Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Dilema Lagi


__ADS_3

"Makasih, Yo."


"Sama-sama, Tuan."


Mereka kemudian tertawa bersama.


"Beginikah rasanya menjadi suami yang dzolim? Aku merasa seperti suami yang gila. Baru kali ini aku terlihat gila di depan istriku. Oh, tidak-tidak, setiap hari aku memang selalu dibuat gila olehnya."


Rio tidak menimpali, fokus menyetir namun ikut terkekeh geli mendengarnya.


"Kita ke kantor polisi sekarang, Yo. Jika nanti siang, aku takut tidak ada waktu."


"Baik, Tuan." Rio melajukan mobilnya untuk berbelok arah tujuan. Kasus Amanda memang sudah masuk ke ranah hukum dan pihak yang berwenang sedang memprosesnya. "Saya rasa, nona Amanda tidak akan bisa aman kali ini, Tuan. Banyak pasal yang menyangkut kasusnya."


"Hm, iya. Aku hanya prihatin mengingatnya."


Rio melirik kaca tengah, memperhatikan raut wajah Marshal yang kian berubah. "Kenapa memangnya, Tuan?"


Terdengar embusan napas kasar dari jok belakang. Marshal memalingkan wajah ke arah luar jendela. "Bagaimanapun juga aku pernah mencintainya. Dia ada dalam hidupku cukup lama."


Rio sedikit kaget dengan kalimat yang keluar dari mulut Marshal. Tidak mungkin Marshal masih ...


"Tapi, aku tidak bisa seperti ini. Aku harus memberikan keadilan kepada istriku juga. Seindah apapun kenangan, tetap saja sekarang sudah rusak dengan kekejaman yang dia lakukan padaku. Aku bisa memaafkannya, tapi tidak bisa membiarkan dia bebas lagi. Aku takut dia bisa mendekati istriku, Yo."

__ADS_1


Ungkapan yang memang masuk akal. Rasa yang pernah ada tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja. Pernah bersama, saling mencintai, tidak akan mudah dilupakan hanya karena sebuah rasa benci. Rio hanya berharap Marshal akan adil menyikapinya. Karena dia takut akan suatu hal. Dan sekarang dia tahu alasan di balik keputusan Marshal yang tidak langsung memenjarakan Amanda, meskipun wanita itu sudah menghancurkan resort miliknya.


Rasa yang pernah hadir akan merubah segalanya menjadi berbeda. Hal yang semestinya berjalan ke arah kanan, bisa saja berbelok ke arah kiri, jika sudah bermain dengan hati. Kadang ego kalah oleh rasa yang entah kapan hadir dan perginya, kita tidak pernah bisa menyangka.


***


"Amanda yang aku kenal tidak seperti ini. Dia baik, lemah lembut dan sangat penyayang, bukan orang kejam."


Wanita yang berhadapan dengan Marshal itu kian nyalang. Tidak satu kalimat pun terucap dari bibirnya, sejak Marshal datang dan meminta bertemu dengannya.


"Aku tidak pernah tahu, jika Amanda punya sisi lain yang sangat menakutkan. Kejam, tidak berperasaan." Marshal terlihat tenang dalam berucap. Tataoannya hangat seperti bisa menatap Amanda. "Aku harap rencana yang gagal ini tidak kamu lanjutkan di kemudian hari, Manda. Sayangi dirimu. Lihatlah sekarang, kamu mendekam di penjara hanya karena kelakuan konyol yang kamu lakukan padaku. Rencana yang gagal saja bisa membawamu ke ranah hukum, apalagi jika berhasil, bukan?"


Amanda memang tidak ada niat untuk menimpali. Dia masih mencintai Marshal. Sangat. Tapi, dia menaruh dendam akibat Marshal meninggalkannya demi wanita lain. Dia tidak terima dicampakkan begitu saja. Dia ingin memiliki Marshal seutuhnya. Hanya dia seorang. Tapi, kenapa Marshal berani meninggalkannya, setelah sekian lama menunggu restu orangtua yang tidak kunjung mereka dapatkan? Sia-sia sudah penantiannya untuk merebut restu. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin sudah sejak dulu dia lebih baik memilih menikah secara diam-diam. Supaya Marshal tetap menjadi miliknya, bukan malah bahagia bersama Viona.


Suasana ruangan itu hening. Ada Rio yang menyimak di belakang Marshal. Dia hanya terdiam memperhatikan interaksi keduanya. Melihat Amanda yang hanya membisu, Rio terus mengawasi. Tatapan Amanda begitu kentara dengan dendam yang dia punya. Tatapan cinta yang terbalut benci, semakin terlihat menakutkan dengan ekspresi datarnya. Wanita itu memang kembali depresi. Semua tahu penyakitnya. Bagaimana proses ini akan berjalan dengan baik nantinya?


Amanda mendongak. Tiba-tiba tatapannya memburam, sebulir air mata menetes melihat Marshal yang hendak beranjak. Haruskah dia mengikhlaskan Marshal? Sekarang?


Tidak. Dia tidak bisa melakukannya. Dia mencintai Marshal. Dia menginginkan Marshal. Hanya Marshal seorang. Hanya Marshal.


"Argh!" Wanita itu histeris, memegang kepalanya. Dia menangis sejadi-jadinya.


Marshal hanya melihatnya prihatin. Tangannya tergerak untuk menggapai, tapi ditahan oleh Rio. Dia ingin memeluk Amanda erat, mendekapnya untuk terakhir kali. Bagaimanapun juga wanita itu pernah ada dalam hidupnya. Ada sebagian rasa yang masih tertinggal. Dan Marshal menyayangi Amanda. Dia mengakui hal itu.

__ADS_1


"Tuan ...."


Marshal dilema. Tatapan Rio sangat mengintruksi untuknya segera pergi, tidak boleh mempedulikan Amanda. Tapi, sebagian tubuhnya ingin mendekap wanita itu. Amanda tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Semua keluarganya telah meninggal. Satu-satunya orang yang dia punya, sangat dia cintai, nyatanya sudah tidak bisa dia miliki.


Berat hati Marshal beranjak. Rio bahkan menarik tangannya sampai keluar dari ruangan tersebut. Upaya Rio memang sangat baik. Marshal berhasil keluar dari kantor polisi tanpa menengok lagi ke belakang. Biarlah Amanda di sana mempertanggungjawabkan semua yang sudah punya. Rencana penembakan dan penculikkan memang gagal, tapisemua bukti sudah diserahkan. Selain itu, Amanda juga menjadi dalang di balik kebakaran beruntun resort mewah milik Mars Corporation.


"Ingat nyonya, Tuan!"


Marshal melirik Rio, mengangguk patuh. Dihelanya napas dalam, dia masuk ke dalam mobik setelah Rio membukakan pintu untuknya. Dia duduk gusar di jok belakang, sesekali melihat Rio yang sedang menyetir. Marshal pun bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa saat ini dia merasa terenyuh dengan kejadian yang menimpa Amanda. Padahal Amanda telah berbuak kriminal terhadapnya.


"Kita pulang, Yo!"


"Iya, Tuan?" Rio melirik spion tengah dengan bingung. Dia tidak mungkin salah dengar, kan?


"Ke kantor nanti saja, setelah makan siang. Bukankah ada rapat setelah makan siang?"


"Iya, Tuan. Tapi, ada banyak berkas di kantor yang harus diperiksa. Data keuangan bulanan juga sudah disiapkan."


"Suruh orang untuk mengantarnya ke rumah! Nanti aku periksa."


"Baik, Tuan."


Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut Marshal. Dia bersandar sambil memejamkan mata rapat-rapat, sesekali tangannya memijat pelipis, kadang pangkal hidung. Entah apa yang menjadi beban pikirannya kali ini. Dia terlihat begitu pusing dan stress.

__ADS_1


"Datangkan pengacara papa! Aku ingin kasus ini segera selesai."


Rio terdiam sesaat, sebelum mengangguk patuh, kembali fokus menerobos jalanan. Semoga masalah ini segera selesai dan Marshal bisa tenang. Dia kasihan terhadap majikannya. Kapan Marshal dan Viona benar-benar bahagia tanpa gangguan? Rio berharap setelah masalah ini selesai, Marshal bisa menjalani kehidupan indah bersama istri dan anaknya kelak.


__ADS_2