apa, kan? Tidak bertemu dengan orang asing? Apa ada yang terlihat mencurigakan?"
Viona malah mendengus keras. Tatapannya sinis pada Marshal. Dia menggeleng dan mengambil minuman. Setelah menghabiskan minumnya, Viona terdiam memandangi akuarium yang ada di ujung ruang makan. Pandangan itu terlihat lebih baik untuknya daripada repot-repot menghadap pada Marshal. Membuat suami Viona tidak lagi bernafsu makan melihat gelagat tidak wajarnya. Dia ingin menyudahinya, tapi tanggung dengan makanan yang tinggal beberapa suap lagi. Sambil memperhatikan Viona, Marshal kembali menyuap. Dia mengunyah pelan, tidak sedetik pun beralih dari istrinya.
"Kamu kenapa? Sayang?" Marshal kembali bertanya sebelum dia menghabiskan suapan terakhir.
"Kamu tahu ada anak yang tidak bisa dibilang anak, tapi masih diperlakukan seperti anak?"
Marshal mengernyit bingung. Dia memperhatikan Viona dengan serius. Viona terlihat kesal, entah karena apa. Mengambil gelas dan meneguk isinya. Marshal selesai makan, fokus pada Viona yang semakin enggan berada di dekatnya. Dia ingin meraih tangan Viona, tapi istrinya menolak dengan segera menjauhkan tangan. Marshal semakin tidak mengerti, ada apa dengan Viona?
"Aku dikawal ke mana pun, seperti anak kecil. Hari ini kamu membuat aku merasa seperti bocah yang jauh dari jangkauan orangtua. Dan sikap kamu sudah seperti ayah yang akan kehilangan anak semata wayangnya."
Marshal meneguk ludah kasar melihat kilatan di mata Viona. Terdiam menunggu sampai istrinya selesai bicara, Marshal langsung berdiri saat Viona beranjak.
Viona tidak mau dikekang. Dia tahu itu. Tapi, bukankah Viona sudah menyetujuinya semalam, jika dia akan keluar dengan syarat yang Marshal berikan? Lalu kenapa sekarang dia menangguhkannya?
Sebelum melangkah menyusul Viona, Marshal melirik pada Rio yang tengah memperhatikannya dengan masih mengunyah. "Makanlah yang puas, Yo. Aku tidak akan pergi ke kantor. Nyonya marah, sepertinya." Marshal mengakhirinya dengan nada yang sedikit berbisik. Dia berlari menaiki tangga untuk segera mengejar Viona.
__ADS_1