
Sampai di kediaman Pratama, mereka mendapat sambutan hangat. Terlebih karena jarang berkunjung ke sana. Heru dan Lina terlihat sangat bahagia melihat Viona dan Marshal, bahkan pengantin baru pun terlihat senang dengan kedatangan mereka.
"Jika melihat mereka sekarang, papa merasa semakin tua. Mereka sudah menikah dua-duanya, Ma." Heru tertawa pada Lina. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Viona dan Vino sudah mendapatkan pasangannya masing-masing. Padahal baru saja kemarin sore mereka masih terlihat kecil, bermain lari-lari dan merengek meminta mainan.
"Iya, Pa. Mereka sudah menikah. Kita tinggal menunggu cucu yang lucu-lucu dari mereka. Entah siapa yang akan memberikannya duluan, ya." Pasangan yang tidak lagi muda itu tertawa bersama.
Satu hal yang Marshal perhatikan dari ucapan Lina. Dia seperti mendapatkan dorongan kuat untuk mengabulkannya. Dan Marshal tahu, kepada siapa dia harus meminta bantuan untuk mengabulkan keinginannya mempunyai anak. Supaya tidak terkesan memaksa, setelah Rahma tidak berhasil membujuk Viona.
"Tenang, Ma. Sepertinya kita akan memberikan cucu barengan. Ya, kan, Dek?"
Viona meninju perut kakaknya saat Vino merangkul dan mengedipkan sebelah mata diikuti alis yang naik turun menggoda. Sepertinya tidak ada pembahasan lain lagi untuk Vino. Kakaknya itu selalu saja membahas masalah anak. Apalagi sekarang dia juga sudah menikah. Dan Viona tidak suka dengan bahasan itu. Menurutnya masih terlalu dini, karena dia juga belum mau mempunyai seorang anak.
"Santai, dong. Kakak tahu kok kalian lagi proses juga. Sama kayak kita. Ya, kan, Yang?" Vino berucap pada Rena-istrinya, yang tersenyum malu-malu.
Viona menggelengkan kepala melihatnya. Kenapa bisa sosok yang selalu melindunginya ini menjadi petakilan seperti sekarang?
"Sudah-sudah, mending masuk ke dalam. Sebentar lagi Maghrib," intruksi Heru menyelamatkan Viona dari godaan berlanjut kakaknya.
Mereka masuk ke dalam rumah, melaksanakan salat maghrib berjamaah, kemudian menyantap makan malam penuh sukacita bersama. Kebahagiaan mengiringi keluarga Pratama yang juga kebetulan mempunyai anggota keluarga baru.
***
"Ya, gitulah, Kak. Lagian kita juga sekarang sudah lebih dekat dan lebih bisa memahami, sih. Jadinya gak terlalu canggung seperti awal-awal menikah."
Marshal memelankan langkah melewati kamar Vino begitu mendengar suara istrinya. Viona terdengar sedang berbicara dengan istrinya Vino. Bahasan mereka membuat Marshal enggan untuk pergi, lebih memilih menguping karena sepertinya menyangkut masalah pernikahan mereka.
"Ngomongin masalah anak, kamu belum ada tanda-tanda isi, gitu?"
__ADS_1
"Belum, Kak. Hehe. Aku memang menunda kehamilan. Sengaja. Soalnya aku belum siap punya anak, kak." Pembahasan seputar anak dan masalah perempuan bergulir di dalam ruangan sana. Marshal melirik sekitar, masih aman. Tidak ada yang melihatnya berdiri seperti orang linglung di depan kamar kakak ipar sekaligus sahabatnya.
Tubuh Marshal refleks menegang kaku mendengar suara tawa Viona. Terlebih mendengar apa yang diucapkannya pada Rena.
Viona tergelak. "Mana mungkinlah. Aku tuh nyimpen cadangan pil di bawah baju. Dilemari yang Marshal gak tahu. Biarin aja, sih. Ya, meskipun harusnya aku merasa bersalah 'kan, udah biarin dia berharap."
Tangan Marshal mengepal kuat di samping paha. Niat bermain curang dengan menyembunyikan pil milik istrinya, ternyata dia yang dikelabui oleh Viona. Sialan. Jika begitu, sia-sia saja usahanya dua hari ini. Lihat saja nanti, Marshal pasti bisa mengalahkan Viona lagi kali ini.
***
"Suami kamu di kamar. Katanya mau istirahat."
"Lho?" Viona menatap bingung mendengar ucapan Vino. Melirik sekitar ruang keluarga, dia tidak menemukan suaminya. Hanya ada Heru, Lina, Vino yang sedang menonton televisi dan Rena yang baru saja datang bersamanya menghampiri mereka.
Tadi Marshal mengatakan hanya berkunjung, setelah makan malam selesai, mereka akan pulang. Tapi, dia sekarang malah berisitirahat di dalam kamar. Apa mereka akan menginap?
Setelah berpamitan, Viona pergi menyusul suaminya. Tidak seperti biasanya, jam segini Marshal sudah ingin beristirahat. Padahal malam belum terlalu larut.
Marshal mengunci pintu dan mendekati Viona. Tatapannya dingin dengan mata membulat sempurna. Viona memicingkan mata melihatnya. Aneh. Ada apa dengan Marshal? Bukankah dia sedang beristirahat? Kenapa malah memangsanya?
"Chal?" Viona sudah mengaktifkan sinyal siaga. Tatapan Marshal mulai berkabut. Dia tahu betul arti tatapan itu. "Chal!" Dia mendorong kuat tubuh Marshal yang semakin mendekat padanya. Marshal malah menahan tangannya dan menyambar bibir Viona dengan cepat dan rakus.
Viona tidak siap. Terkejut. Tapi, ciuman Marshal sangat menuntut, mengharuskannya untuk memberikan balasan.
Napasnya terengah-engah, berontak dan mendorong kuat tubuh Marshal saat tangannya menyelinap ke dalam baju. Viona menatap garang pada suaminya. Marshal sangat bergairah, menginginkannya saat ini, tapi Viona tidak bisa membiarkannya. Dia tidak bisa melayani Marshal untuk malam ini.
"Kenapa menolak? Bukankah aku tidak menerima penolakan?"
__ADS_1
"Kita di rum-"
"Apa peduliku? Kita di kamar. Sudah menikah. Dan apa pantas seorang istri menolak?"
Viona memandang Marshal penuh rasa bersalah. Bukan seperti itu. Melihat tatapan kecewa dari mata suaminya, Viona tidak enak. Bukan niatnya untuk menolak. Ada hal lain yang menjadi alasannya tidak ingin melayani.
Marshal beringsut mundur. Tersenyum getir memandang Viona yang masih berbaring, kini tidak lagi menunjukan sikap pemberontaknya. "Aku tahu ... kamu tidak mau, karena tidak ada pil itu, bukan? Sampai tidak mau melayani suami. Aku sudah mendengar semuanya. Saat kamu bicar dengan kakak iparmu. Jadi, apa yang mau kamu tutupi lagi, hm?"
Melihat mata Viona membulat sempurna, Marshal kecewa. Alasan Viona terlalu kentara. Ternyata benar dugaannya. Pantas saja sejak kemarin, Viona tidak menunjukkan penolakan saat dia menjamahnya, tidak seperti saat ini. Marshal kira itu adalah kesempatan yang bagus untuk membuahinya. Tapi, ternyata dia salah. Viona mau melayaninya, jika mengonsumsi pil pencegah kehamilan saja. Keinginan untuk mempunyai anak segera, sepertinya memang tidak akan pernah terwujud, jika Viona tetap keukeuh untuk menunda.
"Chal, bukan begitu." Viona bangun dan meraih tangan Marshal. Dia bukan berniat menolak, menjadi istri yang tidak baik. "Aku lagi datang bulan. Bagaimana aku melayani kamu?"
Marshal sudah mau beranjak, berbalik cepat. Dipandanginya wajah Viona yang merasa bersalah. Pandangannya sendu. Marshal terdiam memperhatikannya.
"Aku membawa pil itu. Dalam tas. Bisa saja aku menyembunyikannya lagi dan tetap melayani kamu. Tapi, aku lagi halangan. Mana mungkin bisa ...."
Terdiam. Marshal hanya diam memandangi istrinya. Gairah sudah sampai puncak disertai rasa kesal, harus teredam begitu saja mengetahui fakta, bahwa istrinya tengah datang bulan.
"Tapi, tadi siang ...."
Viona menghela napas. Menjelaskan semuanya terhadap Marshal. Memang sejak tadi siang, setelah selesai mereka berhubungan, Viona sudah merasa kurang enak badan, sehingga dia hanya ingin tidur dan tidak mau beranjak. Perutnya mulas. Mood-nya juga memburuk. Dan setelah salat Maghrib berjamaah tadi, Viona pergi ke toulet dan mendapati dirinya yang datang bulan. Dia belum sempat mengatakannya pada Marshal, karena sejak tadi suaminya berbincang bersama Heru dan Vino.
"Aku tetap bawa ini di dalam tas. Aku takut, jika aku tiba-tiba tidak mau pulang. Kamu tahu sendiri, aku sudah lama tidak berkunjung ke sini." Diraihnya tas dari atas nakas. Viona menunjukkannya pada Marshal selembar pil rutin yang sudah pasti Marshal tahu kegunaannya untuk apa.
Jadi, Viona berjaga-jaga. Takutnya Marshal meminta jatah seperti barusan saat menginap di sana. Persiapan yang baik ternyata berguna. Tapi, lebih berguna lagi kedatangan tamu bulannya hari ini.
Marshal memicingkan mata tidak suka. Kenapa Viona bisa berpemikiran sampai ke sana? Padahal awalnya Marshal pikir, Viona akan lengah dengan keputusan menginap yang dadakan. Marshal kira, Viona tidak akan membawa pil dan dia akan kembali bekerja keras di sana. Tapi, tetap saja keberuntungan berpihak pada istrinya. Bahkan ini lebih buruk. Kurang lebih seminggu, Marshal akan libur menjamah istrinya.
__ADS_1
Oh, Tuhan ... ini lebih menyulitkan untuknya mengatur strategi. Atau Tuhan sedang berpihak pada Viona, karena mereka memang belum saatnya memproses seorang anak, sehingga usahanya selalu terhambat?
Hhh! Jika seperti ini, kapan Marshal bisa dipanggil Papa?