
Saat membuka mata, Marshal tidak menemukan Viona berada di sampingnya. Ke mana dia?
Buru-buru Marshal beranjak dari kasur, ketika mendengar suara istrinya yang tengah muntah dari dalam kamar mandi. Dia jadi khawatir, mengetuk pintu beberapa kali karena takut untuk masuk. "Kamu tidak apa, Sayang? Aku perlu lihat atau diam di sini saja?"
Tidak ada sahutan dari dalam, hanya terdengar suara air yang mengalir dan Viona kembali muntah. Marshal jadi tidak tenang, jika dia masuk takutnya malah semakin memperburuk keadaan istrinya. Tapi, dia tidak mau hanya berdiam diri membiarkan Viona kesusahan. Marshal ingin menemani, setidaknya dia ada di sisi Viona.
Marshal masuk ke dalam, langsung mendekat pada Viona yang bersandar di pinggiran wastafel. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya sangat lemas. "Apa masih mual?"
Viona menganggukkan kepala dengan lemah, menggapai tangan Marshal untuk berpegangan. Dia mencengkram erat pergelangan tangan Marshal, menundukkan kepala saat gejolaknya terasa sangat menyiksa, namun tidak ada yang keluar lagi.
Marshal hanya terdiam, merasa kasihan melihat keadaan Viona saat ini. Dia juga cemas, takut kehadirannya malah semakin membuat Viona mual.
"Jangan lihat aku, Sayang!"
Alih-alih menurut, Viona justru malah melihat pada Marshal. Raut wajahnya terlihat sangat lesu dia tersenyum samar. "Kamu takut aku usir lagi, ya?"
Marshal hanya menundukkan pandangan, menjauhi kontak mata berlama-lama dengan istrinya. Dia tidak tahu apakah akan bertahan lama atau tidak dia berada di sana. Viona selalu mual, jika mereka berdekatan atau hanya saling berpandangan. Marshal tidak mau istrinya semakin tersiksa.
"Chal, gendong ...." Viona merentangkan tangannya.
Marshal melihatnya menghela napas dan segera menggendong tubuh Viona, kemudian dibaringkan di atas ranjang. Saat Marshal berniat untuk mengambilkan air hangat ke bawah, Viona malah menahan tangannya dan menggelengkan kepala.
"Jangan jauh dulu! Aku takut jatuh di kamar mandi, kalau nanti mual lagi. Kepala aku pusing, Chal. Tadi aja hampir terjatuh."
Marshal tercengang mendengar pengaduan istrinya. "Kenapa nggak bangunin aku? Harusnya kamu bangunin aku, Sayang."
Mana sempat Viona membangunkan suaminya. Yang ada dia akan keteteran, tidak bisa menahan mual dan berakhir dengan muntah di ranjang. Viona tidak mau itu terjadi, makanya dia ke kamar mandi sendiri, tanpa memberitahu suaminya terlebih dahulu.
"Aku panggil dokter aja, ya. Biar diperiksa lebih detail. Aku gak tega lihat kamu muntah terus, Sayang."
Viona hanya diam saja. Tidak membantah, tidak pula mengiyakan.
Marshal beranjak untuk pergi keluar dari kamar, menuju kamar sebelah. Langkahnya lagi-lagi terhenti, Viona terlihat kesal karena dia menjauh. "Aku ambil handphone dulu di kamar, Sayang."
"Kamar mana?"
"Kamar di sebelah. Semalam harusnya aku tidur di sana, bukan? Kamu yang tidak mau sekamar, sebelumnya."
__ADS_1
Viona diam lagi, jika mengingat usirannya terhadap Marshal, dia juga merasa kasihan. Tapi, entah kenapa Viona suka terkadang benci dan muak melihat wajah suaminya. Di waktu-waktu yang tidak terduga, seperti saat ini saja dia tidak merasa mual, walaupun wajah Marshal sangat dekat dengannya. Rasa itu muncul kadang-kadang, tidak setiap saat.
Semalam saja Viona yang bahkan meminta untuk tidur sambil dipeluk. Marshal awalnya ragu, tapi Viona yang meyakinkannya untuk tetap memberikan pelukan. Dan ternyata tidak terjadi apa-apa. Semuanya baik-baik saja, sebelum bangun tidur perutnya tiba-tiba kembali bergejolak.
"Boleh aku keluar sebentar?"
Viona menggelengkan kepalanya, menarik tangan Marshal. "Gak usah."
Embuskan napas dalam ... buang secara perlahan. Marshal tidak mengerti lagi dengan perubahan sikap aneh istrinya. Sebentar dia benci, sebentar dia mual, sebentar dia tidak ingin ditinggalkan, namun sebentar lagi dia akan mengusir Marshal dengan kejam. Perubahan sulit ditebak. Terlalu membuatnya kebongingungan dan dongkol sendiri mengingat hal itu.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana? Mengambil minum tidak boleh, menghubungi dokter juga tidak diizinkan untuk keluar kamar, mengambil ponselnya sebentar saja."
"Kamu diam aja."
"Di sini?" Marshal menunjuk posisi duduknya saat ini.
Viona memberikan anggukan, lalu terdiam memainkan jemari tangan di atas pangkuan yang berbalut selimut sampai ke pinggangnya. Dia duduk bersandar di kepala ranjang, dengan kaki yang berselonjor.
"Bagaimana jika nanti kamu mual lagi? Apa lebih baik aku keluar saja?"
Viona menggelengkan kepalanya lagi, bibirnya terlihat mencebik. Sangat lucu sekali di mata Marshal.
Viona memejamkan mata, ketika Marshal mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Samar dia tersenyum, rasanya kepala pusing itu terasa nyaman dan tidak berdenyut nyeri lagi.
Aneh. Viona sendiri selalu heran dengan dirinya yang gampang berubah kapan saja. Apa itu pengaruh hormon kehamilan? Tapi, kenapa rasanya sangat aneh sekali.
***
"Ini obat anti mual, Sayang." Marshal mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Viona. Dia sengaja menyuruh Rio untuk menghubungi dokter kandungan dan berkonsultasi tanpa Viona yang mau ikut. Istrinya tidak mau pergi ke mana pun, mengeluhkan rasa lemas, sedangkan saat Marshal mengatakan jika dokternya akan datang ke rumah, Viona malah tidak membolehkan. Dia tidak mau bertemu dengan siapa pun, katanya.
Marshal hanya menuruti semua keinginan istrinya supaya Vionaa senang dan tidak semakin memburuk dengan emosi yang bisa kapan saja berubah.
"Pahit?" Marshal mengernyit melihat istrinya yang terdiam, setelah meminum obat yang diresepkan oleh dokter kandungan, berkat konsultasi Rio.
"Nggak, kok. Manis."
Marshal tertegun melihat bibir istrinya yang tersenyum lebar. Dia pun ikut tersenyum manis, mengulurkan tangan untuk mengusap wajah Viona. Namun, dia urungkan. Tiba-tiba raut wajah Viona berubah. Dahinya mengernyit dan bibirnya mengatup dengan rapat. Seperti menahan ingin muntah lagi.
__ADS_1
"Mau ke kamar mandi? Atau aku harus pergi?" Marshal sudah khawatir melihatnya. Tapi, Viona malah menggelengkan kepala dan semakin mengernyitkan dahi dengan mata yang mulai menyipit.
"Jangan senyum lagi! Aku benci lihatnya!"
Apa lagi ini? Senyuman Marshal yang salah sampai istrinya mengernyit seperti itu?
Hadeh .... susah sekali mengeluarkan ekspresi bahagianya. Padahal Marshal hanya senang, melihat istrinya yang tersenyum cerah. Tapi, kenapa malah membuat istrinya benci, lagi?
"Hanya benci melihat aku tersenyum? Tidak ingin aku pergi, ke luar?" Marshal sudah siap untuk menjauh, sebelum Viona mengusirnya. "Hanya senyuman aja?" Melihat Viona mengangguk, Marshal bernapas lega. Setidaknya dia masih bisa berada di dekat istrinya.
Marshal mempertegas dirinya sendiri untuk tidak memberikan senyuman pada Viona. Sebahagia apa pun, Marshal harus memastikan bibirnya tidak tertarik supaya Viona tidak membencinya lagi. Ingat, hanya benci senyumannya.
Maka, sepanjang hari Marshal menahan diri untuk tidak kebablasan tersenyum. Dia bahkan harus susah payah menekan bibir untuk terkatup rapat, ketika hari sudah menjelang malam, Viona meminta untuk ditemani menonton film. Dan sialnya, film yang Viona putar begenre komedi romantis. Marshal sampai harus menggigit bibir, menahannya untuk tidak tertarik, ketika terdapat adegan lucu di layar televisi.
Viona tidak lagi sering mual dan betah berada di dekat Marshal. Istrinya tidak lagi kesusahan harus bolak-balik ke kamar mandi, tapi berakhir dengannya yang tersiksa sepanjang hari menahan bibir dari senyuman.
"Kamu gak suka filmnya? Dari tadi diam aja. Padahal filmnya seru, Chal."
Yassalam ....
Marshal ingin membunuh orang saat itu juga. "Aku menyukainya, Sayang. Filmnya memang bagus."
"Masa?" Viona melihatnya dengan sudut mata, tidak percaya. "Tapi, kamu kayaknya gak suka film ini, kan? Aku tahu. Kamu dari tadi diam aja, Chal." Viona memandang televisi kembali, wajahnya muram.
Dosa Marshal pasti akan berkurang, karena setiap detik dia akan beristigfar dan memohon ampun kepada Tuhan, atas semua sikap istrinya. "Aku suka, Sayang," ucap Marshal dengan wajah datar.
Viona memanyunkan bibirnya, terlihat kesal. "Kamu gak suka. Aku tahu. Makanya kepaksa gitu 'kan bilang sukanya."
Entah harus bagaimana lagi. Marshal ingin mengatakan suka filmnya disertai senyuman manis, tapi dia ingat, Viona akan membenci senyumannya. Tapi, malah dikira dia tidak suka, hanya karena memasang wajah datar.
"Mengatakan kata 'suka' tanpa ekspresi yang benar, malah terlihat kamu memang terpaksa." Viona mendelikkan mata, membuang muka dengan malas ke arah televisi.
Haruskah Marshal tersenyum?
Baiklah. Untuk kali ini saja. Semoga Viona tidak memakinya.
"Aku sangat menyukai filmnya, Sayang." Marshal tersenyum, malah terlihat aneh.
__ADS_1
Viona segera memukul lengannya dengan kencang. "Aku benci kamu! Jangan senyum! Menyebalkan!"
Nahkan! Semua akan salah di mata istrinya.