Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Ruyam


__ADS_3

Dengan tangan mengepal erat, hati yang panas, dia tetap bertahan untuk menguping di balik pintu kamar inap. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Viona yang malah berkata demikian pada laki-laki lain. Apa Viona sama sekali tidak bisa menerimanya, kenapa dia harus berkata seperti itu pada saingan suaminya?


"Pernikahanku sedang kurang baik, Sen. Selalu kurang baik setiap saat. Bahkan kemarin, aku seharusnya mengajukan gugatan cerai, kami hampir berpisah."


Dia kira Viona tidak akan pernah berkata seperti itu pada orang lain. Viona memang terpaksa menikah dengannya, tapi apakah harus sampai mengatakannya terhadap laki-laki itu? Apa itu perlu? Apa yang dipikirkan Viona sampai dia mengatakan hal itu pada laki-laki yang bahkan seharusnya tidak lagi ditemuinya.


"Terlalu rumit, Sen ... dan aku tidak kuat menahan semuanya sendiri."


Disandarkannya kepala semakin merapat pada pintu. Hatinya sedikit perih mendengar perkataan itu. Viona memang menahan semuanya sendiri, dan dia memang salah. Terlalu mengekang istrinya sampai merasa tersiksa seperti itu. Dia tahu, dia memang tidak bisa membuat istrinya nyaman dalam genggaman, tapi Viona tetaplah miliknya. Yang dia inginkan, Viona tetap bersama dengannya dan bisa menurut padanya.


"Kamu pernah bilang, kamu sangat mencintai aku dan ingin aku kembali sama kamu."


Dengan debar jantung yang tidak karuan, dia sudah cemas, ke mana ucapan istrinya akan berlabuh? Viona membicarakan cinta, tidak mungkin jika dia ingin kembali pada laki-laki yang baru sadar dari koma tersebut. Jangan sampai hal itu terjadi! Viona tetap miliknya, tidak boleh berpaling pada siapa pun!


"Tadinya, aku memilih bercerai dari suami aku, karena aku ingat dengan ucapan kamu waktu itu ...,"


Tubuh Marshal semakin kaku dengan pikiran yang terus menerka sendiri, memangnya apa yang Sendi katakan pada Viona waktu itu? Dan kapan? Kenapa Viona sampai menjadikan ucapan Sendi alasan untuk bercerai?


"Kamu pernah bilang, bersedia menunggu status jandaku, bukan?"


Deg. Marshal ingat sekarang. Jadi, yang Viona maksudkan adalah saat Sendi datang ke rumahnya. Dikiranya Viona sudah tidak menanggapi ucapan putra Arga Mahendra tersebut, namun nyatanya Viona masih ingat dengan kalimat tersebut. Marshal kian takut. Viona selalu punya pikiran yang bahkan dia sendiri tidak tahu ke mana arahnya.

__ADS_1


Digelengkannya kepala pelan, tidak, tidak mungkin Viona mau melakukan seperti apa yang dia pikirkan. Viona wanita baik, tidak mungkin punya pikiran yang menyeleweng.


Marshal kembali memasang telinga dengan cemas. Matanya langsung membulat sempurna saat suara Viona kembali terdengar. Dia tercengang mendengar apa yang istrinya ucapkan barusan.


"Jika aku bercerai dengan tuan Marshal, apa ucapan kamu itu masih berlaku?"


Ternyata pemikirannya benar. Arah pembicaraan Viona tertuju ke sana. Berani sekali dia berkata seperti itu. Marshal tidak menduga dengan jalan pikiran istrinya. Viona sama sekali tidak menganggapnya seorang suami dan sekarang dia malah mengharapkan laki-laki lain, jika telah bercerai darinya. Tidak akan pernah Marshal membiarkan hal itu terjadi! Viona tetaplah miliknya, dia tidak akan pernah melepaskan Viona, walaupun sebentar.


"Sen, kamu masih mau menikahi aku, kan?"


Tangan Marshal mengepal semakin erat dengan dada yang bergemuruh hebat. Setitik sakit menimpa dadanya, kala Viona mengatakan hal seperti itu. Viona benar-benar mempermainkannya dan tidak pernah menganggap dia ada di hidupnya. Dengan mudah Viona mengatakan pertanyaan pernikahan pada laki-laki lain. Padahal dia sendiri masih punya suami. Beginikah rasanya ada, namun tidak dianggap? Sakit sekali. Marshal sangat syok dan begitu terpukul mendengarnya.


"Kamu mau menerima aku, walaupun sudah berstatus janda, kan? Sen, iya, kan?"


"Sen?"


"Kamu mau nikahin seorang janda, kan?"


Cukup sudah kesabarannya dia tahan sampai di sini. Dengan cepat Marshal keluar dari persembunyiannya. Menghentikan kegilaannya untuk menguping di balik pintu kamar inap Sendi Arga Mahendra.


"Sayang!" Marshal langsung mengeluarkan kemarahannya melihat Viona yang bahkan ternyata sedang bergenggaman tangan dengan Sendi.

__ADS_1


Semakin tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar. Marshal tidak yakin, jika apa yang barusan dia ketahui secara diam-diam tersebut adalah perkataan istrinya.


Laki-laki yang masih terbaring serta bergenggaman tangan dengan istrinya, menatap pada arah pintu dengan mata membulat. Dia pasti sangat terkejut karena pintu yang terbuka tiba-tiba menampilkaan sosok suaminya Viona. Tapi, berbeda dengan perempuan yang sedari tadi membuat hatinya bergemuruh. Dia terlihat tenang, hanya menatapnya datar. Marshal semakin marah melihat reaksi Viona yang biasa saja. Apalagi tangan istrinya tidak mau melepaskan genggaman Sendi, dia kian emosi.


"Omong kosong apa ini?!" Ditatapnya tajam wajah sang istri yang masih terlihat tenang, Marshal menggeram. "Kamu mau menikamku dari belakang, huh?!"


Baru Viona mau melepaskan tangan Sendi dan berdiri saat Marshal mendekat padanya dengan wajah yang sudah merah padam menahan emosi. Viona mendekatinya, menahan tubuh Marshal untuk tidak mendekat pada Sendi. "Jangan membentak, ini rumah sakit!" ucap Viona dengan tenang dan mendorong tubuh Marshal supaya menjauh atau lebih baik keluar dari ruangan tersebut.


"Apa-apaan kamu ini, huh?!" Marshal tidak mau pergi dan kembali mencercar istrinya. "Apa yang kamu bicarakan barusan dengannya? Kamu berpikir tidak, jika apa yang kamu katakan tadi itu termasuk hal buruk?!"


Dengan tenang, Viona menghela napas dalam. Dia menahan tangan Marshal yang akan menunjuk Sendi dan sudah berniat memakinya. "Kita pulang!" ajak Viona dengan pelan, menarik tangan Marshal untuk keluar dari ruangan tersebut.


Marshal malah terdiam memandangi istrinya dengan bingung. Viona tetap terlihat biasa saja, padahal dia sudah memergokinya. Tidak ada rasa takut yang terlihat dari diri Viona. Marshal heran, ada apa dengan istrinya ini? Dia terlihat sangat aneh, Marshal tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dia pikirkan.


"Jangan pernah kamu bicara seperti itu lagi padanya!" Marshal melirik Sendi dengan tajam, kemudian menarik tangan Viona hingga mendekat padanya. "kamu milikku, Zahra! Jangan coba-coba mengatakan kata cerai demi laki-laki lain! Kita tidak akan pernah berpisah, kamu paham!"


Viona hanya menghela napas dan ikut melirik pada Sendi. "Aku pamit pulang, ya," ucapnya disertai senyuman. "Semoga cepat sembuh, Sen." Dengan paksa, dia menarik tangan Marshal untuk keluar dari sana.


Suaminya tidak terima, karena dia belum puas memaki. Namun, Viona tetap berusaha kuat untuk membawanya pergi. Jangan sampai Marshal membuat keributan di sana! Rumah sakit tempat orang dirawat, bukan tempat untuk berdebat. Viona tidak mau suaminya membuat ulah yang lebih parah lagi.


Dengan bingung, Sendi memandangi kepergian mereka. Dia tidak tahu apa yang terjadi barusan itu adalah benar atau tidak. Ucapan Viona, sikap Viona dan suaminya, Sendi butuh waktu untuk mencerna dan menyimpulkan semua kejadian barusan. Viona tadi bilang seperti itu ... namun sekarang, dia masih mengajak suaminya untuk pergi. Sebenarnya ada apa dengan Viona? Dan apa maksud ucapannya tadi? Jika benar Viona mengajaknya untuk kembali, lantas kenapa dia malah pergi bersama suaminya, bukan berjuang dengannya?

__ADS_1


Sendi hanya bisa diam dengan pikiran yang ruyam. Tujuan Viona mengajaknya untuk kembali, apakah ada maksud lain? Kenapa dengan Viona? Sendi begitu bingung melihat sikapnya. Dia sudah bahagia, tapi sirna seketika karena Viona tidak menjelaskan kembali, bahkan tidak menegaskan, jika dia ingin Sendi nikahi. Perasaan ragu kini menyelimuti. Viona tidak benar-benar tulus dari hati mengatakan kalimat tadi. Sepertinya Viona mempunyai niatan lain, dan hanya menjadikan Sendi sebagai tamengnya untuk merencanakan sesuatu.


Sakit sekali rasanya. Viona membuatnya bahagia, namun malah pergi begitu saja meninggalkan Sendi dengan begitu banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya.


__ADS_2